Ada yang membuat saya tidak habis pikir. Tidak masuk logika saya. Tapi tidak ada maksud apa-apa, karena bagaimanapun saya tidak merasa sayalah yang paling benar. Namun saya yakin selama saya berusaha berbuat yang baik dan benar, Tuhan tetap akan sayang pada saya.

Kenapa? Iya, karena saya heran, kenapa beberapa teman saya (**di kantor) yang muslim (sama seperti saya) enggan mengucapkan Selamat Hari Natal pada teman-teman lain yang merayakan? Teman-teman yang natalan masuk kantor, mereka tidak tergerak sama sekali untuk mengucapkan “Hai… Met Natal ya…” Sesuatu yang kontras sekali ketika lebaran tiba dimana semua rekan kantor yang non muslim pun menyalami kami yang muslim. **no offense ya, ini cuma pemikiran saja, tidak bermaksud memprovokasi atau SARA.

Seorang teman bilang, kata suamiku tidak boleh menyalam atau memberi selamat. Loh kenapa, begitu tanya saya. Dan dia tidak bisa memberikan alasan yang dapat saya mengerti. Saya memang bukan orang yang dapat nilai 8 atau 9 di mata pelajaran Agama, tapi saya bukan orang yang ikut begitu saja kata si A, kata si B, tanpa menerima penjelasan yang masuk akal saya.

Saya punya banyak teman dekat yang non muslim, dan kami semua sangat menghargai urusan ibadah masing-masing. Saat lebaran tiba, teman-teman saya yang non muslim mengirimkan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri via sms, dan bila berjumpa akan cipika cipiki. Begitu pula sebaliknya, saya selalu mengucapkan selamat hari raya pada mereka. Tidak salah kan? Orang kasih selamat ke kita, lalu ketika Natal tiba, kita berpura-2 seolah tidak ada apa-2 dan tidak memberi ucapan apa-2? Gak make sense di mata saya. Apa gunanya keragaman dan kerukunan beragama di Indonesia ini, bila pada prakteknya banyak umat yang saling membenci. Saya percaya bahwa tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk sesat. **saya bilang begini bukan karena saya & suami berbeda..

Waktu kecil, saya dan keluarga tinggal di Biak (Papua). Disana, yang namanya kerukunan beragama itu terasa sekali. Saat Idul Fitri, temen-temen papi dan mami saya datang berlebaran. Natal tiba, gantian kami yang berhari raya ke rumah mereka. Tidak ada istilah menutup rumah, disana selalu open house, siapapun boleh datang, even dia cuma seorang fakir. Di keluarga kami juga diajarkan untuk saling menghargai, karena tante-om dan sepupu-2 saya juga banyak yang beragama Non Muslim.

Sayang sekali ketika saya pindah ke Medan, saya tidak dapatkan kenyataan yang sama seperti di Biak. Entahlah apa yang membedakan pemikiran orang di kota besar dengan di kota kecil.

Sekali lagi, saya tidak akan menjudge teman-teman yang punya pemahaman sendiri. Silahkan saja, setiap orang punya hak untuk itu. Urusan dengan Tuhan memang sangat personal.

So, akhir kata saya mengucapkan Selamat merayakan Hari Natal pada teman-teman yang merayakannya. Juga SELAMAT TAHUN BARU 2009. Kita ketemu lagi tahun depan yaa…….. :)

Popularity: 12%

86 Responses to “Kenapa Tidak Boleh Mengucapkan Selamat Natal?”

  1. nie says:

    loh..aneh bener. mo ucapin ya ucapin aja. ini kan bukan masalah kepercayaan, tapi hubungan sosial dengan sesama. tapi sukur deh disini pada rukun2. bukan cuman ngucapin selamat natal, taon baru, imlek ato idulfitri aja..bahkan ikut ngasi kue. horee! itulah sebabnya saya sangat suka hari raya.

    met taun baru, dear ;)

    [Reply]

  2. Edi Psw says:

    Ada yang bilang kalau mengucapkan selamat, berarti mengakui kebenaran ajaran mereka

    [Reply]

  3. @del says:

    Bukan maksud berasa benar juga! dalam keyakinan saya (islam) hal ini dilarang karena dengan mengucapkan selamat, berarti bahwa kita membenarkan dan meridho kan ajaran selain islam. Padahal di alquran disebutkan ajaran ketuhanan sudah disempurnakan dan di turunkan kepada umat nabi muhammad.

    Mungkin alasannya seperti itu mbak :D

    [Reply]

  4. tuteh says:

    Iya, Kk. Saya juga pernah denger yang seperti itu. Katanya nggak boleh ngucapin Selamat Natal … bila kita Muslim. Saya pribadi, dan keluarga, memandang itu sebagai hal yang agak aneh karena nggak ada di Rukun Iman atau Rukun Islam :p huekekek juga yang diajarkan adalah : Hubungan Manusia dengan Manusia (gue lupa bahasa Arab-nya apa ;p).
    Mama saya mualaf, masa iya nggak boleh ngucapin selamat Natal ke keluarga2 Mama? Bahkan kalo Natal kita dapat undangan istimewa ke rumah mereka secara Mama sendiri kan yang Muslim? So what’s wrong? :p
    Cinta kasih, jalin hubungan baik, saya pikir itu juga Tuhan punya mau :D huekekeke…

    [Reply]

  5. t i n i says:

    Mo cerita sikit, kak.
    Tetangga kami nasrani dan dr kecil kami selalu kirim2an kue saat lebaran dan thn baru sambil memberi selamat.
    Hal ini berlangsung lama dgn alasan saling menghargai.
    Setelah dewasa dan banyak belajar Islam, baru tahu apa hukumnya.
    Sejak itu kami menghentikan tradisi tsb.
    Kak, banyak hal yg tak perlu dipertanyakan dlm syariat. Karna mendebat hal2 yg jelas hukumnya hanya akan mengaburkan kebenaran yg hakiki.
    Dan hidup di daerah abu2 dgn keraguan yg sifatnya permissive destructive itu sungguh tdk nyaman.
    Saling menghargai itu adalah membiarkan kita menjalankan ibadah masing2 tanpa harus mengganggu satu sama lainnya.
    Contohnya jika sdh terdengar azan tanda wkt sholat hendaknya tdk menghidupkan tape/radio kuat2.
    Begitu jg kalo ada misa ato partamiangan jgn kita lakukan jg.
    Tp terkadang hal2 yg justru paling utama seperti ini sengaja diabaikan dan menyakiti satu sama lain.
    Bagiku tak masalah tdk saling mengucapkan selamat. Justru dgn saling menghargai seperti itu persahabatan akan terasa lebih manis.

    Duh, sorry kak kepanjangan yah.. Hehe

    [Reply]

  6. Yuni says:

    Umumnya di Indonesia, ngga yang muslim maupun kristen, dalam mengenal agama sejak kecil kita diajarkan untuk selalu melihat perbedaan. Ajaran agama lebih dititikberatkan ke soal ritual belaka, bukan substansinya.

    Mengapa? Ini soal mutu pendidikan di Indonesia. Makanya muslim selalu beranggapan yang ada di gereja itu adalah para kafir dan penghuni neraka, bagi yang kristiani beranggapan yang ada di mesjid itu pengikut iblis. Kloplah Indonesia.

    [Reply]

  7. OktaEndy says:

    Selamat Tahun Baru Zee..

    aku punya sahabat dekat, sangat dekat malah yang setiap kali sesudah hari natal dia selalu berkata dengan sedihnya “Ta, sorry gak bisa ngucapin selamat hari natal, karena sepengetahuan ku tidak boleh” aku cuma bilang it’s oke lah.. gak masalah koq..

    beberapa tahun yang lalu dihari Natal dia telp aku dan berkata “Ta, Selamat Hari Natal” dia bilang seneng banget bisa ngucapin selamat hari natal, dia denger ceramah yang mengatakan mengucapkan hari natal itu diijinkan.

    Entah sepertinya masalah ini memang ada pro dan kontra nya, aku sendiri gak ngerti kenapa..

    aku sih berfikir simple.. mengucapkan selamat adalah person to person, hubungan horisontal bukan hubungan vertikal, kalo ikut misa natal baru gak boleh hehehehe…

    [Reply]

Leave a Reply: