Month: September 2013

Mulai Hunting Sekolah

Dari akhir tahun lalu sebenarnya saya sudah pusing. Pusing cari sekolah untuk anak, bo’. Tahun depan kan Vay sudah masuk SD, ya, dan memilih sekolah itu ternyata tidak mudah. Sama sekali tidak sama seperti pergi ke toko emas, cari perhiasan sesuai selera dan isi kantong. Yang jadi pertimbangan utama saya adalah lokasi. Lokasi sekolah kalau … Read More

Aseekkk... jemur teruss....

Bye Bye Pelampung

Lama juga ya gak update blog. Keasyikan dengan Instagram dan juga kesibukan lainnya, agak mengalihkan perhatian saya dari blog.

Saya lagi happy. Kemarin ini, saya melalui sebuah momen berharga. Ya, memang menurut saya itu sangat berharga karena untuk seorang ibu yang bekerja, bisa dikatakan banyak momen perkembangan anak yang tidak bisa saya lihat di saat-saat pertamanya. Jadi saat mendapati momen ini tepat ketika saya ada di situ, rasanya bahagia sekali. Bangga. Sesuatu bangetlah pokoknya.

Jadi nih ya, Vay itu kan sudah bisa berenang sesedikit. Seperti yang dulu pernah saya ceritakan, saat umur tiga jalan empat tahun, Vay sempat setahunanlah trauma dekat kolam. Tidak mau kena air kolam, dan selalu menjerit kalau kita bujuk untuk mendekati kolam. Maka itu, ketika dia akhirnya berani dan atas keinginannya sendiri mendekati kolam untuk sekadar mencelupkan kaki, bagi saya itu kemajuan yang sangat berarti. Setelah itu tak lama kemudian dia kami ikutkan les renang di sekolah. Dan kemudian, akhirnya dia pun bisa juga berenang, pakai pelampung tentu saja. Bolak-balik dari ujung ke ujung sudah kuat.

Aseekkk... jemur teruss....

Aseekkk… jemur teruss….

Vay itu, bukan anak yang suka dibujuk-bujuk atau dipaksa. Bila ingin mengenalkan atau memintanya melakukan sesuatu, harus perlahan dan sabar menunggu hingga dia mau sendiri. Saya sih tidak masalah, karena pendekatan ke anak itu prosesnya beda-beda kan. Daripada memaksa dan malah membuatnya tidak suka, lebih baik dicari cara lain yang lebih smooth. Makanya saya tidak mau memaksanya menyelam atau membuka pelampung meski saya yakin dia pasti bisa. Selama beberapa bulan dia terus berenang mengapung dengan pelampung di lengan, dan bahkan tidak ingin mencelupkan kepalanya ke dalam air. Meskipun sudah diajarkan oleh gurunya di sekolah, dia tetap menolak untuk menyelam. Nah, sebulan terakhir ini, setelah masuk sekolah dan lanjut les lagi, kayaknya sih pelajaran menyelam itu menjadi lebih intens (mau gak mau kan ya, kan harus ada peningkatan) maka dia pun sudah bisa menyelam satu dua detik.

Minggu kemarin, sehabis pulang dari les electone, sorenya saya suruh dia berenang. Tujuannya sih biar dia capek, dan malamnya bisa cepat tidur. Setengah jam berenang, rencananya Vay mau udahan. Tapi karena masih pengen latihan menyelam, dia masuk lagi, kali ini tanpa pelampung lengan. Jadi dengan berpegangan pada pinggiran kolam, dia pelan-pelan masuk ke kolam, lalu muncul lagi. Melihat kondisi dia sudah tanpa pelampung, saya langsung memanas-manasinya, bilang kalau dia pasti bisa berenang tanpa pelampung.

“Gak mauuu! Nanti aja kalau Vaya udah besar,” dia mulai ngeles. Tapi terus saja saya coba bujuk. Saya bilang, meskipun tanpa pelampung dia tak akan tenggelam, selama kaki dan tangannya mengayuh. Coba dulu menyelam dan langsung kayuh kakinya, pasti bisa, kata saya lagi sok jadi guru renang.

Dan, akhirnya dia berani jugaaaa… Pelan-pelan dia menyelam lalu mengayuh. Dan, berhasil! Alhamdulillah. Buat saya, ini adalah momen yang sangat luar biasa buat saya karena momen first time-nya Vay ini bisa saya saksikan langsung. “Wah, hebaat…. udah kayak ikan, lho, Nak, berenangnya!” Dibilang kayak ikan, Vay makin semangaaat. Sampai batal naik ke atas! Udah gitu langsung nyelam dalam dan duduk di dasar kolam. Soknyaaa…. LOL.

Ini dia videonya. Ini si Vay sudah ngos-ngosan capek.


So proud of you, my sweetheart!