Aku Sayang Oma

Jadi ceritanya, di rumah kami ada tante saya. Sudah sepuh, tahun ini umurnya akan masuk 70 tahun. Beliau ini kakak dari mami saya, dan ya namanya oma-oma, kegiatannya ya santai-santai saja kan. Kalau bosan di Medan, minta diajak ke Jakarta. Nanti kalau sudah rindu Medan ya balik lagi ke Medan.

Sekarang si Tante sudah tujuh bulan di Jakarta. Selama di Jakarta ya baik-baik saja, sesekali kurang sehat juga pernah.

Tante saya ini sejak lama memang mengalami kurang pendengaran. Kemudian karena di lehernya juga ada bekas operasi – yang dilubangi biar bisa bernafas dengan lega – bicaranya juga tidak jelas. Kami semua kalau bicara dengan si Tante selalu pakai nada tinggi dan sudah pasti dengan logat Papua – yoi, si Tante kan lahir dan besar di Papua, sama sih kayak saya juga – biar tante lebih paham.

Nah, belakangan ini Vay suka marah dengan Oma Tji ini. Sepertinya dia kesal dengan cara Oma godain dia. Yeah, yang satu anak-anak, yang satu lagi oma-oma, beda generasi jauh, beda apa yang mereka harapkan. Si Oma merasa caranya yang paling benar, Vay merasa itu tidak menyenangkan. Jadi dia pasti cemberut dan pasang muka galak. Lalu marah-marah, bilang ke ayahnya kalau dia tidak suka dengan omanya. Ditanya ayahnya kenapa, katanya karena Oma Tji kurang dengar dan Vay susah berkomunikasi dengan dia. Ayah balik bertanya, “Kan Oma Tji sudah tua, wajar kan kurang dengar. Kenapa Vaya harus marah, kan memang orang kalau sudah tua biasa kan berkurang pendengarannya.”

Saya lebih galak lagi sama Vay. Kalau dia mulai melotot dan berteriak ke Oma Tji, langsung saya tegur keras. Saya ceritakan padanya bagaimana saya kecil dulu diurus sama si Oma, jadi Oma Tji pun sama dengan Mami saya, sama-sama ibu saya. Saya bilang, Vay marah-marah sama Oma Tji pun, Oma gak pernah marah balik kan. Tetap saya Oma-nya sayang sama dia. Nanti kalau ada butuh apa-apa, pasti kan dia cari Oma Tji juga kan.

Kemarin ini, dia marah-marah lagi gara-gara digodain omanya. Anak-anak kan begitu, emosinya naik turun, dan tidak mudah hanya dengan diberi nasihat. Tapi kemarin itu memang bisa dikatakan timing yang tepat dan seperti sudah diatur. Saat kami pergi ke plaza dekat rumah untuk belanja bulanan, kami kan mampir dulu ke toko buku, ingin cari buku Atlas.

Saat melewati sebuah rak, mata saya tertumbuk pada sebuah buku cerita anak-anak, berjudul “Aku Sayang Oma”! Omaigat, ini pas sekali! Saya berhenti, mengambilnya, membuka dan membaca beberapa lembar, lalu melirik Vay di sebelah saya.

“Dek, nih. Vay kan lagi marah sama Oma Tji, coba baca ini,” saya sodorkan padanya buku itu.

Vay terdiam, tapi mengambil buku cerita itu. Dan, sejak dari rak buku sampai di depan kasir, dia jalan sambil baca buku itu dengan tenang. Mukanya serius gitu, sampai saat mau di-scan di kasir pun kita harus nego alot. Lha bukunya kan belum dibayar, toh.

Terus begitu sampai di atas, saat kita tiba di kafe donat. Dia melanjutkan membaca buku cerita itu, dengan serius, sampai tamat.

Membaca buku "Aku Sayang Oma"

Membaca buku “Aku Sayang Oma”

SAM_1088

Cerita di buku ini menurut saya bagus, tepat sekali menggambarkan bagaimana kondisi Vay sekarang. Yang marah-marah terus ke omanya karena hal sepele, padahal itulah satu-satunya keluarga dia di rumah saat orangtuanya pergi ke kantor.

Saya tidak memberi komentar apa-apa lagi ke Vay, setelah dia baca buku itu. Tidak perlu diulang-ulanglah, saya percaya dia bisa menyerap apa yang dia baca dari buku itu. Biarkan saja dulu dia berdebat sendiri dengan hatinya, bagaimana dia harusnya bersikap kepada omanya. Setiap masalah yang dihadapi anak sejak kecil, dan bagaimana dia mengatasinya sendiri, akan membangun dan memperkaya karakter anak. Saya percaya itu.

Saat mau naik eskalator, saya cuma bilang, “Vay pegangan sama Oma, ya. Mami harus dorong trolley soalnya.” Dan dia dengan senang hati langsung menggandeng si Oma! Padahal tadi pagi masih marah tuh!

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Related Post

Udah Kayak Abege Tak terasa Vay sudah gede. Gayanya sudah kayak anak abege saja, meskipun dalam kenyataannya masih manja-manja sama mami dan ayahnya. Cuma ya kalau di sekolah dia sudah mulai jaim. Diantar di depan pintu, gak mau dicium lama-lama lagi. LOL. Semaki...
Hello Kitty di Dunia Fantasi Ancol Jadi kan, kemarin itu saya sama teman-teman kantor pergi ke Dunia Fantasi, Ancol. Saya bawa Vay, karena mau ke wahana Hello Kitty yang baru buka itu. Karena wahana ini baru dibuka jam 12 siang, kami keliling dulu cobain wahana lain sambil makan si...
Safety Adalah Yang Utama Dulu sekali, Vay pernah tanya. “Mami, Vaya umur berapa boleh nyetir mobil?” Yang kemudian saya jawab, “Kalau usianya sudah tujuh belas tahun, ya.” “Ha? Seventeen?” dia sedikit membelalak. “Tapi kenapa Mami sudah nyetir sejak umur f...
Weekend Santai di Rumah Karena beberapa hari ini banjir mengepung Jakarta, kita pun tidak kemana-mana. Bahkan Vay juga tidak sekolah dua hari kemarin. Hari Kamis, hari pertama Jakarta Darurat Banjir, pagi-pagi sekali saya sudah was-was dengan hujan yang turun deras dan awet...
Hore…! Dapat Piala! Haiii.... mau updated nih. Masih ingat postingan yang ini kan? Yang Vay ikut choir competition. Ternyata sekolahnya menang lho. Dapat juara 3. Lumayan kan, dari sekian banyak cabang Kinderfield, masih bisa menyabet trophy juga. Anyway, kata sal...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

30 thoughts on “Aku Sayang Oma

  1. Pelajaran yang sering saya ambil ketika menjelaskan sesuatu pada anak, sebisa mungkin berikan penjelasan yang benar kepadanya, walaupun mungkin agak susah dan sepertinya sulit di mengerti, tapi ternyata anak kecil bisa memahami.

    • Zizy

      Setuju. Anak-anak meski masih kecil, tp bisa juga cepat memahami. Di beberapa kasus, perlu memberikan penjelasan yang logis kepadanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *