Hari Minggu lalu ketika saya sedang membaca-baca judul novel di rak depan Kinokuniya Plaza Senayan, mata saya tertumbuk (lagi) pada sebuah novel terjemahan berwarna coklat keemasan bergambar anak kecil.
Stolen Child, karya Keith Donohue. Novel itu sebenarnya sudah saya lihat sejak dua minggu sebelumnya, tapi kemarin itu saya belum terpikir untuk membelinya, even saya sudah membaca sinopsis nya di halaman belakang. Dan kemarin, dalam penglihatan yang kedua itu (halaah…!!) tangan saya begitu saja meraih satu dari susunannya yang rapi, membaliknya, dan membaca sinopsisnya (kembali). Berusaha menyatukan pikiran-pikiran di kepala saya dan mencari pembenaran bahwa novel tersebut pantas untuk dibaca.

“Hobgoblin adalah peri-peri kecil yang suka menculik dan bertukar tempat dengan anak-anak manusia. Seorang hobgoblin akan berubah menjadi anak manusia dan menggantikan anak yang diculik. Sementara si anak akan berubah jadi hobgoblin, dan menjadi anak kecil selamanya… kecuali bila ia bisa kembali menculik seorang anak manusia dan bertukar tempat dengannya!”
Woww..!
Dua hari saya kebut untuk membaca Stolen Child, saat jam istirahat siang di kantor, saat lagi macet di jalan di dalam mobil, waktu lagi nunggu giliran di praktek dokter, dan tentu saja saat di rumah. Rasa penasaran untuk tahu kelanjutannya terus terbawa-bawa kemanapun saya pergi. Sekalipun mata sudah sepet dan ingin tidur, tapi otak masih jalan terus. Masih ingin membaca. **ck ck ck maksa bange..d**
Well. Ini adalah salah satu novel fantasi & fairy tale terbaik yang pernah saya baca. Bukan bermaksud melebih-lebihkan tapi begitulah yang saya rasakan.





Kebetulan sekarang saya juga sedang baca novel ini, tapi belum selesai sampai akhir. Cerita menyedihkan dan membuat emosi saya meledak-ledak tiap membaca perlembar halamannya. Ironis tapi juga tidak bisa menyalahkan siapa-siapa karena ke dua tokoh utama di cerita itu adalah korban.
[Reply]