“Jika seorang pria telah pernah pergi ke tempat seperti ini (klub streaptease-ed) dan mengakuinya, ia telah cacat di mata pasangannya. Dan, jika ia mengakui menikmati hal tersebut, ia akan semakin ternoda. Itulah sebabnya para pria yang kutemui tak pernah jujur pada pasangannya mengenai hal-hal yang berbau cabul atau apa yang dilakukannya untuk mendapatkan….”

Itu kutipan dari buku terbaru yang sekarang ini sedang laris, dan katanya menuai banyak pujian dari para kritikus buku. Female Undercover, kisah nyata petualangan si penulis Norah Vincent saat menyamar menjadi seorang pria lalu kembali lagi menjadi wanita.

Kalau masuk ke Gramedia MKG, di baris terdepan (sebelum mendapati kasir kedua dekat deretan rak novel), pertama kali akan ketemu stan (kalau bisa disebut stan berdasarkan ukuran) 1,5 meter x 2 meter, yang semuanya berisi tumpukan rapi dari Female Undercover!

Wanita satu ini, Norah, melakukan penelitian untuk kepentingan buku yang ditulisnya ini. Untuk menyempurnakan penyamarannya, ia memotong rambutnya jadi cepak, memasang kumis tipis dan jenggot palsu, membesarkan otot di gym, menjepit dadanya pakai bra sport agar terlihat rata, dan agar lebih sempurna Norah memasang penis palsu!

Buku ini serius, tapi juga lucu.

Yang paling seru ketika ia menceritakan pengalamannya nongkrong di klub striptease (God! She’s so straight talking, baca deh Bab.3 kalau tidak akan terkaget-kaget :p~). Norah juga berkencan dengan para wanita, dan dalam buku ini dia mengaku kalau dia bukan seorang heterokseksual, sometimes setelah ia membuka kedoknya di depan para teman kencannya, para wanita itu masih mau lanjut dengannya. See…??

“Ketika di bangku kuliah, aku menyadari bahwa kebanyakan lelaki yang berusaha berbicara padaku di pesta-pesta memang sungguh menginginkan hal itu. Selain itu, aku bukanlah apa-apa. Aku menebak pikiran mereka, mengapa bersusah-payah mengajak ngobrol jika kau tak ingin bercinta dengannya?”

“Di benak para lelaki yang pernah kutemui, ada praduga tak bersalah : Anda adalah orang baik sampai terbukti sebaliknya, Sementara, benak perempuan kerap menyimpan praduga bersalah : Anda kurang ajar (maksudnya bajingan!) seperti lelaki lain sampai tak terbukti memiliki sifat seperti mereka.” =)) Hahahaha…. Ada benarnya juga siy.

“Ritual perkenalan kaum Adam adalah saling berjabat tangan. Membalas jabat tangan seseorang seperti merupakan keharusan tak tertulis yang telah dipraktekkan sejak lama. Ketika seorang pria menjabat tanganku, ia memberikan sesuatu yang riil. Ia menganggapku eksis. Sampai tingkat tertentu, para pria tak perlu belajar atau mengingatkan diri mereka sendiri bahwa persaudaraan merupakan sebuah kekuatan penting.”

**So, jadi ini sebabnya kenapa cowok-2 dari klub billi setiap ketemu di Kenari atau/dan akan berpisah, selalu saling menjabat tangan. Awalnya saya sempat heran, “Kok ribet banged sih ni cowo2,” tapi setelah membaca buku ini, saya akhirnya paham :) **

Ketika Ned pertama kali menjajal kemampuannya sebagai lelaki, ia mencoba mengajak kenalan cewek di bar. Tapi dia langsung mengalami penolakan yang membuatnya sakit hati. Jangankan membalas sapaan, cewek-cewek itu cuma melirik tak selera padanya, **soalnya posturnya memang terlalu kecil untuk ukuran cowok. Kasiannn…:p~ **

Begini nasihat teman lelakinya, “Penolakan adalah hal yang biasa dialami lelaki.” Seorang lelaki yang kau lihat sering gonta-ganti pacar, sebenarnya itu adalah 10% hasil dari pendekatannya terhadap wanita, sementara 90% lagi adalah penolakan.

Buka juga Bab.6, saat Norah menyamar jadi biarawan, ini asli kocak banged. Karena beberapa pastur sempat curiga dengan tingkahnya yang kadang tidak terlihat “seperti lelaki”.


Masih banyak yang kocak dan blak-blakan di buku ini. Jadi silahkan beli bukunya kalau masih penasaran. :)

One Response to “Female Undercover – Norah Vincent *****”

  1. catatan bagus tentang bagaimana cara pandang dari persepsi laki-laki dan juga perempuan tentang diri masing-masing. terdapat jurang pemisah yang terkadang tidak bisa di jembatani karena keegoaan dan juga minimnya referensi

    [Reply]

Leave a Reply: