Saya baca novel ini sebulan yang lalu. Yang udah baca mungkin bilang saya telat ya hehee.., tapi saya memang gak sengaja menemukan buku ini ketika main ke Gramedia waktu itu (jam istirahat kantor pula).

divortiare

Actually gak niat-niat banged beli novel, mungkin karena pengalaman punya beberapa novel yang masih dibungkus dan tidak dibaca. Ada yang karena seri pertamanya membosankan jadi gak dibaca habis, nah gimana caranya mo baca seri keduanya kalo yang pertama aja bosan. Tapi saya tertarik dengan covernya yang beda, dan saya pikir gak ada salahnya saya beli novel ini. Seems okay lah, apalagi di belakang banyak pujian dari penulis lainnya.

Ceritanya berkisah tentang kehidupan Alexandra, seorang bankir sukses yang cantik, kaya raya dan fashionable habis (yeah, so chicklit bukan?) tapi harus menjadi janda di usia 27thn. Biarpun sudah menjadi janda, namun Alexandra ternyata belum bisa lepas dari bayang-bayang Beno, mantan suaminya. Kebenciannya sangat menggebu-gebu pada Beno yang telah menelantarkan dia demi pekerjaannya, namun entah kenapa Lexy tidak juga kunjung melakukan operasi untuk menghilangkan tattoo nama “Beno” di dadanya. (kamu akan suka dengan alasan yang dibuat Ika Natasha untuk Alexandra, ada pesan moralnya disini).

Ketika akhirnya dia menjalin hubungan serius dengan mantan pacar ketika kuliah dulu, Lexy dihadapkan pada kenyataan bahwa dia harus berhenti dari pekerjaannya yang karirnya sedang menanjak dan ikut calon suami pindah ke New York. Di sisi lain dia juga semakin ragu dengan perasaannya, apakah dia memang mencintai Denny, atau sebenarnya dia masih cinta pada Beno, mantan suaminya?

———-

Saya belum baca novel pertama si penulis, tapi saya baca testimoni orang-orang. Sebagian bilang bagus, sebagian bilang jelek.

But testimoni saya untuk novel Divortiare ini :

Pertama, sebenarnya pilihan temanya bagus, ya karena jarang ada cerita tentang janda. Tapi, tokoh ini terlalu sempurna, hampir tidak ada cacat. Cantik, pintar, kaya raya, karir yang sukses, pakaian selalu branded, dan juga diceritakan sebagai “wanita yang jual mahal”. Ya agak-2 kurang pas aja, contohnya ketika Lexy berharap ada bonus biar bisa melunasi cicilan mobilnya, sama ketika bonus tahun lalu yang dipakai untuk dp Vios. Untuk ukuran Lexy yang sukses dan gaji besar sampai bisa beli baju mahal dari New York, mustinya mobilnya bukan Vios, dan kalaupun iya, ya gak perlu sampe nunggu bonuslah biar bisa dilunasi. Dengan gajinya setiap bulan juga mustinya bisa dilunasi. :)

Oh iya, saya juga gak bisa punya gambaran di kepala seperti apa cantiknya tokoh Lexy ini.. (hmm mungkin karena saya terpaku pada foto penulisnya di belakang ya). Umumnya chicklit or novel-2 wanita yang saya baca jarang pasang foto penulis jadi saya bisa bebas berangan-angan seperti apa sih tokohnya.

Kemudian gambaran konflik antara Lexy dan Beno emosinya kurang kuat. Istilahnya kalo mo benci, suasana bencinya kurang terasa, sebaliknya kalo mo cinta, juga biasa saja. Jadi saya membaca ini juga standard saja, gak sampe kening berkerut karena ikutan jengkel. Apalagi gambaran tokoh Denny sebagai tunangannya Lexy. Tipe cowok yang membosankan. Setiap sampai pada cerita tentang Denny, saya langsung merasa bosan. Beberapa kisah romantisme cinta yang sebenarnya terlalu sinetron menurut saya.

Ketiga, ini ada bagusnya dan ada jeleknya juga. Novel ini terlalu banyak menggunakan bahasa Inggris untuk ukuran novel Indonesia. Yeah, let say ini mungkin memang ciri khasnya si penulis ya, but lagi-lagi ini menjadikan novel ini terlalu perfect. Bagus sih biar pembaca juga tahu beberapa istilah dalam bahasa Inggris, tapi kalau terlalu banyak kesannya kok maksa… kurang membumilah intinya.

But most of all, yang membuat sedikit kekurangan itu jadi tertutupi adalah endingnya gak ketahuan. Dan ketika sampai di ujungnya, ternyata… endingnya gantung, haahahaa… jadi bikin penasaran dan kita pun jadi menebak-nebak sendiri gimana akhirnya.

Satu hal yang saya suka adalah, cara Ika menempatkan plot. Bagus banged. Dia bisa bawa kita kemana saja tanpa membuat kita tersesat, “eh, tadi ceritanya sampai dimana ya?” Kayak gitu. Gayanya menulis termasuk gaya baru dan fresh (yeah walopun cerita & tokohnya too perfect..but it’s okaylah asal gak terus-terusan..).

So, Divortiare is 3/5.

Saya tunggu pendapatnya buat yang udah baca ya?

9 Responses to “Divortiare – Ika Natasha ***”

  1. ivo says:

    woh..pdhl sy suka bgt ama novel2nya mb ika loh.. yaa mgkn krn sy udh tbius dgn gaya penuturannya yaa..n lgpula perasaan nya si alexandra itu pernah ak rasain.
    anyway, dr novel2 nya si mb ika ak jd bljr byk pesan yg tsirat yg bs ak petik…

    nb. sy smpe bikin tokoh alexandra utk main poker di fb xixi tp kl tokoh beno nya memng gak kpikir ky apa

    [Reply]

  2. ndutyke says:

    Pengen deh, novel ini difilm-kan! Asal jgn aja ntr pemainnya ngambil dr kalangan artis sinetron :)

    [Reply]

Leave a Reply: