Saya bukan penikmat novel dengan genre tertentu. Membaca chicklit saya suka, komik saya suka, sastra juga suka, novel dewasa juga suka. Kecuali roman cinta remaja — karena sudah lewat masanya barangkali — saya suka baca macam-macam genre.
Dan saya jelas cinta sekali dengan tetralogi Laskar Pelangi dan dwilogi Padang Bulan dari Andrea Hirata. Sang sastrawan Melayu itu jago sekali membawa pembaca turut larut dalam novel-novelnya. Tertawa, tersenyum, terharu, sedih, takut, semua jadi satu.
Tapi, ada satu genre novel yang terasa paling nikmat dibaca. Thriller. Dan thriller terbaru yang saya baca adalah : Shinju.
Ini bacaan terbaru saya. Harus saya akui bahwa saya kesulitan menyelesaikan membaca novel ini. Pertama, karena buku ini bercerita tentang kehidupan Jepang di abad ke-17, dan kedua saya buta tentang Jepang. Jadi membaca novel ini benar-benar butuh ‘perjuangan’. Biasanya novel selesai dalam 2-3 hari, paling lama 4 hari. Tapi Shinju ini selesai dalam waktu seminggu!

Shinju Novel
Buku ini bercerita tentang seorang yoriki bernama Sano Ichiro yang berupaya menegakkan kejujuran dan keadilan bagi warga di distrik Edo. Saat terjadi kasus “bunuh diri ganda” yang melibatkan seorang seniman miskin dan putri sang damyo, hakim dan keluarga perempuan seakan menutup mata dan berharap kasus bunuh diri akibat cinta terlarang atau sinjhu ini tersebut ditutup. Tapi bukti-bukti awal yang ditemukan Sano berkata lain. Ada yang tidak beres dan tidak klop sama sekali. Semuanya bermuara pada satu dugaan kuat, yaitu pembunuhan.
Melawan rasa tanggung jawab menjaga nama baik keluarga dan rasa hutang budi pada atasan yang telah menaikkan derajat keluarga mereka dengan memberinya jabatan yoriki, Sano harus memilih apakah dia harus meneruskan penyelidikannya atau dia memilih tutup mata saja seperti perintah hakim?
Korban-korban tak bersalah terus berjatuhan seiring tekad Sano menguak kasus. Didera perasaan bersalah yang besar, Sano bertekad untuk terus menyelidiki, walaupun harus kehilangan nyawanya. Toh dia sekarang sudah kehilangan jabatannya, difitnah pula sebagai pembunuh, dan hanya pedang samurai saja yang masih bisa dipegangnya sebagai bukti kelasnya sebagai samurai.
Berhasilkan Sano menguak konspirasi besar yang ada di balik kasus pembunuhan yang berusaha ditutupi itu? Ataukah dia akhirnya mati saat menguak kebenaran?
Well, satu hal yang pasti. Tiga hari pertama rasanya membosankan sekali baca novel ini, sampai-sampai saya harus memaksa diri. Tapi ketika sampai di tengah-tengah, ternyata ceritanya semakin seru. Dan saya tak bisa berhenti membacanya samapi tengah malam. Astaga… ternyata cerita ini begitu menarik! Saya ketakutan, tegang, emosi, marah, sedih, semua campur aduk.
Kekurangan novel ini hanya pada bahasa. Saya pikir wajar juga karena cerita berlatar belakang kehidupan Jepang, — entah versi aslinya dalam bahasa Inggris or Jepang — tapi mengalihkan menjadi bahasa Indonesia memang tidak mudah. Dan saya banyak menemukan kalimat yang terbalik atau menggantung, ini alasan ketiga susahnya saya menyelesaikan membaca novel ini. Dan penerjemahnya banyak sekali pakai kata “alih-alih” …
….
Tapi secara general saya suka novel ini. Jelas! Jadi menambah ilmu lagi. Oh, ternyata Jepang itu dulu begini, oh ternyata samurai itu begini, begitu, dan seterusnya. Buku ini memang banyak kasih ilmu buat saya.
Dan seperti halnya novel bergenre thriller, Shinju tidak bisa dikatakan novel yang ringan. Jadi carilah waktu, tempat, dan suasana yang pas bila ingin membaca novel ini dengan tenang.
Saya kasih rating 4/5 untuk keseluruhan.




