Seperti Sisa Cappucino di Dasar Cangkir

Teringat ketika bertemu seorang sahabat, akhir tahun lalu. Sahabat saya ini dulu teman lama waktu di Medan namun kemudian ikut suami pindah ke Sorong. Saat itu saya bertanya, bagaimana Elz, kehidupan di Sorong? Saya ingin tahu, bagamana sih perasaan orang kota yang pindah ke daerah yang jauh dari hingar bingar kehedonan dunia ini, berbanding terbalik dengan saya yang menghabiskan masa kecil di daerah, lalu menghabiskan masa remaja di kota besar.

Lalu Elz bercerita kalau di sana memang jelas beda dengan kota besar. Karena waktu luang juga cukup banyak, dirinya dan keluarga sering mengadakan pertemuan, dengan tujuan yang positif, berbagi ilmu dan apa pun yang positif untuk anak-anak penduduk asli. Lalu ceritanya lagi, penduduk asli di sana adalah orang-orang yang tak pernah lupa untuk bersyukur atas apa yang mereka miliki. Selalu bersyukur dan juga berdoa. Saya tak tahu apakah sekarang ini Elz sudah terbiasa dengan perubahan kehidupan, dari kehidupan di kota besar menjadi kehidupan di kota kecil, namun entah kenapa, saya bisa merasakan betapa tenteramnya kehidupan itu. Barangkali karena saya teringat pada kehidupan masa kecil kami di Biak dulu, yang juga selalu mensyukuri apa yang ada. Karena yang ada pun sudah mencukupi, meski tak berlebihan.

Luar biasa betapa itu sangat berbeda dengan yang sekarang saya jalani di kota besar ini. Mengukur jalanan sejak pagi demi mengejar materi, dikelilingi kesombongan gaya hidup kota besar yang sangat penuntut, berselimutkan stress dari pagi hingga malam yang membuat kepala mau meledak dan gigi ingin menggigit gelas (!). Bahkan dengan semua kemegahan yang disediakan kota ini pun, seringkali masih mengeluh dan tak puas.

Malam tadi, ketika taxi pesanan tiba di depan pagar dan kami sudah naik di dalam, ternyata supir taxi bilang dia tak tahu jalan. Lalu ternyata taxinya tak pakai GPS. Saya langsung mengernyitkan dahi, bagaimana sih bapak ini, jadi supir taxi tapi tak tahu jalan. Satu bisikan menganjurkan untuk turun saja dari taxi, tapi satu bisikan lagi bilang “Sabar, kan handphonemu bisa GPS.” Oke, akhirnya taxi jadi berangkat dengan bantuan GPS dari handphone saya.

Kami akan menuju ke daerah Kelapa Gading, karena saya, tante saya, juga Vay akan bertemu dengan tante saya yang lain, yang baru tiba dari Sorong dan besok akan lanjut ke Medan untuk ketemu adiknya – mami saya. Pertemuan ini memang dibela-belain meski jauh, karena kita akan bertemu tamu jauh yang tak bisa sering-sering sowan dikarenakan jarak yang tak mudah ditempuh apalagi si tante ini juga sudah sepuh.

Setelah mencari-cari, akhirnya ketemu juga hotel kecil tempat tante saya menginap. Kami turun dan akhirnya bertemu dengan tante saya di kamarnya dengan cucu-cucunya. Mengobrol, saling menanyakan kabar. Si Tante cerita, tadinya memang beliau ingin ditemani oleh salah satu anak atau cucunya ke Medan, namun karena tak ada yang bisa menemani, ya sudah sendirian saja. Toh sampai di Jakarta kan juga akan dijemput. Katanya, anaknya yang di Surabaya sempat khawatir, apa maminya berani terbang ke Jakarta sendiri? Lalu si Tante melanjutkan, “Tante bilang, tidak apa-apa to. Kan yang penting kita berdoa biar Tuhan kasih kekuatan.” Lalu ceritanya lagi beliau sempat capek karena tiba di terminal harus jalan kaki jauh dari pesawat turun ke landasan lalu masuk lagi ke gedung lalu jalan sampai keluar dan itu jauh. Pastilah ya, compare to bandara di Sorong. Saya katakan, berikutnya tante bisa minta dibantu petugas pakai kursi roda kalau memang kaki sudah capek sekali.

Keluar dari situ, hati saya sedikit melunak. Perkataan si tante itu membekas di kepala saya. Beliau sangat ikhlas dengan hidupnya, beliau juga percaya bahwa doa akan membuat hatinya lebih tenteram karena tahu Yang Di Atas akan selalu mendampingi umatnya. Dan itulah yang membuat ingatan saya kembali pada cerita Elz itu, tentang orang-orang yang ikhlas dan tak pernah lupa bersyukur.

Di dalam taxi, saya merasakan perlahan-lahan rasa sesak di dada yang dibawa sejak dari kantor tadi mulai melunak. Saya bisa melihat dengan jelas sekarang kalau si bapak supir ini sabar dan helpfull (padahal saya sempat judes gara-gara dia tak tahu alamat), terbukti dia mau diminta menunggu di hotel itu karena tahu nanti saya akan susah cari taxi lagi. *Ah kau memang si Kepala Batu yang pemarah.

Seperti sisa susu dari cappucino yang habis diminum, bersisa di dasar cangkir. Itu sudah tinggal ampas, tak tertoleh lagi.

Kalau kata orang bijak, kuncinya satu. Berdamai dengan diri sendiri.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Related Post

Me Time “My best friend is the one who brings out the best in me.” 
― Henry Ford “Happiness is when what you think, what you say, and what you do are in harmony.” 
― Mahatma Gandhi Kemarin siang, saat Vay play date dengan sahabatnya...
Seperti Pasir Secangkir teh susu : Menerangkan sesuatu pada anak tidaklah selalu mudah. Dan bila terus melakukan kekeliruan pun terasa tak nyaman. Seperti menginjak butiran pasir, meski kecil dan halus, namun menggelitik dan terasa tak tenak bila terus-menerus dil...
Gitar Terindah Kemarin malam, ketika saya dan suami sedang di jalan untuk pulang ke rumah (minus Baby Vay, karena baru sembuh jadi sementara Baby Vay gak boleh jalan-jalan dulu), di tengah jalan -- mobil kami sedikit terhalang oleh tiga sepeda motor. Hujan agak r...
Kenapa Cowok Takut Sama Bencong?? Kenapa cowok takut sama bencong? Pertanyaan ini sudah lama bersemayam di kepala saya, tapi kembali muncul gara-gara kejadian kemarin malam. Kemarin malam, di lampu merah Cempaka Mas, seperti biasa tahu kan, banyak pengamen, tukang asongan, tukang kem...
Tampang Yang Tak Mudah Ditipu Ada teman yang bilang wajah saya ini wajah yang tidak mudah kena tipu. Dia bilang begitu gara-garanya begini. Suatu pagi, ketika sedang jalan ke kantor, seperti biasa saya suka lihat kanan kiri. Nah, saya lihat di depan sebuah toko yang masih tutup, ...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | Digital Marketing Practitioner | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

25 thoughts on “Seperti Sisa Cappucino di Dasar Cangkir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.