Di Balik Lensa

Apa Kabar Saya? Baik.

Lama tak mengupdate blog. Rasanya ada yang hilang, tapi juga kemarin sedang kurang mood untuk menulis. Sedang dalam mood yang kurang baik karena harus menghadapi operasi. Saya baru saja selesai melakukan operasi pengangkatan adenomiosis dari dalam rahim, dan proses mulai dari menghitung hari, jam, menit, detik, wah itu luar biasa menyita pikiran dan tak terlupakan. Belum … Read More

Gerhana Matahari Total 2016

Kecewa sebenarnya karena keinginan menonton langsung gerhana matahari total tidak kesampaian. Awalnya janjian dengan beberapa teman mau ke Belitung, tapi lalu tidak ada kabar. Kemudian saya putuskan untuk pergi sendiri sehari ke Palembang (ingin mengajak Vay tapi Vay sedang test semester), dan sudah menghubungi kenalan travel. Sudah ada paket masuk, dengan harga lumayan mahal. Tapi … Read More

Happy New Year 2016

Selamat tinggal 2015 dan selamat datang 2016. May the New Year bring joy, peace and happiness. Hmm apa ya. Saya tidak pernah buat resolusi khusus setiap tahun, tapi yang bisa saya katakan adalah, tahun 2015 menjadi tahun yang baik buat saja, berkat doa dan support dari banyak orang. Alhamdulillah. Semoga tahun 2016 akan menjadi tahun yang … Read More

Suatu sore di November

Sore tadi, ketika kami sedang melakukan rutinitas weekend kami, yaitu Vay menggambar atau mewarnai, sementara saya membuka laptop untuk membaca berita, mengutak-atik foto atau sekadar mengecek email terbaru, hujan turun. Setengah jam sebelumnya kami dibuai dengan geledek besar beberapa kali, yang sempat kami kira palsu juga karena paginya juga ada geledek namun tak ada hujan. … Read More

Perenang Yang Cemberut

Ini memang judul yang tepat sekali menggambarkan Vay kemarin itu. Anak gadis satu itu tidak pernah bisa sabar setiap dimintai foto, padahal sudah tahu kalau dialah model favorit maminya. Maunya sekali foto dan selesai. Ya gak mungkin juga kan, biasanya jarang tuh foto pertama langsung puas. Belum lagi kalau ada penyesuaian settingan kamera. Jadi ceritanya, … Read More

[Kuis] – Video Kemal – Dadar Beli Aplikasi

Masih ingat cerita saya tentang pembuatan DVC Kemal dan Danang-Darto? Ini dia videonya, sudah jadi. Di video ini, ada empat tokoh dengan sifat dan karakter masing-masing yang diperankan oleh Kemal, Danang, Darto, dan Dian. Karena keempatnya punya latar belakang entertain yang baik, maka hasilnya pun okelah, mengalir begitu saja. Di sini, mereka bercerita tentang bagaimana … Read More

[Photo] Hands In Frame

Instagram sedang hype dengan foto #handsinframe. Kalau search dengan hashtag tersebut, pasti akan menemukan banyak sekali foto dimana ada tangan yang kelihatan di dalam foto. Dalam hal ini tentu saja hanya tangan, dan bukan seluruh badan ya. Mostly foto-foto #handsinframe yang saya lihat itu berhubungan dengan #foodphotography walaupun ada beberapa yang related dengan hal lain tapi … Read More

Pembuatan DVC – Semua Jadi Gampang

Yang membuat saya menyukai pekerjaan saya sekarang ini, adalah karena saya bisa menyalurkan kesenangan saya mengulik konten. Bermain dengan konten itu sangat membuat ketagihan, karena semuanya bisa dijadikan konten. Tantangannya adalah, bagaimana agar konten yang dibuat bisa menyampaikan message dengan benar. Jumat kemarin, saya ada di daerah Warung Buncit untuk membuat sebuah DVC lagi. Untuk … Read More

Selamat ya Sayang, sudah mau kelas 1 SD sebentar lagi.

Graduation Oh Graduation

Sabtu kemarin, adalah graduation day-nya Kinderfield. Sejak pagi kita sudah berkumpul di ICC Kemayoran untuk acara tersebut. Sekolah sekarang ya, tamat TK saja pakai acara graduation, padahal dulu kita saat tamat kuliah baru ada wisuda.

Acaranya sendiri diisi dengan festival tari dari anak-anak Kinderfield – all cabang – baru terakhir acara wisudaan.

Festival tari dimulai dari tari Brazilian, Mexico, Jepang, Indonesia, hingga terakhir adalah tarian asal Srilanka. Vay ada di tarian terakhir ini.

Seperti biasa, saya berbunga-bunga melihatnya dance di atas panggung, minimal kali ini dia terpilih bisa ikut dance. Sudah latihan sejak sebulan terakhir, dan Vay semangat sekali dan tak sabar menunggu hari H ini tiba, untuk bisa menari Srilanka.

Ketika tiba tarian Srilanka, tepuk tangan membahana. Sepertinya suporternya lebih banyak nih. Dan ketika tarian dimulai, aduh ternyata tariannya memang bagus, sama seperti tarian India sebelumnya yang juga dibawakan oleh Kinderfield Duren Sawit. Bedanya tarian India sebelumnya kostumnya kurang kece, anak-anak perempuannya pakai baju kayak piyama gitu, sama kayak boys. Kalau dance Srilanka ini, kostumnya bagus.

Srilanka Dance Perfomance Kinderfield Duren Sawit

Srilanka Dance Perfomance (Kinderfield Duren Sawit)

Vay, ternyata memang susah ya untuk senyum di atas panggung. Dancenya serius, hehe.. tapi yang penting sih dia tidak lupa tarian dan posisinya. Soalnya hari Selasa lalu dia tidak datang untuk gladi resik di tempat acara, sempat khawatir juga apakah dia akan bingung dengan lokasi baru, ternyata tidak.

Saya berbunga-bunga dan senyum-senyum sendiri saat merekamnya. Saat kembali ke kursi, ayahnya juga lagi senyum-senyum. Memang begitulah ya, orang tua kalau melihat anaknya perform, bangga dan senang.

Ini dia videonya, jangan lupa di-set ke quality HD agar enak nontonnya :).

Nah. Selesai cerita tentang tari.

Sekarang sampai di cerita gak enaknya. Rasa senang yang tadi memenuhi dada ternyata begitu cepat berganti kecewa.

Jadi, setelah acara festival tari selesai, langsung disambung dengan wisuda anak-anak, mulai dari primary dulu hingga kindergarten. Kinderfield Duren Sawit kebagian paling belakang, dan KG B Yellow – kelas Vay – paling belakang dipanggil. Kami semua menunggu dengan tak sabar, ingin melihat dan mendengar nama anak kami disebut di atas panggung.

Nah, saat mulai tiba Kinderfield Duren Sawit, saya langsung ke belakang, naik ke tempat untuk foto. Mau merekam tentunya. Ketika kelas Vay tiba, anak-anak masuk dan berbaris sesuai urutan. Di layar juga sudah keluar nama-nama mereka. Saat Principle mulai berjalan mendekati anak, di situlah seorang Miss mulai menyebutkan nama anak, dari yang pertama dan seterusnya.

Dan, ketika dua boys sebelum Vay selesai dipanggil dan Principle tiba di depan Vay, tiba-tiba ada jeda beberapa detik. Dan si Miss  itu melewati nama Vay! Dia tidak menyebutkan nama Vay, malah langsung ke nama Mai, teman Vay yang ada di sebelahnya, padahal saat itu Principle ada di depan Vay. Saya menangkap nada ragu di suaranya, suara bahwa dia sadar dia telah melakukan kesalahan. Dan kesalnya, dia tidak mengulangi tapi meneruskan saja. Saya melihat wajah Vay – dari kamera saya – terlihat bingung dan langsung berubah mau nangis. Dia bicara ke temannya Mai – saya tahu dia pasti bilang kenapa namanya tidak dipanggil. Saya menghentikan rekaman, saya kesal! Marah! Saking emosinya sampai tercekat di leher. Saya turun dan kembali ke tempat. Saya lihat wajah ayah Vay dan mbaknya juga heran, kenapa nama Vay tidak disebut. Saya kesal, lalu saya ajak mbaknya, saya bilang, tolong panggilkan Miss-nya, saya mau komplen.

Sambil berjalan ke depan, saya kirim SMS ke Miss kelas KG B (bukan Miss yang di depan tadi). Saya katakan kekecewaan saya. Dan saya menunggu di samping panggung, ingin ketemu Miss yang tadi itu. Sebelum pulang, anak-anak masih bernyanyi dulu di depan, jadi saya harus sabar menunggu selesai. Tapi saya sudah tidak senang lagi untuk foto-foto di keramaian itu. Saya kesal, saya kecewa.

Mungkin sebagian orang menganggap, ah cuma wisuda anak-anak kok. Memang iya, ini hanya wisuda ecek-eceklah istilahnya, tapi ini kan part of moment yang tak akan bisa diulang lagi. Kalau orang yang belum punya anak mungkin belum bisa merasakan kekecewaan saya ini. Tapi saya tak peduli, saya harus ungkapkan rasa kesal saya.

Saat anak-anak berbaris mau keluar, mbaknya Vay menunjuk Miss Lina, yang tadi di atas bertugas memanggil anak-anak tersebut. Saya menarik napas panjang – dan sudah menghabiskan segelas aqua untuk mereda emosi – dan mencoleknya.

Dia menoleh, dan terlihat agak terkejut melihat saya.

“Miss, kenapa tadi nama Vay tidak disebut?” Suara saya sampai bergetar saking nahan emosinya.

“Iya, Mi. Maaf, saya tadi memang ter-skip nama Vaya.”

“Iya, kenapa Miss? Apakah susah membaca nama Vaya?” Ini adalah dugaan saya. Miss yang satu itu tahu sosok Vaya tapi dia tidak tahu nama panjang Vay, jadi saya yakin dia bingung bagaimana membaca nama Vay dengan benar.

Sementara Vay yang saya gandeng bertanya heran, kenapa Mi, kenapa? Dia tak tahu kalau si Miss inilah yang tak menyebut namanya tadi.

“Gak sih, Mi. Tadi saya baru lihat wajah Vaya jadi saya baru sadar saya skip namanya.”

“Iya, tapi kenapa tidak diulang saja? Kan harusnya tidak masalah. Miss gak tahu kan, bagaimana roman Vay di panggung tadi. Saya juga kecewa berat, lho!”

“Iya, Mi. Maaf, yaa…” Dia mengulurkan tangan.

Saya menggeleng. “Ah, enggak deh! Saya kecewa!” Dan saya berlalu. Minta maaf pula. Kau kira lebaran, minta maaf melulu. Kebanyakan basa-basi. Dalam hatinya juga belum tentu dia peduli, karena bukan dia yang merasakan ini.

Foto Vay saat graduation gak banyak yang bagus, nih, karena fotonya saat dia jalan keluar, jadinya goyang. Yang di panggung ada, tapi karena ada nama anak-anak lain, saya memilih tidak memajangnya di sini.

Selamat ya Sayang, sudah mau kelas 1 SD sebentar lagi.

Selamat ya Sayang, sudah mau kelas 1 SD sebentar lagi.

Sorenya, baru masuk balasan dari Miss kelasnya Vay. Intinya ia minta maaf atas kesalahan yang panitia lakukan. Lalu saya mereply. Saya katakan, sebaiknya lain kali pastikan yang di depan itu familiar dengan nama anak-anak, jadi tidak kagok saat di depan. Toh permintaan maaf itu juga gak ada gunanya, anak-anak gak akan mengerti gunanya apalagi, karena “maaf” itu tak akan bisa mengembalikan momen yang sudah lewat itu.

Terserahlah orang mau bilang apa. Orang Indonesia ini kan kebanyakan basa-basi, berharap dengan minta maaf, masalah selesai. Yang dikecewakan pun suka gak enakan, langsung bilang ya sudahlah dia juga sudah minta maaf. Sama saya gak ada gak enakan. Saya jengkel, saya marah, mereka harus tahu. Uluran tangan dan kata-kata maaf, simpan saja buat kalian. Saya gak butuh. Yang penting kalian sadar apa akibat dari ketidakprofesionalitas kalian itu. Cuuii…. kalau semua bisa diselesaikan dengan maaf, gak akan ada konflik di dunia ini.

Saya kecewa, masih bisa diatasilah, tapi ketika saya lihat wajah anak yang berubah di atas panggung, itu adalah kekecewaan dia yang tak mungkin bisa saya ganti dengan apapun.

Malamnya – sampai tadi pagi – Vay masih mengingat-ingat soal namanya gak disebut. Dia bilang, dia sudah mau nangis kemarin, saat tahu namanya dilewati dan langsung ke nama Mai. Dan dia langsung tanya ke Mai kenapa namanya gak disebut, lalu Mai dengan lembut bilang, kenapa, kecepetan yaa….

Saya mengelus-elus kepalanya dan berusaha tersenyum – soalnya jadi emosi lagi hati ini, hahah… – lalu bilang, nanti kita beli mainan ya, biar Vay gak sedih lagi.

Tadi sudah dibelikan crayon dan buku Hello Kitty sih, meski dia masih kecewa, minimal itu bisa menghiburnya sedikitlah.

Happy graduation ya, Vay. Soon, sudah akan jadi siswa primary.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner
kota tua

[Video] Indosat BlackBerry Z3

Bicara soal video yang kemarin dibuat di Kota Tua, ini dia hasilnya. Video ini dibintangi oleh para Duta IM3.

Di dalam video ini, kalian bisa melihat offering apa saja yang ditawarkan oleh BlackBerry Z3 bundling Indosat., seperti free akses SuperWiFi di mana saja. Eh, sudah pada update dong tentang BlackBerry keluaran terbaru ini? BlackBerry Z3 ini fiturnya canggih, punya kamera depan — buat kalian yang suka selfie — dan harganya pun terjangkau. Rp 2 jutaan saja!

Well, silakan simak langsung videonya.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner
SAMSUNG CSC

Singing & Choir for Vay

Acara tahunan Kinderfield School datang lagi. Kinderfield Championship 2014. Di event tahunan ini, setiap sekolah mengirimkan perwakilan untuk masing-masing lomba, seperti singing, drawing, reading, story telling, logical thinking, dan fun race untuk berkompetisi lagi mencari the bestnya.

Lomba di sekolah masing-masing sudah start sejak sebulan lalu. Nah, waktu itu saya tanya Vay, dia mau ikut apa saja? Dia bilang ingin ikut fun race, juga semua. Halah masa semua? Nah kalau tahun lalu kan, Miss-nya akan kasih tahu si anak ini jagonya di bidang ini dan itu, jadi mommynya tinggal daftar sesuai minat dan bakat, tahun ini saya gak dapat info itu. Mbaknya Vay juga gak dapat info. Jadilah kami sepakat agar Vay ikut lomba singing, fun race, dan reading. Tadinya mau saya coba di story telling, tapi saya tahu Vay jarang sekali mau disuruh gantian bercerita kalau sama saya. Maunya dengar maminya saja yang cerita. Soalnya maminya kalau cerita suka bikin ekspresi aneh-aneh hahah..

Nah, untuk kategori singing, lagu yang dilombakan ada dua: “I am a Pizza” dan “Becak”. Cari di YouTube-lah, dan Vay pun mengikuti gaya menyanyi yang ada di yutub.

Nah, dari ketiga lomba itu, tak disangka-sangka Vay dapat nomor. Dia menang di lomba Singing! 1st winner pulaaa. Hah!! Kok bisa? Kita semua gak percaya, hehe. Soalnya Vay tak pernah juara individu selama ini, dan dia juga kemarin cerita kalau dia salah lirik sedikit di lagu “Becak”. Di dua lomba lainnya, tidak dapat nomor. Dan kemudian, mbaknya baru cerita kalau Miss-nya baru sadar kenapa Vay gak diikutkan Drawing, padahal kata Miss-nya Vay kalau menggambar bagus sekali. Ihhh Miss sih gak bilang, Vay di rumah jarang-jarang gambar soalnya.

Dan karena dia juara 1, maka dialah yang jadi perwakilan Kinderfield Duren Sawit ke Kinderfield Championship 2014. Para Miss mewanti-wanti, Vay jangan sampai sakit untuk final di tanggal 15 Februari. Wanti-wanti lainnya adalah: “Harus tersenyum.” Soalnya selama bernyanyi, Vay gak senyum.

Lagu “I am a Pizza” itu agak susah buat Vay. Susahnya karena Vay terbiasa mengambil nada awal cukup tinggi, sehingga saat tiba di chorus yang nadanya tinggi, dia sering kepeleset. Di minggu terakhir ini barulah dia bisa mencari nada yang lebih rendah sedikit.

Dan, selain lomba Singing, Vay juga kembali bergabung di grup choir sekolah. Dan baru di dua minggu terakhir ini intens latihan. Kali ini dia kebagian solo lagi.

Dan tibalah harinya. Sabtu kemarin. Pagi-pagi sekali kami sudah meluncur ke Depok. Tujuannya agar mendapatkan nomor lebih awal. Dan Vay pun dapat giliran kedua untuk Singing.

Lomba-lomba kategori individu (singing, reading, drawing) dimulai bersamaan di beberapa ruang kuliah yang dialihfungsikan, sementara Choir dan Dancing diadakan di auditorium. Jadi, saat kami sudah di dalam ruangan Singing, kompetisi Choir ternyata sudah mulai juga. Tapi Kinderfield Duren Sawit gilirannya diundur, karena tunggu Vay selesai lomba Singing.

singingcomp2

Vay nervous. Dia bilang, dia gugup, dan katanya tahun depan dia tak mau lagi ikut Singing. Saya bilang, tak apa-apa, dia bisa ikut mana yang dia maulah. Soalnya Vay kayak terbebani gitu harus jadi juara. Dia tanya terus, “Mi, harus menang?” “Enggak Nak, bukan harus menang. Yang penting adalah, menyanyilah sebagus mungkin. Urusan menang atau kalah, itu belakangan.”

Nomor pertama tampil. Dari cabang lain. Lalu tiba giliran Vay. Kami bergandengan ke depan karena saya akan mengambil videonya dari samping juri. Dia grogi dan kelihatan ingin buru-buru menyelesaikan tugas ini. Alhasil saat saya mau merekam, kepotong sedikit deh, di awal.

Dan, saat nyanyi lagu “I am a Pizza” suara Vay sedikit kepeleset, sepertinya kecapekan latihan terus di rumah. Di lagu Becak, sudah lumayan. Kalau tadinya grogi, di sini sudah agak santai. Ah tapi kok suara distorsi Vay itu tetap merdu ya di telinga emaknya, hahah.

Ini dia videonya:

Setelah dari Singing, Vay pun langsung ke auditorium, bersiap-siap choir. Mbaknya Vay sudah duduk duluan di dalam, jaga tempat duduk, hehe. Udah ramai banget karena kompetisi choir sudah mulai sejak pagi. Saya duduk santai, karena tadi katanya Duren Sawit dapat giliran terakhir. Eh, ternyata setelah penampilan kelima dan keenam, tahu-tahu MC bilang berikutnya adalah Kinderfield Duren Sawit. Langsung buru-buru nyalakan kamera, takut telat.

Peserta choir tetap sama, gabungan anak-anak KG B dan KG A. Jadi yang ikut adalah Vay dan teman-temannya yang tahun lalu sudah ikut choir juga, kemudian sisanya adalah anak-anak baru dari KG A, termasuk dirijen juga dari KG A.

Dirijennya celingak-celinguk, lupa memberi aba-aba, sampai diingatkan sama temannya. LOL. Mereka pun mulai menyanyi. Suara, OK, alias nada pas dan nyanyinya sudah enak didengar telinga. Tapi kekompakan dan kerapihan di atas panggung, kurang, hehe. Kalau tahun lalu kan smooth ya, kurangnya di suara solonya (si Vay) yang sempat gak keluar, sehingga (kata Miss-nya) mereka hanya dapat juara 3.

Ini video kemarin. **Saat nonton ini Vay pun protes, gara-gara temannya yang solo sehabis dia memakai nada miliknya padahal harusnya bukan yang itu nadanya. LOL. Okelah, Nak.

 

Dan ini video tahun lalu:

Setelah itu, kami menunggu hasil pengumuman Singing. Dan, ternyata….. Vay tidak dapat nomor. It’s OK ya Vay, yang penting sudah melakukan yang terbaik. Kami pulang dan lanjut ke KoKas dong, Vay nge-gym dulu. Dia kelihatan lega karena semua sudah lewat, dan juga tidak sedih tuh meski tidak juara. Soalnya sudah juara satu juga di sekolahnya. Sudah dapat pialanya sendiri. Langsung dipajangnya di rak dengan piala choir tahun lalu dan medalinya juga. 🙂

SAM_2199

Menjelang sore, salah satu Miss memberi kabar bahwa untuk choir juga mereka tidak dapat nomor. Nilainya kurang di kekompakan grup itu tadi, walaupun nilai juri untuk voicenya bagus. Yaahh… kecewa nih dengarnya, soalnya tahun lalu kan lumayanlah choir-nya. Tapi ya sudahlah. Kompetisinya kan begitu ya, harus ada yang menang dan ada yang kalah. Lalu Missnya juga info, kalau juri-juri di Singing Competition sama di Choir pada suka dengar suara Vay, sepakat kalau suara Vay itu bagus sekali saat lomba individu tadi, tapi kekurangannya adalah: tidak ada senyum saat menyanyi. Ah, bisa aja nih Miss-nya menghibur :). **kirim bolu meranti.

Mendengar itu, saya bilang ke Vay, “It’s okay Sayang, yang namanya rocker, memang gak perlu sering-sering senyum.” Hehee…. Soalnya suara Vay itu kan ada serak-seraknya ya, jadi mami dan ayahnya suka bilang kalau dia cocoknya jadi rocker. ^^)

Good job, Vay!

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Kecil-Kecil Punya SIM

Kesampaian juga saya bawa Vay ke Kidzania. Ih padahal Kidzania itu bukan mainan baru anak Jakarta, masa Vay baru dibawa maminya sekarang? Iya, maap. Waktu dan kondisinya baru pas sekarang. Umur sudah cukup banget, ada temannya, dan perginya bukan pas weekend or peak.

Jadi ceritanya, waktu kemarin ke Kidzania bareng field trip sekolah, Vay itu gak puas banget. Ternyata, selama di sana itu, dia – dan beberapa teman segrupnya – hanya sempat mencoba empat permainan saja. Soalnya Kidzania full, selain field trip dari Kinderfield, ada juga dari sekolah-sekolah lain. Jadi ya sudah pastilah mainnya gak kebagian semua. Kasihan amat, ya, saya pikir.

Makanya, mumpung lagi libur term, saya penuhi keinginannya ke Kidzania. Barengan dengan teman kantor yang dulu juga barengan ke Singapore, Vay dan Raisa pun jadi playdate deh ke Kidzania hari Jumat kemarin. Kita ambil yang sesi pagi, dari jam 9 s/d jam 2 siang, dengan harga tiket masuk sebesar Rp130,000 untuk anak dan Rp90,000 untuk dewasa.

Terakhir ke sini dua tahun lalu, dan kali ini ke sini pun saya masih tetap terkagum-kagum dengan Kidzania. Tidak salah memang disebut sebagai pusat rekreasi dengan konsep edutainment. Jadi di dalamnya dibangun menyerupai replika city yang sesungguhnya, namun dibuat dalam ukuran anak-anak. Jadi ada jalan raya, bangunan-bangunan, kendaraan-kendaraan seperti taxi dan bus, pom bensin. Keren banget pokoknya. Gak heran deh, anak-anak suka sekali bermain di sana, dan selalu ingin datang kembali. Vay itu, selama di sana, sumringah terus. Kayaknya dia bahagiaaaaa banget. Maklumlah, setelah sebelumnya gagal ke sini karena tidak kebagian tiket, akhirnya kesampaian juga. Belajar dari kejadian sebelumnya, mami pun sudah beli tiket sehari sebelumnya.
Hampir semua permainan di dalam dijajal Vay, namun memang belum semua sih. Jadi memang gak cukup sih ke sini hanya sekali. Minimal dua kali baru bisa puas cobain semua. Saya ikutin saja, Vay mau masuk ke mana. Biar dia tahulah, dia sukanya yang mana, gak sukanya yang mana. Ke library dia juga suka, diminta main piano sama petugasnya, dia OK saja. Dimainkanlah lagu pendek yang baru diajari di semester dua Yamaha ini. Dia juga masuk ke diskotik juga dicoba, nge-dance di dalam.

Ini dia foto-fotonya.

SAM_1054

SAM_1089

SAM_1102

SAM_1108
SAM_1112
SAM_1094

Dan ini sebagian short video yang di-shoot. Video lainnya bisa dicek di YouTube.

Pulang dari sini bawa oleh-oleh hasil kerjanya. Ada mie instan, bedak, wafer, buku tulis, juga handuk. Belum lagi kita sampai di rumah, dia bilang besok ingin ke sini lagi.

Aseekkk... jemur teruss....

Bye Bye Pelampung

Lama juga ya gak update blog. Keasyikan dengan Instagram dan juga kesibukan lainnya, agak mengalihkan perhatian saya dari blog.

Saya lagi happy. Kemarin ini, saya melalui sebuah momen berharga. Ya, memang menurut saya itu sangat berharga karena untuk seorang ibu yang bekerja, bisa dikatakan banyak momen perkembangan anak yang tidak bisa saya lihat di saat-saat pertamanya. Jadi saat mendapati momen ini tepat ketika saya ada di situ, rasanya bahagia sekali. Bangga. Sesuatu bangetlah pokoknya.

Jadi nih ya, Vay itu kan sudah bisa berenang sesedikit. Seperti yang dulu pernah saya ceritakan, saat umur tiga jalan empat tahun, Vay sempat setahunanlah trauma dekat kolam. Tidak mau kena air kolam, dan selalu menjerit kalau kita bujuk untuk mendekati kolam. Maka itu, ketika dia akhirnya berani dan atas keinginannya sendiri mendekati kolam untuk sekadar mencelupkan kaki, bagi saya itu kemajuan yang sangat berarti. Setelah itu tak lama kemudian dia kami ikutkan les renang di sekolah. Dan kemudian, akhirnya dia pun bisa juga berenang, pakai pelampung tentu saja. Bolak-balik dari ujung ke ujung sudah kuat.

Aseekkk... jemur teruss....

Aseekkk… jemur teruss….

Vay itu, bukan anak yang suka dibujuk-bujuk atau dipaksa. Bila ingin mengenalkan atau memintanya melakukan sesuatu, harus perlahan dan sabar menunggu hingga dia mau sendiri. Saya sih tidak masalah, karena pendekatan ke anak itu prosesnya beda-beda kan. Daripada memaksa dan malah membuatnya tidak suka, lebih baik dicari cara lain yang lebih smooth. Makanya saya tidak mau memaksanya menyelam atau membuka pelampung meski saya yakin dia pasti bisa. Selama beberapa bulan dia terus berenang mengapung dengan pelampung di lengan, dan bahkan tidak ingin mencelupkan kepalanya ke dalam air. Meskipun sudah diajarkan oleh gurunya di sekolah, dia tetap menolak untuk menyelam. Nah, sebulan terakhir ini, setelah masuk sekolah dan lanjut les lagi, kayaknya sih pelajaran menyelam itu menjadi lebih intens (mau gak mau kan ya, kan harus ada peningkatan) maka dia pun sudah bisa menyelam satu dua detik.

Minggu kemarin, sehabis pulang dari les electone, sorenya saya suruh dia berenang. Tujuannya sih biar dia capek, dan malamnya bisa cepat tidur. Setengah jam berenang, rencananya Vay mau udahan. Tapi karena masih pengen latihan menyelam, dia masuk lagi, kali ini tanpa pelampung lengan. Jadi dengan berpegangan pada pinggiran kolam, dia pelan-pelan masuk ke kolam, lalu muncul lagi. Melihat kondisi dia sudah tanpa pelampung, saya langsung memanas-manasinya, bilang kalau dia pasti bisa berenang tanpa pelampung.

“Gak mauuu! Nanti aja kalau Vaya udah besar,” dia mulai ngeles. Tapi terus saja saya coba bujuk. Saya bilang, meskipun tanpa pelampung dia tak akan tenggelam, selama kaki dan tangannya mengayuh. Coba dulu menyelam dan langsung kayuh kakinya, pasti bisa, kata saya lagi sok jadi guru renang.

Dan, akhirnya dia berani jugaaaa… Pelan-pelan dia menyelam lalu mengayuh. Dan, berhasil! Alhamdulillah. Buat saya, ini adalah momen yang sangat luar biasa buat saya karena momen first time-nya Vay ini bisa saya saksikan langsung. “Wah, hebaat…. udah kayak ikan, lho, Nak, berenangnya!” Dibilang kayak ikan, Vay makin semangaaat. Sampai batal naik ke atas! Udah gitu langsung nyelam dalam dan duduk di dasar kolam. Soknyaaa…. LOL.

Ini dia videonya. Ini si Vay sudah ngos-ngosan capek.


So proud of you, my sweetheart!