Gak Temenan Lagi dengan Nasi

Ceritanya seminggu yang lalu itu saya baru dari Medan (dan Siantar). Nah, saat bermalam di Pematang Siantar dan mengobrol dengan kakak sepupu yang tinggal di rumah, kakak saya bertanya, kenapa saya tidak makan nasi. Sebenarnya pertanyaan ini tidak aneh, ini pertanyaan yang masih wajar menurut saya, karena biasanya orang kalau lihat saya tidak makan nasi langsung menuduh, “Diet ya!” “Udah kurus, pun.” **Kalo kek gini, udah jelas capeklah awak menjawabnya…

Jadi benar, memang sudah hampir dua tahun ini saya tidak lagi rutin mengonsumsi nasi atau katakanlah beras. Tahun 2015, masih makan nasi, tapi satu kali sehari yaitu di siang hari, dan sudah mulai juga stop pakai gula di dalam minuman. Lalu di tahun 2016, saat dalam masa penyembuhan pasca operasi pengangkatan adenomyosis di April, saat itu demi menjaga agar Hb selalu stabil, dokter menyarankan saya agar banyak makan daging, sayur, telur, dan susu. Sebulanlah saya diet protein, hanya makan daging, sayur, telur, dan susu UHT. Pengganti karbo sesekali adalah kentang rebus ukuran kecil.

Pagi itu makannya roti tawar bakar (bisa roti biasa atau roti gandum) dengan segelas kopi, siang lauk ayam atau daging dengan sayur dan tahu tempe, sore tiga potong crackers atau sepotong roti dengan kopi, malam gak makan lagi. Kalau malam hari kepengen makan, ya kalo gak cemilin roti tawar kosong, ya telur rebus dua butir. Nah, untuk urusan telur saya memang belum bisa mengurangi. Jelas favorit. Dinasihati untuk makan putih telurnya aja, saya bilang ihhhh mana enak?

Tapi masih lapar gak sih kalau gak pakai nasi? Ya laparlah. Makanya proteinnya yang dibanyakin. Tapi nanti dulu, yang saya hentikan adalah nasi putih (beras), tapi beberapa sumber karbo lainnya masih bisa saya makan, seperti kentang, keladi atau roti tawar bakar. Jadi contoh menu sekali makan itu adalah 3 potong semur ayam ukuran sedang pakai potongan kentang sedikit, dan semangkok tumis sawi orek telur. Atau 3 potong ayam goreng dengan sepiring tempe dan tahu.

Selain menghentikan konsumsi nasi, saya juga rutin minum kopi atau teh tanpa pemanis. Kalau lagi pengen agak manis, campurannya madu. Rasa manis juga sering saya ambil dari pisang atau singkong goreng yang dimakan bareng kopi. Penggunaan garam juga secukupnya pada makanan.

Dan setelah setahun lebih tidak makan nasi, ternyata efeknya terasa di badan. Pertama, tidak pernah lagi merasa begah atau sesak sehabis makan. Kemudian, saya yang dulu biasanya gampang migren, sekarang tidak pernah sama sekali. Lemas? Tidak kok. Karena makan proteinnya cukup, energi tetap ada, bahkan tak pernah lagi mengantuk atau sekadar menguap kalau siang hari! Bayangkan ya, nyeri di perut saat haid sudah hilang habis operasi, sekarang migren pun hilang. Nikmatnya merasa sehat itu luar biasa. Uhuyyy….! Obat-obatan di dalam tas expired sudah, hahah.

Jadi jawaban saya ke kakak saya tadi adalah, karena “tidak makan nasi itu membuat saya lebih sehat”. Beneran, nasi itu jahat, buat saya ya. Buat orang lain kan belum tentu. (Ada teman saya di kantor  tuh ikutan ngaku gak makan nasi ke orang-orang, tapi sebenarnya masih suka ketangkap basah saya lihat lagi makan nasi. Ya gpp sih, mungkin masih transisi, hihi..)

Eniwei, untuk hasil check up terakhir masih aman, tidak ada gula, tidak ada asam urat, kolesterol masih aman. Alhamdulillah, makanya itu yang harus dijaga terus. Sampai seorang teman lainnya meledek saya: “Gak pernah makan enak, ya Zy.” Hahah…. Saya bilang sih iya, biasa makan dengan bumbu secukupnya. Punya kolesterol tinggi kok bangga, saya balik meledeknya. Hahah… begitulah kami ledek-ledekan.

Masalahnya gini lho, banyak orang yang ketakutan kalau gak makan nasi. Takut lapar, takut lemas, padahal itu semua hanya sugesti. Masa sih puluhan tahun makan nasi, coba gak makan nasi sebentar saja gak berani. Gak masuk di logika saya. Logikanya tubuh ini jelas akan menyesuaikan dengan apa yang kita konsumsi. Menjadi sehat itu kan pilihan ya.

Pernah gak kangen makan nasi? Pasti. Sebulan yang lalu, saya ada makan nasi setengah piring di minggu pertama, kedua, dan ketiga. Inilah gara-gara coba nyomot sedikit nasi saat makan ayam penyet pedas di kantin kantor, terus kok enak, eh habis setengah porsi. Terus diulang lagi minggu depan. Alhasil, migren kembali. Yakinlah saya, bahwa memang nasi tidak lagi bersahabat dengan tubuh saya.

Yang repot adalah kalau sudah ikutan trip rame-rame komunitas, nih. Makanannya dikasih kotakan atau nasi bungkus padang, yang isinya lebih banyak nasi. Matilah aku, udah nasinya yang banyak, sayur sedikit, ayam potongan kecil, bagaimana bisa kenyang kalau gak dimakan nasinya? Itulah pengalaman paling sedih, makan nasi padang tapi nasi gak dimakan, terus masih lapar. Jadi sekarang selalu sedia crackers di tas kalau pergi untuk urusan rame-ramean.

Oh iya, jajanan gimana? Goreng-gorengan kayak risol, crocket, tahu goreng, lupis, itu saya makan sesekali, kalau dulu ada acara pas di kantor aja. Gak hobi makan cemilan banyak-banyak juga. Bukan soal mau kurus sih, lha ini sebenarnya rada gemukan kok. Ya, intinya sudah mulai ingat bahwa di umur sekarang harus jaga pola makan benar-benar. Biar tidak menumpuk penyakit saat tua nanti. Amin.

Ya begitu ya kalau saya. Pembaca TS sendiri gimana pengalamannya dengan nasi? Masih bersahabat? 🙂

-ZD-

Related Post

Potret Jakarta Aih. November sudah masuk sepertiga bulan tapi saya belum menulis satu postingan pun. Padahal ini kan bulannya saya, harusnya lebih semangat, bukan begitu? Musim hujan juga sudah dimulai, dan banjir pun sudah datang satu kali ke komplek kami. Jaka...
Lagu Dewasa Di satu sisi, hati ini tidak begitu suka mendengarkan anak saya menyenandungkan lagu dewasa. Tapi di sisi lain, kok terdengar lucu ya mendengar suara cadelnya sok-sokan nyanyi lagu cinta. Tapi yah susah juga membendung anak dari lagu-lagu dewasa, ter...
Protected: Privacy is Mandatory Kemarin, ketika saya meminta pendapat seorang teman atas peristiwa yang baru saja saya ceritakan, teman saya bilang : "Ya sesuai karakter lu. Privacy is mandatory." "Memang buat lu privacy itu gak mandatory?" "Buat gw juga, tapi bukan nomer satu. Kal...
Happy New Year 2016 Selamat tinggal 2015 dan selamat datang 2016. May the New Year bring joy, peace and happiness. Hmm apa ya. Saya tidak pernah buat resolusi khusus setiap tahun, tapi yang bisa saya katakan adalah, tahun 2015 menjadi tahun yang baik buat saja, ...
Hari Terakhir di 2012 Ini hari terakhir di 2012. Saya ingin membuat sedikit catatan saja untuk mengingat tahun 2012 ini. Saya menyebut tahun ini sebagai tahun peningkatan kedewasaan diri. Mengetahui kenyataan bawah telah ditipu oleh saudara sendiri di adalah yang pa...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | Digital Marketing Practitioner | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

21 thoughts on “Gak Temenan Lagi dengan Nasi

  1. Udah hampir dua thun juga kurangin nasi mba..siang hari aja di kantor yang masi makan nasi…sekarang bulan puasa kesempatan mau coba gak makan nasi samsek..

  2. Kalo soal laper bener banget kak.
    Saya makan roti bakar beberapa kali saat sarapan pagi dan rasa lapar cepet banget melanda. Hahahha.
    Tapi mungkin juga karena belum terbiasa kali ya.

  3. Udah beberapa bulan kemarin g makan nasi,bukan karena g temenan sich,karena g bisa masuk ?
    Ternyata g masalah g makan nasi yg penting proteinnya dibanyakin,dan menu penggantinya tetep ada biar g laper.

    • Zizy

      Iyaa… entah kenapa nasi itu gampang bikin begah ya. Kita dah puluhan tahun pula makan nasi wkwkkw…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.