[Korea Trip] The Painters: Hero – Art Performance from Korea

paintershow_3436-2

Kalau ditanya, apa tempat yang ingin saya kunjungi atau ingin saya lihat lagi kalau saya ke Korea Selatan, saya akan menjawab: The Painters Hero Show.

Apa sih The Painters Hero Show? Jadi, ini adalah salah satu konsep baru dari sekian banyak pertunjukan seni yang ada di Korea Selatan. Sedang naik daun karena konsep barunya, perpaduan antara teknik melukis tingkat tinggi dengan tarian serta atraksi pantomim yang jenaka dan menghibur. Coba saja bayangkan, bagaimana kalau Leonardo da Vinci melukis sambil dancing dengan enerjik. Nah itu!

That’s why produksi Korea Selatan mulai dari drama hingga K-Popnya begitu luar biasa jadi magnet. Cara mereka mengemas setiap pertunjukan tidak main-main. Serius dan profesional. Hampir tidak ada cacat dari pertunjukan langsung Painter Hero Show ini. Pokoknya kalau pergi ke Korea tidak nonton ini, RUGI!

Duduk manis di dalam teater menunggu show dimulai

Duduk manis di dalam teater menunggu show dimulai

 

(Eniwei, mari saya ceritakan dari awal saja ya)

Sebelum pertunjukan dimulai, sejujurnya saya tak punya bayangan sama sekali akan seperti apa sih shownya. Rombongan kami tiba di teater jam setengah delapan dan langsung duduk di deretan sisi kanan panggung. Jadwal tampil The Painters ada dua, jam 5 sore dan jam 8 malam. Tadinya jadwal grup kami itu jam 5 sore, tapi karena sorenya ada demonstrasi yang menutup akses menuju Seoul Theater, sudah pasti tak terkejar kan kalau jam 5, akhirnya sepakat untuk dipindah ke jam 8.

Ada beberapa aturan yang dikomunikasikan oleh petugas sebelum show dimulai:

  • Tidak boleh memotret selama show
  • Tidak boleh makan selama pertunjukan (kemarin saya bawa coffee Starbucks beli di bawah dan masih diizinkan)
  • Tidak boleh jalan-jalan di depan panggung
  • Tidak boleh menggunakan handphone selama pertunjukan

(Bisa bayangkan bagaimana gatelnya saya kan, karena tidak bisa memotret atau merekam 1-2 scene?)

Tapi saya setuju aturan seperti ini harus diterapkan. Saatnya menghargai yang akan tampil dan juga menghargai penonton lain yang ingin menikmati. Kalau mau teleponan silakan di luar teater.

READY FOR THE PAINTERS?

Jam 8 tepat. Pertunjukan mulai. Diawali dengan cahaya teater yang meredup, kemudian terdengar narasi dari VO dalam bahasa Inggris dan Korea, menuturkan story yang akan ditampilkan oleh The Painters. Pertunjukan kali ini akan menampilkan Raphael Team.

Kemudian cahaya semakin redup, lalu terdengar suara musik pembuka dan lampu kembali menyala, dengan empat orang pemuda Korea sudah berada di depan panggung. Berpakaian hitam penuh bercak cat — dengan topi – mereka mengadopsi gaya Charlie Caplin – keempatnya memulai pertunjukan dengan dance singkat yang enerjik. Sampai ada salah satu Painter yang badannya paling kekar ‘merobek’ bajunya untuk memamerkan perut sixpacknya.

Setelah itu keempatnya berpencar, kembali ke belakang panggung. Lalu terlihat dari balik jendela yang disinari lampu, si Painter Kekar sedang melukis di balik jendela, lukisan pasir. Lukisan pun selesai dan dia menghilang untuk digantikan dengan Painter lainnya.

Kejenakaan sudah langsung terasa di segmen pertama. Ketika pertama kali mereka keluar dengan mendorong kanvas besar, mereka mulai saling mengganggu dan menggoda. Adegan-adegan konyol yang membuat beberapa penonton di depan panggung – termasuk anak kecil – tertawa.

Di segmen pertama ini, saya sama sekali tidak bisa menebak apa yang akan mereka lukis di kanvas masing-masing. Setiap orang sibuk membuat sketch yang tidak membentuk sebuah objek, ya seolah-olah mereka sedang asal menyapukan kuas saja, gitu.

Vay sampai bingung, “Gak ngerti, gambar apa itu.”

Namun ternyata, ketika keempat kanvas itu mereka gabungkan, seketika semua dibuat terkesima karena gabungan sapuan kuas asal-asalan tadi telah menjelma menjadi gambar Michael Jackson! Dan kemudian musik berubah menjadi lagu “Billie Jean” nya MJ dan si Painter berambut merah langsung dance moonwalk! Woww!! Penonton bertepuk tangan. Vay pun sampai takjub, karena tak menyangka di depan matanya ada yang bisa moonwalk seperti MJ.

“Kok dia bisa moonwalk, Mi?”

“Bisa dong, kan latihan.”

Di segmen-segmen berikutnya mereka menggambar tokoh-tokoh ikonik yang sudah tidak asing, contohnya Bruce Lee. Kemudian mereka juga mempertontonkan kemampuan menggambar cepat saat bersama-sama menggambar karakter Three Kingdoms dari Korea. Terlihat bahwa skill painting mereka memang tidak main-main.

Tapi memang di sinilah menariknya pertunjukan ini. Penonton tidak akan bisa menduga apa yang akan Painters lakukan selanjutnya. It is not a traditional painting seperti yang biasa kita kenal. Sejak awal, permainan cahaya, animasi 3D, musik yang tepat, membuat penonton terbawa dan terpana.

Intinya yang ada di kepala saya tuh begini: ini k-pop atau pelukis? Melukisnya keren dan gak mainstream, terus juga jago dance jago akting. Bagaimana proses latihannya? Dari umur berapa mereka latihan? Siapa pelatihnya? Sekolah di mana dulu? Makan apa sih mereka? *makin lama makin gak penting yang berkecamuk di kepala hahah…

Terus ada lagi yang saya highlight dari pertunjukan ini. Interaksi The Painters dengan penonton. Karena ini pertunjukan non-verbal, which is cukup pakai mimik, siapa pun penontonnya pasti bisa diajak berkomunikasi oleh The Painters tanpa harus bicara. Artinya tak perlu bisa berbahasa Korea untuk nonton ini.

So, tentang interaksi ini. Dari awal pertunjukan, The Painters sudah mulai mengulang-ulang sebuah kode sehingga kita pun paham maksudnya. Contoh, bila Painter menggoyangkan kuas saktinya (kuas yang kalau digoyangkan akan menyala), maka penonton harus membuat suara: “Whooo…” sambil mengangkat tangan ke atas lalu menggoyangkan badan meliuk dari atas ke bawah. Seru dan lucu. Beberapa penonton di barisan depan pas depan terpilih jadi ‘korban’ untuk diminta naik ke panggung dan dikerjai mereka, mulai diminta bergaya ala model terus digambar, ikutan dance gaya mereka, sampai diminta melukis.

Saat menonton show kemarin, saya tak ingat berapa banyak gambar atau karakter yang mereka buat, tapi setiap segmen yang ditampilkan mempertunjukkan teknik painting luar biasa dipadu dengan tarian enerjik. Sebut saja teknik menggambar dengan pasir, gores-goresan tipis, speed drawing, hingga water painting (saya membaca di tempat lain mereka menyebut ini sebagai teknik batik painting).

Teknik yang terakhir ini yang sumpah keren banget! Ini adalah sesi yang bikin kami terkagum-kagum. Sesi diawali dengan pintu pembatas di panggung terbuka, lalu di atas layar lebar keluar gambar kanvas air yang besar. Ternyata gambar di layar berasal dari handycam yang dipegang Painter Kekar yang akan mendokumentasikan ketiga temannya melukis di air. Satu demi satu, cepat tapi rapi, mereka mulai menjatuhkan cat, membentuk pola-pola yang kemudian dirapikan dengan kuas. Pola-pola yang ditarik ke sana ke sini, kemudian membentuk gambar, ada kepiting, octopus, paus, dan bunga-bunga.

Tak lama, satu dari tiga Painter yang melukis di air tadi mengambil kanvas berbingkai besar. Dia memberi tanda ke penonton bahwa ia akan menutup lukisan di air itu dengan kanvas. Zuuupp! Ketika kanvas diangkat, lukisan di air tadi sudah pindah ke kanvas! Itu adalah lukisan Aurel dan teman-temannya dari dongeng Little Mermaid. Penonton bertepuk tangan meriah. Sang Painter mengangkat kanvas, seakan menawarkan ke penonton, siapa yang mau nih? Penonton pasti mikir, itu dikasih atau disuruh beli ya? Dan secepat itu pula si Painter menukar kanvas dari belakang panggung. Bingkai besar di tangannya berubah jadi bingkai kecil, tapi dengan lukisan yang sama. Lalu dia mulai mengangkat bingkai lagi, menawarkan dan sudah banyak penonton dari sisi tengah panggung yang mengangkat tangan. Berharap. Dan Vay ikutan angkat tangan! (Maminya langsung deg-degan)

Painter turun ke bawah panggung dan berjalan ke arah penonton, dengan kanvas dan kuas ajaibnya. Saya menduga, ia akan memilih penonton dari depan panggung lagi (seperti sebelum-sebelumnya), karena di depan sana saya lihat ada beberapa anak kecil yang ngakak-ngakak selama pertunjukan.

Ia pun mulai melewati gang kami, melewati jalur duduk kami hingga ke belakang, masih dengan kuas ajaibnya itu, memilah-milah mau kasih ke siapa. Vay kembali angkat tangan! Dan ternyata si Painter berhenti di deretan tempat duduk kami. Lalu dia ‘menembak’ Vay dengan kuas. Ayo Vay, saya berbisik menyemangati. Vay sudah hapal dong kodenya, langsung bikin gaya turun naik dengan tangan dan badan. Hahah. The Painter tersenyum dan memberikan lukisan itu ke Vay! Aah… what a lucky girl!

(Setelah di luar saya baru tahu kalau yang tadi itu namanya Bo Ram Hong alias si Tiger, salah satu Painter yang sudah terkenal, yang sudah show kemana-mana keluar Korea. Kalau lihat di poster juga di web mereka, Bo Ram Hong sebenarnya bergabung dengan Chaplin Team, cuma entah kenapa kemarin itu tampilnya dengan Raphael Team. Mungkin team baru kali, ya.)

paintershow_3440-2

Masih ada satu segmen lukisan terakhir yang juga keren dan menghibur, dan Vay menonton sambil mendekap lukisan dari The Painters. So proud of you Vay, berani angkat tangan jadi dapat hadiah deh.

Satu jam lebih sudah, dan tibalah kita di akhir acara. Akhirnya saya bisa lega ketika melihat petugas menghampiri panggung dengan papan bertuliskan saatnya “photo time”. Akhirnya penonton sudah boleh mengambil gambar. The Painters members kemudian muncul dan pose dengan berbagai gaya, sementara semua penonton memanfaatkan momen itu.

The Painters Hero Raphael Team

The Painters Hero Raphael Team

 

After photo time, The Painters team keluar duluan. Layaknya industri pertunjukan seperti ini, mereka akan menunggu di area yang sudah ditentukan untuk memberikan tanda tangan dan foto bersama bagi penonton yang sudah membeli merchandise. Penonton yang tidak membeli tetap boleh memotret, tapi tak boleh melewati tali pembatas.

paintershow_3448-2

Begitu Vay melintas, all Raphael team langsung heboh memanggil Vay. Waaaaa…. lukisannya mau dikasih tanda tangan dulu, gitu maksudnya. Satu persatu memberi tanda tangan di lukisan, lalu mereka memberi aba-aba ke Vay supaya melihat ke saya biar difoto bareng. Ih keren banget deh pokoknya.

 

Satu kalimat penutup dari saya: Painter Hero Show is a spectaculer show!

(The Painters Hero ini sudah pernah datang ke Indonesia beberapa tahun lalu, mudah-mudahan nanti mereka datang lagi ya…)

Untuk melihat beberapa foto lainnya bisa langsung klik Album Flickr!

-ZD-

Related Post

Sejuta Keindahan Bromo – #BrikPiknik Ini adalah tulisan lanjutan saat main ke Malang bulan lalu. Tulisan sebelumnya bisa lihat di sini dan di sini. Pukul sebelas tiga puluh malam, mendekati tengah malam, alarm berbunyi. Ampun, rasanya mata ini berat sekali terbuka. Setengah sadar ter...
Main ke Taman Buah Mekarsari Sejak beberapa tahun lalu, saya penasaran sekali ingin bawa Nona Vay ke Taman Buah Mekarsari, Bogor. Saat itu memang TB Mekarsari ini cukup hits sehingga muncul di mana-mana ceritanya. Tapi memang gak sempat-sempat sih, karena menurut saya lokasi...
Diving di Bounty Site Mungkin pada bertanya-tanya, kenapa saya mendadak jadi ikutan diving ya, padahal selama ini gak ada cerita apa-apa. Jadi ceritanya begini. Ini agak panjang, nih ceritanya, dan merupakan experience berharga, bagi yang memang nanti ingin serius bela...
Idolamu & Giveaway from Barcelona Tadi sore waktu beli latte di coffee shop langganan, waiternya melihat tumbler saya lalu berseru, “Wah, baru dari Barcelona, nih!” Lalu mengalir begitu saja obrolan singkat di depan mesin kasir. Saya katakan kemarin itu habis bawa anak-anak Indon...
Family Time Libur panjang minggu ini yang dimulai dari hari Kamis, bisa dibilang liburan yang padat, puas, dan mantap. Keluarga dari Medan datang, kumpul bocah semua di rumah di Jakarta. Vay sudah pasti yang paling happy, soalnya selama ini dia sendiri di rumah ...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

10 thoughts on “[Korea Trip] The Painters: Hero – Art Performance from Korea

  1. Peraturan seperti itu memang suka bikin gregetan, ya. Tpai dipikir-pikir memang ada bagusnya juga karena jadi bisa fokus nonton.

    Sampai sekarang saya belum pernah suka nonton drakor atau K-Pop. Tapi mungkin kalau suatu saat bisa ke Korea kayaknya boleh juga coba nonton ini. Ya siapa tahu kayak sepakbola. Dimana saya gak suka nonton pertandingan dari layar kaca. Tapi begitu diajak nonton langsung ke lapangan suka juga karena rasanya berbeda 🙂

  2. Sayang ya, acara panggungnya nggak boleh direkam. Padahal saya paling doyan ama pantomim,agak gimana gitu ngelihatnya gerak2 dan berusaha untuk membaca bahasa tubuh mereka. 😀

  3. Wah keren ya pertunjukkannya. Salut sama kreatifitas orang Korea, sehingga pertunjukan seperti inipun bisa dijual dan jadi sumber devisa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *