Masjid Raya Medan, Masjid Pertama Vay

Masjid Raya, Medan

Beberapa waktu lalu, ketika kami sedang berbuka puasa, Vay mengajukan pertanyaan di meja makan.

“Mami, kenapa kita gak pernah ke mesjid?” Dia bertanya. Pertanyaan sederhana, namun cukup membuat saya terhenyak. Dan saya harus berpikir beberapa saat lamanya sebelum menjawab.

Memang benar, Vay belum pernah diajak untuk sholat di mesjid. Beberapa kali mudik, saya dalam kondisi tak bisa sholat Ied sehingga ya tak bisa membawanya ikut. Kemudian di Jakarta juga tak pernah pergi sholat ke mesjid, kecuali di Mall. Sholat taraweh saja dilakukan di rumah, karena biasanya pulang kantor sampainya malam.

Merasa malu hati ini, sadar bahwa ini adalah kewajiban saya sebagai orang tua buat Vay. Dia sudah sering sholat di musholla atau masjid di mall yang keren itu, tapi di benaknya itu bukanlah mesjid seperti yang dia pelajari atau dia lihat di TV.

Lalu, kemarin siang, bersama dengan tulang dan sepupu-sepupunya, kami pun pergi ke Mesjid Raya Medan. Ini adalah ikonik kota Medan, dibangun pada tahun 1906 dan beroperasi di 1909.

Menurut sejarahnya, Mesjid Raya ini dibangun oleh Sultan Deli, Sultan Maimun al Rasyid Perkasa Alamsyah IX, dibuat dengan sangat megah melebih istananya, Istana Maimun. Mesjid ini memiliki empat sayap sesuai arah mata angin, dan bergaya arsitektur Timur Tengah. Tanahnya seluas 18 hektar, dan bisa menampung hingga 1500 jamaah.

Saat kami tiba untuk sholat dzuhur di salah satu sayap mesjid, sedang tak banyak jemaah perempuannya. Vay kelihatan sangat antusias, dia menunggu sammbil bolak-balik memanjat mimbar tak terpakai yang ada di situ.

DSCF4419

DSCF4423

DSCF4451

Sedikit menyayangkan karena mesjid yang indah ini kurang perawatan. Seharusnya dia bisa sangat indah dan megah, namun memang masih terlihat kurang bersih saja. Semoga ada banyak donatur yang bersedia membiayai, tentunya bisa jadi nilai jual pariwisata kota Medan.

Tak banyak yang bisa difoto, karena ada banyak orang yang tidur ngegoser di sana. Tak enaklah kalau sampai dikira memotret mereka diam-diam, ya. Saya sempat didekati seorang perempuan keturunan India, dia bertanya saya dari mana. Mungkin dikiranya semacam turis yang sedang main ke Medan, karena dari tadi asyik memotret. Tak tahu dia kan, awak orang lama, dulu nongkrong pun di Yuki Plaza, depan Mesjid Raya, hihihi…

Keluar dari situ, Vay masih terlihat cukup takjub. Memandang sekeliling, menatap mesjid, melihat para pengemis yang menunggu di depan gerbang. Saya cukup lega, yeah minimal sudah menyelesaikan satu hutang kecil saya pada anak.

DSCF4459

Teman-teman pembaca blog TehSusu, sudah mendekati akhir Ramadhan. Sebelum saya lupa, takutnya terlewat ya, saya ingin mengucapkan selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Taqabbalallahu minna wa minkum.

Selamat berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara, selamat berlibur.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Related Post

Pembantaian di Kenari Hmmm.. 17-an tahun ini sepi. Gak banyak lomba yang bisa diikutin. Kalau tahun lalu, di Medan, saya masih ikutan futsal dan aerobic. Futsalnya sih kalah, tapi aerobicnya juara II (kalah sama bapak-bapak! hahaha). Sempat membuat rencana pembalasan ...
Like Mommy Like Daughter Setiap kali saya mengganti profile picture BB saya dengan gambar anak saya yang centil, selalu saja suka ada komen yang masuk dari teman-teman di friend list. Ada yang memuji gaya centilnya Vay, ada pula yang kekeh melihat polahnya di foto itu. Saya ...
Selamat Jalan Pak Harto InnalillahiWa Innaillaihi Raji’un.. Akhirnya Jenderal Besar itu pergi. Pak Harto, PresidenRI kedua meninggal pada pukul 13.10 WIB setelah dirawat 24 hari di RSPP. Tubuh tua itu sudah tak kuat menahan sakitnya biarpun ditopang dengan alat-alat ke...
Udah 7 Hari Loh… 7 hari   Hari ini Vaya berusia 7hari. Oh iya... we decide to call her “Vaya”, not “Aya” like I said before.   Baru hari ini sempat update blog, baru sempat sedikit tarik nafas. Bener kata orang, hari pertama pulang ke rumah bawa bayi p...
Nenek Nyonya Setiap kali Imlek datang, saya hampir selalu teringat pada nenek cina yang pernah kami miliki. Panggilannya Nenek Nyonya. Keluarga kami mengenalnya pertama kali saat baru pindah ke kota Medan tahun 1987. Papi saya datang ke Medan dengan membawa lis b...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | Digital Marketing Practitioner | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.