Melukis Kehidupan

Beberapa waktu lalu ketika sedang mengobrol dengan seorang teman, teman saya bercerita tentang sebuah film bagus yang dia tonton. Saya tidak ingat apa judul film yang dia ceritakan, karena memang saya juga belum nonton film itu. Katanya cerita di film itu bagus, bercerita dengan manis dan cukup mengharukan tentang hubungan sepasang pria dan wanita. Dan kemudian teman saya itu berkata, kenapa saya tidak menghabiskan waktu berdua dengan ayah Vay untuk menonton film seperti itu, di suatu hari Minggu misalnya ketika si Boru sedang les. Itu jauh lebih baik ketimbang menghabiskan waktu ngopi di coffee shop.

Lalu saya pikir, apa yang salah dengan hobi saya ngopi sendirian di coffe shop? Itu adalah salah satu me time yang benar-benar saya nikmati, sungguh menikmati. Sendirian, menyesap latte sembari chit-chat dengan beberapa sahabat via whatsapp, atau membaca artikel di majalah yang tersedia. Meski jaman sudah serba digital, bagi saya membaca majalah tetap punya keasyikan tersendiri. Sendirian juga memberi saya waktu untuk berkomunikasi dengan diri sendiri, refleksi apa saja yang terjadi belakangan ini dan bagaimana saya menyikapinya.

Lama kemudian, saya berusaha melihat ini dari sisi lain. Rasa-rasanya tak perlu tersinggung dengan perhatian seperti itu. Itu hanya bentuk perhatian (dan mungkin juga rasa penasaran) yang disampaikan dengan cara berbeda, yang mungkin penasaran melihat saya yang dalam tanda kutip “kelihatan asyik sendiri”, kemana-mana sendiri – atau berdua Vay – tanpa didampingi orang yang katanya pasangan saya. Yang mungkin kemudian pada penasaran dengan kehidupan di belakang ini.

Well, saya harus bilang apa? Tidak usah bilang apa-apalah ya. Saya yakin tidak setiap orang suka berbagi semuanya, dan bagaimana cara mereka menjalankan hidupnya adalah sesuatu yang akan mereka pertanggungjawabkan juga nantinya.

“Life isn’t about finding yourself. Life is about creating yourself - George Bernard Shaw”

Namun demikian, sedikit terbersit juga di dalam hati saya. Jika saya adalah orang yang berbeda, yang menjalani hidup yang berbeda dari yang sekarang, apakah hasilnya akan lebih baik? Andaikan itu terjadi, maka saya akan menemui setiap sudut kehidupan dengan kejadian dan peristiwa yang berbeda, dan tidak ada jaminan bahwa saya akan menyukainya. Inilah kehidupan saya sekarang! Dan saya tak punya alasan untuk tidak mensyukurinya. Yeah, barangkali mereka saja yang terlalu khawatir. Dan saya berterima kasih lho, karena masih diperhatikan.

— 000 ——

Seorang gadis muda berpakaian putih hitam menghampiri meja sebelah kami. Berpakaian putih hitam, tanda bahwa dia masih karyawan percobaan. Mengangkat cangkir, tisu, dan membersihkan meja. Dia sedang berusaha melukis kehidupannya, dan tentu ada pengorbanan di balik itu. Seperti halnya saya – dan mungkin juga kalian – berusaha melukis kehidupan ini, menjadikannya lukisan yang mungkin tidak indah buat mata orang lain, tapi cukup layak untuk saya nikmati sendiri.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Related Post

Pembantaian di Kenari Hmmm.. 17-an tahun ini sepi. Gak banyak lomba yang bisa diikutin. Kalau tahun lalu, di Medan, saya masih ikutan futsal dan aerobic. Futsalnya sih kalah, tapi aerobicnya juara II (kalah sama bapak-bapak! hahaha). Sempat membuat rencana pembalasan ...
Stop Urusi Anakku. Urus Anakmu Sendiri. Apa sih hal yang paling sensitif buat wanita? Banyak! Kalau menurut saya, ada tiga hal yang sebaiknya tidak dilakukan oleh orang lain agar tidak bikin wanita jadi sewot, jengkel atau murung berkepanjangan. Pertama, jangan mencampuri urusan percintaan...
Mewabahnya Flu Singapura Jadi ceritanya para malam Selasa di minggu kemarin, nanny-nya Vay melapor ke saya kalau dia mendengar di sekolah Vay ada banyak anak terjangkit penyakit Flu Singapura. Saya kaget mendengar isu tersebut, karena rasanya tidak ada updated apa-apa dari s...
Maap Ya Bang Bajaj.. Jam sembilan lewat lima menit pagi, saya turun ke B1, keluar dari pintu belakang Sarja, dan jalan kaki ke RS Budi Kemuliaan. Tak lupa membawa payung, siapa tahu hujan atau siapa tahu juga panas terik (untuk melindungi wajah, gitu). Urusan kerjaan sud...
Jangan Tuduh Aku Kemarin siang di Hoka Hoka Bento Grandi. Dua orang perempuan mengantri di belakang saya. Menilik dari pakaiannya yang paduan blazer - celana panjang berwarna sama, mereka pastilah orang kantoran. Kantoran resmi, begitu istilah saya. Soalnya kalau dib...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

5 thoughts on “Melukis Kehidupan

  1. Iya mbak setuju. Kita emang pelru me timenya masing masing kan yak. Bagaimanapun caranya itu kita yang pilih sendiri 😊

  2. Aku juga suka me time sendiri wlopun jarang org tau klo pas aku me time sendiri, krn sering kali aku terlihat selalu bersama2 suamik.

    Aku setuju sm komen nya Arman 🙂

  3. emang semua itu tergantung persepsi ya. kita gak bisa kontrol orang mau ngomong apa, tapi kita harus kontrol apa yang kita pikirin dan rasain. 🙂

  4. Hm, membaca tulisan ini, aku seperti melihat gambaran diri sendiri. Hehe.
    Tiada yang salah dengan apa yang kita pilih untuk kita jalani, tiada yg salah dengan cara kita menghabiskan me time. Dan rasanya itu tidak menggambarkan bhw kita adalah pasangan yang bermasalah, deh. *pembelaan diri, yang juga suka ber me time spt ini. ^_^ *

    Halo Mba Zizy, kudatang berkunjung, nih. 🙂

  5. perlu banget buat kita ada ruang buat diri sendiri, melakukan kesenangan sendiri, itu nggak berarti hubungan dengan pasangan bermasalah ya..
    kk sering juga me time seperti ini.., me time nya keliling Kota Tua he..he..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *