Dilema Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

Sabtu kemarin adalah hari terakhir Vay sekolah sebelum libur lebaran. Sekolahnya mulai libur Jumat depan, pas sekali dengan rencana kami mudik ke Medan pada hari itu.

Mungkin ada yang akan bertanya, kenapa Vay masih kecil begitu (belum juga 18bulan) sudah sekolah? Memang banyak perdebatan seputar anak-anak yang terlalu dini dimasukkan playgroup. Karena ditakutkan nantinya anak akan bosan sekolah.

Tapi alasan utama saya memasukkan Vay ke playgroup (masuk sekali seminggu) saat dia baru berusia 14 bulan sebenarnya semata-mata agar dia bisa bergaul dengan teman-teman sebayanya. Di rumah kan dia bergaulnya dengan orang dewasa (suster dan bedinde) dan tidak pernah keluar rumah. Rumah kami memang letaknya tidak persis di dalam kompleks yang punya tetangga kanan kiri, jadi untuk jalan-jalan sore di depan saja tidak mungkin. Selalu ada kendaraan yang lalu lalang. Yang ada malah makan debu kalau mau keluar rumah.

Alasan lainnya biar dia cepat belajar bicara dan cepat jalan. Vay memang termasuk terlambat berjalan dan berbicara untuk anak seusianya. Dulu sih tidak begitu ya, dia termasuk normal untuk perkembangannya, mulai dari tengkurep dan bolak balik badan. Saya sih curiganya sejak dia dirawat di RS hampir 10hari karena panas yang tidak kunjung turun, saat itu dia sempat dikasih antibiotik yang tidak tepat sasaran (yang menyebabkan kami pindah RS karena tidak ada kemajuan apa-apa). Sejak sakit itu perkembangannya boleh dibilang agak terlambat. Tapi itu kan dugaan saja ya, saya tidak mau terlalu takabur bilang itu karena salah RS.

Dulu saat Vay usia setahun, saya bawa dia ke dokter tumbuh kembang. Ceritanya konsultasi, apakah anak saya ini anak spesial. Saat itu dia selalu kelihatan “sangat excited” untuk segala hal baru. Kalau kegirangan, dia akan menjerit dan bergerak-gerak terus. Kalau lagi marah dia juga akan membanting kepala ke kasur berkali-kali. Lalu juga suka memukul. Waktu itu dokter belum bisa menentukan apakah anak kami memang “spesial” atau tidak, tapi dia menyarankan agar kami membimbingnya dengan benar, yaitu dengan mengurangi pemicu-2 yang bisa membuatnya excited.

Contohnya tidak boleh mandi pakai shower, lalu anak juga harus diajarkan untuk bersabar. Tapi sebelum kami pulang, dokter bilang, kalau dia lihat cara Vay bereaksi dan tingkah laku Vay saat konsul itu, Vay termasuk anak yang cerdas. Hmm… amin, mudah-mudahan saja memang begitu.

Di kesempatan berikutnya, saat konsul gizi ke dokter alerginya Vay, saya coba menanyakan pendapat si dokter. Dokter bilang, ciri-ciri yang ada pada Vay memang ciri umum pada anak sensitif (anak alergi). Anak-anak yang hipersensitif memang lumrah mengalami keterlambatan motorik juga terlambat berbicara. Kalau berjalan suka jinjit, lalu punya kebiasaan membanting kepala, smackdown, memukul, mata sering melihat ke atas (waktu bayi), itu sedikit dari ciri anak & bayi sensitif. Memang semua ciri itu ada pada Vay. Dari dia umur sehari juga sudah ketahuan sih kalau dia alergi. Belum dikasih minum asi dan apapun, tahu-tahu pipinya sudah ruam merah sebesar jempol. Katanya kemungkinan reaksi karena pengaruh obat bius saat caesar.

Waktu itu si doker menyarankan beli sendal Crocs agar Vay bisa jalan dengan nyaman. **hmm, mahal banged ya Dok beli sendal doang hahahaa…… Di ujung pembicaraan, dokter bilang, menurutnya Vay belum bisa dikategorikan hiperaktif, tapi mungkin sekali dia agak overaktif. Sekali lagi, itu lumrah menimpa anak sensitif.

Yang bisa dilakukan adalah kembali mengatur makanannya, kembali ke menu diet alerginya. Hmm saya ini nih yang gak sabaran, habis bosen juga masa anak dikasih makan itu terus. Pengen juga dikasih variasi macam-macam. Tapi ya begitulah, kalau saya sudah mulai heboh kasih menu macam-macam (dengan kata lain menu yang akan memicu gejala alerginya), pasti si Vay mulai bab 3x sehari dan bb nya tidak naik. Hehehee.. dokternya sih tahu kalau ibu udah balik lagi dengan anaknya dengan keluhan bb tidak naik atau badan bintilan, pasti itu karena si ibu yang melanggar aturan menu yang sudah diberikan. Hmm.

Usaha lainnya biar dia bisa segera mengejar ketinggalannya, ya itu saya sekolahkan dia, dengan harapan dia jadi termotivasi juga melihat teman-teman lain. Ternyata memang ngefek. Dua minggu sekolah, dia sudah berani melepas tangan maminya dan belajar melangkah sendiri biarpun baru beberapa langkah langsung tersungkur hehee…

Syukurlah sejak sakit yang terakhir kali itu, Vay jarang sekali sakit. Batuk pilek juga jarang. Semakin tambah umurnya semakin kuat badannya, dan makin aktif juga. Dia tidak pernah takut mencoba sesuatu yang baru. Rasa ingin tahunya juga semakin besar. Walau kadang mengkhawatirkan juga nih, karena kadang-kadang dia suka usil juga dengan temannya. Bulan lalu ada anak cowok baru di kelasnya, didatangi terus tahu-tahu di-pok sama Vay. Waduh! Gawat benar. Lalu pernah juga temannya mau dia colok-colokin matanya, mungkin penasaran lihat biji mata ya? Waktu kopdar terakhir kali juga begitu, anak-anak lain dikejar-kejar. Mungkin pengen ajak main, tapi beberapa anak itu sampai ketakutan.

Alhasil sekarang kalau Vay sudah mulai mendekati temannya, saya ekstra waspada. Jangan sampai terjadi yang tidak diinginkan.

Nah kembali ke hari Sabtu kemarin. Sabtu kemarin Vay lagi-lagi nangis begitu sampai di sekolah. Ini sudah keempat kalinya dia begini. Kayaknya sudah hampir sebulan deh, dia kelihatan tidak betah di kelasnya. Begitu masuk ke kelas dia akan menangis meraung-raung, dan tidak mau turun dari gendongan. Dan jangan coba-coba dipegang sama orang lain. Dia akan membanting-banting badannya ke belakang dan ngamuk berat. Saya heran juga sih, soalnya setahu saya tidak ada masalah sebelumnya. Aunty dan uncle nya baik-baik, tapi memang Vay pada dasarnya tidak suka disuruh-suruh harus begini begitu. Begitu dia lihat salah satu dari gurunya mendekat, dia akan menyuarakan rasa tidak nyamannya dengan merengek dan lari ke arah maminya.

Padahal dulu-dulu tidak begitu lho. Alhasil sudah beberapa minggu ini, Vay main sendiri saja di kelas. Tidak mau gabung dengan yang lain. Guru-gurunya juga terpaksa pada nyuekin dia, tidak dipaksa berpartisipasi. Vay seperti anak hilang yang main sendiri keliling kelas, sementara anak-anak lain duduk di pangkuan ibunya mengikuti instruksi guru. Saya ada di situ juga, cuma duduk di ujung aja, memperhatikan Vay main sendiri.
Jadi misalnya ketika permainan selesai dan guru-guru menyuruh anak-anak mengumpulkan bola mereka, saya diam saja tidak mengantar Vay ke depan. Vay akan melihat, mengamati, dan jalan sendiri mengembalikan bolanya. Lihat nih foto Vay waktu permainan parasut, dia dengan pedenya jalan sendiri ke tengah-tengah parasut yang kami kembang kempiskan dari ujung. Asyik sendiri di situ.

Pokoknya selama tidak ada orang dewasa yang mengganggunya, dia akan merasa nyaman. Tapi kalau dia lihat di situ ada salah satu guru menunggu, dia tidak akan mau main di situ. Dia juga tidak mau lagi saya ajak menaiki balok-balok bermain itu. Dia lebih sibuk dengan bolanya. Memang ada satu lagi teman Vay yang saya lihat juga udah mulai kayak Vay. Udah gak mau lagi main naik turun balok, tapi sibuk jalan kesana kemari dengan bola di tangan. Persis kayak Vay. Anak itu sama masuknya dengan Vay, udah hampir 4bulan sekolahnya.

Dugaan saya sih, mungkin dia merasa tertekan karena kalau sekolah harus begini harus begitu. Biasanya dia mau main kalau dia penasaran dengan mainannya, tapi Vay kelihatan bosan melihat semua balok permainan itu.

Tapi cepat sekali ya bosannya. Baru juga mau 4 bulan. Saya jadi mempertimbangkan untuk cuti sekolah dulu nih beberapa bulan. Daripada nanti dia tambah stress di sekolah kan kasihan. Dan kalaupun dia tetap sekolah, solusinya ya seperti yang sekarang ini, biarkan saja dia bermain sendiri dan mengeksplorasi ruangan itu seperti keinginannya. Bila dia sudah nyaman baru diajak gabung dengan yang lain. Mudah-mudahan sih habis lebaran nanti moodnya baik lagi ya biar bisa enjoy di kelasnya.

Kalo masih gak mood juga berarti memang harus cuti sekolah dulu. Mungkin benar juga, buat beberapa anak, masuk sekolah terlalu cepat bukanlah pilihan yang tepat.

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

77 thoughts on “Dilema Menyekolahkan Anak Terlalu Dini

  1. pengalaman yang sama mba, seperti bunga anak pertama saya pernah tiba-tiba pengen sekolah akhirnya ma istri dimasukin ke Playgroup tp tak bertahan lama cuman sekitar 3 bulan dan alasannya libur atau dia bilang ga betah…

    walau sekarang usianya dah 4 tahun tapi saya ga mau memaksa anak buat masuk sekolah, kalau emang dia sekarang senang main maka saya biarin dia menikmati masa mainnya

    dan kalau memang dia mau sekolah maka saya ikutin.

    Saya masih memegang prinsip sekolah yang baik buat usia Bunga adalah rumah dimana orang tuanya berada, dan Alhamdulillah walau dalam beberapa hal saya dan istri terkadang terkesan pelit atau terlalu cerewt dan mengatur justru membuat bunga lebih bisa membedakan mana yang boleh dan tidak boleh.

    ke usia bunga di 4 tahun ini, saya ma istri lebih menekannkan bukan cara dia membaca atau bernyanyi tapi lebih kepada budi pekerti dan nasihat-nasihat, hal ini saya jadiin sebagai modal dasar dia sebelum masuk ke sekolah yang notabene bakal beragam pergaulan yang dia dapatkan.

    Semoga vay jadi anak yang sayang ma ortunya

    salam

  2. hakam kamal

    btul mbak dulu anak saya belum waktunya sekolah saya paksa sekolah…akhirnya DO 3 kali dari sekolah playgrupnya he..he gara-gara bosaan sekolah, alhamdulillah sekarang udah TK dan lancar..

  3. Tak selamanya mata meman­dang dengan ramah, hati menilai dengan jernih, dan mulut bi­cara dengan santun. selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir batin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *