Hatinya Memang Peka

Semakin ke sini saya semakin bisa melihat bagaimana karakter Vay. Dia termasuk anak yang peka dengan sekeliling. Masih ingat kasus yang saat wisuda Kindergarten kemarin nama Vay tidak disebut? Saat itu saya email ke principle Kinderfield, dan saya katakan, saya tak butuh maaf mereka, silakan Miss yang bersangkutan minta maaf langsung ke Vay. Dan ketika pulang sekolah, Vay bilang begini, “Tadi Miss ketemu Vaya terus minta maaf, Mi. Miss tanya, are you sad? And I said, No.” Saya tanya – sambil menahan kesal karena teringat kejadian itu lagi – “Kenapa Vaya bilang No, padahal Vaya kan sedih kemarin katanya.” Dan Vay menjawab, “Iya, Vaya takut Miss-nya sedih…” Aaahhh… baik sekali anakku ini, padahal Miss-nya saja mengecewakan dia.

Ada juga beberapa kejadian lain yang menyiratkan sifat Vay yang peka dengan orang lain. Salah satunya, dia tidak suka dengan bully-bullyan atau ejek mengejek. Pernah sekali waktu saya membawanya bertemu dengan teman-teman saya, yang memang mulutnya bocor keliling ya bo’. Namanya juga sama teman ya, kalau bercanda suka keterlaluan. Saling ejek-ejekan gak jelas. Pulang ke rumah, Vay tanya ke saya, “Mami, kenapa sih Oom itu suka ejek Mamiii…?” Wah, ternyata kepikiran sama dia. Saya katakan padanya, kalau tadi itu hanya becandaan, orang dewasa suka begitu becandanya, gak serius kok. Tapi saya jadi tahu, Vay tidak suka maminya diejek-ejek. Lalu saya sampaikan ini ke teman-teman, saya bilang kalau di depan Vay mungkin kita jaga mulut sedikit yah, jangan sampai nanti Vay sedih atau sebaliknya dia jadi kurang respek dengan teman-teman maminya. Buat Vay, mamiku idolaku… hehehe…

Nah, tadi ini, sepulang kantor, saya mendapati Vay sedang pegang dua amplop angpao di tangan. Belum sempat saya tanya dia sudah cerita.

Vay: “Tadi Dim nangis, Mi di sekolah.” Dim itu teman cowoknya di kelas. Anaknya montok, dan kelihatan masih anak-anak banget, belum berangasan kayak anak-anak cowok yang lain hehe..

Saya: “Loh, kenapa?”

Vay: “Alex yang bikin dia nangis.” Alex itu satu teman perempuan Vay.

Vay: “Jadiii… kan Dim udah buat ini, nih,” sambil mengacungkan kedua angpao itu. “Terus Dim kasih ke Alex dan May karena mereka agent-nya..” Gak paham sih saya maksudnya agent di kasus ini apa.

Saya: “Trus?”

Vay: “Tapi Alex gak mau, katanya ini untuk apa, gak ada uangnya… terus dikembalikan ke Dim. Terus May juga gak mau. Jadi Dim nangis karena dua-duanya gak mau.”

Saya: “Tapi kan Dim kasih Vaya juga kan?”

Vay: “Enggak, enggak dikasih ke Vay, Dim hanya kasih ke agent-nya aja. Nah, karena Alex dan May gak mau, terus Dim nangis, ya sudah Vay aja yang ambil, biar Dim-nya gak nangis lagi.” Lalu katanya setelah itu Dim berhenti menangis.

Aih. Saya langsung nyes mendengarnya. Dalam hati berucap, ini anak masih kecil tapi sudah bisa peka dengan keadaan temannya. Syukurlah, ya, semoga dia bisa terus jadi anak yang ikhlas menolong orang.

Tapi, meskipun demikian, saya berusaha mengajaknya melihat dari dua sisi. Artinya, menjadi peka dan toleransi sangatlah baik, namun juga harus bisa memilah. Jangan sampai merugikan diri sendiri. Misalnya, kalau sudah capek main ya katakan, tak perlu merasa tidak enak karena teman masih ingin main. Atau misalnya memberikan contekan pada teman. Saya juga bilang sih ke dia, tak perlu segan atau ragu untuk mengungkapkan perasaan. Kalau sedang kesal pada teman, katakan saja, agar kalian bisa mencari jalan tengah. Atau kalau sedih, katakan juga. Daripada disimpan dan nanti nangisnya di rumah. Masa coba, akhir Desember lalu, saat acara tukar kado di kelas, Vay itu dapat hadiah teleskop mainan — which is dia belum pernah punya — dan tahu-tahu teman di sebelahnya menukarnya dengan hadiah handuk yang didapatnya. Vay bilang, dia sudah bilang dia mau ambil itu, tapi temannya tak peduli. Vay tidak mau mengadu dong ke Miss. Tapi dia sedih karena merasa tidak fair direbut begitu, jadinya nangis deh di rumah. Kasian deh, kayaknya sedih banget gitu waktu cerita.

Maka, selama beberapa minggu kemarin ini kami pun berkeliling mall mencari teleskop. Dan setelah sudah hopeless karena gak dapat juga, eh tak sengaja nemu waktu ke Mall Grand Indonesia! Persis! Dan Vay langsung sumringah, hilang sudah semua kesal di hati. Itu namanya rezeki ya Nak! Kekecewaannya terbayar sudah.

Percaya sih saya, saat kita melakukan sesuatu yang baik maka hasilnya akan baik juga. Menebar banyak kebaikan, akan menuai kebaikan juga. Love you, Sayang Mami!

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

17 thoughts on “Hatinya Memang Peka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *