Pasca Kelahiran Vaya

Aya or Vaya lahir kecepatan dua minggu lebih dari jadwal yang diperkirakan dokter. Seharusnya tgl 13 April, begitu perkiraan dokter. Jadi saya pun mengajukan cuti pertanggal 1 April. **kt dr.spog saya, ini krn saya terlalu aktif jdnya kecepetan :D.

Rabu 26 Maret, saya gak masuk kantor, entah kenapa pagi itu malasss banget bangun. Masih mengantuk, dan badan juga lemas. Sorenya, saya ke RS untuk konsultasi rutin, dan ternyata tensi saya tinggi. 183/90 !! Setelah melakukan tes urine, 2 jam kemudian hasilnya keluar, positive 1, yang artinya ada keracunan ringan, dan pasien disarankan untuk rawat inap. Tapi setelah diukur ulang, tensi sudah turun jadi 140, jadi oleh dokter saya boleh istirahat di rumah, tentu dikasih resep agar tekanan darah cepat normal. Terus juga harus mengurangi makan yang bergaram.

Besoknya, Kamis 27 Maret siang saya ketemuan sama Elz di Sarinah. Masih gak enak badan, tapi demi ketemu Elz gpp lah, untuk melepas kerinduan. Kami berdua bergosip lama di Bakso Karapitan, yang lanjut lagi ke McD untuk makan es krim.

Sempat diejek sama Elz. Katanya dengan gayanya yang khas, “Kau fotolah kakimu Kak, biar bisa kau tunjukkan nanti sama anakmu, ‘tengok ni kaki mamak waktu hamil kau nakkk..!’ ” Kekekee….

Nah malamnya nie, saya minta kaki dipijet karena semutan. Trus sekitar jam 21.50 — waktu lagi tiduran sambil main psp — tiba-tiba saya ngerasa “tuusss..”. Makjang! Ketuban pecah! Langsung panik. Deg-degan hebat. Psp langsung dilempar ke samping, berdiri dengan cepat (sampe lupa coba, klo lagi hamil), lalu langsung ke kamar mami saya. Teriak dan gedor pintu. Yah, namanya juga hamil anak pertama, jadi ya begitu, panik.

Sama mami saya, disuruh berbaring dulu biar air ketuban tidak terus-terusan mengalir. Sementara dia berganti baju, saya balik ke ranjang lalu teriak panggil bedinde minta tolong angkatin koper berisi baju-baju untuk di RS.

Saya sendiri tidak sempat ganti baju. Hanya berbaju kaos tidur, dan celana panjang karet saja. Dompet dan hp sudah dimasukkan ke tas, eh tapi sempat mikir juga mo bawa psp gak ya? **Sejak ada psp, emg jadi candu nih… tapi akhirnya psp saya tinggal.

Saya telepon suami yang masih di kantor, dan ngasih tahu kalo ketuban udah pecah, & minta hubby untuk langsung call rumah sakit. Berempat dengan mami, sopir (*syukur deh dah ada sopir) dan bedinde, kita ngebut ke RS. Dasar sudah diatur sama Yang Maha Kuasa, kita cuma 10 menit sudah sampai RS. Gile!! Padahal kalo pagi saya ke kantor, untuk mencapai jarak segitu tuh, sejam lebih.

Tiba di RS, saya langsung masuk ke kamar observasi. Dan sampai pukul nol nol, suster bilang masih bukaan tiga, dan kira-kira 7-12 jam lagi kemungkinan pembukaan sempurna. Air ketuban juga sudah empat kali mengucur. Mending kalo dikit-dikit, ini kayak kelapa pecah, jadi keluarnya banyak.

Mami saya dan ibu mertua sudah merepet-repet aja karena dokter kandungan gak datang-datang. Suster bilang, dokter cuma kasih pengarahan lewat telepon, untuk tindakan tetap akan ditangani oleh bidan di RS. Kecuali ada masalah dengan pasien, baru dokter turun tangan. Saya kecewa mendengarnya, kalau tahu begitu untuk apa saya berobat ke RS Bunda ini? Udah bayar mahal-mahal. Jadi catet ya, gak jaminan RS mahal itu servisnya OK. Bisa jadi semakin besar suatu RS, makin aneh2 peraturannya.

Jam 1 suster datang lagi. Periksa. Masih bukaan 3 juga. Air ketuban sudah bolak-balik keluar, ibu-ibu sudah makin merepet minta tindakan tegas, ini harus diapakan. Hubby tentu saja stress melihat istrinya kesakitan.

Akhirnya kita putuskan untuk operasi, soalnya takut air ketuban habis, soalnya yang di dalam udah gedor-gedor mo keluar tapi pintu gak kebuka-kebuka, terus saya juga khawatir karena lehernya kan terlilit tali pusar 2x, takut telat tindakan. Saya sendiri udah macam ikan hidup dicemplungin ke wajan panas. Menggeliat-geliat kesakitan! Ternyata sakit banget melahirkan itu ya.. **salut deh buat ibu2 yg melahirkan normal.

Jam 2 kurang lima belas, barulah datang dokter kebidanan (dia akhirnya datang krn ini kondisi khusus, caesar..), dokter anak, dokter anastesi, dan seorang asisten dokter. Saya pun dipindah ke meja operasi, bersiap-siap untuk dibelek.

Sama asisten dokter, saya didudukkan dan badan harus ditekuk sebengkok-bengkoknya, biar dokter anastesi bisa mudah menyuntikkan bius. Saya tanya, apa bayinya ntar gak kejepit kalo saya menekuk begitu, katanya tidak apa-apa.

Disuntik tiga kali, lalu saya dibaringkan. Gak sampai dua menit, daerah perut ke bawah mulai terasa kebas.

Tangan kanan kiri diikat. Yang sebelah kanan sekalian sambil mengukur tensi saat operasi. Entah kenapa, saat itu tangan saya gemetaran, bergetar-getar kayak orang menggigil, padahal tubuh tidak kedinginan. Mungkin karena takut ‘kali ya. Oleh dokter anastesi, saya lalu disuntikkan obat anti menggigil.

Benar kata orang, operasi itu gak terasa sakit sama sekali. Saya malah gak tahu kalo operasi sudah mulai. Tapi biarpun begitu, kerasa juga kalo tubuh kita sedang dikorek-korek. Saya ngerasa kok ada didorong dan ditarik di sekitar dada. Mungkin waktu itu sedang berusaha mengeluarkan si baby.

Ketika pertama kali melihat si kecil, rasanya gimana? Luar biasa… Takjub. Amazing…! Bengong! Cengok!

Saat itu dia masih terbungkus lemak, persis kayak buah kesemek. Lalu setelah dibersihkan, ditunjukkan sekali lagi, saya cium, lalu si baby dibawa ke ruang inkubator dulu. Saya pun disuntik obat tidur agar bisa beristirahat.

Perasaan masih gak percaya kalo udah punya bayi. Kayaknya baru aja hamil kemarin itu, eh ternyata sekarang dah keluar babynya.

Waktu masih hamil selalu ada pertanyaan, “Gimana ya dia begitu keluar nanti? Besar gak ya kira-kira? Soalnya perutku kan gedenya cuma segini. Gimana ya cara dia melingkarkan tubuhnya di dalam?”

Kalo sekarang beda. “Oh jadi ini yang kemarin ada di dalam perut.. kok bisa yaa…” he hee…… 🙂 **harap dimaklumi, ya.. syndrome baru jadi ibu nie… jd rada norak.

Related Post

Petugas Parkir Nakal di Mall Kemarin malam, ketika Baby Vay sudah terlelap tidur, jam delapan lewat saya dan hubby pergi ke Mall Kelapa Gading. Sebenarnya ini bukan jadwal kami untuk keluar, selain karena semalam adalah hari Minggu malam dan besoknya kami harus kerja pagi, cuaca...
Pembantaian di Kenari Hmmm.. 17-an tahun ini sepi. Gak banyak lomba yang bisa diikutin. Kalau tahun lalu, di Medan, saya masih ikutan futsal dan aerobic. Futsalnya sih kalah, tapi aerobicnya juara II (kalah sama bapak-bapak! hahaha). Sempat membuat rencana pembalasan ...
review dopod U1000 Medan, 9 Apr 07 Minggu lalu, bertempat di Hotel Mulia Jakarta, Sistech Kharisma menyelenggarakan product launching dopod terbaru, subnote U1000, produk teranyar setelah subnote sebelumnya dopod 900. Mungkin karena tertarik dengan fitur-fiturnya...
Cintai Produk Dalam Negeri Sekarang tas Devushka sudah ada outletnya lho. Well, actually not my official outlet sih, karena masih menumpang di retail outlet. Devushka Bag sekarang hadir di UKM Gallery SMESCO, Jakarta. Buat yang belum tahu, UKM Gallery SMESCO itu outlet reta...
Menang Kuis #WanitaMasaDepan Dulu saya selalu berprinsip tidak akan terlalu sering ikutan kuis atau kompetisi di blog. Maksudnya biar blog saya tetap pada jalurnya sebagai “pencerita”. Tapi belakangan ini saya mulai tertarik juga untuk ikutan kuis atau kompetisi, karena ingi...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | Digital Marketing Practitioner | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

59 thoughts on “Pasca Kelahiran Vaya

  1. Pingback: Waspadai Pre-Eklamsia | | BLOG-nya Zizy Damanik

  2. Pingback: casino jeu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.