[Gili Air Trip] Diving di Bounty Site

Mungkin pada bertanya-tanya, kenapa saya mendadak jadi ikutan diving ya, padahal selama ini gak ada cerita apa-apa.

Jadi ceritanya begini. Ini agak panjang, nih ceritanya, dan merupakan experience berharga, bagi yang memang nanti ingin serius belajar diving. Sekarang kan semua orang sepertinya ikutan tren diving ini ya. Semua orang tahu, Indonesia ini atasnya saja sudah indah, apalagi di dalam lautnya. Saya sendiri gak kepikir kok ingin jadi penyelam profesional, tapi hanya pengen bisa fun dive aja, misalnya pergi dengan teman-teman ke mana gitu. Ya kalau tidak menikmati dari sekarang, kapan lagi. Nah, untuk dapat menyelam, alangkah baiknya bila kita punya license (seperti SIM-lah), jadi bisa kapan pun diving bersama buddy. Untuk dapat license maka harus ambil course. Ada macam license yang bisa dipilih, tapi kebanyakan sih orang memilih PADI, katanya sih karena reputasinya.

Waktu itu ada salah satu teman yang bikin trip-trip diving gitu, dan dia ajak saya. Ya sudahlah, sekalian ambil license saja, saya pikir. Nah, dialah yang kemudian mencarikan instruktur dengan lisence PADI untuk menjadi instruktur bagi saya dan seorang teman yang lainnya lagi. Kalau mau menyelam kan harus ada buddy, so teman saya itu akan jadi buddy saya rencananya.

Sebenarnya, saya sudah minta ke husband, ingin belajar diving. Doi, yang serius menekuni dunia diving ini sejak 2011 – baca postingan pertama kali dia latihan di Sea World di sini – sekarang sudah sampai di level IDC Staff Instructor, level di mana dia sudah bisa assist Course Director untuk membantu dan menilai para calon instruktur selam. Jadi bukan instruktur biasa lagi dia. Tapi sayangnya husband menolak jadi instruktur saya, alasannya takut konflik kepentingan, jadi saya disuruh cari instruktur lain saja. Pesannya, cari instruktur yang bener, yang beneran menetapkan standar safetynya PADI.

Maka jadilah saya dan teman saya mengambil course open water. Saat ketemu pertama kali dengan instruktur, kami dikasih buku teori, dan diminta menonton video open water. Itu adalah kelas pertama teori. Tiba di rumah, saya membaca setiap bab dengan serius, sampai menandai semua bagian-bagian yang penting, dan menjawab quiznya. Yeah, kan katanya mau belajar, ya dapat buku berarti harus dipelajari benar-benar. Soalnya ingat banget, dulu ayah Vay juga begitu, buku diving dibolak-balik, dibaca berulang-ulang. Sampai sekarang itu buku-buku diving setebal kamus aja masih dibaca-baca ama dia. *pingsan.

Kata instrukturnya, kita akan ketemu langsung di kolam, kemudian besoknya ke laut, sehari saja. Haa?? Saya kaget. Soalnya info yang saya dapat, kelas kolam itu minimal dua kali dulu – sampai student bisa – baru boleh dibawa instruktur ke laut. Dive 4x di laut baru bisa dikatakan lulus open water (bila lulus). Nah, karena maksimal dive dalam sehari hanya boleh 2x (bisa maksimal 3x dalam kondisi tertentu), maka saat si instruktur ini bilang dalam satu hari 4x dive, saya jadi bertanya-tanya, dan sudah feeling ini ada yang gak bener. Kayak belajar ecek-ecek aja ini, masa sekali kolam, sekali ke laut sudah lulus?

Tapi karena sudah terlanjur bayar, ya sudahlah jalani saja. Saat kelas kolam pertama kali, di Senayan, saya pun tahu, ini juga salah. Standar PADI adalah, kelas kolam harus dilakukan di kolam yang bisa diinjak. Sementara di kolam Senayan itu yang paling pendek itu 5 meter! Saya tak berani cerita ke suami, karena pasti diomelin.

Aduh, gimana dong, sudah keburu bayar. Ya sudahlah, saya go saja. Latihan pertama di kolam, tidak takut meski kolamnya dalam, soalnya dasarnya masih kelihatan. Jadi ya excited aja. Belajar memasang BCD (Bouyancy Device Control alias vest yang akan diisi udara agar kita bisa mengapung) di tabung, mengenali regulator utama dan octopus (cadangan), memainkan bouyancy. Kami para students bertemu di dasar kolam, kemudian diajarkan ini itu, mulai dari mask clearing, melepas regulator dari mulut dan memasangnya kembali, bagaimana mencari regulator bila tak sengaja terlepas karena tersenggol teman, menggunakan octopus dari buddy, juga diajarkan bagaimana bila BCD harus dilempar ke laut dan kita harus bisa pakai di laut (jadi bukan dipakai di atas kapal). Teman saya yang mau jadi buddy menyerah. She cannot swim, jadi dia langsung keder begitu melihat ada ujian pakai bcd di tengah laut. **padahal saya juga kederrrr….

Ada yang bilang, untuk belajar diving tak perlu bisa berenang. Kata siapa itu. Itu teori yang tidak benar. Kalau nanti kalian ingin ambil Rescue Diver, ada ujian harus berenang sekian ratus meter tanpa BCD. Belum lagi, kalau tak bisa berenang, bagaimana cara kalian menyelamatkan buddy bila terjadi apa-apa. Well, banyak yang mengabaikan hal tersebut, karena mereka pikir BCD akan menyelamatkan mereka dari apapun. Padahal BCD pun bisa bocor.**Yeah, tapi biarlah mereka yang percaya dengan “tak perlu bisa berenang agar bisa diving” itu.

Nah, keesokan harinya kami langsung ke Pulau Pramuka. Saya deg-degan karena kemarin baru sekali di kolam, tapi hari ini langsung ujian ke laut. Kami total ada empat orang yang akan masuk ke laut, dan saya perempuan sendiri. Turun ke laut dari tepian dermaga, kemudian berenang ke titik dan turun ke dalam, itu rencananya. Permukaan laut Pramuka berombak, saya intip ke bawah, visibility tidak jelas, kabur semua. Sesak napas kumat, saya panik. Berkali-kali tarik napas panjang menenangkan diri, baru akhirnya dengan ditemani guide, saya deflate. Turun ke dalam. Setiap meter turun saya lakukan equalize, jangan sampai telinga sakit karena telat equalize. Well, satu lagi yang saya catat di hari itu, ternyata instruktur lupa mengajarkan soal equalize ke students, alhasil ada dua orang yang tidak sempat (atau malas?) baca buku (untuuuung saya pelajari itu buku) mengeluh sakit pada gendang telinga dan gagal equalize, sehingga memilih naik ke atas terus.

Jadi itu laut emang jelek banget. Sudah kabur, tak ada ikan, dan dalamnya pun hanya lima tujuh meterlah. Saya gak puas karena ingin lihat ikan, sudah lari sendiri kemana gitu, dijemput lagi sama guidenya. Menurut saya sih guidenya ini malah better than instructornya, karena dia mengajarkan teknik lebih detil ketimbang si instruktur.

Di dasar laut semua diuji seperti yang kemarin diajarkan di kolam. Buat saya, yang agak repot kemarin adalah mask clearing. Bukan sekedar mengeluarkan air yang masuk ke dalam masker, tapi ini masker harus dibuka dan dipasang kembali, baru mask clearing. Mata perih kena air laut, dan rambut membuat saya susah memasangnya karena belum ketemu tekniknya. Diuji pakai bcd di laut. Diuji juga saat kejadian buddy out of air, lalu diuji bila buddy pingsan dan kita harus lakukan apa. Saya dapat buddy cowok badan gede pulaaaa! Astagaaa… berat banget dorongnya. LOL. Intinya sih kalau sering latihan ya lama-lama jago juga.

Kami masuk ke dalam hanya sekitar lima menitan, lalu naik ke surface, menepi, diuji, lalu masuk lagi. Totalnya sih hanya sekitar setengah jam di laut, saya ingat karena kami baru masuk jam 12, dan sudah keluar sekitar jam satu. Saat instruktur bilang, ayo naik ke daratan, saya pikir kita akan istirahat, lalu lanjut dive lagi. Kan harusnya 4x toh, baru bisa lulus? Tapi ternyata instruktur bilang tadi sudah 4x.

Saya tanya ke teman saya yang sudah license itu, dia bilang seharusnya sih tidak begitu. Minimal dua dive itu ya harus naik dan istirahat dulu baru masuk lagi. Bukan kayak gitu. Saat diberikan buku dive log, di situ tertulis 4x dive dengan kedalaman 5, 8, 9, dan 12 meter dan takes time 5 sampai 15 menit. Hmm, kayaknya gak mungkin, tadi gak selama itu di dalam. Ada teman yang menunggu di atas dan dia tahu waktunya. Kedalaman juga so, so, paling maksimal hanya 8 meter. Soalnya ada student lain yang gak puas dan ingin turun lebih dalam, tapi tidak bisa karena visibility tidak jelas dan dia juga tak berani.

Saya tak puas. Ini bukan course namanya. Ini gak bener nih. Pulang dari Pulau Pramuka, saya akhirnya mengadu ke suami. Menunjukkan log book. Dan iya, sih, diomelin. Mulai dari kenapa kolam hanya satu kali (dan di kolam dalam pula), lalu langsung ke laut padahal students belum siap. Log book yang tidak diisi lengkap, itu juga salah, kata husband. Sebagai instructor, orang itu harus memberikan hak students, mulai dari mengajarkan semuanya termasuk mengisi log book dengan lengkap dan benar, bukan hanya mengisi kolom menit dan berapa meternya saja, tapi juga harus menulis sisa bar dari tabung. Satu lagi yang menurut husband fatal adalah, ada satu skill yang tidak diajarkan instructor ke kami, kalau gak salah namanya cisa, yaitu apabila diver hanya punya sisa oxygen satu kali tarikan saja. Katanya juga, log saya itu tidak berlaku di PADI, karena syarat satu kali dive adalah menghabiskan minimal 20 menit di kedalaman min 5 meter, atau menghabiskan oxygen berapa liter gitu, lupa. Jadi log saya kemarin tidak berlaku, saudara-saudara, karena saya pun tahu saya hanya lima menit saja di bawah, naik dan turun lagi. Bahkan satu kali dive itu, bukan dihitung dari naik turun dari surface, tapi mulai dari pasang BCD ke tabung, turun ke laut, naik ke atas, melepas dan mengosongkan BCD kembali. Itu satu kali dive.

Saya melengos kecewa. Terima deh, dikuliahi suami, secara dia lebih tahu.

Saya lalu bilang ke teman saya yang mengenalkan saya ke instruktur tersebut, saya mau referral saja. Masalahnya adalah, saya tahu bahwa diving tidaklah semudah itu, meskipun juga tidak bisa dikatakan sulit banget, tapi karena saya merasa tidak mendapatkan standar safety yang benar, saya memilih untuk belajar ulang saja. Saya tidak mau meneruskan license yang kemarin, karena saya tak mau dapat license ecek-ecek. Rasanya tidak benar, itu saja. Si instruktur itu beralasan kemarin kita cepat-cepat saja karena memang laut lagi jelek. Tapi ya kalau lagi jelek, seharusnya kan jangan dipaksa, merugikan student itu namanya.

Kali ini ayah Vay akhirnya mau menurunkan egonya sedikit, dia turun tangan mau mengurus emak dari anaknya ini. Kalau katanya sih, memang banyak instruktur yang menggampangkan standar safety demi kejar setoran, tapi itu tidak baik, karena ini menyangkut safety student. Dan ayah Vay memang strik sekali urusan begini. Jadi memang paket course PADI itu agak mahal, tapi itu semua demi safety student.

Teman saya yang sudah license itu jadi mikir, dan meragukan licensenya dia sendiri malah, karena ternyata sampai dia sudah ambil advanced sekalipun, dia belum pernah diajarkan cisa. Bahkan diajarkan pakai bcd di tengah laut pun dia belum pernah. Hmm, kayaknya banyak yang menurunkan standar dalam mengajar, ya. Terlalu menggampangkan. Akhirnya teman saya itu — yang tadinya merasa tahu ini itu — berguru pada suami, tanya itu itu.

Jadi, dari Januari sampai kemarin itu, saya belum pernah terjun lagi ke laut. Baru sekali saja pengulangan yang kemarin dipelajari di kolam. Kok lama ya? Iya nih, belum sempat. Ayah Vay selalu sibuk ke sana ke mari, dan saya tak mau memaksanya, tunggu kapan doi sempat saja. Saya pun jadi malas juga karena jadi cemas kalau ingat pengalaman di pulau Pramuka. Berombak, kabur tidak bisa lihat apa-apa di bawah, dan diburu-buru.

Kembali ke Gili, 16 May 2014.

“Gue gak usah, deh. Takut,” kata saya. “Gak papa,” katanya. Jadilah dia mendaftarkan nama kami berdua untuk diving di Bounty site siang itu jam 2. Mati aku, batin saya. Apalagi ayah Vay bilang, nanti saya ditemani guide saja, yang biasa dia pakai kalau datang diving ke Gili.

Tapi ya rugi juga sih kalau menolak. Kapan lagi coba. Mumpung lagi ke Gili, sekalian saja diving, toh sudah tahu teorinya dan sudah pernah masuk laut sekali kan. Ayah Vay tidak bawa peralatan, karena memang tidak ada rencana diving, jadi kami berdua sama-sama pinjam properti dari Manta Dive. Kapal akan berangkat jam 2, dengan rombongan ada sekitar delapan belas orang. Rombongan kami ada lima orang: saya, suami, guide, dan dua lagi adalah cewek-cewek asal Malaysia yang baru license open water juga.

Husband mendaftarkan saya untuk scuba diving saja, dan guidenya pun langsung mengatur posisi kami nanti akan bagaimana saat di laut. Guidenya sudah kenal suami, dan sudah tahu levelnya idcs toh, jadi dia tak mau repotlah, sudah pasti saya harus di-take care sama suami. Hel, nama guide kami bertanya ke suami, “Istri, bagus?” Husband cuma cengar-cengir dan bilang gak tahu. Ya iyalah gak tahu, kan memang belum pernah lihat. Saat brief, Hel bilang, kita akan di dalam laut maksimal 45 menit. Haaaa.. 45 menit? Sepuluh menit di dalam laut saja belum pernah, apalagi 45 menit? Makin deg-degan. Tapi memang 45 menit adalah batas waktu maksimal untuk satu kali dive. Saya bilang ke husband, boleh gak maksimal 20 menit saja, naik dulu baru turun lagi. I’m not ready yet. Aku kan bukan ikan…

Di atas kapal, husband memeriksa bcd, ngecek regulator, dan tabung (ini harusnya dilakukan sendiri oleh diver, tapi kemarin saya terlalu sibuk dengan ketakutan sendiri, jadi menyerahkan ke suami saja). Bule-bule lainnya juga rata-rata cek BCD, sementara dua warga Malaysia itu diam-diam saja (langsung ketahuan sih diver baru). Saya lihat bcd saya, kok regulator asli malah diletakkan di tempat octopus (regulator cadangan berwarna kuning), dan octopus malah jadi regulator utama. Octopus harus warna yang berbeda, gunanya agar ketika terjadi out of air pada buddy, buddy tahu harus pakai yang mana. Saya minta ditukar kembali posisinya agar saya tak bingung, dan suami menukarnya. Kapal sudah tiba di site, dan para guide turun mengecek arus. Yang di atas bersiap-siap. Saya cemas. Soalnya harus rolling ke belakang, dan ini jelas, pertama kali buat saya. Husband, dia duduk di sisi lain kapal, memberi aba-aba agar saya bersiap, masker dipakai, dan pasang regulator. Sumpah, saya bodoh sekali kemarin. Padahal saya sudah tahu, tapi kok panik. Saat guide menyuruh saya rolling, saya berputar ke belakang. Dan, jebuuurrr!!! Tubuh ini berguling sebentar saja, dan sudah kembali di posisi surface. Lega. Dalam hati saya menjitak diri sendiri, ini kan pakai BCD, kenapa takut?

Hel menyuruh kami menjauh dari kapal. Saya berbalik badan dan kicking mundur, biar lebih cepat sampai ke mereka. Lalu Hel bilang, ayo. Eh, mereka kok langsung deflate! No! No! Saya menggeleng, tidak mau deflate. Kumat lagi paniknya. Sesak napas kayak waktu di Pramuka. Suami langsung mendekat. Hel juga keluar lagi, tanya kenapa. Suami saya bilang, tidak ada apa-apa, ini karena saya sudah lama gak diving aja. Iya sih.

Saya tarik pemberat 4kg itu, agar turun ke pinggul, jadi saya bisa agak lega bernapas. Saya ketakutan. Ini di tengah laut, tak tahu berapa dalamnya, dan kita hanya bisa mengandalkan hidup kita pada regulator, dan harus stay di dalam laut untuk waktu cukup lama. Udah gitu di depan saya ada instruktur galak, yang pasti menuntut kesempurnaan. Saya grogi, dan jadi bingung. Masa mau deflate tapi malah mau pencet tombol inflate. Which is ini berbahaya sekali kalau di dalam laut. Inflate hanya boleh dilakukan perlahan-lahan dan hanya bila sudah mau sampai ke surface, karena kalau kita meluncur ke atas terlalu cepat – apalagi dengan menekan tombol inflate – dapat menyebabkan paru-paru meledak. Serem kan?

Instruktur di depan saya melotot, lalu doi yang tekan tombol deflate, sampai udara di BCD mengempis dan kami perlahan-lahan turun. Saya bolak-balik equalize, karena tekanan mulai terasa menghimpit telinga, ditambah sedang pilek pula. Rasa takut masih ada, tapi sudah mulai tenang. Turun, turun, dan terus turun, hingga terlihatlah pemandangan itu.

Aaahh…. aku ketemu ikan besar. Aneka ikan warna-warni melintas. Ada ikan kuning garis-garis biruuu… cantik… ada ikan abu-abu… ah ini sih biasa!

Selama beberapa saat saya merasa terdorong arus – ditambah lagi saya too much kicking – jadi saya refleks mencari lengan suami. Namun setelah beberapa saat, saya mulai merasa comfort dengan regulator, sudah bisa mengatur napas dengan enak dan perlahan. Saya menoleh, dan tidak menemukan husband. Oohh, sudah dilepas ya, pikir saya. Ya sudah, pengen jalan-jalan sendiri ah ngikuti guide. Saya meraba-raba mencari inflator di atas bahu kiri, maksudnya mau mainin bouyance, takut menabrak terumbu, tapi kok gak ada? Menoleh ke belakang, eh..! Ternyata husband masih ada, dia di atas saya. Dan doi masih pegang inflator saya. Ya sudahlah. Ternyata masih dijagain. Husband juga terus ngingetin gimana menggerakkan kaki dengan benar, dan tangan jangan mengayuh, karena ini bukan berenang.

Tadinya berharap bisa ketemu shark atau turtle tapi kemarin lagi tidak ada. Saya dibawa husband beberapa kali melipir dari rombongan untuk lihat ikan-ikan lain dan juga terumbu karang. Suatu waktu, ia menunjuk ke arah terumbu yang bergoyang-goyang. Apa itu? Ohhh, ikan besarrrrr…… pikir saya. Ternyata setelah di atas, suami bilang, dia tadi itu mau menunjukkan ikan nemo. Hahah..

Kami juga melewati kapal tongkang yang karam, yang penuh ikan keluar masuk. Hanya lewat di atasnya, jelas saya tak akan berani masuk. Kata husband, di dalam tongkang itu ada ikan yang gede banget di sudut. Aduh, benar-benar cuci mata deh. Serasa masuk ke akuarium raksasa. Memang indah sekali di dalam laut, gak heran ayah Vay ini bolak-balik diving.

Setelah cukup lama, saya mulai merasa lelah. Lelah karena mencaplok regulator terus di mulut, dan mulai terasa gak enak di badan. Sudah mulai sendawa terus. Memberi kode pada suami bahwa saya mau ke atas saja, sudah cukup. Tiba di atas, doi ngasih tahu kalau tadi kita turun hingga kedalaman 18 meter, dan menghabiskan waktu tiga puluh lima menit. Woww….. kalau dulu hanya 4-5 menit di kedalaman 5-7 meter, sekarang langsung 18 meter dan tiga puluh lima menit. Puas. Berhasil sudah melewati batas psikologis itu.

Saya tanya, kenapa tadi di dalam saya susah sekali turun, bolak-balik naik terus, sampai harus ditambahi pemberat oleh Hel. Kata si instruktur galak, itu karena saya terlalu sering kicking, dan gaya diving masih salah, selain karena memang sedang berarus juga. Saya bilang, cewek Malaysia itu tadi gayanya juga begitu. Ya, itu gaya yang salah, katanya. Memang tadi di bawah, sih, beberapa kali diingatkan bagaimana dive yang benar, tapi saya kok merasa kehilangan keseimbangan ya, miring-miring ke kanan dan takut terbalik. Padahal sih gpp juga, kan ini di air. Ya, kalau kata doi sih, ini seperti naik sepeda, harus latihan terus baru bisa.

Tapi dalam hati, saya kepikiran, malu rasanya. Karena bolot, dan merepotkan orang lain. Padahal sebenarnya, ini masalah bagaimana cara kita berpikir saja, kalau yakin dan pede gak akan grogi dan lupa. Meskipun kalau mau cari excuse agar dimaklumi, terakhir belajar juga – yang tidak mau saya akui itu – kan lima bulan lalu. Tapi tetap gak puas. Ini kayaknya saya tertekan deh gara-gara buddy-nya seorang IDCS. Takut salah. Tapi gak kapok sih diving. Mudah-mudahan lain kali kalau ada kesempatan diving lagi, sudah lebih lancar dan gak panik lagi setiap kali mau deflate. Eniwei, saya tidak punya foto underwater. Husband tidak bawa kameranya, ya soalnya kan memang gak rencana mau diving kan. Jadi hanya ada foto equipment aja, hehe..

manta dive

manta dive

Selama perjalanan kembali ke Gili Air di atas kapal, saya melamun. Ah, memang indah sekali Indonesiaku ini.

**padahal di tempat lain, di Omah Gili, ada anak perempuan yang menangis karena ayah dan maminya gak pulang-pulang diving.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

10 thoughts on “[Gili Air Trip] Diving di Bounty Site

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *