Day 2 in Perth : Kings Park

Perth, 22nd Feb 2007

  • 2.48 pmKings Park

Like I said before, beda waktu di Perth dengan Jakarta adalah 2 jam. Perth itu GMT+8, tapi kenapa pramugari Garuda bilang beda 2 jam, dan ketika saya jalan saya lihat jam setiap orang berbeda-beda. Ada yang +1, ada yang plus 2. Dan ternyata, untuk periode Oct-March, diberlakukan daily saving time. Jadi jam di Perth bertambah 1 jam.


Di Perth ini, toko-toko di kawasan Hay St tutup jam 05.30pm. (entah mo jadi apapun)@Hay St. Kita yang kalau di Indonesia udah biasa melek ampe pagi, matilah kalau disini. Jam delapan yang buka hanya beberapa saja, kalo bukan restoran Korea-Japan, kafe-kafe begitu. Ada juga bar di Barrack St, tapi gak gitu menarik sih dilihat dari luar.

Okay..then..

Siang tadi kami jalan ke Kings Park. Semalam sebelumnya kami sudah mempelajari peta, harus kemana dan naik apa. So, untuk bisa sampai ke Kings Park, kita bisa naik bus Red CAT (Central Area Transit) yang melewati jalan kesana. Dan gratis, tidak perlu bayar. Cukup menunggu saja di halte-halte yang telah ditentukan.

Jadi memang harus hapal nanti harus turun di halte berapa kalau mau kemana. Kami naik dari halte 13 *Town Hall East, tidak jauh dari hotel. Bus nya ini mirip busway gitulah, cuma lebih manusiawi dan lebih canggih, karena orang yang cacat fisik juga bisa naik dengan mudah.

Tak lama kemudian sampailah kami di halte 26 *Havelock St. Lalu berjalan kaki sedikit turun ke Kings Park. Tamannya itu memang besar sekali. Capek dah, kalau harus nelusuri semuanya. Biasanya pengunjung banyak yang bersepeda, dan untuk turis juga disediakan trem untuk berkeliling taman, pada jam-jam tertentu.

Sambil menikmati jajanan mata yang serba hijau, saya perhatikan ada banyak penduduk lokal yang menghabiskan waktu mereka di taman — ada yang lunch sambil baca buku, ada manula yang sengaja ingin berjemur, dan ada juga muda-mudi pacaran. Seorang bapak mengira kami tersesat,“Are you lost?” tegurnya ramah, ketika melihat kami jalan sambil membuka peta. 😀The Bali MemorialKing’s Park

Selain luas dan sejuk, banyak burung yang terbang dengan bebas. Gagak, burunge merpati. Di Kings Park juga banyak monumen atau pohon yang sengaja ditanam untuk mengenang seseorang. Selain War Monument yang terkenal itu, juga ada monumen yang dibangun khusus untuk mengenang mereka yang menjadi korban bom Bali 2002. Monumen yang dibangun menghadap ke Swan River.

Di atasnya, ada tempat makan. Seperti biasa, yang agak masuk akal untuk dipesan hanyalah nugget and fries. Yeah, mayan deh. $20, include 2 coke & 1 water.

Puas jalan-jalan di Kings Park, kita kembali ke Havelock St, menunggu Red Cat lagi untuk kembali ke Hay St. Setelah menaruh beberapa barang di hotel, kami naik Red Cat lagi menuju ke sebuah supermarket, dan lanjut mencari makan.

Di Perth Station, kami turun. Ujung-ujungnya sih nembus ke Perth City juga, cuma muter-muter ajalah biar tahu ada apa aja. Lalu kami makan di KFC (*bah! jauh-jauh ke Perth cuma makan kfc? kekeke…), soalnya cuma KFC yang menjual ayam goreng. McD hanya jual burger, deli, dan saudara-saudaranya.

Kenyang, kami jalan kaki pulang. Sambil melihat-lihat suasana, mana resto yang kira-kira menggugah selera, tapi tidak banyak juga. Palingan restoran Korea atau Jepang. Kayak kemarin malam, kami makan di Arkor, resto China dekat hotel, lumayanlah rasanya. Harga per-porsinya juga lebih masuk akal ketimbang nasi campur kemarin, $6.50 :D.

Sambil berjalan pulang, terlihat kesibukan penjaga toko menutup toko. Semua tutup on time jam 05.30 pm, setelah toko digembok, mereka langsung cabut pulang.

08.10 pm, janji ketemu dengan Graham. Well, he’s a quite nice person. We’ve talk a lot about tomorrow. So, when evrything is done, saya jalan-jalan lagi keluar. Actually, gak banyak yang bisa dilihat jam segitu, karena semua rata-rata sudah tutup.

Kalau capek jalan kaki, tinggal duduk saja di bangku panjang di trotoar. Sekilas, melihat Perth jam segini sudah sepi, kok kayak kota mati ya? Tapi ternyata biarpun demikian, rasanya aman-aman saja kita mau duduk di trotoar ataupun jalan-jalan malam. Mungkin karena dimana-mana dipasang kamera, jadi orang tidak berani macam-macam.

00.10am (masuk 23)…. mulai kelaparan.

Ngakunya gak mau makan lagi, tapi ternyata gak kuat juga. Perut mulai terasa lapar, akhirnya kami keluar juga. Berharap masih ada beberapa resto yang buka. Wah, asli jalanan kosong dan lengang. Hanya ada beberapa orang yang lalu lalang termasuk petugas kebersihan malam. Namun, di sela keheningan itu, tiba-tiba saja terdengar jeritan. Seorang cewek — gak tahu baru pulang darimana, menjerit ketakutan sendiri di dekat Just Jeans store. Apa dia lihat hantu? Dia melihat ke kami, lalu berlari ke arah kami. Lalu lagi-lagi dia menjerit kaget sambil tetap melihat ke arah tadi. Gak jelas, kekekee….

Kami jalan luruuusss saja, dan akhirnya ketemu lagi dengan McD Cafe, yang ternyata masih buka. Di depannya ramai oleh warga kelas tiga, yang penampilannya jelas beda banged dengan gaya para pekerja Perth yang full style. Merek ini ayak preman-preman Brooklyn di film2 gitu loh… 😀

Waktu sedang mengantri, ada dua gembel (satu ce, satu lagi banci) yang meminta sumthin ke kasirnya. Minta free, gitu. Tapi kasir menolak dan mengharuskan mereka membayar 50sen. Yeah… saling mengumpat terjadi antara mereka (*kalo di Indonesia kayaknya ga mungkin sampai begitu deh….) dan si gembel pergi sambil mengancam.

Muka pelayan-pelayan di McD ini gak ada senyumnya, entah kecapekan atau karena terbiasa melayani gembel. Ada penjaganya mirip si Sabar, OB di kantor saya. Hampir ketawa saya lihat mukanya. Terus di sini chilli sauce nya bayar loh. 50sen. Bah! Semua diduitin, padahal di KFC gak bayar tuh. Tapi memang sih tidak ditawarkan, jadi kalau mau chilli mesti bilang. Tapi sebenernya, ide membayar saos cabe itu boljug lah, biar orang-orang tidak ‘kemaruk’ kalau ambil saos di piring 😀

Selama perjalanan balik ke hotel, saya pikir, gimanapun juga masih lebih enak Jakarta deh, atau Medan setidaknya. 24 hours alive !!

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

4 thoughts on “Day 2 in Perth : Kings Park

  1. he..he.he.. Jakarta gak ada matinya… walaupun kita mau makan jam 2 or 3 pagi pun.. masih banyak warteg yang buka…
    Tiap tahun gue ke Perth, utk bisnis, jadi gue dah hafalin tempat2 buat makan. biasanya, gue ke china town (di northbridge), di situ makanannya banyak yang cocok sama kita lidah asia. krn porsinya gede, kalo gak abis kita take away, buat malem2 kalo laper. oh iya, di kings park fast foodnya yang pake paging radio kan ya kalo order kita dah bisa diambil? canggih juga yaaa.. 🙂

  2. uam

    yah, seenak-enanknya di negeri orang, teteplah bumi kelahiran tak terlupakan.. 😀

    mungkin season nya kurang pas untuk dapet suasana cozy disana kak… kapan-kapan klo ada rencana ke sana lagi coba pas winter deh.. katanya sih romantic season banged, dan (katanya) setiap weekend di King’s Park itu ada perayaan umum…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *