Karena Taman Simalem Terlalu Indah untuk Tak Disinggahi

DSCF4996

Melanjutkan postingan sebelumnya, setelah dari Berastagi, kami pun lanjut menuju Taman Simalem Resort. Taman Simalem Resort ada di bukit Merek, Tanah Karo Sumatera Utara, bila ditempuh dari kota Medan makan waktu kurang lebih tiga setengah jam dengan kendaraan mobil. Tadinya Omanya Vay mau ikut, tapi beliau ragu-ragu karena perjalanan cukup jauh dan melelahkan untuk oma-oma katanya. Jadilah hanya kami anak-anak dan cucu yang pergi. Opung dan Oma Vay cuma pesan, jangan sampai kesorean pulangnya, nanti terjebak macet, karena ini masih libur lebaran, pasti sore itu jam stuck kendaraan turun kembali ke Medan.

Agar perjalanan selama tiga jam lancar jaya, yang harus disiapkan adalah yang basic dulu. Kondisi mobil harus laik jalan, bahan bakar full, kemudian kartu kredit dan juga uang cash dengan beberapa pecahan rupiah, cemilan dan air minum untuk anak-anak di mobil biar tidak lapar dan bosan, kantong plastik yang cukup, sendal jepit, serta pakaian ganti. Kami pikir siapa tahu nanti tiba-tiba berencana menginap, jadi perlengkapan sekalian saja dibawa. Kemudian yang tak boleh lupa juga yaitu powerbank, charger handphone, lalu baterai dan memori kamera digital. Eh iya, paket kuota juga harus cukup. Jangan sampai kejadian mau upload foto ke socmed gagal karena paket data habis, kan?

“PETIK JERUK SENDIRI” DI SIMPANG GERGAJI

“Petik jeruk sendiri” adalah sign yang kami lihat di sepertiga perjalanan awal ke atas. Di sisi kiri jalan banyak lapak jeruk Berastagi, dengan karton bertuliskan “petik jeruk sendiri”. Eh, petik jeruk sendiri? Kapan lagi Vay bisa petik jeruk sendiri kalau tidak sekarang? Mumpung kita lagi di kampung penghasil jeruk paling manis yang harganya mahal di pasar dan supermarket Jakarta. Berhentilah kami di sebuah lapak. Kata nande-nande yang jaga, kalau ambil banyak, dia kasih harga sekilonya Rp18.000,- tapi kalau beli langsung di lapak ya cuma Rp6.000,- sekilo. Wuih, tiga kali lipat? Tapi kan kita memang mau tour de kebun jeruk, toh? Jadi tak apalah. Kami membawa tiga plastik, dengan asumsi bahwa kita akan memetik jeruk paling banyak tiga kilo.

Akan tetapi begitu tiba di dalam, demi melihat deretan pohon jeruk yang panjang hingga ke belakang, lalu semuanya berbuah, kami semua jadi tak sabaran. Apalagi anak-anak, main petik aja, padahal belum terlalu kuning. Sabar, sabar, emak-emak mengingatkan, maklum gak mau rugi, masa sih kita bayar yang masih hijau. LOL. Ketika agak ke dalam, barulah ketemu pohon-pohon jeruk yang sudah kuning semua buahnya. Langsung menggeragas. Vay juga tak sabar, main tarik saja, meski sudah dibilang petik jeruk itu harus diputar pelan-pelan sampai lepas.

Petik Jeruk di Spg Gergaji

Petik Jeruk di Spg Gergaji

DSCF4970

Dua puluh menit muter-muter, kami rasa sudah cukuplah, kantong plastik juga sudah mulai terasa berat. Kami kembali ke depan untuk menimbang hasil berkebun kami. Dan eh, dapatnya ternyata hampir 7 kg! Lumayan ya. Lumayan bayar mahal maksudnya, hahah…

Ya tak apalah. Yang penting anak-anak senang, kan? Kan gak tiap hari juga. Kalau tiap hari namanya yang punya kebun.

“TAMAN SIMALEM RESORT, 500 meter”

Rasanya kok dari tadi gak sampai-sampai, yang dilihat hanya hamparan pohon, ladang, bukit, serta langit biru. Tapi begitu melihat papan petunjuk bahwa tujuan sudah dekat, langsung bersemangat.

Pukul setengah sebelas, akhirnya kami tiba di Taman Simalem Resort. Setelah membayar charge masuk Rp300.000,- permobil di loket, kami memasuki areal Simalem dengan hutan di kanan kiri. Setiap mobil dibekali satu peta berisi jalur-jalur di dalam Simalem yang akan menunjukkan titik-titik wahana yang dituju. Ada juga beberapa voucher potongan untuk makan di restoran, beli merchandise, dll.

Simalem, dalam bahasa Karo, artinya sejuk atau teduh. Ada di ujung utara Danau Toba, sehingga kita bisa menikmati view Danau Toba dari sisi yang berbeda dibanding yang kita lihat dari kota Parapat.

Di Simalem ada banyak wahana yang bisa dikunjungi. Ada Fountain of Wealth, yaitu air mancur di tengah persimpangan jalan. Lalu ada Tongging point, taman Pearl of Lake Toba, taman hewan, Agro untuk melihat kebun sayuran (di sini ada musholla juga tempat menjual merchandise), Trekking ke Twin Waterfall, tempat outbound untuk flying fox, kuil dan lapangan golf, kemudian Feeding The Rabbit, dan ada panggung Amphitheater. Ada juga Labyrinth.

Dengan bekal peta di tangan, bila belum terbiasa, agak bingung juga menemukan lokasi-lokasinya. Namun sebagai patokan paling mudah, buat saya, adalah dimulai dari Fountain of Wealth. Dari situ tinggal menentukan akan ke kanan, ke kiri, atau ke atas.

Karena kami tiba sudah agak siang, saat membaca detail wahana di peta, baru kami sadari bahwa mengelilingi Taman Simalem dalam sehari tidaklah cukup. Memang sebaiknya tuh menginap kalau ke sini, karena ada beberapa wahana untuk anak yang hanya buka di jam tertentu, seperti memberi makan kelinci itu adanya di jam dua siang, kemudian membuat pizza ada di jam 11 pagi. Trekking juga sebenarnya sangat menarik, namun perjalanan pp makan waktu sejam lebih, dan anak-anak tidak diizinkan ikut trekking.

Jadi yang kami utamakan adalah wahana yang bisa dimainkan oleh anak-anak dulu.

One Tree Hill. Ini adalah bukit kecil yang dibentuk dengan satu pohon berdiri di tengahnya. Untuk naik ke atas bukit disediakan tangga dari bambu. Cukup licin bila tidak mengenakan alas kaki yang tepat. Namun di sini kita bisa langsung memandang indahnya Danau Toba. Luas, biru, dingin, indah. Indah yang mistis.

DSCF4979

DSCF5011

DSCF4998

Labyrinth. Taman tersesat ini jadi favorit anak-anak karena mereka penasaran bagaimana menemukan akhir dari perjalanan mereka. Bolak-balik salah belok, dan akhirnya ketemu juga, endingnya adalah sebuah pohon. Anak-anak foto dulu di “FINISH” part, meskipun Vay agak ngambek, entah gara-gara apa.

DSCF5017

Lokasi: Labyrinth

Lokasi: Labyrinth

Selesai dari Labyrinth inilah tadinya kami bermaksud ingin trekking melihat air terjun kembar. Sayangnya anak-anak tak boleh ikut, jadi kami batalkan. Oh iya, untuk beberapa kegiatan di dalam Simalem, juga dipungut bayaran lagi. Kayak Trekking, harus bayar Rp35.000,- perorang dan kita akan ditemani oleh pemandu.

Memberi Makan Kelinci. Dengan sebungkus sawi manis seharga Rp20.000,- anak-anak boleh masuk ke kandang kelinci dan memberi makan. Termasuk mahal sebenarnya. Tapi ini adalah pengalaman pertama Vay, dan dia sudah mulai sedih ketika para sepupu diarahkan menjauh dari sana. Pasang muka cemberut, dan gak mau jalan. Maunya kasih makan kelinci, katanya.

Tak lama sebungkus sawi manis pindah ke tangannya, dan dia melangkah ceria masuk ke dalam. Tak perlu mencari-cari, seekor kelinci putih besar langsung mengejar Vay, tak sabar ingin meminta makan. Memang deh ya, sengaja ini kelinci-kelinci dibuat lapar, biar pengunjung yang terus-terusan kasih makan mereka. LOL. Pada akhirnya, para sepupu Vay juga ikutan masuk. Gak tahan juga melihat Vay yang asyik memberi makan kelinci.

Lokasi: Taman Love

Lokasi: Taman Love

Lokasi: Taman Love

Lokasi: Taman Love

Lokasinya ini ada di Tongging, dekat Taman Love. Taman Love ini sendiri dibentuk dari huruf L-O-V-E dan pengunjung dapat menggantungkan tanda kayu berbentuk hati bertuliskan namanya dan pasangan di sana, sebagai ‘doa’ agar hubungannya langgeng. Kayu-kayu berbentuk hati itu dijual di sebuah loket.

DSCF5046

Di sini juga ada panggung Amphitheater, yang katanya untuk acara-acara musik atau theatrical, dimana pengunjung dapat menonton dengan latar belakang Danau Toba. Keren banget. Tapi saya tak tahu apakah sudah pernah ada pertunjukan atau belum.

DSCF5116

Pearl of Lake Toba

Letaknya di Agro. Kita berhenti terakhir di sini, untuk sholat dan berfoto-foto lagi tentunya. Katanya ini adalah titik paling oke untuk melihat keindahan Danau Toba. Dan ternyata benar.

DSCF5193

Kami mengambil banyak foto di sini, karena pemandangan Danau Toba di belakang kita itu, keindahannya tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Saat sudah sore, birunya langit mulai keluar semua. Tak perlu filter apa pun, tak perlu ditambahkan apa pun, persis kayak foto di studio. Lighting alami, kanvas alami, studio alami. Sampai saya rasanya tak ingin pergi dari situ. Ya Tuhan, melihat pemandangan ini langsung dengan mata, sungguh indah sekali. (Tinggal tunggu naganya keluar saja, you wish ya Zy…:p). Sungguh aku cinta sekali sama negeriku Indonesia.

DSCF5128

DSCF5206

Di lokasi ini, di belakang gedung Agro, ada tempat pembibitan sayuran, dan Vay excited ketika menemukan sayuran favoritnya, pak coy dan kailan.

Sebenarnya masih ada banyak yang belum dilihat, namun waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, dan Opung Vay sudah bolak-balik telepon. Takut kami terjebak macet di jalan. Sempat ada wacana dari anak-anak untuk menginap, tapi saya pikir ah kapan-kapan sajalah. Gak tega sama Opung dan Oma Vay yang sendirian di Medan, kan beliau-beliau juga pengennya para cucu main di rumah, meramaikan dan membuat kebisingan untuk mengisi hati.

Kami menyempatkan keliling sekali lagi, melihat Vihara yang baru jadi dan terletak di dekat ngarai, kemudian keluar. Sudah pasti belum puas ya, karena masih ada taman hewan yang belum kami singgahi, lalu juga belum main ke kebun buah (tapi gpp juga karena sudah petik jeruk tadi di Spg. Gergaji).

Bagaimana kesimpulannya?

Memang masih banyak yang harus dibangun lagi di Simalem ini. Secara pemandangan sudah sangat indah, dan kalau saya ditanya, saya gak merasa rugi bayar Rp300.000,- untuk masuk dan menikmati keindahan. Soal bayar lagi untuk wahana di dalam, masih wajar juga, meski memang sebaiknya tidak terlalu mahal, ya. Untuk restoran di dalam Simalem Resort, yang agak lumayan hanya Kodon-Kodon. Menunya banyak pilihan dan some of menu rasanya cukuplah.

Kalau mau ke Simalem Resort, harus menyiapkan dana khusus juga, karena harga sewa kamar di sini paling murah Rp1.500.000,- kemudian makanan di restoran juga sudah pasti lebih mahal ketimbang restoran biasa. Bila sekadar ingin lewat dan tidak menginap, tak ada salahnya membawa bekal makanan dan minuman yang cukup, lumayan menghemat.

Bila disuruh ke sana lagi tentu saja mau. Namun harus menginap, biar puas.

Bagaimana dengan perjalanan pulang? Seperti dugaan, pulangnya macet. Ditambah gerimis dan geledek di kejauhan, kami melewati hutan di kanan kiri jalan raya untuk turun ke Medan. Saat saya membuka kaca jendela, harum durian yang sudah masak tercium. Ampun, ini harum durian tersedap! Langsung dari pohon, kan hutan sekeliling Berastagi itu bisa dibilang pohon durian semua. Dan tak heran kalau sampai macet begitu, sebab di beberapa titik ada mobil yang parkir untuk menikmati durian. Tapi saya enjoy saja, namanya juga liburan, gak ada yang dikejar. *Ehmm, di Jakarta kan juga udah biasa macet-macetan toh?

Sampai di rumah jam berapa? Jam sebelas malam! Dua keponakan saya dan Aturang Vay langsung tepar di kamar tanpa babibu. Tapi Vay masih terjaga, dia mandi dulu, lalu makan malam di meja sambil bercerita ke Omanya. Jam dua belas malam baru kami berdua masuk kamar, tidur.

Dia bilang, dia senang sekali hari itu. Sudah naik kuda, petik jeruk, kasih makan kelinci, sampai main di Labyrinth yang menegangkan itu. Dan Mami hanya butuh senyum lebar di bibirnya, sebagai pengobat capeknya nyetir seharian.

Saya juga buatkan video amatir perjalanan kami dari mulai Petik Jeruk hingga ke Simalem. Silakan ditonton, ya. Menurut saya yang menarik adalah bagian Labyrinth, pasti pada ikutan penasaran mana ujungnya. 🙂

Untuk melihat foto-foto lainnya, bisa dilihat di Album Flickr ini.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

32 thoughts on “Karena Taman Simalem Terlalu Indah untuk Tak Disinggahi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *