Kuda Cantik di Pasar Buah Berastagi

Akhirnya kesampaian juga bawa Vay ke Berastagi. Beberapa tahun lalu yang kita main ke Hill Park itu kan mau lanjut ke Berastagi, tapi begitu keluar gerbang ternyata macet total, makanya kita batal lanjut, dan memutuskan kembali ke Medan.

Kali ini, di hari ketiga libur lebaran, jam enam pagi kami langsung melaju ke arah Berastagi. Tujuan utamanya adalah ingin ke Taman Simalem Resort, di Tongging. Namun syukurnya jalanan lancar di pagi ini sehingga kami sempat untuk mampir sebentar ke Berastagi. Berastagi ini adalah sebuah kota kecil dengan jarak sekitar 60KM dari Medan, dan berada di dataran tinggi. Kota ini dikenal sebagai penghasil buah-buahan dan sayuran segar, punya banyak pemandian air panas karena memiliki dua gunung berapi aktif yaitu Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung. Udaranya sudah pasti sejuk, beda dengan kota Medan yang panasnya minta ampun. Jadi Berastagi ini seperti ‘Puncak’-nya orang Medan. Dan sebagai anak dari maminya yang orang Medan, Vay itu wajib main ke Berastagi.

Rombongan kami beriringan dua mobil. Ada Aturang-nya Vay bersama tiga keponakan saya, lalu Uwak-nya Sasha (ponakan saya) dari maminya ikut juga sekeluarga. Jalan ke Berastagi berkelak-kelok dan menanjak, namun saya menyetir santai saja, toh tak ada yang dikejar. Selain itu sudah mulai lupa ‘medan’ sedikit, jadi masih meraba-raba dulu.

Sebenarnya perjalanan normal ke Berastagi itu sekitar satu setengah jam namun karena kami singgah beberapa kali untuk ke toilet juga beli cemilan di jalan, maka kami tiba di Berastagi jam 8.30 pagi. Ini sudah termasuk lancar, karena jalanan tidak macet pagi kemarin.

Tujuan utama kami adalah Pasar Buah Berastagi. Ini adalah pasar wisata, karena semua orang yang tiba di Berastagi pasti menyempatkan diri untuk mampir ke sini. Yang unik di Pasar Buah Berastagi adalah jualan binatangnya. Anak-anak really excited saat turun dari mobil, tak sabar berlarian untuk melihat keriuhan di pasar, kerumunan orang yang melihat marmut, kelinci, serta anak anjing.

Vay baru sekali ini lihat langsung anak anjing, dan dia curious kenapa ada yang kecil banget, lalu ada yang setengah gede. Dia kira yang badannya lebih besar sedikit itu bapaknya, hahah… padahal itu juga anak anjing, cuma dengan usia yang lebih tua. Ya memang di daerah rumah kami kan tidak ada yang pelihara anjing, jadi Vay juga jarang melihat anjing besar, kecuali di TV. LOL.

Nah. Satu lagi kenapa saya ingin bawa Vay ke sini adalah, supaya dia bisa naik kuda. Naik kuda Vay terakhir itu waktu di Tangkuban Perahu, tapi di sana kudanya kecil. Di Berastagi ini kudanya ganteng-ganteng! Tinggi besar dengan kulit mengkilat. Esar, sepupu Vay langsung memilih seekor kuda coklat besar untuknya. Sementara Vay, sudah keburu naksir sama kuda putih dengan mawar merah di telinga. Tadinya saya bilang, ayo cari kuda lain dulu, tapi dia udah kepengen kuda itu. Nah begitu saya oke, ternyata kudanya itu sudah diambil pengunjung lain. Ngambek deh, hahah…. tapi akhirnya begitu kuda putih itu kembali, jadi juga naik, dan giginya pun keluar. Happy.

Pasar Buah Berastagi

Pasar Buah Berastagi

Pasar Buah Berastagi

Sesuai dengan namanya, pasar buah, di sini kita bisa belanja banyak buah dan sayuran segar. Buah markisa dan jeruk Berastagi adalah buah khas Berastagi, biasanya kita kalau ke sini pasti beli. Namun kali ini saya skip. Saya pikir, ah nanti kita kan mau cari yang bisa petik jeruk sendiri di pohon, jadi skip saja. Sambil menunggu Esar dan Vay kembali dari naik kuda, kami duduk sambil makan jagung rebus. Jagung di sini ukurannya besar, rasanya manis dan lembut sekali. Harganya Rp 5.000,-. Sementara yang lain makan jagung rebus, saya memilih berkeliling memanjakan mata. Rindu dengan suasananya, rindu dengan logatnya, rindu dengan udaranya.

Pasar Buah Berastagi

Tak lama dua penunggang cilik tiba, dengan senyum merekah dari kejauhan. Katanya tadi di sana diajarin mengendalikan kudanya sendiri, tanpa dituntun, dan mereka bangga bisa melakukan itu. Dan su pasti maminya pun bangga dengarnya….

Tarif naik kuda di Pasar Buah Berastagi sudah ada dipasang di papan di depan pasar. Jadi mulai dari Rp30.000,- – Rp50.000,- tergantung jarak. Kalau sewa satu jam, Rp150.000,-. Turun dari kuda, dua anak kecil ini bilang masih kepengen naik kuda lagi, udah gitu abang kudanya mau main jalan lagi. Ilmu kali memang kawan itu kan, ketemu pelanggan impulsif kayak anak-anak ini. Tapi para emak bilang sudah cukup. Koyak nanti dompet Mami, Nak. Masih jauh perjalanan kita. LOL.

Setelah menghabiskan waktu tiga puluh menit lebih di Pasar Buah Berastagi, kami pun melanjutkan perjalanan, menuju Taman Simalem, yang letaknya lebih tinggi lagi dari Berastagi. Cerita tentang Taman Simalem ada di postingan terpisah ya. Sementara itu, bisa tonton dulu video amatir berikut saat Vay ada di Pasar Buah Berastagi. Biar ada kenangan yang bisa ditonton terus, jadi perjalanan Vay kemarin saya buatkan video amatirnya. Ditonton ya. 🙂


Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

11 thoughts on “Kuda Cantik di Pasar Buah Berastagi

  1. Aku yang tinggal di Medan malah belakangan jarang ke pasar buah Brastagi, mba. Hahahaha… Tapi memang di sana selalu ada yang jual anak anjing lucu, dan dulu pernah beli trus dipelihara sampe tua dan akhirnya mati :(.

  2. koyak dompet mami, wkwkwkwkw aduuuh mbak, udh berapa lama aku ga mndengar kata itu hahahaha … jd inget dulu ya, pas baru merantau ke jkt, baru dapat kerjaan juga di bank yg skr, aku msh teller baru dulu, dan ketemu uang EUR yang robek.. kan foreign curency selain USD, ga boleh robek ato berlubang, tapi ga masalah ada coretan ato kusut..nah uang yg aku temuin ini robek dikiiiit. tapi krn msh baru, aku ga yakin, dan nanya supervisorku, “mba, uang ini bisa diterima ga? ini koyak soalnya..” dan supervisorku lgs bengong ga ngerti hihihihi ;p.. aku sampe bingung, emg koyak itu ga dikenal di jkt yaaa ;p..

    • Zizy

      Hahahaa…
      Temanku juga ada tuh, orang Palembang tapi memang bahasanya sama. Selalu bilangnya koyak. “Tangannya koyak,” terus kita ketawa dengarnya… LOL.

  3. turiscantik

    Saudara saya ada yg kerja di perkebunan buah di berastagi, kyknya saya prnh ke tempat ini juga 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *