Wisata Tangkuban Perahu

Saya mau lanjut cerita tentang liburan keluarga kami minggu lalu ya. Setelah dari Trans Studio di hari Kamis, nah hari Jumat pagi kami meluncur ke Lembang. Mau ke Tangkuban Perahu. Eh, ada yang masih ingat kisah Tangkuban Perahu gak? Saya ingat, tapi sebelumnya sempat tertukar antara cerita Tangkuban Perahu dan Malin Kundang.

Tiba di Tangkuban Perahu jam sepuluh pagi, suasana belum terlalu ramai. Pengunjung masih sepi. Tapi pedagang dan tukang kuda sudah ramai. Pada ngerubutin kita, terutama anak-anak. Mulai dari boneka-boneka gak jelas, kalung tasbih, syal dari bulu kelinci, cake buah, tas batik, macam-macamlah ditawarin. Beberapa kita beli, untuk oleh-oleh dan kenang-kenangan dari Tangkuban Perahu. Lalu naik kuda. Naik kuda di sini mahal juga ya. Masa tiga kali trip Rp25,000. Gak puas, tapi ya sudahlah, kayaknya sudah salah nawar di awal.

IMG_1695

IMG_1699

IMG_1704

IMG_1711

Nah, soal naik kuda ini, tadinya Vay itu gak mau naik kuda, meski sudah kita bilang nanti berdua dengan kakaknya. Saat sepupu-sepupunya sudah naik kuda, dia bergeming saja di tempat duduknya. Sampai kemudian tiba-tiba dia berkata,”Mami, Vaya mau naik kuda, tapi yang pink.”

“Mana ada kuda pink? Mami gak lihat, tuh.”

“Ada, kok, Vaya tadi lihat…”

Lihat punya lihat, ternyata memang ada seekor kuda pink. Tepatnya kuda putih dengan surai yang diwarnai pink. Kudanya masih kecil, tapi kata si mamangnya itu kuat dinaikin berdua, padahal si kuda kayaknya tersiksa gitu mukanya. Ya sudah, Vay pun naik berdua Arve, abang sepupunya. Terus keliling deh tiga kali.

Kita gak lama-lama sih di Tangkuban Perahu. Soalnya mau kejar balik ke Jakarta siang itu juga, gak pengen kejebak macet kalau terlalu sore. Jadi turun kembali ke Bandung, belok ke Rumah Mode. Iyalah, kalau ke Bandung gak singgah ke FO kayaknya ada yang kurang, ya. Di Rumah Mode, sekalian makan siang dulu baru belanja-belanja. Sebenarnya tadi kita berencana mau makan sate kelinci atau sate kambing, tapi waktu turun dari Lembang masih jam sepuluh, masih kenyang. Jadi nanggung. Ya sudah, makan siang di restoran di area Rumah Mode saja juga tidak apa-apalah, enak juga kok, sambil para ibu belanja, para pria pun duduk-duduk santai minum kopi. Daaan… saya juga sekalian pijat refleksi. Maklum, mommy driver ini masih ngantuk berat, jadi recharge dulu. Aduh enaaakkk banget refleksinya.

Pukul dua tepat kita bergerak keluar Bandung. Kembali ke Jakarta, melewati tol Padalarang. Menyetir di tol Padalarang itu, seperti main rally mobil di game station deh. Kanan, kiri, kencang, pelan sedikit, terus ketemu macam-macam jenis truk. Yang kocak juga ada. Seperti truk pengangkut motor yang ingin memotong truk di depannya, coba ambil lajur kanan. Tapi sudah setengah mati dia ngegas, tetap gak bisa lewat juga, soalnya mendaki kan. Sementara kita yang di belakangnya terhambat, dong. Alhasil dia pun kembali lagi ke belakang truk yang tadi. Huh. Memalukan! LOL.

Senin kemarin, rombongan Medan sudah berangkat pulang. Liburan memang sudah mau usai sebentar lagi, dan kita juga akan segera memasuki bulan Ramadhan.

Saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan pada teman-teman yang berpuasa, dan kepada semuanya mohon dimaafkan bila ada salah-salah kata dan perbuatan.

Salam.

27 thoughts on “Wisata Tangkuban Perahu

  1. Eh…si Vay..
    Itu bergaya di tempat yang menjadi impianku, ha ha ha
    Setiap pingin kesana ada saja halangannya, yang hujan-lah katanya jalannya susah..
    Akhirnya hanya tahu dari cerita saja…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *