[Tokyo Trip] D4 Asakusa Kannon Temple – Hachiko

Well, karena memang judulnya training, maka di hari keempat dan kelima, kami tentu harus menyelesaikan kewajiban.

16 Januari 2014, hari keempat.

Masalah klise saat trip rame-rame pakai agen travel adalah, menunggu mereka yang selalu turun belakangan. Bahkan guide dari Jakarta sampai harus menelepon bolak-balik ke kamar masing-masing karena sebentar lagi kita semua sudah harus jalan, sementara mereka bahkan belum turun untuk breakfast. Saya dan BuDe yang sudah turun duluan mulai bosan menunggu yang lain, terutama karena menu breakfastnya pun sama seperti sebelumnya, tak jelas kalau istilah orang Medan. Hahah. Akhirnya, roti lagi roti lagi.

Setelah semua berkumpul, kami berangkat. Karena jam dua nanti harus training, maka pagi itu kami memang harus buru-buru, memanfaatkan waktu untuk city tour dan ke Asakusa.

Asakusa Kannon Temple

Kami tiba di distrik Asakusa cukup pagi, namun sudah ramai juga oleh pengunjung. Di Asakusa ini, salah satu tempat wisata yang terkenal dan wajib dikunjungi adalah Sensoji Temple, kuil Buddha yang konon merupakan kuil tertua di dunia. Ceritanya, di abad ke-7, ada dua nelayan yang menemukan patung Dewi Kannon – Guan Yi, yang dalam kepercayaan Buddha adalah dewi yang murah hati – di jaring mereka. Kemudian, dibangunlah sebuah kuil untuk tempat bernaungnya patung tersebut, yang kemudian seiring waktu terus dipugar dan diperbesar sampai sekarang ini, sudah kelihatan megah banget. Sensoji Temple sendiri lebih dikenal dengan sebutan Asakusa Kannon Temple, sesuai nama tempatnya.

IMG_3492

IMG_3466_2 copy

IMG_3488

Bila ingin masuk ke kuil, pengunjung wajib membersihkan diri dulu, mencuci tangan dan berkumur di sebuah sumber air dengan gayung-gayung kecil yang disediakan.

IMG_3496

IMG_3498

Di depan kuil juga tersedia tungku besar berisi hio/arang, yang dipercaya dapat mengusir penyakit. Banyak orang berkerumun di depannya, mengibaskan asap ke wajah dan tubuh mereka.

IMG_3502 copy

Di sisi kanan kiri dekat tungku tadi, terdapat tempat untuk ‘meramal masa depan’. Masukkan koin Y 100, kemudian kocok wadah berisi batangan kayu sebesar sumpit. Di batangan kayu yang keluar, tertera angka (atau huruf?) dalam huruf kanji, dan kita tinggal mencari nomor yang sesuai di dalam laci-laci di lemari di depannya. Tarik lacinya dan baca peruntunganmu. Ada versi English-nya, kok. **Jadi ingat dengan turis bule yang tanya ke Mba Fen, guide kami dari Jakarta. Dia tanya, bisa baca kanji gak, karena dia ingin tahu apa hasil ramalannya. Mba Fen menggeleng. Bulenya bingung. Terus saya hampiri, “Kaak…. ini lho, ada versi Englishnya,” saya menunjuk bagian belakang kertas. Oooohhh.. dan dia pun geli sendiri.

Di ujung kuil adalah Nakamise Street. Selain souvenir, tempat ini juga banyak sekali menjual aneka snack Jepang. Tapi, ya, setelah berkeliling, harga souvenir di sini ternyata lebih mahal dari harga di Aqua City kemarin. Ah, langsung menyesal. Waktu di Odaiba, sempat naksir cangkir-cangkir kecil yang sepaket isi empat itu harganya sekitar Y 2000. Eh, di Asakusa malah harga satu cangkir Y 1400. Kualitas pun so so. Kemarin gak jadi beli di Aqua City gara-gara seorang teman bilang, besok saja di Temple, lebih murah. Ternyata salah. Langsung kita semua merepet ke teman yang salah informasi itu, hahah..

IMG_3452

IMG_3530

IMG_3529

Harga di Nakamise Street juga bervariasi, setiap toko harganya bisa beda-beda. Jadi sebaiknya keliling dulu dari ujung ke ujung untuk cek harga, karena kendala bahasa akan menyulitkan kita saat ingin menawar. Seperti pajangan Hello Kitty berpakaian kimono, di dekat gerbang keluar harganya Y 2650, tapi di dalam Y 2400. Kepengen beli sendal-sendal Jepang yang unik itu, tapi harganya ternyata lumayan mahal. Yang paling murah saja Y 4000.

Di sudut jalan Nakamise, juga ada becak tradisional Jepang. Jinriksha, kendaraan roda dua yang ditarik tenaga manusia. Jadi tidak dikayuh, tapi ditarik. Melihat becak ini wara-wiri, serasa menonton film lama, di mana belum ada mobil-mobil modern. Karena cuaca dingin, penumpang diberi selimut berwarna merah agar tidak kedinginan saat dibawa berkeliling.

IMG_3591

Kami sekalian makan siang di daerah situ juga. Menunya grilled salmon. Sedaapp.

Dan saat berjalan kembali menuju bus, seorang anak muda pengemudi Jinriksha menegur teman saya. “Indonesia, ha? Jakarta?” “Iya..” Dan sempat pula dia bercerita sebentar, dia bilang dia dulu sempat tinggal sebentar di Jakarta, di bilangan Thamrin.

Siangnya, kami lanjut ke Docomo Future Station. Visit. Pertama kali masuk ke office di Tokyo, terasa bedanya. Masuk ke lift, kami menganga. Ini lift apa tempat parkir? Bisa masuk satu city car, lho! Dan tipikal orang Indonesia, dong, sibuk mengobrol dan berkomentar, tidak sadar bahwa penumpang lift lainnya – orang-orang Jepang – tidak ada yang berbicara. Silent. Kaku. Individualis, itu kesan yang tersirat. Dan saat saya mendongak ke atas, di sisi kiri pintu lift ada gambar yang menunjukkan: tidak boleh bicara di dalam lift. Hahahaiii…

….

Hachiko Statue

Tahu film Hachiko yang mengharukan itu, kan? Ya. Habis dari Docomo, kami ke sini. Ke Shibuya, tempat di mana kita bisa menemukan anak-anak muda dengan fashion Jepang yang asyik. Di Jakarta pakai rok mini mah biasa. Di sini, sudah cuacanya 1 derajat, masih sanggup jalan dengan rok mini tanpa stocking bo’. Bootsnya juga kece-kece. Serasa pengen borong boots, tapi di Jakarta gak akan kepakek juga. Di Tokyo dingin tapi tidak hujan, jalanan tidak becek. Di Jakarta? Hujan, becek. Huuu…. ngotorin sepatu.

IMG_3637

IMG_3648

Di situ ada mall, 109. Dan ada Uniqlo. Beberapa teman akhirnya juga beli jaket bulu angsa seperti punya saya – gara-gara melihat kok enak banget ya jaketnya tinggal masuk buntelan, dan langsung pakai di tempat. “Aduhhh langsung terasa hangat. Enak banget yaaa…”

Jam setengah tujuh malam waktu Tokyo, kita sudah bersiap-siap untuk lanjut dinner. Tapi ternyata, salah satu member hilang. Si Ode. Hoalaahh… ternyata dia salah mengikuti orang, hahah. Dia kira itu salah satu dari kami, main ikut aja. Baru sadar setelah sekian lama. Untung dia simpan nomor handphone Pak Hendry – guide local kami – jadi ketemu deh.

Kali ini, kita dinner di Ginza. Di sebuah resto jaringannya Hanamasa. Menggeragas dengan sukses. Pulangnya sempat masuk sebentar ke sebuah supermarket, yang isinya kok “giant” semua. Strawberry, giant. Edamame, giant. Cumi-cumi, juga giant! Terakhir ketemu lobak giant di dekat kasir! “Tak beres memang toko ini…” LOL.

Sampai di hotel, membereskan oleh-oleh, mandi, lalu Skype-an dengan Vay.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

8 thoughts on “[Tokyo Trip] D4 Asakusa Kannon Temple – Hachiko

  1. Hampir nanya loh trainingnya gimana…dipostingan ini jawabnya.
    Asakusa saatnya belanja oleh-oleh pernak-pernik…. (meski milih yang made in China biar agak miring hehe..)
    Fotonya keren abis….

  2. Hueeeee. Serunyah jalan keliling gitu. Entah kenapa ya kak, saya itu setiap lihat foto-foto perempuan di jepang selalu fokue sama bootsnya. Hahaha. emang beneran ada sesuatu antara saya dan boots. Sukaaak banget ngeliat boots. Tapi kok gak dikasih poto boots kece-kece itu., *salah fokus*
    Hihihi.
    Kuilnya keren ya Kak emang..

  3. Kalau di Jakarta bootsnya yg kuning itu lho Zee, yg suka dipakai abang2 yg angkut sampah…. Just kidding. Aduh liat2 photo dan baca ceritanya, jadi memory lane deh, dulu akur ke tempat2 yg kma kunjungi ini. Tapi aku kesana jamannya kuda gigit besi, waktu salahsatu abangku masih ambil his second Masters of Engineering in Jepun.

  4. Una

    Hanamasa tuh asli Jepang toh, kirain Indonesia yang bikin hihihi. Kemarin lihat di NHK, tarif jinrikisha sekali jalan-jalan 8000JPY, uang jajan sebulan aku itu mah wekekek. Aku juga pernah omikuji di Asakusa. Dua kali ambil sumpit, ramalannya jelek semua -,-

    • Zizy

      Loh. Masa 2 x ramalannya jelek? Aku kemarin kayaknya bagus… hmm… tapi lupa juga sih. Kemarin aku videokan, nanti deh klo videonya dah jadi bisa keliatan ramalannya hehee…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *