Potret Jakarta

Aih. November sudah masuk sepertiga bulan tapi saya belum menulis satu postingan pun. Padahal ini kan bulannya saya, harusnya lebih semangat, bukan begitu? Musim hujan juga sudah dimulai, dan banjir pun sudah datang satu kali ke komplek kami.

Jakarta ini sesak saudara-saudara. Manusia dengan tetek bengeknya, menghimpit kota. Manusia dan kesibukannya, menyumbang polusi. Kendaraan-kendaraan bermesin, gerobak-gerobak jualan yang berjejer sepanjang jalan, juga warung-warung makan musiman (kalo musim seafood, jual seafood. Musim pecel lele, tuker jual pecel lele).

Tembok-tembok polos tak berwarna atau sebagian yang penuh coretan, lapak-lapak sederhana berisi pakaian-pakaian bekas, lobang galian gorong-gorong yang tak ditutup, pengemis dan pengamen di setiap lampu merah … adalah sebagian dari sinetron nyata tentang Jakarta.

Adakah yang pernah menghitung, berapa banyak jumlah gerobak jualan yang dijumpai dalam perjalanan ke suatu tempat? Saya belum.

Pernah melihat anak jalanan, perempuan kecil, jongkok buang air kecil di sebelah pohon pada tengah malam buta? Saya pernah.

Related Post

Photo Hunt – UN Peacekeepers Day Secangkir teh susu : Mau cerita sedikit tentang pengalaman pertama saya mengikuti photo hunt. Ternyata seru! Dan capek tentu saja. Postingan ini disponsori oleh Indosat Mentari, designed for Smartphone but please dibaca. ---- Jadi Sabtu tangga...
Lengan Kencang Waktu di toilet tadi, saya ketemu ibu Mart, seorang pengurus aerobic di kantor kami. Orang batak. Umurnya 47thn. Fyi, biarpun judulnya ibu-ibu, ibu Mart ini jauh lebih enerjik dari mereka yang masih muda (termasuk saya). Mungkin itu sebabnya dia yang...
Parcel Lebaran Budaya mengirimkan parcel atau bingkisan hari raya kepada bos di kantor, sanak keluarga, atau untuk rekanan bisnis sudah ada sejak lama. Saya tidak tahu persis kapan kebiasaan ini menjadi tradisi di negara kita ini, but saya pertama kali kenal parcel...
Rokok Kemarin sore, saya janjian ketemu orang di Sarinah. Mau bicara bisnis (halaqhh.... gaya kali bah). Mereka adalah pasangan suami istri, masih muda dan tentunya kreatif. Kita ketemu di Oh La La Cafe di Sky Building seberang Sarinah. Saat si cowok me...
Berbagi di Panti Sosial Netra Berbagi itu indah. Kalau sudah dilakukan baru kita tahu dan kita buktikan betapa nikmatnya kalau kita bisa berbagi. Hari Minggu kemarin, bersama-sama teman dari Gerakan Berbagi Dblogger, kita mengadakan kegiatan buka puasa bersama dan memberikan d...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

29 thoughts on “Potret Jakarta

  1. kadang pengen deh lihat film yang menggambarkan wajah jakarta seasli-aslinya. kalau di sinetron sih kelihatannya semua kaya dan cantik serta ganteng. kalau ada film yg mengangkat wajah jakarta yang asli, kurasa menarik. aku sendiri masih suka takjub melihat jakarta. sangat jauh dari bayanganku dulu…

  2. bnayak banget lah kalo disuruh ngitung gerobak yang saya temui setiap sepulang dari kantor

    apalagi kalo ngeliat yang pipis2 sembarangan di tembok atau dipohon-pohon gitu udah sering banget

  3. bagaimanapun potret kehidupan di Kota jakarta…
    tetap saja saya ingin mengatakan bahwa..
    “saya rindu Jakarta..” dengan segala pernak-perniknya…
    karena itulah kampung halaman saya.. 🙂

  4. Membuat miris, Zee…langkah apapun yang diambil buat membenahi wajah jakarta, pasti akan mengorbankan salah satu pihak. Tidak ada kebijakan yang memuaskan semuanya, karena kepentingan tiap pihak pasti berbeda 🙂

  5. Aku cuma dtg bbrp kali ke jakarta.. tapi diantara kenewahan selalu tampak kumuh gg berdampingan.. bagai gak bs dipisahkan.. hmmm..

    Selamat bulan november mbak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *