Potret Jakarta

Aih. November sudah masuk sepertiga bulan tapi saya belum menulis satu postingan pun. Padahal ini kan bulannya saya, harusnya lebih semangat, bukan begitu? Musim hujan juga sudah dimulai, dan banjir pun sudah datang satu kali ke komplek kami.

Jakarta ini sesak saudara-saudara. Manusia dengan tetek bengeknya, menghimpit kota. Manusia dan kesibukannya, menyumbang polusi. Kendaraan-kendaraan bermesin, gerobak-gerobak jualan yang berjejer sepanjang jalan, juga warung-warung makan musiman (kalo musim seafood, jual seafood. Musim pecel lele, tuker jual pecel lele).

Tembok-tembok polos tak berwarna atau sebagian yang penuh coretan, lapak-lapak sederhana berisi pakaian-pakaian bekas, lobang galian gorong-gorong yang tak ditutup, pengemis dan pengamen di setiap lampu merah … adalah sebagian dari sinetron nyata tentang Jakarta.

Adakah yang pernah menghitung, berapa banyak jumlah gerobak jualan yang dijumpai dalam perjalanan ke suatu tempat? Saya belum.

Pernah melihat anak jalanan, perempuan kecil, jongkok buang air kecil di sebelah pohon pada tengah malam buta? Saya pernah.

Related Post

Perkara Secangkir Kopi Sore tadi, saat meneguk latte dari paper cup yang menemani saya dalam perjalanan pulang, pikiran saya melayang pada kejadian beberapa jam sebelumnya. Hanya perkara secangkir kopi. Percaya tidak, sifat seseorang bisa terlihat dari secangkir kopi it...
SumBaguT Medan, 5 Februari 2007 07.45 : Minum "K" biar perut ga mules. 07.52 : On The Way ke kantor. 08.04 : Tiba di kantor, tit.. tit...! (bunyi mesin absensi), nunggu lift. 08.06 : nyalakan desktop, biarkan bbrp menit karena loadingnya emang lambat ...
Nenek Nyonya Setiap kali Imlek datang, saya hampir selalu teringat pada nenek cina yang pernah kami miliki. Panggilannya Nenek Nyonya. Keluarga kami mengenalnya pertama kali saat baru pindah ke kota Medan tahun 1987. Papi saya datang ke Medan dengan membawa lis b...
Promo & Wireless Waiter Makan siang bersama teman adalah hal yang saya sukai dan saya tunggu sepanjang minggu. Mungkin beberapa kali pernah saya tulis di blog ini bahwa setiap hari Jumat hampir selalu makan keluar kantor, karena di hari biasa saya rutin bawa bekal. Seper...
Kenapa Cowok Takut Sama Bencong?? Kenapa cowok takut sama bencong? Pertanyaan ini sudah lama bersemayam di kepala saya, tapi kembali muncul gara-gara kejadian kemarin malam. Kemarin malam, di lampu merah Cempaka Mas, seperti biasa tahu kan, banyak pengamen, tukang asongan, tukang kem...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

29 thoughts on “Potret Jakarta

  1. kadang pengen deh lihat film yang menggambarkan wajah jakarta seasli-aslinya. kalau di sinetron sih kelihatannya semua kaya dan cantik serta ganteng. kalau ada film yg mengangkat wajah jakarta yang asli, kurasa menarik. aku sendiri masih suka takjub melihat jakarta. sangat jauh dari bayanganku dulu…

  2. bnayak banget lah kalo disuruh ngitung gerobak yang saya temui setiap sepulang dari kantor

    apalagi kalo ngeliat yang pipis2 sembarangan di tembok atau dipohon-pohon gitu udah sering banget

  3. bagaimanapun potret kehidupan di Kota jakarta…
    tetap saja saya ingin mengatakan bahwa..
    “saya rindu Jakarta..” dengan segala pernak-perniknya…
    karena itulah kampung halaman saya.. 🙂

  4. Membuat miris, Zee…langkah apapun yang diambil buat membenahi wajah jakarta, pasti akan mengorbankan salah satu pihak. Tidak ada kebijakan yang memuaskan semuanya, karena kepentingan tiap pihak pasti berbeda 🙂

  5. Aku cuma dtg bbrp kali ke jakarta.. tapi diantara kenewahan selalu tampak kumuh gg berdampingan.. bagai gak bs dipisahkan.. hmmm..

    Selamat bulan november mbak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *