Potret Jakarta

Aih. November sudah masuk sepertiga bulan tapi saya belum menulis satu postingan pun. Padahal ini kan bulannya saya, harusnya lebih semangat, bukan begitu? Musim hujan juga sudah dimulai, dan banjir pun sudah datang satu kali ke komplek kami.

Jakarta ini sesak saudara-saudara. Manusia dengan tetek bengeknya, menghimpit kota. Manusia dan kesibukannya, menyumbang polusi. Kendaraan-kendaraan bermesin, gerobak-gerobak jualan yang berjejer sepanjang jalan, juga warung-warung makan musiman (kalo musim seafood, jual seafood. Musim pecel lele, tuker jual pecel lele).

Tembok-tembok polos tak berwarna atau sebagian yang penuh coretan, lapak-lapak sederhana berisi pakaian-pakaian bekas, lobang galian gorong-gorong yang tak ditutup, pengemis dan pengamen di setiap lampu merah … adalah sebagian dari sinetron nyata tentang Jakarta.

Adakah yang pernah menghitung, berapa banyak jumlah gerobak jualan yang dijumpai dalam perjalanan ke suatu tempat? Saya belum.

Pernah melihat anak jalanan, perempuan kecil, jongkok buang air kecil di sebelah pohon pada tengah malam buta? Saya pernah.

Related Post

Iā€™m a Tea Person Beberapa waktu lalu, pagi hari saat saya sedang nyetir ke kantor, seorang penyiar favorit saya di channel FM90,4 melemparkan topik untuk pagi itu. "Anda tipe orang seperti apa? Tea person or coffee person?" dan lalu tentunya tak lama kemudian masukla...
Nikmatnya Mudik Sudah lima hari saya di Medan. Menyenangkan tentu saja, karena since berkeluarga, inilah pertama kalinya saya stay lama di Medan untuk mudik. Sebelum-sebelumnya kita selalu ke Siantar karena orang tua saya masih dinas di sana. Sekarang karena cucu-cu...
Jalan-2 ke Pattaya & Bangkok Hai, saya akhirnya kembali. Alhamdulillah, akhirnya, itulah kata yang pertama terucap dari hati ini begitu pesawat Boeing 747 Malaysia Airlines mendarat dengan mulus di bandara Soekarno Hatta Jakarta. Beberapa hari sebelumnya, 12 - 15 Maret 2010, ...
Orang Jakarta itu Matrek! Tidak ada maksud aneh-aneh apabila saya menulis judul Orang Jakarta itu Matrek sebagai judul postingan kali ini. Karena pada dasarnya yang berbau materialistis ada dimana-mana. Tetapi karena Jakarta adalah ibukota negara dan adalah pusat perputaran d...
Pembantaian di Kenari Hmmm.. 17-an tahun ini sepi. Gak banyak lomba yang bisa diikutin. Kalau tahun lalu, di Medan, saya masih ikutan futsal dan aerobic. Futsalnya sih kalah, tapi aerobicnya juara II (kalah sama bapak-bapak! hahaha). Sempat membuat rencana pembalasan ...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | a former Digital Marketing Manager | a Content Creator | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

29 thoughts on “Potret Jakarta

  1. kadang pengen deh lihat film yang menggambarkan wajah jakarta seasli-aslinya. kalau di sinetron sih kelihatannya semua kaya dan cantik serta ganteng. kalau ada film yg mengangkat wajah jakarta yang asli, kurasa menarik. aku sendiri masih suka takjub melihat jakarta. sangat jauh dari bayanganku dulu…

  2. bnayak banget lah kalo disuruh ngitung gerobak yang saya temui setiap sepulang dari kantor

    apalagi kalo ngeliat yang pipis2 sembarangan di tembok atau dipohon-pohon gitu udah sering banget

  3. bagaimanapun potret kehidupan di Kota jakarta…
    tetap saja saya ingin mengatakan bahwa..
    “saya rindu Jakarta..” dengan segala pernak-perniknya…
    karena itulah kampung halaman saya.. šŸ™‚

  4. Membuat miris, Zee…langkah apapun yang diambil buat membenahi wajah jakarta, pasti akan mengorbankan salah satu pihak. Tidak ada kebijakan yang memuaskan semuanya, karena kepentingan tiap pihak pasti berbeda šŸ™‚

  5. Aku cuma dtg bbrp kali ke jakarta.. tapi diantara kenewahan selalu tampak kumuh gg berdampingan.. bagai gak bs dipisahkan.. hmmm..

    Selamat bulan november mbak šŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *