Potret Jakarta

Aih. November sudah masuk sepertiga bulan tapi saya belum menulis satu postingan pun. Padahal ini kan bulannya saya, harusnya lebih semangat, bukan begitu? Musim hujan juga sudah dimulai, dan banjir pun sudah datang satu kali ke komplek kami.

Jakarta ini sesak saudara-saudara. Manusia dengan tetek bengeknya, menghimpit kota. Manusia dan kesibukannya, menyumbang polusi. Kendaraan-kendaraan bermesin, gerobak-gerobak jualan yang berjejer sepanjang jalan, juga warung-warung makan musiman (kalo musim seafood, jual seafood. Musim pecel lele, tuker jual pecel lele).

Tembok-tembok polos tak berwarna atau sebagian yang penuh coretan, lapak-lapak sederhana berisi pakaian-pakaian bekas, lobang galian gorong-gorong yang tak ditutup, pengemis dan pengamen di setiap lampu merah … adalah sebagian dari sinetron nyata tentang Jakarta.

Adakah yang pernah menghitung, berapa banyak jumlah gerobak jualan yang dijumpai dalam perjalanan ke suatu tempat? Saya belum.

Pernah melihat anak jalanan, perempuan kecil, jongkok buang air kecil di sebelah pohon pada tengah malam buta? Saya pernah.

Related Post

Waspadai Pre-Eklamsia Hari ini saya mau posting soal pre-eklamsia. Ini berkaitan dengan kejadian yang pernah saya alami sendiri, dan juga karena seorang karyawati cabang dari kantor tempat saya bekerja ini, meninggal dunia karena pre-eklamsia. Oke, sebelum halaman ini ...
Today is a Fine Day Sekian lama tidak merasakan kopi tubruk, tadi itu saat mencoba kopi tubruk Aceh di salah satu resto di Pacific Place Mall, rasanya nikmat sekali. Pahitnya mantap. Setiap kali menyeruput kopi dari bibir gelas, dan menyesap pahitnya, saya terus teri...
Naksir Sama Samsung NX2000 Bicara soal tidak ingin kehilangan momen foto-foto saat traveling atau saat berkumpul bersama keluarga, saya jadi kepengen punya kamera baru. Ingin cari kamera yang simpel dan nyaman dibawa-bawa, yang secara bobot lebih ringan dibanding dslr tapi sec...
Pintu Masuk Okay.. Setelah menghabiskan dua minggu lebih tuk cari nama domain, kemudian tiga hari dikerjain bot, lalu tiga hari menunggu aktif, dan sehari butek ngoprek2 sampai akhirnya dapat sedikit bantuan (yang sangat melegakan :-*) akhirnya siap juga. &nbs...
Maap Ya Bang Bajaj.. Jam sembilan lewat lima menit pagi, saya turun ke B1, keluar dari pintu belakang Sarja, dan jalan kaki ke RS Budi Kemuliaan. Tak lupa membawa payung, siapa tahu hujan atau siapa tahu juga panas terik (untuk melindungi wajah, gitu). Urusan kerjaan sud...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

29 thoughts on “Potret Jakarta

  1. kadang pengen deh lihat film yang menggambarkan wajah jakarta seasli-aslinya. kalau di sinetron sih kelihatannya semua kaya dan cantik serta ganteng. kalau ada film yg mengangkat wajah jakarta yang asli, kurasa menarik. aku sendiri masih suka takjub melihat jakarta. sangat jauh dari bayanganku dulu…

  2. bnayak banget lah kalo disuruh ngitung gerobak yang saya temui setiap sepulang dari kantor

    apalagi kalo ngeliat yang pipis2 sembarangan di tembok atau dipohon-pohon gitu udah sering banget

  3. bagaimanapun potret kehidupan di Kota jakarta…
    tetap saja saya ingin mengatakan bahwa..
    “saya rindu Jakarta..” dengan segala pernak-perniknya…
    karena itulah kampung halaman saya.. 🙂

  4. Membuat miris, Zee…langkah apapun yang diambil buat membenahi wajah jakarta, pasti akan mengorbankan salah satu pihak. Tidak ada kebijakan yang memuaskan semuanya, karena kepentingan tiap pihak pasti berbeda 🙂

  5. Aku cuma dtg bbrp kali ke jakarta.. tapi diantara kenewahan selalu tampak kumuh gg berdampingan.. bagai gak bs dipisahkan.. hmmm..

    Selamat bulan november mbak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *