Memulai Kebiasaan Baik Sejak Dini

Sebagai ibu bekerja, mendapatkan laporan kegiatan anak seharian dari pagi sampai sore dari sang pengasuh adalah suatu keharusan. Setiap beberapa jam sekali ibu biasanya akan menelepon menanyakan bagaimana kabar anaknya, seperti sedang apa dia sekarang, tadi pagi makannya habis tidak, sudah diganti belum pakaiannya sebelum tidur siang, dst dst.

Ya, kalau saya biasanya begitu. Memastikan bahwa keadaan anak di rumah dan di sekolah baik-baik saja agar kita bisa tenang di kantor. Sejak pertama kali mempekerjakan pengasuh untuk Vay, yaitu ketika dia masih baby, kami langsung mengajarkan kebiasaan yang kelak akan menjadi rutinitas bagi pengasuh dan anaknya sendiri. Jadi agar pengasuh juga tidak lupa, sebagai orang tua harus rutin menelepon dan mengingatkan. Contohnya waktu Vay bayi dulu pengasuhnya diajarkan untuk selalu mencatat berapa banyak ASIP yang diminum, berapa kali BAK/BAB, tidur berapa lama, dst.

Kebiasaan lainnya adalah menjaga kebersihan. Mulai dari kebersihan ruangan, perlengkapan dan peralatan bayi, juga pakaian. Botol-botol dan pipet ASIP harus steril, dan pengasuh harus memastikan sudah membersihkan tangannya dengan cairan antiseptik sebelum memegang anak. Kebersihan dan kesegaran pakaian anak juga jadi concern yang utama. Saat bayi menangis karena pipis, popok dan kain harus segera ganti. Muntah biarpun sedikit, harus diganti bajunya. Tatakan iler, meski masih kotor sedikit tidak boleh dipakai lagi untuk kegiatan makan selanjutnya. Keringatan apalagi, harus langsung ganti baju. Memang sih, jadinya cucian menumpuk, tapi demi kesehatan ya tidak apalah repot sedikit. Asal muasalnya adalah ketika Vay baby didiagnosa sebagai bayi alergi, dan karena untuk mengetahui penyebab alergi itu butuh proses yang panjang, maka semua hal yang bisa memicu itulah yang harus dijaga, mulai dari menjaga makanan yang aman untuk dikonsumsi ibunya (karena ibu masih menyusui) termasuk juga benda-benda yang ada di sekeliling kita, karena bakteri yang ada itu bisa jadi salah satu penyebab alergi.

Positifnya adalah kita semua menjadi lebih aware terhadap bakteri yang bisa ada di mana saja. Perabotan, sofa, handuk, seprei, selimut, pakaian yang tergantung lama di lemari, pakaian orang tua atau pengasuhnya, semua sangat mudah terkontaminasi oleh bakteri, karena bakteri dapat menempel pada kain yang terkena kontaminasi dari berbagai sumber, seperti kulit, tumpahan makanan, hewan peliharaan, atau ketika merawat seorang anggota keluarga yang sudah lebih dulu terkontaminasi. Bakteri kemudian menyebar ke dalam kain melalui kontak dengan tangan atau antar permukaan dan bakteri tersebut berpotensi untuk menyebar ke pakaian lain yang dicuci bersama-sama. Makanya sepulang kantor pun, saya membiasakan diri berganti pakaian dulu sebelum menggendong anak, agar bakteri dan kotoran yang terbawa dari luar tidak ikut menempel di pakaiannya.

Sekarang, seiring semakin besarnya Vay, aktivitasnya juga semakin banyak. Apalagi sekarang kan sekolahnya tiap hari ya, kecuali wiken. Jadi aktivitas rutin Vay setiap hari itu begini: bangun tidur pagi, dia minum susu dulu, lalu golak-golek sebentar di sofa. Biasanya tak lama kemudian perutnya mules minta pup, jadi dia langsung ke kamar mandinya untuk pup, yang dilanjutkan dengan mandi pagi. Oh ya, yang memandikan Vay setiap pagi adalah nanny-nya karena jam segitu saya sudah rapi siap-siap ke kantor. Sambil berpakaian, dia makan pagi sambil nonton TV. Saya cium-cium dulu dia (karena masih harum) baru pergi ke kantor. Mobil jemputan dari sekolah datang lima belas menit sebelum jam kelas masuk, dan syukurlah jarang terlambat sampai di sekolah.

Nah kebetulan minggu lalu kan saya masih cuti jadi saya bisa mengantar dan menjemputnya sekolah.  Waktu saya tiba di sekolahnya jam 12, saya menunggunya di depan batas area jemput. Dari kejauhan saya lihat kok Vay lecek banget, kuncirannya sudah lepas, rambutnya gondrong kemana-mana, lalu wajahnya berkilat. Nak, kamu di kelas belajar atau main, sampai keringatan begitu? LOL.

Saat sudah dekat, saya lihat baju seragam sekolahnya juga kotor oleh noda coklat (pasti tumpah dari rotinya), sudut-sudut bibirnya ada sisa remah-remah, dan noda krayon di sela-sela kuku. Well, mengingatkan saya pada masa kecil dulu, juga lecek setiap pulang sekolah :). Di dalam mobil, kedua tangan Vay dilap pakai tisu basah antiseptik, karena Vay kan punya kebiasaan hisap jari ya. Sewaktu-waktu jarinya bisa masuk ke mulut, jadi harus segera dilap dulu.

Tiba di rumah, langsung ganti baju seragam, cuci tangan cuci kaki cuci muka, pakai pakaian bersih, kemudian makan siang. Habis makan siang bersih-bersih badan lagi, ganti baju lagi kalau berkeringat, baru tidur siang. Sorenya bangun, makan cemilan lagi, baru mandi sore.

Nah seperti yang saya sebutkan di atas, bakteri sangat mudah menempel pada kain akibat terkontaminasi saat beraktivitas. Apalagi sebenarnya dari info yang saya baca di internet, penggunaan deterjen saja tidak cukup untuk menghilangkan bakteri. Terus gimana dong? Susah memang ya. Kebiasaan baik sudah dilakukan sejak dini; mengenakan pakaian bersih selalu, menjaga kebersihan tubuh, tangan dan kaki, memisahkan cucian pakaian anak dengan pakaian dewasa, tapi sejujurnya saya masih merasa kurang yakin dengan kebersihan pakaian bila hanya pakai deterjen. Dulu waktu asisten yang sekarang baru mulai kerja, kadang ada satu dua pakaian yang belum kering betul tapi sudah langsung diseterika oleh asisten dengan harapan panasnya seterika bisa mengeringkan sisi yang basah itu. Tapi setelah diberitahu bahwa pakaian lembap gampang sekali terkontaminasi bakteri, dan juga akan berbau karena sisa deterjen, sekarang sih sudah enggak begitu lagi. Kita kan maunya pakaian kita bukan hanya sekedar bersih setelah dicuci, tapi harus bersih secara higienis dalam arti bebas dari bakteri yang dapat menimbulkan penyakit.

Ada satu solusi yang selama ini saya gunakan untuk mengatasi masalah tersebut. Ini juga adalah kebiasaan yang diturunkan oleh ibu saya sejak saya belum berkeluarga. Yaitu menggunakan cairan pewangi dan pelembut pakaian konsentrat sebagai finishing aktivitas pencucian. Pilihan saya juga mengikuti pilihan ibu saya, yaitu Molto. Semua pasti sudah kenal Molto kan, wanginya macam-macam, bikin cucian jadi lembut dan harum. Saya biasanya beli wangi yang berbeda untuk kami orang dewasa dan untuk cucian Vay. Untuk Vay selalu saya pilih yang harumnya lembut.

Nah, awal bulan kemarin, saat belanja bulanan, saya menemukan Molto baru. Namanya Molto Ultra Anti Bakteri. Tertulis di kemasannya bahwa Molto ini mengandung bahan aktif Active Shield yang mampu mereduksi perlekatan 99% bakteri hingga 24 jam. Molto Ultra Anti Bakteri ini juga teruji secara dermatologis, lembut untuk kulit anak dan kulit sensitif.

Saya langsung beli, sambil browsing mengenai Molto Ultra Anti Bakteri ini. Ternyata produk ini sudah launching sejak Juni 2012, terlambat tahu ya saya… 🙂

 

Molto Anti Bakteri

No problem sih terlambat sedikit, yang penting sekarang saya bisa sedikit tenang karena setidaknya saya bisa melindungi anak dari bakteri melalui pakaian bersih yang dikenakannya. Kebiasaan baik yang sudah dimulai sejak lama akan menjadi rutinitas yang positif nantinya lho, saya membuktikannya sendiri karena sudah menggunakan Molto sejak bertahun-tahun yang lalu. Pakaian selalu lembut, mudah diseterika, dan harumnya juga tahan lama. Makanya saya percaya bahwa Molto memang serius dalam hal menyediakan yang terbaik untuk para keluarga. Jadi jangan sampai kita kehabisan Molto di rumah, itu sudah pasti. 🙂

(ini adalah #repost backdated, karena database hilang dari hosting, mohon maaf atas komentar teman2 yang hilang)

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

11 thoughts on “Memulai Kebiasaan Baik Sejak Dini

  1. kesehatan anak memang merupakan hal yang sangat penting ya.. 😀
    Semoga anaknya sehat selalu dan terima kasih atas info moltonya.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *