Saya Sudah Putus dengan Adenomyosis

Sesuai janji, saya akan membagi kisah saya tentang penyakit adenomyosis yang saya derita serta operasi pengangkatan yang saya lakukan April tahun 2016 ini.

Adenomyosis adalah penyakit sejenis dengan endometriosis, yaitu bertumbuhnya jaringan endometrium ke dalam dinding otot rahim. Sebenarnya saya sudah ketahuan mengidap penyakit ini saat hamil Vay tahun 2007. Jadi saat itu ketika sedang kontrol kehamilan dan di-USG, sudah dikatakan bahwa di dalam itu ada adenomyosis. Dan ukurannya juga membesar sesuai dengan usia kehamilan. Dari 6 cm kemudian jadi 12 cm ketika perut semakin besar.

Ketika itu, sebagai pasien yang tak begitu paham bedanya adenomyosis dan mioma, saat operasi caesar Vay selesai dilakukan di Maret 2008, saya bertanya pada DSOG saya, “Apakah miom saya sudah sekalian diangkat Dok?” Namun dokter bilang dia tidak berani angkat karena takut pendarahan. Saya pun bingung, kenapa takut pendarahan? Bukankah biasanya ibu yang melahirkan caesar juga sekalian dibersihkan miomnya? Saya sempat kesal karena dokter kok tidak sekalian saja ya. Kenapa miom penyebab nyeri selama hamil itu dibiarkan?

Namun beberapa tahun kemudian ketika saya selalu merasakan nyeri luar biasa setiap bulan, dan saya mulai visit ke DSOG lagi intens mencari tahu sumber nyeri tersebut, dan saya baru yakin benar bahwa di dalam rahim ada adenomyosis. Besarnya 6 cm. Adenomyosis inilah yang menjadi sumber mimpi buruk itu. Momok menunggu tanggalan tiba.

Bagaimana gak mimpi buruk, bila saya bahkan bisa mengingat setiap momen kesakitan luar biasa itu. Pernah liburan ke Singapore, saya sampai terduduk di lantai mall hampir pingsan sambil menjaga Vay agar tidak lepas dari tangan, sementara teman saya lari ke supermarket untuk membeli air mineral. Belum lagi pendarahan yang harus dialami setiap datang bulan, dimana dalam satu hari saya bisa menghabiskan satu bungkus pembalut isi 20-an (dan karena tak berani terus terang pada dokter, saya katakan hanya 12 bungkus sehari). Jalan terbungkuk-bungkuk dan tidak bisa bangun, muntah parah, dan ketakutan akan stock pain killer yang habis juga adalah mimpi buruk bagi saya. Kalau pas di kantor dan saya sudah minum pain killer sehingga reda berkurang, saya bahkan tidak berani duduk karena takut tembus.

Dari beberapa konsultasi yang saya lakukan, ini memang tak bisa hilang begitu saja. Jaringan ini memang harus diangkat dengan cara operasi. Operasi laparatomi. Saat itu tahun 2010, seorang DSOG sudah menyarankan saya untuk operasi. Dari dokter itu saya tahu bahwa adenomyosis memang tak bisa diambil ketika caesar karena rahim saat itu sedang terbuka, tentu bisa pendarahan hebat. Justru harus diangkat ketika kehamilan sudah selesai. *haduhh… pusing langsung.

Dokter bilang akan memberikan saya obat (mungkin hormon ya) selama satu bulan untuk mengecilkan si adenomyosis, lalu saya bisa lanjut operasi. Saya ditunggu balik lagi sehabis lebaran. Tapi saya takut. Saya tidak berani. Langsung menghilang. Saya biarkan saja, karena saya rasa saya masih cukup kuat. Toh masih ada obat pereda nyeri yang dikasih dokter sebelumnya untuk jaga-jaga kalau nyeri haid.

Tapi, bulan demi bulan, tahun demi tahun, nyeri haidnya semakin parah. Obat nyeri haid biasa tidak berefek lagi. Dan bukan hanya nyeri saja yang disebabkan. Karena adenomyosis ini menyebabkan pendarahan hebat setiap haid, maka saya pun selama bertahun-tahun menderita anemia kronis. Setiap kali medical checkup dan selesai cek darah pertama, dokter yang memeriksa memanggil saya dan memandang dengan sangat khawatir. Mau tahu berapa Hb saya? Enam tahun lalu cek Hemoglobin (Hb) 8, lalu tahun berikutnya 7, dua tahun kemudian hingga tahun ini (sebelum operasi) Hb saya 6. Padahal Hb wanita dewasa seharusnya minimal di angka 12. Bila sudah di angka 5, dokter menyarankan untuk langsung ke RS, transfusi darah. Hb yang sangat rendah menyebabkan penderita bisa sewaktu-waktu pingsan tak sadarkan diri. Dengan kondisi Hb yang rendah selama ini, saya sering mengalami pusing ketika berdiri tiba-tiba, dan jantung berdebar cepat ketika hanya berjalan cepat beberapa saat. Dokter heran kenapa saya bisa bertahun-tahun tahan, dan tidak ada masalah sementara saya setiap hari menyetir.

Pain killer adalah andalan saya untuk menghilangkan sakit. Ini sebenarnya obat keras yang hanya boleh diminum maksimal 1x sehari. Dan seperti layaknya pain killer, harus diminum sebelum sakit, karena kalau diminum saat sudah sakit, tidak terlalu berpengaruh. Tapi kita kan tidak tahu kapan sakitnya datang, toh? Saat mulai ada tanda-tanda, saya minum satu. Bertahan 8 jam, tapi kemudian nyerinya muncul lagi, dan lebih hebat karena ini sudah fase puncak nyerinya. Jadi tidak mungkin kan saya hanya minum satu saja dalam sehari?

Pada akhirnya saya tak tahan juga, dan mulai berpikir bahwa sudah saatnya saya membuang sumber penyakit ini. Sadar betul, perempuan sangat rentan terkena penyakit organ reproduksi, dan ketakutan ini juga mendera pikiran saya selama bertahun-tahun. Bagaimana kalau dibiarkan malah nanti melebar kemana-mana. Belum lagi efek dari terlalu banyak mengkonsumsi pain killer yang di kemudian hari bisa menyerang jantung.

Februari lalu saya mulai memantapkan diri saya. Saya memulai dengan visit DSOG saya yang dulu menangani operasi caesar lahiran Vay – dr. Rizka SpOg di RSIA Bunda – untuk konsultasi. Mungkin pada tanya, kenapa saya tidak cari dokter lain saja. Saya memang hanya mengunjungi dua DSOG lain terkait penyakit ini dalam lima tahun terakhir, dan saya baru visit lagi DSOG saya ini setelah tiga empat tahun terakhir. Tapi saya pikir, riwayatnya sudah ada di buku berobat saya, jadi lebih baik saya bongkar ingatan DSOG saya yang lama daripada membiarkan dokter baru mengulang lagi dari awal.

Saat konsultasi, dilakukan USG dan ternyata ukuran adenomyosisnya sudah 10 cm. Membesar. Pantas saja kalau haid sakit sekali, begitu kata dokter. Dokter memberi tahu bahwa ada dua tindakan yang bisa saya pilih untuk operasi pengangkatan adenomyosis ini. Yang pertama adalah pengangkatan seluruh rahim, dan yang kedua adalah tindakan reseksi dinding rahim. Untuk yang terakhir ini, tindakannya adalah mengikis jaringan dari dinding rahim. Kelebihan dari tindakan reseksi ini adalah selain rahim masih ada, juga kondisinya masih bisa terjadi kehamilan. Saya pun memilih reseksi, karena sejujurnya mendengar rahim diangkat itu rasanya mengerikan.

Saya banyak bertanya mengenai proses operasi nanti. Dalam operasi ini, pasien akan dibius sebagian saja, yaitu dari pinggang ke bawah. Namun biasanya pasien akan tidur nyaman selama operasi, dikasih suntikan biar bisa tidur, demikian kata dokter.

Ada empat fase yang akan saya ceritakan di sini, mulai dari persiapan, masuk rumah sakit, operasi, dan setelah operasi.

1. Fase Persiapan

Sebelum menentukan tanggal operasi, saya masih harus ketemu lagi dengan dokter untuk mengecek kondisi Hb. Saat konsultasi pertama itu saya sudah dibekali dengan obat untuk mengurangi volume darah haid, juga vitamin penambah darah yang wajib diminum dua kali sehari.

Saya sudah dibekali juga dengan surat pengantar untuk operasi, yang bisa saya serahkan ke bagian pendaftaran di bawah. Tapi ya, meski surat pengantar sudah di tangan, saya sempat ragu juga kemarin itu (tetep ya!). Namun setelah mikir lagi mau bertahan dengan sakit ini sampai kapan, akhirnya saya mantap untuk melakukan operasi. Keluarga juga mendukung keputusan ini.

Karena ini operasi besar, saya tahu pasti nanti butuh pemeriksaan ini itu. Jadi sebelum saya konsultasi ke dokter, sebelumnya saya sudah melakukan medical checkup menyeluruh, sehingga dokter sudah bisa langsung melihat hasil pemeriksaan darah secara menyeluruh, termasuk hasil pap smear, sampai foto torax.

Saat itu saya sudah putuskan akan operasi segera di April, menghitung waktu yang tepat setelah masa period lewat. Saya cukup membawa surat pengantar operasi ke bagian pendaftaran, dan sudah ada account yang akan menghubungi dr. Rizka Spog juga dokter anastesi untuk booking waktu. Sementara itu saya sudah mengirim pesan via WA juga ke dokter memberitahukan tanggal yang saya minta.

Dua minggu setelah minum vitamin saya cek darah lagi, tapi Hb tidak bergerak. Tetap 6,6. Dengan hasil cek darah pertama terakhir plus hasil medichal checkup, saya ke RSIA Bunda untuk jadwal bertemu dokter anastesi. Dokter perempuan, dan sangat hangat. Beliau bisa melihat kecemasan saya soal operasi ini, tapi katanya yang penting Hb saya harus normal, kalau tidak dia tidak mau melakukan anastesi. Foto torax saya dilihat dulu, untuk memastikan bahwa saya aman untuk dilakukan tindakan anastesi. Lalu pesannya, beberapa hari sebelum operasi saya harus cek Hb lagi.

2. Masuk RS

Hari-hari menunggu hari H untuk operasi rasanya luar biasa stress. Menurut jadwal, operasi akan dilakukan hari Senin 11 April, dan oleh dokter saya harus masuk rumah sakit itu Sabtu, tanggal 9 April, karena menurut dokter kemungkinan besar saya harus transfusi darah mengingat Hb susah naik meski sudah minum penambah darah. Dan benar sih, hari Kamis sebelum operasi saya sudah periksa darah lagi dan Hb masih tetap di angka 6. Dan yang bikin stress lagi adalah, mendadak saya haid lagi padahal baru dua minggu dari period terakhir. Dan volumenya pun banyak. Ya ampunnn! Diam-diam saya sudah minum pain killer lagi, sebagai pencegahan sakit.

Saya kirim WA ke dr. Rizka pas hari Jumat malam, bertanya apakah saya akan tetap operasi atau mau ditunda saja sampai haid berhenti. Kata dokter, gpp tetap operasi. Nanti bisa dikasih obat untuk menghentikan darah. Dalam hati saya gak percaya sih, karena berdasarkan pengalaman, setiap kali saya dikasih obat hormon yang ada malah tambah berantakan.

SABTU 9 APRIL. Dengan membawa koper berisi pakaian ganti, saya sudah tiba di RSIA Bunda. Seperti biasa, sendirian. Tak apalah, tak usah mengeluh. Bersyukur bisa lakukan semua sendiri, daripada tergantung sama orang. Untung ada vallet, jadi tinggal diparkirkan dan mereka antar kuncinya ke kamar.

Sempat merepet juga di bagian pendaftaran, karena katanya kamar yang saya pesan penuh. Kok ya bisa penuh, kan sudah booking dari sebulan lalu dan sudah make sure beberapa hari sebelumnya juga. Lalu saya disuruh upgrade ke kamar yang lebih mahal. Saya bilang begini ke petugasnya, “Mbak, kalau saya mau melahirkan, gpp saya upgrade kamar, di kamar nanti ada baby ada keluarga. Ini saya cuma mau laparatomi, untuk apa kamar sebesar itu?” *Emosi awak, kan.

Setelah menunggu satu setengah jam baru akhirnya kamar yang sesuai dengan plafon saya ready. Saya masuk ke kamar, dan baring-baring bengong nunggu suster. Suster yang pertama datang adalah suster jaga, untuk registrasi data pasien. Selanjutnya hanya aplusan biasa.

Menjelang sore saya mulai uring-uringan. Saya tanya ke suster, ini kapan saya mau transfusi. Karena saya kan harus kejar Hb normal dulu. Suster bilang masih tunggu arahan dokter. Namun sore itu mereka mulai ambil darah saya, untuk permintaan darah ke PMI.

Menjelang maghrib, saya dipasangkan infus, untuk nanti sekalian masukkan transfusi darah. Seumur-umur baru kali ini saya harus masuk RS dan diinfus, sekalinya diinfus, transfusi darah pula. Sebelum transfusi dilakukan, ada obat yang dimasukkan dulu via lubang infus di tangan, dan rasanya perih sekali. Untung saja ada satu orang suster yang sabar, suntik obatnya pelan-pelan sambil tangan saya diurut-urut.

Baru akhirnya malam jam 7, 1 kantong darah tiba. Bagaimana rasanya ditransfusi darah? Pertama masuk, perih bukan main. Vay sampai meneteskan air mata di sudut sana ketika melihat saya sedikit meringis. Tapi ketika sudah selesai dan melihat saya tersenyum, kesedihannya pun hilang.

MINGGU 10 APRIL. Dari Sabtu malam sampai Minggu pagi, saya sudah transfusi empat kantong darah A. Setiap kali ganti kantong, diganti dengan cairan biasa dulu agar tidak terjadi penggumpalan darah.

Namun empat kantong itu secara total hanya sekitar 900 ml, dan ketika cek Hb lagi memang sudah naik tapi masih kurang. Karena tidak ada kantong tambahan lagi, maka untuk mendongkrak Hb, saya disuntikkan sebuah cairan (saya tidak tahu namanya).

Hari Minggu itu Vay tidak ikut menginap di RS. Biarkan dia pulang dulu, hari Senin kan sekolah, dan supaya dia tidak trauma kalau melihat ibunya masuk ruang operasi. Rencananya akan datang setelah operasi selesai.

Setelah transfusi darah empat kantong, saya bisa melihat perubahan di tubuh saya. Telapak tangan yang biasanya putih pucat, sekarang memerah. Bahkan daging di bawah kuku sampai kelihatan. Kulit wajah juga memerah. Ternyata seperti ini ya rasanya kalau Hb normal. Segar. **seperti vampire kalau habis makan darah…

Selama menunggu hari operasi, dr. Rizka datang visit melihat kondisi. Meski datang tengah malam karena menunggu selesai praktek ya. Dokter lihat saya masih haid juga meski sudah minum obat, tapi katanya tidak apa-apa.

Jam 8 malam, saya dikabari bahwa operasi yang seyogyanya Senin jam 2 siang dimajukan jadi Senin jam 10 pagi. Dokter Rizka bilang mumpung Hb lagi tinggi lebih baik cepat dilakukan operasi, takutnya kalau nunggu nanti turun lagi. Saat itu Hb sudah di angka 11 koma sekian, sudah bisa operasi.

Dan saya pun tenggelam dengan stress memikirkan jam operasi yang dimajukan. Malam itu saya sudah harus puasa, tidak makan minum sama sekali.

3. Hari H: Operasi

Saya tak ingat apakah malamnya saya bermimpi atau tidak memikirkan hari operasi. Senin pagi, jam tujuh saya sudah bangun dan mandi, bersiap memakai kimono yang diberikan RS. Haid belum berhenti juga, ya sudahlah biarkan saja.

Jam sembilan saya dijemput suster, dibawa pakai kursi roda ke bawah. Ayah dan Opung Boru Vay menemani saya sampai pintu kamar operasi. Saya memandang sekeliling, berusaha mengenali apakah ini ruangan tempat saya dulu caesar. Dr. Rizka lewat dan melambai, meminta saya menunggu giliran, jam 10. Suster kepala menghampiri dan memasang infus baru di tangan kanan. Ah, ajaib. Ini baru suster berpengalaman. Sseetttt…. pasang infusnya mantap, sama sekali tak sakit.

Saya pun menunggu dengan deg-degan, sama deg-degannya kali ya dengan para calon ibu di kanan kiri saya yang sedang menunggu giliran operasi caesar. Kanan kiri saya perut besar semua sementara perut saya kempes. Seorang ibu Arab yang sedang menunggui anaknya giliran caesar bertanya saya mau operasi apa. Ibu yang baik, dia mendoakan operasi saya lancar dan selamat. Saya di situ melihat mulai dari anaknya dibawa masuk untuk operasi dan dua puluh menit kemudian babynya dibawa keluar.

Ini adalah menit-menit saya berdebar tiada henti. Kalau dulu saya operasi caesar, menurut saya tidak terlalu mengerikan karena hanya dua puluh menit paling lama. Jadi kalau ada teman yang bilang, ini sama kayak operasi caesar lalu merasa itu sudah paling menegangkan, please: jangan! Jelas tidak sama.

Operasi laparatomi akan berjalan kurang lebih dua jam. Saya sungguh tak punya bayangan apa yang akan terjadi di dalam. Apa yang akan mereka lakukan saat membelah perut ini. Bayangan-bayangan itu sungguh menghantui. Dalam hati saya terus berdoa, memohon kelancaran operasi.

Jam 10 kurang lima belas menit, suster kepala dan seorang suster dari kamar operasi keluar. Membawa brankar saya ke dalam. Ternyata dokter sudah di dalam, entah masuk dari mana tadi saya gak lihat. Saya lihat dokter anastesinya beda, bukan dokter yang sebelumnya. Jadi karena jam operasi berubah mendadak mengikuti dokter kebidanan, maka pasien hanya bisa menerima siapa dokter anastesi yang bertugas saat itu di ruang operasi. Dokter laki-laki dengan mantrinya yang juga laki-laki. Karena pada dasarnya saya tidak suka dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang disepakati di depan, saya agak mendumel dalam hati. Gak tenang karena merasa gak kenal dengan dokter anastesinya. Takut karena bukan dokter ini yang memeriksa saya saat konsultasi. Tapi kemudian ya pasrah, serahkan saja pada ahlinya.

“Suster, ini dingin sekali.” Rasa dingin mulai terasa menembus kulit.

“Nanti di meja operasi jadi hangat kok,” jawab susternya. Lalu saya dipindahkan dari brankar ke atas meja operasi. Saya melihat sekeliling, hei ini persis seperti di film-film. Alas tidur berpori, lalu lampu sorot di atas yang sangat terang.

Di kepala saya berkecamuk semua pikiran akan seperti apa nanti operasinya, apakah selama dua jam saya pasti tertidur seperti kata dokter, berapa lama saya baru jatuh tertidur seperti kata dokter, dsb dsb.

Dokter anastesi datang dan menyapa. Lalu badan saya ditekuk. Saya diminta untuk tidak menggerakkan kaki dulu, sampai dokter selesai melakukan suntikan di punggung. Badan saya mulai gemetar karena menggigil dengan suhu ruangan. Kulit saya memang tidak tahan dingin, dan ketika saya dibaringkan, tangan saya mulai bergetar hebat.

“Dok, saya kedinginan.”

“Ibu menggigil, ya?” Tanya dokter anastesi.

“Iya.” Sambil menjawab dengan suara bergetar, mata saya mengawasi dokter anastesi dan mantrinya. Mereka bergerak sangat cepat. Kedua lengan saya dibentangkan ke kanan-kiri (dalam hati saya mikir: wah gua mo diikat nih ya biar tangan gak menggapai-gapai saat operasi…) dan ketika mantrinya terlihat mulai mengikat pergelangan tangan saya yang gemeteran hebat, saya lihat dokter menyuntikkan sesuatu di situ.

Dan gelap. Blek. *Aaaaahhh! Saya terjebaaak…!


 

“Ayo, Bu. Kita pindah. Sudah selesai ya.” Itu suara yang pertama saya dengar ketika saya membuka mata. Saya bingung, pindah kemana? Perasaan tadi baru suntik bius, kok sudah selesai? Kenapa saya tidak ada mimpi apa-apa selama operasi tadi?

Ah. Ternyata memang operasinya sudah selesai. Berarti tadi itu saya disuntikkan bius untuk menghilangkan kesadaran. Kayak di film-film ya, sekali lagi. Benar-benar tidak ingat apa-apa. Karena ketika saya sadar, saya pikir justru operasi baru akan dimulai.

Badan saya ditutupi oleh selimut berbentuk gelembung yang menyalurkan panas ke tubuh. Dibawa ke ruang pemulihan dulu, tidur di sana selama beberapa jam. Kemudian agak sore saya dibangunkan, oleh suster saya langsung diminta angkat pantat pelan-pelan pindah ke bed. Haduh kejam nih susternya. Nyeri dan nyut-nyut di perut terasa.

Sehabis operasi saya dikasih lihat dulu jaringan adenomyosis yang sudah diambil, sebelum dikirim ke lab untuk dites. Karena saya menggunakan asuransi maka jaringan harus dicek untuk mensahkan diagnosa dokter. Dan ketika hasil lab keluar, memang benar kalau jaringan itu adalah adenomyosis.

Bentuknya seperti potongan daging ayam, lemaknya. Saya tidak bisa share di sini fotonya, karena terlalu menyeramkan. Beratnya sekitar setengah kilogram. Kata dr. Rizka, jaringannya sudah keras seperti batu, sampai dia kewalahan mengirisnya. Ya Tuhan, gak kebayang bagaimana tindakan itu dilakukan di rahim ini. Awak tertidur dua jam sementara sepasang tangan bermain di situ.

Tapi ya tentu saja saya bersyukur sekali ini operasi berjalan lancar. Alhamdulillah. Meskipun sehabis operasi saya menderita sakit kepala hebat hingga muntah-muntah, sudah ganti obat masih juga gak ngaruh. Tidak ada yang bisa dimakan, kecuali bubur sum-sum. Orang tua minta saya bertahan beberapa hari lagi di RS, tapi dokter sudah menyuruh saya pulang, supaya bisa segera latihan jalan dan beraktivitas. Saya paksakan pulang di hari keempat, karena saya mulai merasa kalau sakit ini sebenarnya karena masuk angin hebat sehabis operasi. Eh, ternyata feeling saya benar. Meski di tengah jalan saya muntah-muntah, tapi begitu tiba di rumah dan diurut badannya sedikit (dengan posisi menyamping), semua sakit kepala itu lenyap. Nasi putih dan telor ceplok adalah makanan ternikmat yang pertama masuk ke badan.

Aktivitas langsung berjalan biasa. Dua hari kemudian sudah masuk kantor, tapi masih jalan pelan-pelan dan belum bisa angkat beban berat-berat. Pakai baju juga yang longgar semua. Jeans disingkirkan.

Dua minggu setelah plester jahitan dilepas, saya lihat bekas jahitannya lebih lebar ke kiri dari bekas jahitan caesar sebelumnya. Bentuk jahitannya juga lebih rapi yang sekarang. Seperti dilipat dan dilem.

Larangan setelah operasi laparatomi kemarin hanya tidak boleh berenang dulu selama sebulan. Jalan kaki sudah boleh dilakukan. Menyetir juga tidak ada masalah, selama naik mobil matic. Untuk yang terakhir saya bandel, baru keluar RS dua hari langsung nyetir. Ya habis, masa saya percayakan nasib perut yang baru disayat ini pada driver taxi? Ya cuma diri sendiri yang bisa dipercayalah. Jadi ya langsung nyetir aja.

Wefie pertama bersama Vay, seminggu setelah keluar dari RS.

4. 8 Bulan Setelah Operasi Pengangkatan

Pertanyaan yang saya ajukan ke dokter saat konsultasi, sepuluh hari setelah operasi adalah apakah saya masih akan merasakan sakit ketika haid. Kata dokter, tidak akan nyeri lagi karena penyebabnya sudah diangkat. Kemudian, bertanya lagi, apakah jaringan ini masih bisa tumbuh lagi. Jawaban dokter, adenomyosis bisa saja tumbuh lagi, tapi memang tidak dalam waktu cepat, dan untuk menjaganya saya harus menjaga pola makan dan gaya hidup sehat, dengan mengurangi makan makanan dengan kandungan lemak tinggi. Dokter juga membekali saya dengan vitamin penambah darah untuk stok dua bulan karena riwayat anemia kronis saya sebelumnya.

Dan, tibalah haid pertama di bulan berikutnya. Hati ini deg-degan menanti-nanti, perut sakit gak ya. Pinggang pegel-patah-patah gak ya? Dan ternyata tidak sakit sama sekali! Ya Allah, alhamdulillah, sungguh luar biasa rasanya, baru kali ini saya bisa melenggang di hari pertama dan kedua haid, tanpa nyeri berarti. Pegel sedikit masih ada, keram sedikit juga ada, tapi apalah artinya ini dibanding sebelum-sebelumnya. Volume darah haid yang biasanya seperti ‘berliter-liter’ itu juga otomatis berkurang. Saya juga merasa sangat bertenaga, mungkin karena saat itu Hb masih dalam kondisi normal. Jalan cepat, naik tangga, tidak langsung ngos-ngosan seperti sebelumnya.

Sekarang, delapan bulan sudah setelah pengangkatan adenomyosis. Saya bisa katakan kalau saat ini saya sudah terbebas dari nyeri itu. Semogaaaa saja untuk seterusnya ya. Tidak sakit lagi, dan tidak tumbuh lagi jaringannya. Amiiinnn.

Kalau ada yang bertanya apa penyebab adenomyosis saya ini, saya juga tidak tahu. Dari hasil browsing pun dikatakan bahwa penyebabnya belum diketahui namun ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab, seperti peradangan rahim ketika melahirkan (tapi kalau saya justru sudah ada dari ketika hamil), juga kelainan perkembangan jaringan endometrium ketika pertama kali rahim berkembang, dan beberapa faktor dugaan lainnya.

Saya yakin di luar sana pasti ada yang mengalami nasib yang sama dengan saya, mempunyai adenomyosis sehingga mengalami nyeri haid luar biasa. Mudah-mudahan sharing saya di sini bisa bermanfaat, bisa jadi insight mengenai tindakan yang akan diambil.

Untuk biaya operasi laparatomi ini sendiri, di RSIA Bunda kemarin, angka yang tertera di resepsionis adalah Rp 40-45juta. Bisa lebih tergantung upgrade kamar dan tambahan obat.

Hikmah yang saya dapat dari penyakit ini adalah, jangan pernah bersahabat dengan penyakit. Entah untuk apa sakit seperti ini dipelihara, gak ada untungnya juga kan. Lebih cepat berobat dan mengambil tindakan yang diperlukan, lebih cepat pula teratasi.

– ZD –

Related Post

Cipika-Cipiki Budaya cium pipi atau istilah kerennya cipika-cipiki adalah hal yang biasa di masyarakat kita. Setiap bertemu teman atau keluarga yang lama tak bertemu, misal ketemu sahabat kuliah di sebuah mall, atau saat arisan keluarga, pasti para perempuan salin...
Rindu Medan…. Saya lagi kesepian di Jakarta ini. Tiba-tiba kangen sama temen-temen dan keluarga di Medan. Udah lama gak pulang ke Medan. Dulu rencananya mo rutin pulkam ke Medan, tapi sejak dapat rezeki (hamil), tentu gak bisa sering-sering main ke Medan lagi. Mus...
Awan Indonesia Selalu Indah! Tak terasa hari terakhir di tahun 2014 sudah tiba. Saya pribadi, merasa tahun ini baik buat saya, pekerjaan lancar dan menyenangkan, sangat produktif dalam banyak hal, serta kesenangan pun berjalan seimbang. Di sisi lain, akhir tahun ini negeri te...
Gengsi Gede-gedean Menurut saya, laki-laki cenderung lebih gengsian daripada perempuan. Saya sering alami kejadian dimana pria memaksa agar terlihat keren di depan wanita. Contohnya ketika beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang pria untuk transaksi jual beli. ...
Aksesoris Menurut saya, pemborosan perempuan itu lebih dari sekadar baju atau sepatu. Well, bukan berarti item baju dan sepatu mendapat kartu hijau untuk izin pemborosan, tapi menghabiskan sisa gaji untuk membeli baju dan sepatu sih sudah biasa, soalnya kan ga...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

47 thoughts on “Saya Sudah Putus dengan Adenomyosis

  1. Fajri Ansyah

    Mba Zisy aku alami sm persis mba tp alhamdulillah hbku normal. mau saringan donk ini pin aku mba plis diinvite ya 5B72DDCE

    • Zizy

      Dek, kalau mau sharing-an di Facebook Page TehSusu ya. Nanti bisa DM di situ kita ngobrolnya…. 🙂

  2. Grace

    Selamat untuk Mba Zizy dan makasih banyak atas sharingnya yang sangat bermanfaat. Perkenalkan saya Grace usia 22 tahun dengan diagnosa Adenomiosis. Saya sudah 8 tahun mengalami yang namanya keluar masuk RS. hanya untuk transfusi darah tapi tetap kembali lagi dan lagi. Rekor Hb terendah saya adalah 3.7 itu tahun lalu sampai saya ingat betul kl suster sudah ga bisa ambil sampel darah saya saking habisnya 😀 akhirnya saya memutuskan untuk suntik tapros, dan 3 bulan saya rasa sudah mulai normal siklus mensnya, tapi kok bulan ini sepertinya kembali mengalami heavy bleeding walaupun belum (dan jangan sampai) separah sebelumnya. Membaca dari pengalaman Mba Zizy, saya cukup tertarik dgn metode laparotomy tsb tapi karena blm menikah dan berencana punya anak juga saya masih agak takut dgn metode operasi. Ohya pertanyaan saya, apakah dokter yg mengoperasi Mba Zi recommended? Dan kalau boleh tau asuransi apa yang digunakan untuk full covered payment operasi? Terimakasih sebelumnya dan sehat selalu utk Mba Zi.

    • Zizy

      Salam kenal Grace,
      Saya turut bersimpati atas yang sudah Grace alami 8 tahun, berarti sejak usia belia sudah dapat diagnosa ini ya, bahkan Hb sampai 3,7 (!). Laparatomy kan bahasa awamnya adalah perut akan dicaesar dan rahim dikikis. Operasi laparatomy bisa dikatakan pilihan terakhir, dan saya pikir dokter tidak akan menyarankan ini untuk Grace karena masih muda dan juga belum menikah. Saran saya Grace tetap konsultasi rutin ke dokter untuk dilihat juga ukuran dari adenomyosisnya, dan apakah barangkali ada hal lain yang menyebabkan sakit.
      Dokter saya itu menurut saya sih rekomen ya karena memang saya hanya dengan dia saat hamil dulu. Dan metode reseksi ini juga termasuk metode baru yang aman menurut beliau, jadi tidak perlu angkat rahim.
      Kalau asuransi, pakai Sinarmas, memang dicovered dari kantor Grace.

      Semoga membantu dan doa saya juga semoga Grace makin sehat ya.

      • Mitha Zahra

        Mba zizy, alhamdulilah udah sembuh yah?
        salam kenal yah Aku Mitha Zahra usia ku 21 tahun. Hehe cerita aku sama persis Grace. Cuman bedanya d HB alhmdulilah tekanan darah normal. Hari ini tepatntnya 13 juli 2017 aku di ponis adenomiosis. Tp kata dokter aku klo aku di oprasi rahim aku bakalan bermasalah. Jadi aku di anjurin buat suntik. Oh iyah klo pengen tau besar atau kecilnya adenomiosis itu sebelah mana print usg yah,? Soalnya lupa lagi tanyain sama dokternya ?

      • Mitha Zahra

        Mba zizy, alhamdulilah udah sembuh yah?
        salam kenal yah Aku Mitha Zahra usia ku 21 tahun. Hehe cerita aku sama persis Grace. Cuman bedanya d HB alhmdulilah tekanan darah normal. Hari ini tepatntnya 13 juli 2017 aku di ponis adenomiosis. Tp kata dokter aku klo aku di oprasi rahim aku bakalan bermasalah. Jadi aku di anjurin buat suntik. Oh iyah klo pengen tau besar atau kecilnya adenomiosis itu sebelah mana print usg yah,? Soalnya lupa lagi tanyain sama dokternya ?

        • Zizy

          Hi Mitha,
          Kalau untuk size itu terlihat dari besarnya gambar “benda” yang melekat di rahim. Kalau saya kemarin, kedua sisi yg menyatu jd membentuk seperti buah mangga. Kalau utk operasi menurut sy Mitha harus diskusi dgn keluarga dulu. Soalnya masih muda, still have chance untuk punya anak banyak hehe…
          Suntik itu utk mengecilkan ya? Sy juga disarankan itu kemarin, tp tidak saya lakukan…. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *