Sketsa Wajah di Kawasan Wisata Kota Tua

Akhirnya jadi juga kemarin ajak Vay main ke museum. Dia memang sudah bilang sejak lama, kalau dia belum pernah masuk museum, dan pengen tahu museum itu seperti apa. Mumpung kemarin libur, sepulang cooking course di YCA, kita langsung cabut ke Kawasan Wisata Kota Tua.

Kenapa ini yang jadi pilihan? Pertama, tempat ini sudah jadi ikon Jakarta, jadi ini wajib jadi kunjungan perdana. Kedua, Wisata Kota Tua ini selalu ramai jadi Vay pasti tidak akan cepat bosan.

Tiba di Kota Tua, seperti sudah diduga, ramai. Jalan ke dalam saja tidak mudah untuk bersisian. Vay sumringah, terlihat excited dengan semua yang dilihatnya. Tapi dia memegang tangan saya dengan erat, takut terlepas di tengah keramaian.

Saat kaki sudah hampir dekat ke lokasi Museum Fatahillah, WOW! Luar biasa ramainya. Manusia seakan tumpah di situ. Berharap ada space untuk berfoto tanpa background manusia? Jangan harap.

Badut-badut bertebaran. Patung “manusia batu” juga tambah banyak dibanding ketika tahun lalu saya ke sini. Ada pulaaaaa pocong-pocongan dan kunti, mangkalnya pas di bawah pohon besar. Ada-ada aja, yah. Vay saya tanya mau foto bareng gak dengan salah satu manusia batu, tapi dia gak mau. Ternyata karena terlalu ramai, dia jadi agak-agak malu nih.

Untuk masuk ke dalam Museum Fatahillah, pengunjung dewasa dikenakan HTM Rp 5,000, dan anak-anak Rp 2,000. Karena sudah hampir jam tiga sore, kami bergegas. Soalnya jam tiga museum sudah ditutup, jadi ya harus cepat.

Di dalam museum juga ramai sekali. Selfie, wefie, di mana-mana. Tidak ada yang sempat diterangkan di dalam karena Vay sudah lari sana lari sini, heboh sendiri dengan apa yang dia lihat.

SAM_1123

SAM_1134

SAM_1140

Saya belum puas berkeliling sebenarnya karena masih ingin baca-baca – baru pertama kali masuk juga – tapi ini anak kecil sudah lari duluan gak sabar, apalagi sudah mau jam 3 jadilah tidak sempat membaca semua keterangan dari koleksi-koleksi di dalam. Yang bikin Vay agak takjub waktu dia lihat batu prasasti Tarumanegara, dengan cap kaki Raja Mulawarman.

SAM_1152

Tiba di halaman belakang museum, kami menuju lokasi penjara wanita. Ini agak menyeramkan, ruangan bawah tanah yang sempit, atapnya juga pendek, dengan lantai yang selalu tergenang. Pengunjung hanya melihat dari luar saja, tidak ada yang berani masuk karena memang kesannya menyeramkan. Menurut ceritanya, penjara itu dulu memang sengaja diairi biar tahanan selalu kedinginan. Kalau sekarang masih ada airnya, katanya sih sudah mereka tutup sumber airnya tapi masih tergenang juga.

Kemudian ada bekas sumur juga di belakang. Kata Vay ada ikannya. Dia duduk sebentar, difoto lalu turun. Serem.

SAM_1158

Keluar dari Museum Fatahillah, tak lengkap rasanya kalau tidak mencoba jualan khas di sana. Es potong harga Rp 3,000! Ada sih es selendang mayang, dll, tapi sudahlah, gak usah semua dicobain tar sakit perut gimana. Yang makan es potong pun hanya saya, Vay gak mau.

SAM_1165

Di Kota Tua ini banyak seniman. Ada tukang tato, ada tukang sketsa. Vay terkagum-kagum melihat tukang sketsa yang bisa cepat menggambar wajah orang – karena dia juga merasa dirinya adalah penggambar ahli, sering tuh gambarin muka saya di kertas dan mengklaim bahwa itu mirip banget aslinya. LOL.

Biar Vay tidak penasaran, kita mampir ke lapak sketsa. Bayarnya Rp 40,000 per-kepala. Vay duduk manis di bangku pendek, menahan senyum manis di bibirnya, biar hasil sketsanya bagus. Beberapa orang di depan situ ikut senyum-senyum menonton anak kecil sedang “digambar”.

SAM_1175

SAM_1173

Ini dia hasilnya. Kurang tembem sedikit aja. Vay bilang dia bertekad ingin bisa gambar seperti si pelukis wajah itu.

 

Eh tapi kurang puas sih sebenarnya. Sepertinya besok-besok harus spesial datang pas hari biasa biar bisa puas lihat-lihat di dalam museum.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Related Post

Mencari Sunrise di Pura Ulun Danu Bratan Pura Ulun Danu Bratan Alarm di handphone berbunyi jam tiga lewat tiga puluh pagi. Mata rasanya masih ingin terpejam, tapi suara di kepala memaksa untuk bangun. Rencananya kan mau mengejar sunrise, toh? Vay masih tepar di sebelah, kecapekan karena...
Menjajal Soto Triwindu, Favorit Pak Jokowi Barisan kabut seakan menggayuti gunung ketika pesawat akan mendarat di bandara Adi Sumarmo Solo. Pemandangan yang indah, tapi tak sempat terekam oleh kamera. Kalah sama bapak-bapak di sebelah ya bo’, sejak di atas terus memotret, dan seakan tak mem...
November Rain di Dunia Fantasi Ancol Sudah masuk akhir November aja ya. Waktu begitu cepat berlalu, cerita sih banyak tapi kalau kelamaan lupa update malah akhirnya malas ya, hehe. Hari Minggu kemarin, ceritanya kami baru main ke Dunia Fantasi, Ancol. Sebagai bagian dari perayaan ula...
Relaksasi di Pantai-pantai Nusa Dua Bali Wisata pantai tak akan habisnya dibahas, karena pantai memang memiliki daya magis untuk menarik pengunjung. Pantai di Bali, sudah tentu masuk agenda wisata paling utama karena Bali memang surganya pantai. Kawasan Nusa Dua Bali termasuk kawasan yang m...
Day 3 – Taliwangan di Lombok Day 3 – 17 May 2014 Ini adalah hari ketiga liburan, dan kami akan kembali ke Jakarta. Vay bilang gak pengen pulang, dia masih pengen liburan. Huhu…. Seandainya semudah itu, ya, Nak. Karena sehari sebelumnya tidak sempat naik sepeda, maka hari i...

by

About Zizy Damanik | Mommy Vay | Digital Marketing Practitioner | A Passionate Traveler and Photographer | Coffee Lovers | Beach Addicted |

35 thoughts on “Sketsa Wajah di Kawasan Wisata Kota Tua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.