Steel Wool Photography di Bali

Ingin cerita sedikit tentang steel wool photography. Belakangan, steel wool photography ini sedang hits, berseliweren di Instagram dengan macam gaya. Istilah awamnya adalah foto yang menangkap pola yang diciptakan oleh percikan api. Steel wool photography sendiri bisa dimasukkan ke dalam kategori light painting.

Cara membuatnya bagaimana? Dengan menggunakan untaian kawat besi (kawat besi lembut yang biasa dipakai untuk mencuci pantat kuali) yang dimasukkan ke dalam pengocok telur, lalu diikat di sebuah tali sepanjang 1,5-2 meter (atau bisa disesuaikan), dibakar dan diputar-putar selama pijarannya menyala.

Di Bali kemarin steel wool photography jadi salah satu materi yang akan dicoba bersama, dengan salah satu master landscape di kantor kami yang akan melakukannya.

Teknik mengambil fotonya sama dengan cara mengambil foto slow shutter, foto mobil-mobil melaju di jalan raya, atau di foto terakhir saya di postingan Air Terjun Tegenungan. Dan harus pakai tripod, kecuali tangannya sanggup menahan sampai 10-20 detik.

Foto-foto steel wool berikut ini, dihasilkan dengan settingan shutter speed, aperture, iso serta settingan kalvin white balance berbeda. Filter CPL juga saya pasang, dengan tujuan mendapatkan tone lebih gelap. Dan karena pakai filter CPL, jadi bukaan aperture tidak perlu terlalu kecil. Namun hasil akhir dari foto ini tetap saya retouch sedikit di Lightroom.

Dua foto berikut diambil 20-30 menit setelah sunset selesai di Echo Beach, Bali, dengan kondisi awan masih tebal. Cerita tentang steel-wool-an ini, awalnya saya sempat pesimis karena sebenarnya batre kamera sudah gak ada, dan saya mematikan kamera beberapa kali demi menghemat, siapa tahu ada momen bagus dan masih bisa untuk capture 1-2 momen.

Eh begitu dikatakan mau steel-wool-an, pasrah udah. Aaahhh…. gak bakal dapat nih, pikir saya. Tapi tetap saja pasang tripod berbaris dengan teman-teman lain, kemudian menyalakan kamera, setting dengan cepat, dan dimatikan. Begitu ada aba-aba dari depan sana, baru kamera dinyalakan, merapikan fokus sebentar, dan shot! (Hemat banget ya! LOL)

SS 10” f/20, ISO 100.

SS 10” f/20, ISO 100.

 

SS 8”, f/4, ISO 100

SS 8”, f/4, ISO 100

Foto di atas ini, tepat ketika kemudian baterai habis, hahah. Dead se-dead-dead-nya. Dan saya cukup puas sih dengan hasilnya.

Selanjutnya, ketika sudah tiba di hotel Grand Inna Beach di Sanur, kami keluar lagi untuk steel-wool-an lagi. Soalnya pada belum puas. Tapi saya sudah sempat nge-charge batre selama lima belas menit. Meski sejujurnya badan sudah capek banget. Bangun jam setengah tiga pagi, lalu tiba di Bali jam setengah sembilan WITA, dan sampai tengah malam masih di pantai juga. (Ampun, usia gak boong, ya). Dan itu pun besok paginya sehabis subuh, harus bergegas lagi ke pantai mencari sunset. Tapi memang fotografi itu butuh pengorbanan.

Suasana pantai gelap meski ada bulan purnama. Ada sepasang suami istri yang sedang duduk sembahyang di pasir, selain itu sepi. Agar tidak mengganggu, kami berjalan cukup jauh ke sisi lain pantai, mendekati tempat parkir perahu.

SS 13”, f/10, dan ISO 800

SS 13”, f/10, dan ISO 800

Ingat banget, untuk foto ini, begitu selesai menekan tombol shutter, saya baru sadar ada bapak-bapak bule besar sedang menonton di belakang saya. Padahal tidak ada siapa-siapa di pantai tadi selain kami. (Hiiih bikin kaget aja, tengah malam gelap-gelap di tepi pantai).

Best time untuk mengambil steel wool photography adalah ketika blue hour, sekitar 30 menit setelah sunset, saat awan mulai gelap tapi langit masih kebiru-biruan. Yang di Echo Beach kemarin, setelah sunset, karena langit juga gelap, jadi tidak dapat blue hour-nya. Cara saya mengakalinya adalah dengan mengatur setinggan white balance jadi lebih cool, agar birunya (sedikit) keluar. Namun untuk beberapa foto yang di-post di sini, saya pakai WB otomatis. Dan semua foto di atas berada pada settingan focal length 10mm.

Well, selamat mencoba steel wool photography! 🙂

-ZD-

Related Post

Perenang Yang Cemberut Ini memang judul yang tepat sekali menggambarkan Vay kemarin itu. Anak gadis satu itu tidak pernah bisa sabar setiap dimintai foto, padahal sudah tahu kalau dialah model favorit maminya. Maunya sekali foto dan selesai. Ya gak mungkin juga kan, bi...
Suatu sore di November Sore tadi, ketika kami sedang melakukan rutinitas weekend kami, yaitu Vay menggambar atau mewarnai, sementara saya membuka laptop untuk membaca berita, mengutak-atik foto atau sekadar mengecek email terbaru, hujan turun. Setengah jam sebelumnya k...
Bekal Berenergi dan Cantik dari Milo Tak terasa sudah mau akhir Januari saja. Kelamaan gak update blog ya. Saya ingin cerita tentang kegiatan kecil saya dan Vay seminggu terakhir. Jadi, ceritanya, minggu lalu itu saya dapat kiriman dari Mommiesdaily dan MILO. Kirimannya sudah ten...
Kecil-Kecil Punya SIM Kesampaian juga saya bawa Vay ke Kidzania. Ih padahal Kidzania itu bukan mainan baru anak Jakarta, masa Vay baru dibawa maminya sekarang? Iya, maap. Waktu dan kondisinya baru pas sekarang. Umur sudah cukup banget, ada temannya, dan perginya bukan pas...
Momen Mudik 2013 Bagi yang merantau ke Jakarta atau kota besar lainnya, mudik atau pulang kampung adalah hal yang dinanti. Selalu ada momen-momen yang hanya bisa didapatkan kalau kita mudik. That's whyyy kenapa kita rindu untuk mudik. Ada yang tidak suka mudik? Ya ba...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

8 thoughts on “Steel Wool Photography di Bali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *