Bandara Kuala Namu

IMG_20130804_230303

Momen Mudik 2013

Bagi yang merantau ke Jakarta atau kota besar lainnya, mudik atau pulang kampung adalah hal yang dinanti. Selalu ada momen-momen yang hanya bisa didapatkan kalau kita mudik. That’s whyyy kenapa kita rindu untuk mudik. Ada yang tidak suka mudik? Ya barangkali ada, mungkin saja ada yang punya pengalaman gak enak jadi malas mudik, ya gak? Bebaslah. Hati masing-masing ini.

Nah, kemarin pagi, dengan menumpang pesawat Garuda, kami tiba di bandara baru yaitu Bandara Internasional Kuala Namu. Jadi ya, Bandara Polonia yang terkenal itu sudah resmi tidak beroperasi untuk penerbangan komersial lagi. Pertanggal 25 Juli 2013 kemarin, semua penerbangan komersial langsung dialihkan ke Bandara Kuala Namu ini. Kuala Namu ini sendiri terletak di Kabupaten Deli Serdang, sekitar 40km dari kota Medan.

Seperti apa sih Bandara Kuala Namu ini?

Yeahh… keren sih. Keluar dari pesawat pakai garbarata (kalau dulu di Polonia turun menjejak baru naik bus). Ruang tunggu di dalam juga mirip dengan ruang tunggu di Changi. Tapi, kalau dilihat-lihat lagi, bandara baru ini bisa dibilang baru 75% jadi dan sudah ‘dipaksa’ untuk beroperasi. Toiletnya saja belum ada sign board, mana toilet pria mana toilet wanita, dan meski toiletnya bagus, tapi di dalam becek. Petugas yang jaga hanya satu orang untuk keduanya, petugas laki-laki. Porlep tidak ada — which is ini bagus menurut saya karena kalau di Polonia dulu, porlep menguasai semua troley sehingga penumpang tidak kebagian.

Keluar dari bagian bagasi, ada dua petugas perempuan yang stand by untuk penumpang yang ingin bertanya. Bila kita membutuhkan informasi apa pun, mereka akan membantu, terutama informasi transportasi. Sudah pasti ya, namanya bandara baru, jauh dari Medan, transportasi tentu jadi pertanyaan pertama bagi yang baru tiba.

Nah untuk ke Medan, ada taxi, bus, dan kereta api bandara. Kalau naik KA Bandara, biayanya Rp80.000 dan turun di Stasiun Besar Medan. Kemarin sih kita dijemput sama Opungnya Vay, dan perjalanan dari bandara ke rumah — lewat jalan tol — sekitar 30-40 menit.

Bandara internasional ini secara umum masih berantakan. Kalau pesawat mah gak ada masalah ya, yang penting kan bisa mendarat dengan aman. Tapi untuk penumpang, pengantar, suasananya masih belum kondusif. Baru mau keluar parkir saja sudah ada tukang parkir liar. Driver kita tanya, “Bukannya nanti bayar pas keluar?” lalu dijawabnya begini, “Oh iya, itu lain. Ini sih kebijaksanaan saja.” Kebijaksanaan apa pulaaaak kawan ini? Kita berlalu saja, tanpa memberi tentu saja.

Yah. Bandara ini keren memang, dari luar. Tapi sebaiknya sih, ya, mumpung ini dibangun dari nol, tunggu benar-benar rampung deh baru beroperasi. Kan enak kalau menerapkan peraturan dan tata tertib saat sudah ready. Sayang nih kalau judulnya saja internasional tapi hal-hal remeh temehnya tidak internasional. Kalau kata ayahnya Vay, font yang dipakai untuk sign board juga tidak standar internasional, beda dengan bandara-bandara internasional lainnya.

Bandara International Kuala Namu

Bandara International Kuala Namu

Bandara International Kuala Namu

Main Kembang Api

Nah. Momen mudik yang berkesan setiap kali pulang kampung adalah, Vay bisa main petasan dengan saudara-saudaranya. Di Jakarta dia gak mau lho disuruh pegang kembang api. Tapi di sini dia berani. Dan kemarin malam, dia main terus gak berhenti-henti. Kayak gak ingin kehabisan waktu main dengan sepupunya hehe…

Yang lucunya, mbak-mbak yang kerja di rumah pengen banget foto-foto dan ngerekam si Vay. Gemes gitu mereka. 🙂 Belum tahu aja dia bagaimana Vay kalau udah keluar ‘singa’nya, bakal berubah pikiran kali ya, hahaha…

 

Akhir kata, saya dan keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434H. Mohon maaf lahir dan bathin apabila ada salah-salah kata dan perbuatan selama ini.