Sabtu Manis Rasa Coklat Bersama Vay

Apa sih yang paling dinanti oleh anak-anak dari kegiatan ekskul mereka? Kalau tanya saya, dulu waktu masih sekolah saya sangat menantikan saatnya perform. Perform bersama grup itu adalah saat-saat paling menegangkan juga menyenangkan, kita sih tak terlalu peduli seperti apa pendapat orang yang menonton, tapi yang pasti adalah saat akan tampil dan sudah tampil, itu … Read More

Quality Time Saat Sports Day

Secangkir tehsusu: Adil terhadap pekerjaan dan anak itu tidak gampang. Karena ternyata, meskipun kita berusaha memberikan quality time, anak tetap merasa butuh kuantitas waktu yang lebih banyak. Sungguh luar biasa bagaimana Jakarta telah meneror warganya sehingga terus menerus berlomba dengan waktu. Kemarin pagi saya mengantar Vay ke sekolah, dan ternyata saat itu kelas P2 ke atas … Read More

Vay Dan Kompetisi

KOMPETISI Saat open house sekolah Kinderfield ini tahun lalu – meskipun sudah bersekolah di sana sejak Kiddy, tapi saya tetap hadir juga saat open house untuk masuk SD – para orang tua sudah dikasih tahu, bahwa anak-anak pasti akan ada banyak pe-er. Tapi karena buku-buku pelajaran semuanya disimpan di sekolah, yang dibawa pulang oleh siswa … Read More

Selamat ya Sayang, sudah mau kelas 1 SD sebentar lagi.

Graduation Oh Graduation

Sabtu kemarin, adalah graduation day-nya Kinderfield. Sejak pagi kita sudah berkumpul di ICC Kemayoran untuk acara tersebut. Sekolah sekarang ya, tamat TK saja pakai acara graduation, padahal dulu kita saat tamat kuliah baru ada wisuda.

Acaranya sendiri diisi dengan festival tari dari anak-anak Kinderfield – all cabang – baru terakhir acara wisudaan.

Festival tari dimulai dari tari Brazilian, Mexico, Jepang, Indonesia, hingga terakhir adalah tarian asal Srilanka. Vay ada di tarian terakhir ini.

Seperti biasa, saya berbunga-bunga melihatnya dance di atas panggung, minimal kali ini dia terpilih bisa ikut dance. Sudah latihan sejak sebulan terakhir, dan Vay semangat sekali dan tak sabar menunggu hari H ini tiba, untuk bisa menari Srilanka.

Ketika tiba tarian Srilanka, tepuk tangan membahana. Sepertinya suporternya lebih banyak nih. Dan ketika tarian dimulai, aduh ternyata tariannya memang bagus, sama seperti tarian India sebelumnya yang juga dibawakan oleh Kinderfield Duren Sawit. Bedanya tarian India sebelumnya kostumnya kurang kece, anak-anak perempuannya pakai baju kayak piyama gitu, sama kayak boys. Kalau dance Srilanka ini, kostumnya bagus.

Srilanka Dance Perfomance Kinderfield Duren Sawit

Srilanka Dance Perfomance (Kinderfield Duren Sawit)

Vay, ternyata memang susah ya untuk senyum di atas panggung. Dancenya serius, hehe.. tapi yang penting sih dia tidak lupa tarian dan posisinya. Soalnya hari Selasa lalu dia tidak datang untuk gladi resik di tempat acara, sempat khawatir juga apakah dia akan bingung dengan lokasi baru, ternyata tidak.

Saya berbunga-bunga dan senyum-senyum sendiri saat merekamnya. Saat kembali ke kursi, ayahnya juga lagi senyum-senyum. Memang begitulah ya, orang tua kalau melihat anaknya perform, bangga dan senang.

Ini dia videonya, jangan lupa di-set ke quality HD agar enak nontonnya :).

Nah. Selesai cerita tentang tari.

Sekarang sampai di cerita gak enaknya. Rasa senang yang tadi memenuhi dada ternyata begitu cepat berganti kecewa.

Jadi, setelah acara festival tari selesai, langsung disambung dengan wisuda anak-anak, mulai dari primary dulu hingga kindergarten. Kinderfield Duren Sawit kebagian paling belakang, dan KG B Yellow – kelas Vay – paling belakang dipanggil. Kami semua menunggu dengan tak sabar, ingin melihat dan mendengar nama anak kami disebut di atas panggung.

Nah, saat mulai tiba Kinderfield Duren Sawit, saya langsung ke belakang, naik ke tempat untuk foto. Mau merekam tentunya. Ketika kelas Vay tiba, anak-anak masuk dan berbaris sesuai urutan. Di layar juga sudah keluar nama-nama mereka. Saat Principle mulai berjalan mendekati anak, di situlah seorang Miss mulai menyebutkan nama anak, dari yang pertama dan seterusnya.

Dan, ketika dua boys sebelum Vay selesai dipanggil dan Principle tiba di depan Vay, tiba-tiba ada jeda beberapa detik. Dan si Miss  itu melewati nama Vay! Dia tidak menyebutkan nama Vay, malah langsung ke nama Mai, teman Vay yang ada di sebelahnya, padahal saat itu Principle ada di depan Vay. Saya menangkap nada ragu di suaranya, suara bahwa dia sadar dia telah melakukan kesalahan. Dan kesalnya, dia tidak mengulangi tapi meneruskan saja. Saya melihat wajah Vay – dari kamera saya – terlihat bingung dan langsung berubah mau nangis. Dia bicara ke temannya Mai – saya tahu dia pasti bilang kenapa namanya tidak dipanggil. Saya menghentikan rekaman, saya kesal! Marah! Saking emosinya sampai tercekat di leher. Saya turun dan kembali ke tempat. Saya lihat wajah ayah Vay dan mbaknya juga heran, kenapa nama Vay tidak disebut. Saya kesal, lalu saya ajak mbaknya, saya bilang, tolong panggilkan Miss-nya, saya mau komplen.

Sambil berjalan ke depan, saya kirim SMS ke Miss kelas KG B (bukan Miss yang di depan tadi). Saya katakan kekecewaan saya. Dan saya menunggu di samping panggung, ingin ketemu Miss yang tadi itu. Sebelum pulang, anak-anak masih bernyanyi dulu di depan, jadi saya harus sabar menunggu selesai. Tapi saya sudah tidak senang lagi untuk foto-foto di keramaian itu. Saya kesal, saya kecewa.

Mungkin sebagian orang menganggap, ah cuma wisuda anak-anak kok. Memang iya, ini hanya wisuda ecek-eceklah istilahnya, tapi ini kan part of moment yang tak akan bisa diulang lagi. Kalau orang yang belum punya anak mungkin belum bisa merasakan kekecewaan saya ini. Tapi saya tak peduli, saya harus ungkapkan rasa kesal saya.

Saat anak-anak berbaris mau keluar, mbaknya Vay menunjuk Miss Lina, yang tadi di atas bertugas memanggil anak-anak tersebut. Saya menarik napas panjang – dan sudah menghabiskan segelas aqua untuk mereda emosi – dan mencoleknya.

Dia menoleh, dan terlihat agak terkejut melihat saya.

“Miss, kenapa tadi nama Vay tidak disebut?” Suara saya sampai bergetar saking nahan emosinya.

“Iya, Mi. Maaf, saya tadi memang ter-skip nama Vaya.”

“Iya, kenapa Miss? Apakah susah membaca nama Vaya?” Ini adalah dugaan saya. Miss yang satu itu tahu sosok Vaya tapi dia tidak tahu nama panjang Vay, jadi saya yakin dia bingung bagaimana membaca nama Vay dengan benar.

Sementara Vay yang saya gandeng bertanya heran, kenapa Mi, kenapa? Dia tak tahu kalau si Miss inilah yang tak menyebut namanya tadi.

“Gak sih, Mi. Tadi saya baru lihat wajah Vaya jadi saya baru sadar saya skip namanya.”

“Iya, tapi kenapa tidak diulang saja? Kan harusnya tidak masalah. Miss gak tahu kan, bagaimana roman Vay di panggung tadi. Saya juga kecewa berat, lho!”

“Iya, Mi. Maaf, yaa…” Dia mengulurkan tangan.

Saya menggeleng. “Ah, enggak deh! Saya kecewa!” Dan saya berlalu. Minta maaf pula. Kau kira lebaran, minta maaf melulu. Kebanyakan basa-basi. Dalam hatinya juga belum tentu dia peduli, karena bukan dia yang merasakan ini.

Foto Vay saat graduation gak banyak yang bagus, nih, karena fotonya saat dia jalan keluar, jadinya goyang. Yang di panggung ada, tapi karena ada nama anak-anak lain, saya memilih tidak memajangnya di sini.

Selamat ya Sayang, sudah mau kelas 1 SD sebentar lagi.

Selamat ya Sayang, sudah mau kelas 1 SD sebentar lagi.

Sorenya, baru masuk balasan dari Miss kelasnya Vay. Intinya ia minta maaf atas kesalahan yang panitia lakukan. Lalu saya mereply. Saya katakan, sebaiknya lain kali pastikan yang di depan itu familiar dengan nama anak-anak, jadi tidak kagok saat di depan. Toh permintaan maaf itu juga gak ada gunanya, anak-anak gak akan mengerti gunanya apalagi, karena “maaf” itu tak akan bisa mengembalikan momen yang sudah lewat itu.

Terserahlah orang mau bilang apa. Orang Indonesia ini kan kebanyakan basa-basi, berharap dengan minta maaf, masalah selesai. Yang dikecewakan pun suka gak enakan, langsung bilang ya sudahlah dia juga sudah minta maaf. Sama saya gak ada gak enakan. Saya jengkel, saya marah, mereka harus tahu. Uluran tangan dan kata-kata maaf, simpan saja buat kalian. Saya gak butuh. Yang penting kalian sadar apa akibat dari ketidakprofesionalitas kalian itu. Cuuii…. kalau semua bisa diselesaikan dengan maaf, gak akan ada konflik di dunia ini.

Saya kecewa, masih bisa diatasilah, tapi ketika saya lihat wajah anak yang berubah di atas panggung, itu adalah kekecewaan dia yang tak mungkin bisa saya ganti dengan apapun.

Malamnya – sampai tadi pagi – Vay masih mengingat-ingat soal namanya gak disebut. Dia bilang, dia sudah mau nangis kemarin, saat tahu namanya dilewati dan langsung ke nama Mai. Dan dia langsung tanya ke Mai kenapa namanya gak disebut, lalu Mai dengan lembut bilang, kenapa, kecepetan yaa….

Saya mengelus-elus kepalanya dan berusaha tersenyum – soalnya jadi emosi lagi hati ini, hahah… – lalu bilang, nanti kita beli mainan ya, biar Vay gak sedih lagi.

Tadi sudah dibelikan crayon dan buku Hello Kitty sih, meski dia masih kecewa, minimal itu bisa menghiburnya sedikitlah.

Happy graduation ya, Vay. Soon, sudah akan jadi siswa primary.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Drumband

Hari Minggu kemarin group drumband Kinderfield Duren Sawit akhirnya berlomba, di POPKI Cibubur. Berkompetisi dengan banyak finalis lain dari sekolah lainnya. Hari Jumat, anak-anak GR ke lokasi. Lalu hari Sabtu, disuruh lagi latihan di sekolah. Kemudian hari Minggu lomba. Saya bela-belain nahan diri deh, ini anak tiap hari disuruh latihan, karena toh setelah ini kelar, … Read More

SAMSUNG CSC

Singing & Choir for Vay

Acara tahunan Kinderfield School datang lagi. Kinderfield Championship 2014. Di event tahunan ini, setiap sekolah mengirimkan perwakilan untuk masing-masing lomba, seperti singing, drawing, reading, story telling, logical thinking, dan fun race untuk berkompetisi lagi mencari the bestnya.

Lomba di sekolah masing-masing sudah start sejak sebulan lalu. Nah, waktu itu saya tanya Vay, dia mau ikut apa saja? Dia bilang ingin ikut fun race, juga semua. Halah masa semua? Nah kalau tahun lalu kan, Miss-nya akan kasih tahu si anak ini jagonya di bidang ini dan itu, jadi mommynya tinggal daftar sesuai minat dan bakat, tahun ini saya gak dapat info itu. Mbaknya Vay juga gak dapat info. Jadilah kami sepakat agar Vay ikut lomba singing, fun race, dan reading. Tadinya mau saya coba di story telling, tapi saya tahu Vay jarang sekali mau disuruh gantian bercerita kalau sama saya. Maunya dengar maminya saja yang cerita. Soalnya maminya kalau cerita suka bikin ekspresi aneh-aneh hahah..

Nah, untuk kategori singing, lagu yang dilombakan ada dua: “I am a Pizza” dan “Becak”. Cari di YouTube-lah, dan Vay pun mengikuti gaya menyanyi yang ada di yutub.

Nah, dari ketiga lomba itu, tak disangka-sangka Vay dapat nomor. Dia menang di lomba Singing! 1st winner pulaaa. Hah!! Kok bisa? Kita semua gak percaya, hehe. Soalnya Vay tak pernah juara individu selama ini, dan dia juga kemarin cerita kalau dia salah lirik sedikit di lagu “Becak”. Di dua lomba lainnya, tidak dapat nomor. Dan kemudian, mbaknya baru cerita kalau Miss-nya baru sadar kenapa Vay gak diikutkan Drawing, padahal kata Miss-nya Vay kalau menggambar bagus sekali. Ihhh Miss sih gak bilang, Vay di rumah jarang-jarang gambar soalnya.

Dan karena dia juara 1, maka dialah yang jadi perwakilan Kinderfield Duren Sawit ke Kinderfield Championship 2014. Para Miss mewanti-wanti, Vay jangan sampai sakit untuk final di tanggal 15 Februari. Wanti-wanti lainnya adalah: “Harus tersenyum.” Soalnya selama bernyanyi, Vay gak senyum.

Lagu “I am a Pizza” itu agak susah buat Vay. Susahnya karena Vay terbiasa mengambil nada awal cukup tinggi, sehingga saat tiba di chorus yang nadanya tinggi, dia sering kepeleset. Di minggu terakhir ini barulah dia bisa mencari nada yang lebih rendah sedikit.

Dan, selain lomba Singing, Vay juga kembali bergabung di grup choir sekolah. Dan baru di dua minggu terakhir ini intens latihan. Kali ini dia kebagian solo lagi.

Dan tibalah harinya. Sabtu kemarin. Pagi-pagi sekali kami sudah meluncur ke Depok. Tujuannya agar mendapatkan nomor lebih awal. Dan Vay pun dapat giliran kedua untuk Singing.

Lomba-lomba kategori individu (singing, reading, drawing) dimulai bersamaan di beberapa ruang kuliah yang dialihfungsikan, sementara Choir dan Dancing diadakan di auditorium. Jadi, saat kami sudah di dalam ruangan Singing, kompetisi Choir ternyata sudah mulai juga. Tapi Kinderfield Duren Sawit gilirannya diundur, karena tunggu Vay selesai lomba Singing.

singingcomp2

Vay nervous. Dia bilang, dia gugup, dan katanya tahun depan dia tak mau lagi ikut Singing. Saya bilang, tak apa-apa, dia bisa ikut mana yang dia maulah. Soalnya Vay kayak terbebani gitu harus jadi juara. Dia tanya terus, “Mi, harus menang?” “Enggak Nak, bukan harus menang. Yang penting adalah, menyanyilah sebagus mungkin. Urusan menang atau kalah, itu belakangan.”

Nomor pertama tampil. Dari cabang lain. Lalu tiba giliran Vay. Kami bergandengan ke depan karena saya akan mengambil videonya dari samping juri. Dia grogi dan kelihatan ingin buru-buru menyelesaikan tugas ini. Alhasil saat saya mau merekam, kepotong sedikit deh, di awal.

Dan, saat nyanyi lagu “I am a Pizza” suara Vay sedikit kepeleset, sepertinya kecapekan latihan terus di rumah. Di lagu Becak, sudah lumayan. Kalau tadinya grogi, di sini sudah agak santai. Ah tapi kok suara distorsi Vay itu tetap merdu ya di telinga emaknya, hahah.

Ini dia videonya:

Setelah dari Singing, Vay pun langsung ke auditorium, bersiap-siap choir. Mbaknya Vay sudah duduk duluan di dalam, jaga tempat duduk, hehe. Udah ramai banget karena kompetisi choir sudah mulai sejak pagi. Saya duduk santai, karena tadi katanya Duren Sawit dapat giliran terakhir. Eh, ternyata setelah penampilan kelima dan keenam, tahu-tahu MC bilang berikutnya adalah Kinderfield Duren Sawit. Langsung buru-buru nyalakan kamera, takut telat.

Peserta choir tetap sama, gabungan anak-anak KG B dan KG A. Jadi yang ikut adalah Vay dan teman-temannya yang tahun lalu sudah ikut choir juga, kemudian sisanya adalah anak-anak baru dari KG A, termasuk dirijen juga dari KG A.

Dirijennya celingak-celinguk, lupa memberi aba-aba, sampai diingatkan sama temannya. LOL. Mereka pun mulai menyanyi. Suara, OK, alias nada pas dan nyanyinya sudah enak didengar telinga. Tapi kekompakan dan kerapihan di atas panggung, kurang, hehe. Kalau tahun lalu kan smooth ya, kurangnya di suara solonya (si Vay) yang sempat gak keluar, sehingga (kata Miss-nya) mereka hanya dapat juara 3.

Ini video kemarin. **Saat nonton ini Vay pun protes, gara-gara temannya yang solo sehabis dia memakai nada miliknya padahal harusnya bukan yang itu nadanya. LOL. Okelah, Nak.

 

Dan ini video tahun lalu:

Setelah itu, kami menunggu hasil pengumuman Singing. Dan, ternyata….. Vay tidak dapat nomor. It’s OK ya Vay, yang penting sudah melakukan yang terbaik. Kami pulang dan lanjut ke KoKas dong, Vay nge-gym dulu. Dia kelihatan lega karena semua sudah lewat, dan juga tidak sedih tuh meski tidak juara. Soalnya sudah juara satu juga di sekolahnya. Sudah dapat pialanya sendiri. Langsung dipajangnya di rak dengan piala choir tahun lalu dan medalinya juga. 🙂

SAM_2199

Menjelang sore, salah satu Miss memberi kabar bahwa untuk choir juga mereka tidak dapat nomor. Nilainya kurang di kekompakan grup itu tadi, walaupun nilai juri untuk voicenya bagus. Yaahh… kecewa nih dengarnya, soalnya tahun lalu kan lumayanlah choir-nya. Tapi ya sudahlah. Kompetisinya kan begitu ya, harus ada yang menang dan ada yang kalah. Lalu Missnya juga info, kalau juri-juri di Singing Competition sama di Choir pada suka dengar suara Vay, sepakat kalau suara Vay itu bagus sekali saat lomba individu tadi, tapi kekurangannya adalah: tidak ada senyum saat menyanyi. Ah, bisa aja nih Miss-nya menghibur :). **kirim bolu meranti.

Mendengar itu, saya bilang ke Vay, “It’s okay Sayang, yang namanya rocker, memang gak perlu sering-sering senyum.” Hehee…. Soalnya suara Vay itu kan ada serak-seraknya ya, jadi mami dan ayahnya suka bilang kalau dia cocoknya jadi rocker. ^^)

Good job, Vay!

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Tarik Tambang & Soccer

Lupa cerita kegiatan Vay awal November kemarin. Sports Day Kinderfield. Jadi anak-anak berkompetisi dalam permainan, dan ini seru banget. Hall yang besar tetap terasa rame meski anak-anaknya tidak terlalu banyak. Iya, kali ini sudah diatur waktunya, jadi anak-anak dari kelas Kiddy sudah mulai duluan di pagi hari dan kemudian anak-anak KG mulai jam 11. Tapi, … Read More

Mulai Hunting Sekolah

Dari akhir tahun lalu sebenarnya saya sudah pusing. Pusing cari sekolah untuk anak, bo’. Tahun depan kan Vay sudah masuk SD, ya, dan memilih sekolah itu ternyata tidak mudah. Sama sekali tidak sama seperti pergi ke toko emas, cari perhiasan sesuai selera dan isi kantong. Yang jadi pertimbangan utama saya adalah lokasi. Lokasi sekolah kalau … Read More

Guru Galak

Ternyata ya, si Vay sudah mengerti juga guru galak. Saya baru tahu beberapa hari terakhir ini saat lebih intens bersama dirinya. Jadi sejak kembali dari libur lebaran ke Medan kemarin, karena nanny-nya belum balik, maka saya yang menyiapkan semua kebutuhan sekolahnya. Pertama, saat saya katakan padanya bahwa minggu depan maminya mungkin harus keluar kota lagi … Read More

Vay sudah KG B

Saat hari pertama masuk sekolah kemarin, saya memang tidak mengantar anak saya ke sekolah. Sebenarnya ingin sih, izin datang terlambat untuk mengantar anak masuk sekolah di kelas pertama, yaitu di Kindergarten B alias TK Besar. Tapi saya pikir, ah ini kan sama saja dengan KG A kemarin, sama-sama masih KG, tidak ada perubahan mencolok ini. … Read More

Field Trip ke Taman Lalu Lintas Cibubur

Katanya Cibubur itu sejuk. Tapi waktu kemarin saya ke sana, huaduh…. kok panas ya? Sama saja dengan Jakarta ternyata. Hanya beda plat nomor saja, hehe… Kemarin itu ceritanya murid-murid KG dari Kinderfield Duren Sawit field trip ke Taman Lalu Lintas di Bumi Perkemahan Cibubur. Seperti biasa, saya cuti dong, demi mengintil dari belakang. Jauh-jauh hari … Read More

Hore…! Dapat Piala!

Haiii…. mau updated nih. Masih ingat postingan yang ini kan? Yang Vay ikut choir competition. Ternyata sekolahnya menang lho. Dapat juara 3. Lumayan kan, dari sekian banyak cabang Kinderfield, masih bisa menyabet trophy juga. Anyway, kata salah satu Miss yang jadi pelatih choir mereka ini, sebenarnya anak-anak ini bisa menang juara 1, tapi karena suara … Read More

Vay on Choir Competition

Ingat dengan pepatah yang mengatakan: bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian? Saya jarang sekali percaya dengan pepatah ini. Well, kurang lebih sama dengan kenapa saya tidak percaya lagi dengan pepatah: tong kosong nyaring bunyinya. Karena kenyataannya yang nyaring bunyinya juga tidak selalu ‘kosong’, tapi sebaliknya mereka ingin mengeluarkan isinya. Atau mereka yang nyaring bunyinya – meskipun katanya … Read More

Field Trip ke Outboundholic Ancol

Setelah duduk di KG, Vay tidak boleh lagi ditemani field trip. Itu peraturannya. Jadi anak-anak akan pergi naik bus sendiri bersama Miss, tidak boleh ditemani parents atau caretaker-nya. Tapi terus terang saya belum rela membiarkan anak pergi keluar dari sekolah tanpa pengawasan. Takut aja ada kejadian apa-apa di jalan. Jadi ketika jatah field trip kelas … Read More