Egg Surprise

Egg Surprise

Sejak sebulan lebih lalu, Vay hobi sekali mengakses YouTube. Nontonnya pun seriuuuus banget, gak mau berpaling sedikitpun.

Saya tanya nonton apa. Katanya ini egg surprise. Egg surprise? Apa itu? Saya intip sedikit saja, tapi lalu tidak tertarik.

Nah tak berapa lama, sebelum dia sakit itu, dia pulang sekolah bawa satu telur plastik warna biru. Katanya dia dikasih temannya di sekolah, dan dia pengen beli lagi. Katanya telur itu ada di Alfa or Indomart katanya. Malam hari ketika saya bawa Vay ke dokter dekat rumah – untuk periksa panasnya – kita melipir dulu ke Alfa, tetap penasaran dengan egg surprise yang dibilangnya. Ternyata ada! 3 butir. Langsung diambil semua, hahah.

Selama Vay sakit, beberapa kali saya menemani dia di rumah dan saya melihat dia terus saja menonton egg surprise itu. Saya kali ini benar-benar penasaran. Saya ikut menonton, dan ternyata, memang menarik sih! Pantas saja anak-anak betah nontonnya, jadi setiap kali kita membuka bungkus sebuah telur, di dalamnya ada mainan.

Browsinglah saya, mencari di mana toko online yang jualan egg surprise. Vay minta yang Hello Kitty, gak mau Frozen atau princess-princessan. Ketemu, tapi di eBay. Ya sudah, langsung saya beli saja, kasihan Vay sudah kepengen banget. Proses pengiriman katanya dua minggu, akan tiba sekitar awal Desember, begitu isi email dari eBay.

Memang ini rejekinya Vay ya. Waktu kemarin ke Barcelona, dan transit di Doha, saya liht ada Kinder Surprise! Langsung saya beli, takut nanti pas pulangnya gak nemu. Lalu waktu di Barcelona, saat ke mall dekat hotel untuk beli bekal sarapan buat anak-anak sebelum mereka ketemu Lionel Messi, saya lihat ada Kinder Surprise Egg yang besar! Wooowww…!! Besoknya saya kembali ke mall dan langsung beli tiga. Nah, pas pulang, di airport Madrid, ternyata ada lagi Kinder Surprise. Kali ini di dalam kemasan berbentuk telur pakai topi, harganya sekitar 16 EURO. Langsung saya beli lagi. Jadi oleh-oleh spesial buat Vay ya egg surprise itu.

Lalu dua hari lalu datanglah Hello Kitty egg surprise-nya. Sedikit peyot – karena memang lapisan luarnya itu kan coklat ya. Tapi tak apa, Vay tetap excited.

Dari kemarin dia sudah cicil-cicil tuh membuka egg surprisenya, tapi baru hari ini dia boleh buka semua. Saya bilang, saya mau rekam dia seperti di YouTube, dan lebih enak kalau hari Sabtu, jadi gak buru-buru.

Well, ini dia. Ternyata memang seru ya, mengetahui apa isi egg surprise. Yang lucu sih Kinder Surprise, isinya macam-macam dan bagus-bagus. Kalau yang Hello Kitty, ternyata dari 10 butir telur, empat isinya key chain dan sisanya figur gitu, ada yang sama pula.

SAM_0034

SAM_5225

IMG_6184

IMG_6186

 

Di dalam video ini, saat Vay buka boneka telur dan bilang ada giant egg, sebenarnya itu bukan isi sebenarnya ya. Isi sebenarnya ya yang di gambar atas itu, cuma kemarin dia memindahkan giant egg ke dalam situ, biar cocok katanya.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

Kecil-Kecil Punya SIM

Kesampaian juga saya bawa Vay ke Kidzania. Ih padahal Kidzania itu bukan mainan baru anak Jakarta, masa Vay baru dibawa maminya sekarang? Iya, maap. Waktu dan kondisinya baru pas sekarang. Umur sudah cukup banget, ada temannya, dan perginya bukan pas weekend or peak.

Jadi ceritanya, waktu kemarin ke Kidzania bareng field trip sekolah, Vay itu gak puas banget. Ternyata, selama di sana itu, dia – dan beberapa teman segrupnya – hanya sempat mencoba empat permainan saja. Soalnya Kidzania full, selain field trip dari Kinderfield, ada juga dari sekolah-sekolah lain. Jadi ya sudah pastilah mainnya gak kebagian semua. Kasihan amat, ya, saya pikir.

Makanya, mumpung lagi libur term, saya penuhi keinginannya ke Kidzania. Barengan dengan teman kantor yang dulu juga barengan ke Singapore, Vay dan Raisa pun jadi playdate deh ke Kidzania hari Jumat kemarin. Kita ambil yang sesi pagi, dari jam 9 s/d jam 2 siang, dengan harga tiket masuk sebesar Rp130,000 untuk anak dan Rp90,000 untuk dewasa.

Terakhir ke sini dua tahun lalu, dan kali ini ke sini pun saya masih tetap terkagum-kagum dengan Kidzania. Tidak salah memang disebut sebagai pusat rekreasi dengan konsep edutainment. Jadi di dalamnya dibangun menyerupai replika city yang sesungguhnya, namun dibuat dalam ukuran anak-anak. Jadi ada jalan raya, bangunan-bangunan, kendaraan-kendaraan seperti taxi dan bus, pom bensin. Keren banget pokoknya. Gak heran deh, anak-anak suka sekali bermain di sana, dan selalu ingin datang kembali. Vay itu, selama di sana, sumringah terus. Kayaknya dia bahagiaaaaa banget. Maklumlah, setelah sebelumnya gagal ke sini karena tidak kebagian tiket, akhirnya kesampaian juga. Belajar dari kejadian sebelumnya, mami pun sudah beli tiket sehari sebelumnya.
Hampir semua permainan di dalam dijajal Vay, namun memang belum semua sih. Jadi memang gak cukup sih ke sini hanya sekali. Minimal dua kali baru bisa puas cobain semua. Saya ikutin saja, Vay mau masuk ke mana. Biar dia tahulah, dia sukanya yang mana, gak sukanya yang mana. Ke library dia juga suka, diminta main piano sama petugasnya, dia OK saja. Dimainkanlah lagu pendek yang baru diajari di semester dua Yamaha ini. Dia juga masuk ke diskotik juga dicoba, nge-dance di dalam.

Ini dia foto-fotonya.

SAM_1054

SAM_1089

SAM_1102

SAM_1108
SAM_1112
SAM_1094

Dan ini sebagian short video yang di-shoot. Video lainnya bisa dicek di YouTube.

Pulang dari sini bawa oleh-oleh hasil kerjanya. Ada mie instan, bedak, wafer, buku tulis, juga handuk. Belum lagi kita sampai di rumah, dia bilang besok ingin ke sini lagi.

Mulai Hunting Sekolah

Dari akhir tahun lalu sebenarnya saya sudah pusing. Pusing cari sekolah untuk anak, bo’. Tahun depan kan Vay sudah masuk SD, ya, dan memilih sekolah itu ternyata tidak mudah. Sama sekali tidak sama seperti pergi ke toko emas, cari perhiasan sesuai selera dan isi kantong. Yang jadi pertimbangan utama saya adalah lokasi. Lokasi sekolah kalau … Read More

Aseekkk... jemur teruss....

Bye Bye Pelampung

Lama juga ya gak update blog. Keasyikan dengan Instagram dan juga kesibukan lainnya, agak mengalihkan perhatian saya dari blog.

Saya lagi happy. Kemarin ini, saya melalui sebuah momen berharga. Ya, memang menurut saya itu sangat berharga karena untuk seorang ibu yang bekerja, bisa dikatakan banyak momen perkembangan anak yang tidak bisa saya lihat di saat-saat pertamanya. Jadi saat mendapati momen ini tepat ketika saya ada di situ, rasanya bahagia sekali. Bangga. Sesuatu bangetlah pokoknya.

Jadi nih ya, Vay itu kan sudah bisa berenang sesedikit. Seperti yang dulu pernah saya ceritakan, saat umur tiga jalan empat tahun, Vay sempat setahunanlah trauma dekat kolam. Tidak mau kena air kolam, dan selalu menjerit kalau kita bujuk untuk mendekati kolam. Maka itu, ketika dia akhirnya berani dan atas keinginannya sendiri mendekati kolam untuk sekadar mencelupkan kaki, bagi saya itu kemajuan yang sangat berarti. Setelah itu tak lama kemudian dia kami ikutkan les renang di sekolah. Dan kemudian, akhirnya dia pun bisa juga berenang, pakai pelampung tentu saja. Bolak-balik dari ujung ke ujung sudah kuat.

Aseekkk... jemur teruss....

Aseekkk… jemur teruss….

Vay itu, bukan anak yang suka dibujuk-bujuk atau dipaksa. Bila ingin mengenalkan atau memintanya melakukan sesuatu, harus perlahan dan sabar menunggu hingga dia mau sendiri. Saya sih tidak masalah, karena pendekatan ke anak itu prosesnya beda-beda kan. Daripada memaksa dan malah membuatnya tidak suka, lebih baik dicari cara lain yang lebih smooth. Makanya saya tidak mau memaksanya menyelam atau membuka pelampung meski saya yakin dia pasti bisa. Selama beberapa bulan dia terus berenang mengapung dengan pelampung di lengan, dan bahkan tidak ingin mencelupkan kepalanya ke dalam air. Meskipun sudah diajarkan oleh gurunya di sekolah, dia tetap menolak untuk menyelam. Nah, sebulan terakhir ini, setelah masuk sekolah dan lanjut les lagi, kayaknya sih pelajaran menyelam itu menjadi lebih intens (mau gak mau kan ya, kan harus ada peningkatan) maka dia pun sudah bisa menyelam satu dua detik.

Minggu kemarin, sehabis pulang dari les electone, sorenya saya suruh dia berenang. Tujuannya sih biar dia capek, dan malamnya bisa cepat tidur. Setengah jam berenang, rencananya Vay mau udahan. Tapi karena masih pengen latihan menyelam, dia masuk lagi, kali ini tanpa pelampung lengan. Jadi dengan berpegangan pada pinggiran kolam, dia pelan-pelan masuk ke kolam, lalu muncul lagi. Melihat kondisi dia sudah tanpa pelampung, saya langsung memanas-manasinya, bilang kalau dia pasti bisa berenang tanpa pelampung.

“Gak mauuu! Nanti aja kalau Vaya udah besar,” dia mulai ngeles. Tapi terus saja saya coba bujuk. Saya bilang, meskipun tanpa pelampung dia tak akan tenggelam, selama kaki dan tangannya mengayuh. Coba dulu menyelam dan langsung kayuh kakinya, pasti bisa, kata saya lagi sok jadi guru renang.

Dan, akhirnya dia berani jugaaaa… Pelan-pelan dia menyelam lalu mengayuh. Dan, berhasil! Alhamdulillah. Buat saya, ini adalah momen yang sangat luar biasa buat saya karena momen first time-nya Vay ini bisa saya saksikan langsung. “Wah, hebaat…. udah kayak ikan, lho, Nak, berenangnya!” Dibilang kayak ikan, Vay makin semangaaat. Sampai batal naik ke atas! Udah gitu langsung nyelam dalam dan duduk di dasar kolam. Soknyaaa…. LOL.

Ini dia videonya. Ini si Vay sudah ngos-ngosan capek.


So proud of you, my sweetheart!

IMG_20130804_230303

Momen Mudik 2013

Bagi yang merantau ke Jakarta atau kota besar lainnya, mudik atau pulang kampung adalah hal yang dinanti. Selalu ada momen-momen yang hanya bisa didapatkan kalau kita mudik. That’s whyyy kenapa kita rindu untuk mudik. Ada yang tidak suka mudik? Ya barangkali ada, mungkin saja ada yang punya pengalaman gak enak jadi malas mudik, ya gak? Bebaslah. Hati masing-masing ini.

Nah, kemarin pagi, dengan menumpang pesawat Garuda, kami tiba di bandara baru yaitu Bandara Internasional Kuala Namu. Jadi ya, Bandara Polonia yang terkenal itu sudah resmi tidak beroperasi untuk penerbangan komersial lagi. Pertanggal 25 Juli 2013 kemarin, semua penerbangan komersial langsung dialihkan ke Bandara Kuala Namu ini. Kuala Namu ini sendiri terletak di Kabupaten Deli Serdang, sekitar 40km dari kota Medan.

Seperti apa sih Bandara Kuala Namu ini?

Yeahh… keren sih. Keluar dari pesawat pakai garbarata (kalau dulu di Polonia turun menjejak baru naik bus). Ruang tunggu di dalam juga mirip dengan ruang tunggu di Changi. Tapi, kalau dilihat-lihat lagi, bandara baru ini bisa dibilang baru 75% jadi dan sudah ‘dipaksa’ untuk beroperasi. Toiletnya saja belum ada sign board, mana toilet pria mana toilet wanita, dan meski toiletnya bagus, tapi di dalam becek. Petugas yang jaga hanya satu orang untuk keduanya, petugas laki-laki. Porlep tidak ada — which is ini bagus menurut saya karena kalau di Polonia dulu, porlep menguasai semua troley sehingga penumpang tidak kebagian.

Keluar dari bagian bagasi, ada dua petugas perempuan yang stand by untuk penumpang yang ingin bertanya. Bila kita membutuhkan informasi apa pun, mereka akan membantu, terutama informasi transportasi. Sudah pasti ya, namanya bandara baru, jauh dari Medan, transportasi tentu jadi pertanyaan pertama bagi yang baru tiba.

Nah untuk ke Medan, ada taxi, bus, dan kereta api bandara. Kalau naik KA Bandara, biayanya Rp80.000 dan turun di Stasiun Besar Medan. Kemarin sih kita dijemput sama Opungnya Vay, dan perjalanan dari bandara ke rumah — lewat jalan tol — sekitar 30-40 menit.

Bandara internasional ini secara umum masih berantakan. Kalau pesawat mah gak ada masalah ya, yang penting kan bisa mendarat dengan aman. Tapi untuk penumpang, pengantar, suasananya masih belum kondusif. Baru mau keluar parkir saja sudah ada tukang parkir liar. Driver kita tanya, “Bukannya nanti bayar pas keluar?” lalu dijawabnya begini, “Oh iya, itu lain. Ini sih kebijaksanaan saja.” Kebijaksanaan apa pulaaaak kawan ini? Kita berlalu saja, tanpa memberi tentu saja.

Yah. Bandara ini keren memang, dari luar. Tapi sebaiknya sih, ya, mumpung ini dibangun dari nol, tunggu benar-benar rampung deh baru beroperasi. Kan enak kalau menerapkan peraturan dan tata tertib saat sudah ready. Sayang nih kalau judulnya saja internasional tapi hal-hal remeh temehnya tidak internasional. Kalau kata ayahnya Vay, font yang dipakai untuk sign board juga tidak standar internasional, beda dengan bandara-bandara internasional lainnya.

Bandara International Kuala Namu

Bandara International Kuala Namu

Bandara International Kuala Namu

Main Kembang Api

Nah. Momen mudik yang berkesan setiap kali pulang kampung adalah, Vay bisa main petasan dengan saudara-saudaranya. Di Jakarta dia gak mau lho disuruh pegang kembang api. Tapi di sini dia berani. Dan kemarin malam, dia main terus gak berhenti-henti. Kayak gak ingin kehabisan waktu main dengan sepupunya hehe…

Yang lucunya, mbak-mbak yang kerja di rumah pengen banget foto-foto dan ngerekam si Vay. Gemes gitu mereka. 🙂 Belum tahu aja dia bagaimana Vay kalau udah keluar ‘singa’nya, bakal berubah pikiran kali ya, hahaha…

 

Akhir kata, saya dan keluarga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434H. Mohon maaf lahir dan bathin apabila ada salah-salah kata dan perbuatan selama ini.

DESPICABLEME2

Ba ba ba ba banana…

Sudah nonton Despicable Me 2? Saya belum. Tapi Vay sudah. Gaya banget ya dia. Dia nonton pertengahan bulan lalu dari sekolah, part of Summer Class activity-nya. Sayangnya parents tidak bisa ikut atau lihat-lihat, jadi saya tidak punya dokumentasi dan juga tidak bisa cerita dia ngapain aja saat summer class kemarin. Gak seru yah.

Nah. Vay jadi suka sekali sama minions. Juga lagunya, Banana Song itu. Sejak pulang dari bioskop, dia nyanyi-nyanyi gak jelas gitu meniru video despicable dari YouTube.

Wiken kemarin, saat sedang nonton lagi di YouTube, Vay nyanyi-nyayi lagi. Dan dia gak sadar kalau diam-diam direkam sama ayahnya. Kocak deh.

Ini videonya. Jangan dilupa set quality ke yang tertinggi. 🙂

Vay sudah KG B

Saat hari pertama masuk sekolah kemarin, saya memang tidak mengantar anak saya ke sekolah. Sebenarnya ingin sih, izin datang terlambat untuk mengantar anak masuk sekolah di kelas pertama, yaitu di Kindergarten B alias TK Besar. Tapi saya pikir, ah ini kan sama saja dengan KG A kemarin, sama-sama masih KG, tidak ada perubahan mencolok ini. … Read More

Yang Kecil dan Imut

Sabtu lalu, waktu datang ke acara Digital Community Hangout-nya Indosat di Pisa Cafe Menteng, ada lomba foto makanan dan mainan kecil-kecil gitu, salah satunya lego. Lucu-lucu deh, sampai banyak anak kecil yang sempat memaksa ingin minta. Soalnya ada Papoy juga. Vay juga tertarik ingin ambil mainan dan cup cake-nya, tapi tentu saja gak boleh ya … Read More

Pilih Gendong Anak atau Gendong Kamera, ya?

Saya punya hobi mencari tahu tren percakapan yang sedang hits di social media. Dan yang paling sering saya cari biasanya percakapan seputar fotografi, karena biasanya para jepreter tak pernah ketinggalan memamerkan hasil huntung photo-nya. Kalau sudah lihat foto-foto yang menarik buat saya, mood saya pasti jadi lebih bagus. Karena buat saya, semua panca indera juga … Read More

Wisata Tangkuban Perahu

Saya mau lanjut cerita tentang liburan keluarga kami minggu lalu ya. Setelah dari Trans Studio di hari Kamis, nah hari Jumat pagi kami meluncur ke Lembang. Mau ke Tangkuban Perahu. Eh, ada yang masih ingat kisah Tangkuban Perahu gak? Saya ingat, tapi sebelumnya sempat tertukar antara cerita Tangkuban Perahu dan Malin Kundang. Tiba di Tangkuban … Read More

Seperti Pasir

Secangkir teh susu : Menerangkan sesuatu pada anak tidaklah selalu mudah. Dan bila terus melakukan kekeliruan pun terasa tak nyaman. Seperti menginjak butiran pasir, meski kecil dan halus, namun menggelitik dan terasa tak tenak bila terus-menerus dilakukan. Minggu kemarin, saat saya dan anak saya sedang bergandengan tangan di lantai dasar sebuah mall, kami berpapasan dengan … Read More

Giginya sudah keluar...

Vay Cabut Gigi Susu

Gigi depan Vay yang sudah goyang sejak sebulan lalu, tidak kunjung copot juga. Padahal gigi barunya sudah tumbuh dan semakin naik ke atas. Nah, sehari sebelum berangkat ke Singapore, saya bawalah Vay ke dokter gigi di dekat rumah. Maksudnya agar gigi itu dibereskan sebelum berangkat. Vay juga bilang dia pengen ke dokter gigi. Ini kemajuan sih, karena Vay memang belum pernah ke dokter gigi, dan setiap diajak bicara mengenai dokter gigi dia sudah takut duluan.

Pertama tiba di klinik tersebut, terdengar suara jeritan anak kecil di dalam. Aihmak, kekmana ini, saya agak khawatir juga, lalu melirik Vay yang keningnya berkerut mendengar suara tangisan itu. Syukurlah saat tiba gilirannya, dia tidak ketakutan saat ibu dokter memintanya membuka mulut untuk diperiksa. Nah, sama bu dokter dibilang agar kita tunggu saja dulu sampai giginya copot sendiri, karena kemarin itu masih sedikit keras juga, takutnya si anak trauma karena harus ‘dipaksa’.

Ya sudah, kita tunggulah kalau begitu. Tunggu seminggu lebih, eh kok gak copot-copot juga ya. Padahal sudah rajin digoyang-goyang sama Vay. Diintip, gigi barunya sudah keluar dan gede, jadi sudah dua gigi depan yang goyang. Saya mulai khawatir, karena kalau dibiarkan takutnya nanti giginya menumpuk, atau jadi miring. Meskipun beberapa teman bilang biarkan saja, nanti bisa dirapikan pakai kawat gigi, saya gak mau ah. Merepotkan anak itu namanya. Pengennya kan anak giginya bagus, macam maminya ini…. ehm, dari kecil sampai tua begini (meski banyak yang berlubang juga) gigi saya termasuk rapi lho. *halah, puji diri sendiri… LOL.

So, akhirnya sore tadi Vay saya ajak ke klinik gigi di kantor. Kebetulan di kantor kan ada klinik, jadi kalau sakit tinggal naik ke lantai 23 dan periksa ke klinik, begitu pula kalau mau periksa gigi, sudah ada klinik gigi juga. Kalau di klinik, maminya Vay gak perlu keluar uang lagi, tinggal teken aja. Menghemat cash flow ya bo’, soalnya kalau ke dokter gigi di luar kan mesti dibayar dulu baru dirembers ke kantor, hehe…

Maka, jadilah Vay cabut gigi, saudara-saudara! Paginya saya sudah buat janji untuk sore, jadi Vay sepulang sekolah langsung nyusul ke kantor naik taxi dengan mbaknya. Syukurnya dokter yang praktek hari ini juga dokter gigi anak, jadi maminya agak tenang. Iyalah, ya….

Dan dia agak grogi kali ini, dan itu karena salahnya juga sih. Karena Vay nunggunya di dalam klinik – di dekat meja resepsionis kan kebetulan ada meja kecil dengan krayon, jadi dia sambil coloring di situ – dia jadi bisa mendengar suara mesin bor saat dokter bekerja. Jadi saat tiba gilirannya dan sudah berbaring di kursi kemudian oleh ibu dokternya disuruh buka mulut, eh dia malah mingkem. Untung dokternya sabar. Setelah dibujuk-bujuk, Vay akhirnya mau juga buka mulut.

Pertama-tama, oleh dokter diperiksa dulu rongga mulut dan gigi-gigi lainnya. Vay dipuji-puji giginya bagus tidak ada lobangnya, “Wah, ini pasti rajin sikat gigi, yaaa…” Tapi Vay tetap tidak senyum, haha…. takut dia.

Gigi baru di belakang yang sudah muncul

Kemudian, dokter menggosokkan gel di gusi bawah, yang bikin Vay tidak nyaman dan sempat rewel, bilang pengen minum, mungkin karena rasa dan baunya. Tapi disuruh tahan sebentar, dan langsung disambung dengan suntik sedikit saja untuk bius, dan di sini air mata Vay akhirnya jatuh. Menangis tersedu. Tapi sebentar saja, setelah itu disuruh kumur-kumur dulu baru berbaring lagi, karena biusnya sudah mulai bekerja. Vay masih ketakutan, dan tangan maminya dipegang erat banget, tidak mau dilepas. Pelan-pelan dokter pun mencabut kedua gigi bawahnya yang sudah goyang. Kerk… kerk… copotlah giginya. Horeee…!

Ini dia videonya: Tadinya mau panjang videonya, eh tahu-tahu waktu ngerekam pake iPhone, keputus karena storage gak cukup, wkwkwk… Jadi tuker hape dulu.

Saat dibius

Saat dicabut

Saat sudah selesai, semua yang ada di ruangan pun memberi applaus dan selamat pada Vay karena sudah jadi anak yang berani. Vay turun dari kursi lalu saya peluk dengan erat, memujinya pintar dan berani. Dari balik kaca pintu klinik, saya lihat dua teman saya – yang tadinya sedang periksa ke dokter di klinik rawat jalan sebelah — senyum-senyum melihat Vay. Hahaha… ternyata mereka pada ngintip, penasaran juga sepertinya ingin lihat Vay dicabut giginya.

Sebelum keluar, Vay disuruh pilih hadiah dari klinik gigi. Karena gigi yang dicabut dua, jadi dia boleh ambil dua hadiah. Dan sudah bisa ditebak, yang dia pilih adalah sticker. Sama dokter disuruh makan es krim biar cepat kering darah di gusi, tapi Vay sudah bertahun-tahun gak makan es krim, dan dia gak mau katanya. So, kita ke kafe di bawah, dan beli milkshake vanilla yang agak dingin sedikit, dan syukurlah Vay mau. Waktu ditanya, mana lebih sakit, suntik waktu ambil darah di dokter atau yang ini? Kata Vay, sama. Tapi gak sampai sepuluh menit sudah baik tuh, gak berasa apa-apa.

Nah, sudah kosong deh…

Lalu hadiah dari maminya apa? Hadiahnya adalah belanja di abang-abang gerobak keliling sebesar sepuluh ribu.

Singapore Trip – Menikmati Manisnya Hidup

Secangkir teh susu: Seperti kata iklan, manisnya hidup kita yang tentukan. Maka, begitulah. Hidup memang tak bisa statis, tak melulu senang, dan juga tak melulu sedih. Tergantung bagaimana menyikapi persoalan hidup ini, begitu bukan? Minggu lalu, saya ke Singapura lagi. Kali ini kami berangkat berlima. Saya, Vay dan mbaknya, bersama seorang teman dekat saya di … Read More

Vay dan Sahabatnya

Secangkir teh susu: Punya anak itu sama dengan sekolah, kita belajar terus. Bagaimana agar bisa jadi panutan dan bagaimana agar bisa memberi nasihat yang baik buat dia. Vay dan Sahabatnya Akhir minggu lalu, dapat laporan dari sekolahnya Vay. Jadi kan awalnya saya minta Vay dikasih worksheet tambahan untuk di rumah, soalnya di akhir bulan ini … Read More