Restoran GARDENIA

Nama tempatnya Gardenia.

Saya tidak begitu ingat nama jalannya apa, tapi kalau kita dari Jl. Dr. Mansyur, kira-kira 200mtr sebelum simpang jl.setia budi, di kiri itu ada deretan tempat makan, mulai dari Waroeng Steak, Warung Ijo, dan Mie Ayam Kaki 5 (groupnya Wong Solo). Nah, di samping deret2an itu, ada jalan kecil yang masuk ke dalam perumahan (tempat masuk ke SMK 8). Dari situ masuk aja ke dalam, nanti kira-kira 50mtr bakalan ketemu Gardenia. Dia itu di tengah-tengah rumah warga, kawasan perumahan menengah ke atas.

Tempatnya sih tidak begitu besar, tapi asri (sesuai namanya..), bersih, dan cozy. Mau bawa keluarga, pasangan, pacar, atau mau pedekate kesini cocok banged. Interior resto-nya terbuka gitu, hanya atap kayu tanpa sekat-sekat dinding. Di halaman juga disusun meja kursi, dan beberapanya bernaung di bawah payung tenda yang mahal.

Waktu saya kesana kemarin malam dengan teman-teman, lumayan ramai. Ini kali kedua saya ke Gardenia, dan seperti biasa, tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi. Sebagian besar pengunjung memilih duduk di halaman, dengan lampu temaram. *cuma sayang sekali, selama kami makan, lampu beberapa kali padam. Kayak di film horor aja, dikit-dikit mati lampu.*

“Mas, ada draught beer kan?” tanya teman saya. Si pelayan yang agak ‘melayang’, menjawab sopan.

“Emm… gak ada lagi.” Hah…! Terperangah kami semua. Tempat begini? Gak ada jual draught beer?
“Loh kenapa?”

“Iya, kami kena komplein….dikomplein tetangga…” jawabnya tersenyum.

Halahhh……..!!! Plis deh, kayaknya gak masuk akal banged gitu komplein soal draught beer di tempat makan begini. Jelas-jelas restonya itu bukan tipe kafe untuk mabuk-mabukan sampai pagi sambil main kartu atau makan tambul ayam. Kadang-kadang manusia tuh protes tapi tidak pada tempatnya.

“Tapi sebentar ditanya dulu ya…”

*Loh…. bisa toh???* Lalu ia berlalu ke belakang. Lama juga, kira-kira 10menit baru dia kembali. Ternyata beer nya ada, disimpan rapi di gudang. Dan kalau tamu mau pesan, bisa saja tapi dituang di gelas langsung. Mungkin menghindari ‘terlihatnya botol bir’ oleh para tetangga. Ck ck ck…!

“Ya sudahlah, gpp. Draught beer ya, satu.”

“Kalo Cocktail ada gak?” Pancing saya. Hihihihi… mana tahu ada tempat penyimpanan khusus juga gitu. Si anak muda melayang itu menggeleng. “Ya sudahlah, lime crush aja.”

Di tengah restonya itu ada 1 meja bilyard kecil, snook bukan namanya? *Maklum, bukan pebiliar*. Mejanya udah jelek, stiknya juga begitu. Beli 2nd kayaknya. Saya lihat dua orang tubang menguasai meja, gak berhenti-henti main.

Makanannya macam-macam, bervariasi layaknya kafe. Ada western food, asian food. Soal rasa.. hmm mungkin standardlah, namanya juga kalau kita datang kesini yang dibeli itu suasana deh, bukan rasanya lagi. Musik sendu mengalun pelan dari speaker. Buat yang lagi pacaran atau mau ajak mantanya comeback, bawa kesini aja deh. Siapa tahu CLBK. 🙂 Harga makanan juga standard sama kafe lainnya. Rp14rb-Rp.25rb-an untuk minuman nya.

Waktu lagi bekombur (bah, orang medan kalee.e…. hahahaha!!), ada seorang pria paruh baya masuk sama istrinya. Pakai baju batik, kayaknya baru pulang pesta gitu. Teman saya menoleh dan kaget, ternyata itu kabag di BRI tempat dia kerja. Dan wanita itu bukan istrinya. Istri si bapak soalnya tinggal di Jawa, dan seingat dia, bukan seperti itulah istri bos nya itu. Terpaksalah teman saya itu membuang pandang terus, takut kepergok bosnya. Waktu kami ajak main bili, dia menolak. Katanya, “Nanti dikiranya aku anak bandel pula gara-gara maen billiard.” Hahahahaa…. padahal bos nya sendiri gimana? Hayo..

Ah, gpp lah.. kan tadi udah dibilang, di Gardenia ini bisa bawa sapa aja, sapa tahu CLBK* Ya gak Pak? 🙂

Related Post

Menjajal Super Steak di Kebayoran Kemarin malam, saya dan teman-teman melipir ke suatu tempat, untuk bersilaturahmi dengan seorang teman – menjelang Ramadhan – sekaligus menikmati makan malam nikmat sebelum memasuki bulan puasa. Kemanakah kami? Yes! Kami melipir ke sebuah warung...
Mencoba Lamb Kebab di Nannini Katanya, pelayanan di sebuah restoran itu berbanding lurus dengan harga makanannya. Masa sih? “Iya, coba deh kalo lu makan di restoran fast food ayam goreng, udah syukur kalau kasirnya mau senyum. Belum lagi yang di belakang lu pasti merengut gak s...
Memasak Sate Sosis Kentang ala Chef Vay Bagaimana biar anak tidak bosan di rumah saat liburan? Ini pe-er banget, nih, karena liburannya pun di bulan puasa. Dibawa main ke mall, berat di ongkos kalau sering-sering. Supaya Vay gak bosan, ada beberapa hal yang saya coba akali. Pertama kita...
Nasi Jamblang Bu Nur – Cirebon Nasi Jamblang. Sejatinya adalah nasi yang dibungkus dengan daun jati, atau disajikan di atas piring beralaskan daun jati. Ini adalah salah satu ikon kuliner di Cirebon, dan salah satu yang sudah punya nama sehingga menjadi pilihan ketika kami ber...
Makan Steak di Angus House, bolehlah… Malam minggu lalu, setelah my baby tidur, saya dan hubby kabur ke SenCi, untuk nonton Dark Night. Sehabis nonton, saya diajak hubby nyobain makan steak di Angus House. Hubby saya ini penggemar steak, jadi kemanapun dia pergi selalu aja nyari resto s...

by

About Zizy Damanik | A Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

4 thoughts on “Restoran GARDENIA

  1. uam

    emang ga ada yang tempat yang perfect banged, maksudnya yang enak di mata, enak di hati, enak dilidah dan enak di kantong (ahahaha, yang terkahir penting juga kan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *