“Itik Penjaga” or “Angsa Pemilih”

Awalnya dari sebuah situasi.

Ada beberapa teman pria di kantor yang menganggap saya adalah “angsa pemilih”. Hmm sebenarnya saya tidak tahu apa istilah yang tepat, jadi saya putuskan pakai istilah “angsa pemilih” saja. Well, saya tidak tahu apakah selain mereka ada orang-orang lain lagi, tapi yang jelas beberapa orang ini memang terang-terangan mengungkapkan rasa penasaran mereka tentang diri saya, yang kadang berharap akan saya jawab, tapi lebih sering ya cuma dapat lengosan saja. Toh tidak semuanya harus dibagi kan?

Yang dimaksud dengan pemilih di sini adalah memilih hal-hal yang “seharusnya wajar untuk saya.” Bukan pilih-pilih teman, tapi pilih barang, pilih makanan, dan semuanya.

Saya sendiri tidak tahu kenapa mereka beranggapan begitu. Tapi saya rasa mereka hanya suka menduga-duga saja, menilai-nilai, seperti halnya saya menilai Cowok Burger King itu :D.

angsa pemilih

Contoh. Pernah suatu saat ternyata saya tinggal sendirian di ruangan karena semua sudah turun makan. Lalu saya pun bilang pada cowok-cowok itu, kalau mau makan ke bawah, ajak ya. Lalu mereka pun berdengung tak percaya. Katanya, aah yang bener? Dan kalaupun akhirnya kami jadi juga beramai-ramai pergi makan ke samping kantor, maka mereka akan langsung menentukan warung makanan yang akan kami masuki, sambil berkata dengan ragu : wah, gue bingung nih kalau yang ngajak makan si Zizy, takutnya gak ada yang masuk levelnya di sini. Saya cuma senyum saja, sedikit kesal juga karena ungkapan itu justru menunjukkan posisi saya sebagai “itik liar yang bergabung dengan bebek” di antara kami. Kejadian seperti ini kerap terjadi – kejadian dimana orang menilai saya sebagai orang yang pemilih dan mereka harus menyesuaikan diri dengan saya. Oh, come on! Saya heran. Kenapa? Kenapa tidak membiarkan saja semuanya berjalan natural? Saya bukan orang sakit yang makannya harus khusus, dan saya juga tidak dilahirkan dengan sendok perak di mulut (sampai sekarang pun saya hanya makan dengan sendok aluminium saja). Saya malah lahir dengan kesederhanaan alat, dan hanya pohon-pohon pisang sebagai saksi alamnya. Iyalah, saya kan lahirnya di Digul, Merauke sana. 🙂

Di kemudian waktu, saya mulai mengganti kebiasaan makan ke warteg dengan selalu membawa bekal makanan dari rumah. Kembali beberapa teman penasaran dengan menu saya. Mereka ingin tahu saya hari ini makan dengan apa, besok menunya apa, penasaran apakah menunya mewah atau tidak. Dan saya sepertinya membuat mereka kecewa ketika mereka melihat kotak bekal saya berisi makanan sederhana : ikan goreng sambel, tumis kangkung, dan telur rebus. Dan mereka akan bertanya lagi, kok kamu menunya itu-itu melulu sih? Gak bosen? Dan saya selalu menjawabnya dengan alasan singkat : aku orangnya gak terlalu milih kok. Tapi alasan sebenarnya apa? Alasan sebenarnya karena saya tidak begitu suka dengan menu di warteg atau rumkan padang dekat kantor yang penuh dengan santan dan bumbu-bumbu. Saya adalah penggemar fast food (kentang dan ayam goreng), tapi menu itu kan tidak mudah didapat di sekitar kantor saya. Dan semakin tua saya, lidah pun mulai ganti selera. Saya tidak begitu ngebet lagi dengan fast food, ssekarang lebih suka makan makanan rumahan untuk makan siang, karena itu lebih sehat. Dan kemudian seminggu sekali saya akan memanjakan lidah ini dengan makanan “tingkat tinggi”, mungkin bakwan malang, kwetiau, cheese burger atau wagyu. Itulah rekreasi lidah dan perut saya.

Lalu ada juga seorang teman yang usilnya minta ampun. Kalau menjelang-jelang mudik atau liburan, selalu saja ingin tahu. Naik pesawat apa, Zy? Lalu kalau dijawab Garuda, dia tanya lagi sekarang tiketnya berapaan Zy? Naik yang business class ya? Pertanyaan usil yang sangat mengganggu. Di suatu kejadian, saat kami sedang workshop di Batam, beberapa teman heboh berkumpul untuk menukarkan Rupiah ke SingDol — karena besoknya kami mau menyeberang ke Spore pakai fery — lalu saya datang, dan saya tanya berapa kursnya kalau saya ingin menukarkan US Dollar ke SingDol? Dan teman yang usil tadi ada di situ, lalu dia bilang, wah beda kasta nih. Buset deeeeh… kenapa ya, saya merasa itu bukanlah pujian tapi sebuah pelecehan. Sejujurnya saya paling benci orang yang sok tahu dengan diri saya.

Saat Blackberry baru keluar, mereka seperti “mewajibkan” saya membeli seri termahal. Ya jelaslah saya gak mungkin beli yang high end, masa mau saingan sama suami? Buat  saya suami tetap harus menduduki level tertinggi dalam hal apapun, jadi biarlah dia pakai yang high end, saya yang di bawahnya saja. Ketika saya beli Notebook keluaran China, mereka mengernyitkan kening. Dalam pandangan mereka, saya seharusnya pakai BB dan notebook highest price, catat ya, highest. Jadi bukan base on fungsi, tapi price. Saat saya bilang saya mengganti BB Curve saya yang hancur dengan BB Gemini, suara melengos — sedikit mengejek — itu terdengar. “Yeeaakk..Gemini…!” Alasan saya pilih Gemini simpel. Ada anak kecil di rumah yang hebohnya minta ampun, yang tidak bisa ditebak tindakannya. Dia bisa diam-diam mengambil ponsel lalu dibanting. Sayang kan kalau udah beli yang mahal terus dibanting? Menyembunyikan hape? Mana bisaaa…secara sudah lengket di tangan itu BB. 😀

Saya sih tenang-tenang saja mereka pada kasak kusuk. Saya suka bilang, kalau lo pake notebook mahal, tapi gak ada earning yang lo dapat untuk bisa bikin lo balik modal, untuk apa? Pada akhirnya toh harga notebook dan ponsel akan terjun bebas. Beda kalau beli tas atau dompet bermerk, lo gak akan rugi karena modelnya akan selalu ada dan harganya juga cenderung naik karena mengikuti kurs dollar.

Ini semua hanya masalah prioritas, dan prioritas saya sekarang jelas tidak sama seperti dulu lagi. Sekarang saya bukan gadget mania lagi, masa-masa pamer gadget sudah lewat bagi saya. Kalau dulu saya pakai Smartphone paling mahal, sekarang saya memilih pakai BB dengan seri terendah. Bukan karena suami melarang saya, toh uang saya ya uang saya sendiri. Saya bisa beli kalau saya mau (pakai cicilan 0% selama 6 bulan, hehee..). Tapi kok rasanya sayang, ya. Saya ingin bisa kaya sekarang dan juga kaya saat tua. Amin, amin, amin.

Kembali ke masalah usil tadi, akhirnya saya menyerah. Ya sudahlah, biarkan saja mereka dengan pikirannya. Seluruh alam ini sudah paham benar tentang sifat manusia. Salah satu sifat manusia adalah suka bergunjing dan usil dengan urusan orang lain. Ketika rasa penasaran tidak terjawab, maka hati dan pikiran mulai mencuatkan jawaban-jawaban praduga, yang kemudian menjurus pada isu-isu dan kemudian jadi gossip. Saya juga suka bergunjing sesekali, tapi saya tidak pernah mengusili orang. Hanya sekedar memuaskan rasa ingin berbincang saja. Sesama wanita memang suka sharing, dan sharing itu melegakan, itu saja.

Teman-teman saya itu, ah sudahlah. Saya tahu mereka tidak kenal saya karena saya orang baru di sini, jadi rasa penasaran itu membuat mereka bermain-main sendiri dengan pikirannya. Mereka tidak tahu bahwa saya orang yang sederhana dan down to earth. Saya orang yang bisa menyesuaikan diri dengan tempat. Biarpun saya juga suka barang-barang mahal, tapi saya pun suka hunting baju-baju murah. Saya bisa pergi ke kafe or resto terkenal untuk makan steak mahal, tapi di rumah saya hanya sarapan pagi dengan nasi plus telur dadar campur kecap. Biarpun kalau nongkrong di kafe minumnya Corona, saya juga penggemar berat teh. Walaupun kalau ke Foodlouver makannya kentang goreng, tapi saya juga suka sekali singkong goreng. Ya tergantung mood dan situasi saja. Ini bukan soal menjaga gengsi dan martabat di depan orang banyak — lagian urusan apa martabat dengan selera perut? hihihi — tapi menciptakan kebiasaan untuk setiap suasana yang berbeda adalah penting bagi saya. Kecuali kalau emang lagi gak ada duit ya makannya gado-gado, gak ayam goreng, hahahaa….

Dan siapa bilang saya tidak bisa jadi backpacker? Gini-gini saya lebih sering jadi backpacker lho ketika masih single dulu. Tamat SMA saya pergi liburan ke Jogja hanya berdua dengan teman dengan uang saku 400 ribu dari papi saya. Kami berdua naik KA ke Solo, singgah ke rumah teman dulu baru lanjut ke Jogja. Belum ada transfer-transferan uang waktu itu (apalagi ATM), jadi uang di kantong memang harus dihemat. Pulang ke Jakarta pun sisa uang di kantong hanya 20 ribu, untuk jaga-jaga beli makanan kalau bus berhenti. Saya berlibur ke Parapat juga menyetir mobil sendiri dari Medan bersama 3 orang teman. Saat ke Kuala Lumpur dengan teman-teman, saya yang duluan maju ketika harus berhadapan dengan preman teler di sebuah plaza jelek di sana. *thx to deniya karena sudah menjerumuskan kami, hahahaa… Nah, saya lebih sering jadi “itik penjaga” daripada “angsa pemilih” kan? Hihihi….

Sekarang kalau ada yang usil dengan urusan saya, saya pasti akan balik manas-manasin hihihi. Misalnya ada yang ngejek-ngejek, yaahh payah, pake BB kok yang murahan punya? Saya akan jawab, biarlah BB gue paling murah, toh masih lebih banyakan duit gue dari elo semua. Kalau dikomentarin lagi, makanan lo gak keren amat, ikan mulu. Maka saya akan jawab, tapi lo lihat kan siapa yang paling sehat waktu medical check up? Hahahahaa… Pokoknya menghadapi orang usil begitu ya harus begitu, biar langsung pada mingkem. Uangku kan bukan uangmu. 🙂

So, baik menjadi “Itik Penjaga” atau “Angsa pemilih”, menurut saya semua itu adalah proses beradaptasi dan bertahan hidup yang dilalui setiap orang. Sejauh mana kau bisa bertahan dengan semua cobaan dan sejauh mana kau bisa berjuang, maka begitulah karaktermu dibentuk. Jadi saya bisa jadi Itik Penjaga, dan saya juga bisa menjadi Angsa Pemilih. 🙂

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

63 thoughts on ““Itik Penjaga” or “Angsa Pemilih”

  1. elz

    Kak..payah kali cari kawan di kota besar ini ya..eh maksudku sahabat…he3. Mereka penuh dgn judgement.. Apalagi klo dah tanya aku tinggal dimana…klo aku jawab cipaganti..bola mata pasti berubah..trus nanya..rumah sendiri or mertua…emang itu smua penting bgt ya? Hiks.. Aku semakin merindukan kalian kak….

  2. zee, mungkin karena kamu tuh terlihat keren, mirip artis! (ini sanjungan dariku lho..bukan pelecehan). soalnya dari fotomu aku lihat di blog, kelihatan begitu. jadi mereka menduga mungkin segala produk yang dikau gunakan semuanya high-end, termasuk apa yg dikau makan/minum. mungkin mereka men-cap dari penampakan fisikmu. biarin aja, biar mereka menilai sendiri, terserah aja. yg pentingkan dikau enjoy dg kehidupan sehari2.

    • Zizy

      waduh yen… kamu ini ada-2 aja. artis apanya. klo temenku baca ini, pasti pada ketawa.
      di kantorku mah justru aku standard banged, konvensional saja. ga heboh2 gaya ikutin tren kayak kebanyakan ce. bajuku itu2 mulu sampai kawanku hapal :)). foto blog ku biasa2 saja yen, mgkn agak keren krn kan hrs tarok yg keren utk di blog hahaha…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *