Biak, Kota yang Sa Cinta

Juli tahun lalu, Julie seorang sahabat blogger mengajak saya ikut menulis tentang kenangan masa kecil bersama rekan blogger lainnya, untuk kemudian kami cetak dalam bentuk buku, self published via Leutikaprio. Setelah sekian lama, saya sempatkan juga untuk membagi tulisan saya itu di sini, di blog tercinta ini. Saya menyukai kenangan tersebut, dan ingin membaginya pada pembaca tehsusu. Karena menurut saya, “tak ada yang lebih hidup dari sebuah kenangan.” Here we go. 🙂

………… 000 …………

Kenanganku akan Biak kembali terkuak ketika beberapa bulan lalu aku pulang ke Siantar. Waktu itu abangku yang sedang datang ke rumah papi-mamiku, membuka Facebook. Dia panggil aku agar datang mendekat. Katanya, “Si, lihat ini. Ini aku lagi chatting sama si Dian, yang dulu di Biak.”

“Dian?” tanyaku tak percaya. Aku mendekat dengan rasa penasaran. Lalu abangku melanjutkan, “Baca nih, Ge (1). Katanya, ini Evra abangnya cici kan? Ko jawablah.” Aku pun membaca percakapan mereka di Facebook. Haha.. aku baru ingat kalau waktu kecil dulu aku suka membahasakan diriku dengan “Cici” dan bukan “Sisi” kalau bicara dengan abang atau papi-mamiku, mungkin itu sebabnya Dian lebih ingat “Cici” daripada “Sisi”.

“Kok bisa ketemu, Ge?” tanyaku lagi. Abangku tidak menjawab keherananku. Dengan sombong dia bilang bahwa dia juga berteman dengan Agus Bonai, tetangga kami di Biak juga. Huh. Aku tidak terima sebenarnya. Maksudku, abangku itu sebenarnya baru berkenalan dengan Facebook, tapi kok cepat banget dia sudah ketemu dengan teman-teman kami 25 tahun yang lalu. Luar biasa! Aku harus mengakui bahwa dirinya memang jauh lebih supel dibanding diriku dalam bergaul.

“Sisi, Dian.. bukan Cici, hehehe… Ini su Sisi yang bicara,” jawabku di window chat. “Oh iya, Sisi. Lupa, hehe… sekarang dimana?” Dan percakapan kami pun masih berlanjut beberapa lama sampai akhirnya aku harus pamit karena ditoel-toel oleh anakku.

…………..

Hari-hariku sebagai anak kecil di kota Biak tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Pagi sampai siang sekolah, pulang sekolah tidur siang sebentar, dan sore harinya bermain. Rumah keluargaku berada di Jl. Yos Sudarso, itu adalah deretan rumah sederhana untuk pns. Di ujung jalan, ketika sudah mau dekat ke airport, sudah jadi komplek perumahan TNI AU. Seorang abang papiku juga tinggal di Biak, tapi rumahnya agak jauh dari kami.

Tetangga depan rumah kami adalah keluarga Suryono. Si Dewi itu tadi salah satu anaknya Bu Suryono, sebaya denganku tapi badannya bongsor. Di sebelah kiri rumah Bu Suryono tinggal keluarga Bonai. Anak laki-lakinya, Agus, teman main abangku. Kakak-kakak perempuan Agus sudah jauh umurnya dariku, jadi aku tak pernah main dengan mereka. Nah di sebelah kiri rumahku adalah rumah temanku yang juga bernama Dewi, dan umurnya agak jauh di bawahku. Kita bilang dia Dewi Koperasi karena bapaknya kerja di Kantor Koperasi. Di sebelah rumah Dewi Koperasi, ada seorang lagi anak perempuan kecil temanku main, panggilannya Neneng. Kalo Neneng ini bajunya selalu bau pesing, mungkin masih suka ngompol dan jarang diganti bajunya sama maknya. Maklum anak ibunya banyak, mereka berlima atau berenam gitu deh. Oh iya, di samping rumah Bu Suryono, ada sepetak rumah kecil yang dihuni keluarga muda, orang Toraja. Anak perempuannya Helda, juga temanku main, rambutnya panjang dan suka sekali bernyanyi.

Nah, di sebelah kanan rumahku, ada jalan setapak untuk menuju perumahan lain di belakang, sekaligus juga untuk tembus ke jalan di sisi lain. Di samping jalan setapak itu rumah temanku, orang Papua asli, namanya Marcella (aku lupa famnya apa). Yang aku bilang perumahan lain di belakang itu adalah perumahan warga lokal. Aku tak tahu persis apa profesi mereka yang tinggal di belakang, tapi kalau hari raya tiba, mamiku sering memberi penganan ini itu untuk dibagi ke mereka. Jadi aku mengasumsikan mereka dari taraf keluarga yang perlu dibantu. Ada seorang temanku di situ, namanya Katie Wambrau. Berbeda dengan Marcella yang rambutnya keriting tapi masih bisa di sisir, rambut Katie kribo asli, jadi selalu dipotong pendek.

Yang rumahnya berbelakangan dengan pantai adalah rumah Dewi Suryono dan rumah Agus Bonai, jadi kalau katong mo main ke pantai, biasa lewat dari situ saja. Karena Biak itu kota karang, jadi jalan undakan untuk turun ke pantai pun karang semua. Jarak rumah dengan pantai cukup jauh, demi keamanan. Tinggi daratan dengan pantai sekitar tiga meter lebih, dan kalau air sudah pasang tingginya bisa sampai dua meter lebih. Patokannya adalah pulau karang kecil di tengah sana – yang kalau pas air meti (2) terlihat seperti jamur – sore hari semua tertutup air laut, yang terlihat hanya daun-daunnya saja. Sering kali pula ada kapal ikan kecil yang terdampar sampai ke pantai kami itu pas air meti, entah dari mana nyangkutnya.

Ini bukan foto pantai di dekat rumah, tp satu pantailah di Biak. Saya pinjam gambar ini dari beingindonesian.tumblr.com. Buat sang fotografer, saya pinjam ya, karena saya tak punya stok terbaru foto pantai Biak...

 

(Updated : 14/01 : ini foto pulau kecil di pantai belakang rumah Agus & Dian, saya dapat dari teman abang saya tadi pagi... 🙂 )

Pantai inilah tempat main favoritku. Kalau tidak mandi-mandi (katong biasa bilang berenang di pantai itu mandi-mandi) ya cari ikan-ikan kecil atau bia (3). Aku paling suka mencari bia. Bia paling banyak di dalam karang-karang kecil berpasir. Pasir dikorek-korek, dapat. Duh senangnya. Ukuran bia gak besar-besar amat, ya kecil-kecillah diameter 2-3 cm, warnanya hijau lumut. Bia-bia ini kami bawa pulang ke rumah lalu direbus dan dimakan. Hmm… sedaapp! Saat pindah ke Medan, barulah aku kenal dengan yang namanya kerang cangkang putih yang keras itu. Bukan karena di Biak tidak ada, tapi memang di pinggir-pinggir pantai tidak ada.

Tapi aku tak pernah bisa dapat bia atau keong besar yang cantik itu. Yang cangkangnya warna coklat tua dengan uliran motif menarik dan sering dipakai untuk hiasan di rumah-rumah atau lukisan. Hanya mereka yang berasal dari keluarga nelayan yang tahu dimana dan bagaimana menemukan keong cantik itu. Aku iri setengah mati setiap kali lihat ibu-ibu nelayan lewat dengan keranjang mereka yang isinya keong cantik dan duri babi.  Sementara aku hanya bisa mendapatkan ikan pasir dan bia, atau paling top ya ikan warna-warni sebesar setengah kelingking yang hidup di kolam-kolam kecil yang tercipta akibat meti. Kalau mau dapat ikan warna-warni yang agak besar, kau harus menangkapnya dengan jala, karena ikan itu jarang bisa dipancing. Tapi kalau yang lebih besar lagi tentu saja harus ke tengah laut sana baru bisa dapat. Tapi aku pernah sekali dapat ikan biru sebesar kotak korek api. Ah, sayang benar rasanya mau digoreng. Sekecil itu masuk kuali kan langsung gosong.

Ikan poro bibi, adalah ikan favorit anak-anak di pantai. Favorit untuk dijadikan bulan-bulanan. Itu lho, ikan yang kalau terantuk sesuatu langsung menggelembung. Orang luar menyebutnya ikan buntal, tapi tong di Biak bilang itu ikan poro bibi alias ikan perut buncit. Kalau sudah dapat ikan poro bibi, mulai deh itu ikan kita kerjain, entah ditendang atau dikorek-korek pakai kayu. Bluuuusssss.. begitu si ikan membuntal langsung ditendang-tendang kayak bola, haha… tertatih-tatihlah si ikan mencari kolam untuk menyelamatkan diri.

Tapi pantai tak sepenuhnya aman. Selain sampah logam berat yang dibuang sembarang, tentu saja ada penghuni laut yang harus diwaspadai. Kami takut kena duri babi, karena katanya kalau kena duri babi tra bisa sembuh, langsung bisa mati. Entah siapalah yang bilang seperti itu, yang pasti kami anak-anak jadi berhati-hati sekali karena tak ada yang mau kaki atau jarinya tertusuk duri babi. Tapi duri babi belum apa-apa, karena ada lagi yang paling kami takuti, yaitu  ular laut belang-belang bernama moni-moni. Ada dua warna yang aku ingat, hitam putih dan merah putih. Ular ini tidak ada di pantai meti dekat rumah kami, karena dia hanya ada di air yang cukup dalam. Kalau di pantai dekat rumah itu, batas pantai meti adalah pulau karang yang macam jamur itu, karena selebihnya sudah masuk ke laut yang cukup dalam dengan batu-batu karang besar, tempat segala macam binatang laut berada. Tak sembarang anak berani kesana, hanya nelayan-nelayan saja.

Pernah aku dan keluarga rekreasi ke Pantai Bosnik. Sepupuku lagi mandi-mandi di tepi pantai pakai ban, dalamnya hanya sepinggang anak kecil. Dan moni-moni itu melintas di sampingnya, tapi sepupuku itu tidak tahu (untung saja). Aku langsung lompat keluar, tidak mau mandi lagi. Aku berlari di darat mengikuti kemana moni-moni itu pergi. Waktu itu ada Katie juga. Dasar pemberani, dia berdiri santai di pinggir undakan dengan tangan bertumpu di lututnya, dan moni-moni itu berdiri keluar dari air laut! Ular gila itu menjulurkan kepalanya ke arah Katie seperti kobra, tapi Katie cuek saja! Jarak wajahnya dengan moni-moni hanya setengah meter. Aku menjerit, “Eh Katie, ko su gila ka? Nanti dia gigit ko itu!”

Aku akan ceritakan satu rahasia kecilku ya. Sebenarnya papi mami tak suka kalau aku dan abangku setiap hari main di pantai. Soalnya kalau sudah ketemu pantai, kami pasti lupa daratan. Apalagi kalau sudah libur sekolah, pagi-pagi su lari ke pantai. Terus karena mainnya suka jauh-jauh sampai di tengah atau ke ujung-ujung sana, Mami pun takut kalau tiba-tiba anaknya kebawa ombak. Jadi kalau sudah sore hari kami belum pulang, Mami akan berteriak dari rumah, memanggil kami dengan suara tinggi. Kami di pantai mendengar panggilan itu, tapi tetap saja tak peduli hehe.. Akhirnya tanteku datang ke pantai, menjemput kami. Nah, Papi yang paling keras soal aturan kapan boleh main ke pantai. Karena semakin besar kami makin keras kepala, Papi juga makin keras memberi hukuman. Pernah suatu kali aku ketahuan main ke pantai siang-siang sepulang sekolah – padahal itu jatahnya tidur siang – akhirnya aku dihukum. Papi mengikatku di tiang kayu garasi pakai tali tambang. Aku malu sekali waktu itu, karena Dewi Koperasi melihatku dengan iba dari teras rumahnya. Begitu juga Katie yang ada di situ. Papi cuek saja duduk di dalam rumah mengamati. Untunglah tak lama mamiku pulang dari Puskesmas. Saat masuk ke halaman dengan motor dinasnya, Mami jelas kaget melihat anak perempuannya diikat di garasi. Aku ingat Mami mengomel pedas pada Papi karena tersinggung anaknya dihukum seperti itu. “Enak saja ikat-ikat sa pu anak,” kata mamiku. Dan aku pun terlepas dari tali tambang. Nah itulah salah satu rahasia kecilku : diikat di garasi pakai tali tambang. Hehe…

Selain main ke pantai, permainan anak-anak khas anak kampung juga kami lakoni. Mulai dari rengen-rengen (4) di pohon giawas, jadi petualang cilik yang pergi mengejar biawak di dekat aiport sana, sampai sok jadi orang dewasa yang ingin ikut-ikutan makan sirih. Kejadian terakhir ini termasuk yang tak terlupakan. Tahu gak, waktu aku kecil, entah kenapa teman-teman yang lebih muda dariku itu suka sekali ikut denganku. Kayak Dewi Koperasi, Neneng, Helda, selalu ikut aku kemana-mana. Papiku bilang aku ini kayak kepala suku saja. Nah, suatu hari,  aku penasaran pengen tahu rasanya makan sirih, karena sering melihat ibu-ibu Irian makan sirih kok kayaknya nikmat bener. Jadi aku pergi ke warung, beli buah pinang dan sirihnya. Aku bilang pada teman-teman, kali ini kita mau coba makan sirih. Oke, semua mengangguk. Di tengah jalan raya, kami berdiri membentuk lingkaran, masing-masing sudah siap dengan satu sirih di tangan. Semua deg-degan. Aku memberi perintah, “Tidak ada yang boleh buang ya.” Pasukan mengangguk. Lalu gigitan pertama kami lakukan, dan sirih pun masuk ke dalam mulut. Astagaaa….! Ternyata rasa sirih itu pedas bukan main. Tak sampai lima detik ada di dalam mulut, aku langsung meludah. Dan semua temanku pun mengikuti. Hahaha…. dasar kepala suku tak bertanggung jawab ya aku ini :D.

Selain pantai, aku paling suka dengan yang namanya hari raya. Kenapa? Karena di Biak, hari raya berarti open house. Kalau Idul Fitri tiba, semua keluarga muslim open house, dan siapa saja boleh datang. Tetangga, kaum dhuafa, tua-muda, anak-anak, siapapun boleh. Anak-anak muda biasa datang ke rumah untuk minum-minum bir atau jus buah, sambil bacarita deng Papi. Begitu pula saat hari Natal tiba, kita yang muslim ganti berkunjung. Pernah waktu natalan ke rumah teman Papi, aku memecahkan patung hiasan pohon Natal. Pulang-pulang kena hajar Papi. Hihihi….

Aku dan teman-teman paling suka natalan ke rumah seorang pejabat pertamina, soalnya rumah dinasnya besar sekali, masakannya juga beda punya, lalu kalau kami pulang suka dikasih oleh-oleh. Pernah di suatu sore, aku lagi jalan-jalan dengan papiku naik motor. Dari jauh aku lihat beberapa teman sedang berkunjung ke rumah pejabat pertamina itu, padahal kemarin sore kita su ke sana mo. Dasar usil, aku langsung teriak : “Woeeee…. cari kueeee….” dan teman-temanku langsung mengacungkan tinju padaku. Hahaha…

Ah, hampir lupa. Hari raya berarti hari berbagi. Kalau Natal tiba, mamiku suka mengajakku pergi ke sebuah toko untuk beli snack import. Aku tak ingat nama tokonya tapi kata Papi yang jual itu orang cina Makassar. Biasanya mamiku membeli beberapa kaleng untuk teman-teman dekatnya di kantor dan saudara-saudara sepupunya dari Opa. Biarpun keluarga kami bukan orang berada, ternyata Mami bisa juga menyisihkan penghasilannya untuk membeli buah tangan sekedarnya untuk mereka yang dekat dengannya. Salut aku dengan mamiku itu. Aku ingat malam itu sepulang dari toko itu, aku terinspirasi juga untuk memberi bingkisan Natal untuk Katie. Sudah beberapa lama kami tak lagi main bersama karena Katie harus membantu orang tuanya sepulang sekolah. Malam itu aku membeli sebungkus wafer coklat, lalu aku bungkus dengan kertas minyak ungu dan kuberi pita merah. Malam itu, aku panggil-panggil Katie dari balik pagar kawat di belakang rumah kami. Sayang Katie sedang tak ada di rumah, jadilah ‘Hadiah Natal’ yang sederhana itu kutitipkan saja pada tantenya. Sampai sekarang aku masih penasaran, apakah Katie menerima titipanku itu? Soalnya aku tak pernah lagi bertemu dengannya setelah itu.

Banyak sebenarnya kenangan tentang Biak yang tersimpan di hatiku. Kalau aku ceritakan semua, mungkin tak akan selesai-selesai ya :).

Sungguh aku bersyukur atas semua kenangan masa kecilku yang sangat manis dan indah. Saat kecil dulu mungkin semua terasa begitu biasa saja dan normal, namun saat aku melihatnya sekarang – saat umurku sudah sama dengan umur Mami ketika beliau baru pindah ke Medan – aku sadar betapa semua kenangan ini memberi esensi berarti dalam perjalanan hidupku dan abangku. Dari kami kecil hingga kami sekarang sudah jadi orang tua. Ah, terima kasih Papi, Mami, Tante, untuk semua yang sudah diberikan pada kami. Luv u..!

________________

1. Ge = Noge, panggilan di Irian sana yang artinya sobat.
2. Meti  = air surut.
3. Bia = kerang kecil.
4. Rengen-rengen = berayun-ayun di dahan pohon.

………… 000 …………

Kenangan Masa Kecilku

Nah, itu cerita saya yang ada di buku tersebut. Di dalamnya ada banyak cerita kenangan masa kecil dari teman-teman blogger lainnya, yang bikin kita tersenyum, sedih, terharu, kemudian tertawa. Semua cerita itu ada di buku Kenangan Masa Kecilku, yang bisa dibeli via online di sini.

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

40 thoughts on “Biak, Kota yang Sa Cinta

  1. anto

    Lam kenal “teh susu”. Hemmm Biak, jd inget dulu wkt kecil, dulu di aspol samofa biak. Ada gambar terbaru ga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *