Gengsi Gede-gedean

Menurut saya, laki-laki cenderung lebih gengsian daripada perempuan. Saya sering alami kejadian dimana pria memaksa agar terlihat keren di depan wanita. Contohnya ketika beberapa waktu lalu saya bertemu dengan seorang pria untuk transaksi jual beli. Saya yang pertama kali mengusulkan agar bertemu di Sarinah saja, tepatnya di Tony Jack.

Saya tiba duluan dan kemudian pesan makanan, fried chicken dan kentang goreng. Setengah jam kemudian baru orangnya datang. Dia lelaki tinggi kurus berkulit gelap. Pakai kemeja putih, celana jeans, dan kacamata hitam bertengger di matanya.

Dia cuma pesan segelas minuman kecil saja. Dia duduk di depan saya dengan gaya ‘negro’, menyalami saya, pasang cengiran lebar di muka hingga seluruh gusinya terlihat, tanpa mencopot kacamatanya. Tangannya bergerak-gerak tanpa henti setiap kali dia berbicara.

Lalu kami mengobrol basa-basi sambil bertransaksi. Dia lihat paper bag di meja dan bilang, wah kenapa makanannya dibungkus? Oh, tidak, ini ayamnya kelebihan, jadi saya take away saja. Tidak pesan makan? Tanya saya. Oh, gua gak biasa makan di sini. Gak ngerti gimana menu-menunya gitu lah. Biasanya sih gua makan di depan sana, di itu loh .. Burger King.

Oh, okelah, kata saya dalam hati. Kebanyakan gaya nih orang. Saya bukan mau under estimate, tapi kok kayanya nih orang belagu banget ya, pengen terlihat keren dan gaul kayaknya. Gak mungkinlah lo bisa tahu Burger King, kalau lo gak pernah kenal McD (sebelumnya belum bernama Tony Jack).  Secara hukum sebab akibat pun, penggemar fast food yang main ke Sarinah pasti pernah makan di McD, kan McD yang pertama kali hadir di situ. Burger King kan baru. Kalau pesan di McD aja gak tahu, gimana dia mau pesan menu di Burger King, yang levelnya jelas di atas McD?

Gara-gara dia ngomong begitu, saya (yang pecinta berat fatsfood) jadi menilai-nilai apa yang ada di dia. Jam tangan, biasa aja. Kacamata, apalagi. Kemeja putih, standard. Dia bilang, dia tadi terjebak macet, tapi tadi sempat main ke kantor kakaknya di dekat situ. Katanya agak bingung sedikit mencari-cari pintu ke arah Tony Jack. Oh okelah, atur aja hahahaha…. Tadi katanya biasanya makan di Burger King di Sky Building, masa iya masuk ke Sarinah aja masih bingung cari pintu.

Lalu dia bilang, dia bekerja dengan teman-temannya sebagai konsultan IT. Saya tetap mendengarkan dengan baik. Apa lo kata deh, yang penting notebook gue jadi lo beli, hahahaha… Finally, ketika dia selesai mengambil uang dari ATM dan menyerahkannya pada saya, saya bilang padanya sebelum notebook diambil, notebook mau saya mau format ulang dulu. Dia terbengong pasang tampang bloon, kayak gak ngerti maksudnya apa. Saya katakan sekali lagi maksud saya, lalu dia nyengir sambil tangannya tetap bergerak-gerak. “Oooo.. Ya ya ya…! It’s okay. Gue lagi gak konsen nih, kurang tidur.” Hmm. Iyalah, suka hati kaulah, bilang aja gak ngerti, hahahahaa…..

Saya sering lho ketemu lelaki yang gila gengsi. I mean, sebenarnya dia gak mampu untuk begitu, tapi demi gengsi dia berusaha mati-matian agar bisa terlihat berkelas. Bualannya luar biasa, khayalannya juga tingkat tinggi sampai-sampai orang lain — bahkan mungkin dia sendiri –  tidak tahu mana bagian yang benar dari ceritanya.

Untuk apa bersombong-sombong atas sesuatu yang tak pernah dimiliki/dilakukan? Kalau memang biasa makan di warteg, so what? Kalau memang gak pernah makan di McD, ya bilang saja toh. Standard sajalah. Sometimes banyak pria menduga bahwa wanita akan terkesan dengan gaya sok cool mereka, plis deh, gak tahu aja kali ya kalau di belakang mereka, cewek-cewek pada ngetawain, hehehee…

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

108 thoughts on “Gengsi Gede-gedean

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *