Gitar Terindah

Kemarin malam, ketika saya dan suami sedang di jalan untuk pulang ke rumah (minus Baby Vay, karena baru sembuh jadi sementara Baby Vay gak boleh jalan-jalan dulu), di tengah jalan – mobil kami sedikit terhalang oleh tiga sepeda motor. Hujan agak rintik-rintik, tapi sepertinya mereka tidak berusaha bergegas. Mereka jalan beriringan, dengan formasi yang sama. Pengemudi motor & pembonceng. Ketiga pembonceng memangku softcase di tengah-tengah. Dari bentuknya saya tahu isinya kalo bukan gitar elektrik pastilah gitar bass. “Wah anak band nih, mungkin mo ngisi acara di mana gitu pas malam mingguan.” Begitu kata saya ke suami.

Dan sebelum suami saya sempat menekan klakson (saya tahu suami saya paling hobi klakson-klakson), saya udah merepet duluan. “Jangan diklakson, kasian. Nanti kaget, jatuh pula gitarnya.”

“Buat anak band, gitar dan bass itu harta yang paling berharga. Harus dijaga bener-bener dengan sepenuh jiwa.” Suami saya pun mengurungkan niatnya mengklakson. Saya rasa suami saya ngerti kenapa saya merepet begitu.

Pikiran saya pun melanglang ke masa lalu. Yoi, gini-gini saya dulu pernah jadi gitaris band loh. Band saya dulu anggotanya semua cewek, kecuali drummer kita saja yang cowok. Yup secara lagu yang dimainkan juga kenceng jadi kita pilih pakai drummer cowok aja, karena biasanya staminanya kuat dan jago jaga tempo.

Balik ke soal gitar. Saat baru mulai ngeband, saya dibelikan gitar elektrik Yamaha oleh papi saya. Katanya gak usah yang mahal-mahal, Yamaha juga udah cukup, toh main gitarnya juga eSTeDe, belum sejago si Yngwie. Kekekek… Gpp, biarpun cuma gitar Yamaha, saya tetap gak malu ngeband. Beda dengan beberapa teman (band-2 borju) yang gengsi kalo gak pake gitar merk terkenal.

Sampai suatu ketika, saat sedang nonton MTV, saya lihat video klipnya Meredith Brooks dan langsung jatuh cinta melihat gitar yang dia pakai. Itulah awalnya saya jatuh cinta pada Telecaster — begitu nama si gitar solid body keluaran Fender itu. Dimata saya Fender Tele itu terlihat begitu indah dan memukau.

telecaster.jpg

Di jaman itu (sekitar thn 97 - 99 gitu) studio-studio musik di Medan belum ada yang provide Tele, jadi saya juga belum tahu seperti apa sound Telecaster . Teman-teman juga gak ada yang punya Telecaster. Rata-rata pakainya Strato.

Akhirnya, karena malu minta pada papi saya, saya pun usaha sendiri dengan cara menabung sebagian uang jajan bulanan saya, biar bisa beli si Telecaster. Hasil manggung yang tidak seberapa (malah sering tidak dibayar, yang penting kami bisa nampil dulu biar makin dikenal orang) juga saya simpan.

Sebenarnya ada satu toko alat musik di Medan yang menjual Fender Tele, tapi mereka cuma punya display, itu juga sudah kebaret-baret. Harga juga mahal (udah baret tapi gak mo diskon!) dibanding seri Strato yang juga available.

Untunglah saya ada teman — yang sekarang sudah jadi produser — yang punya channel ke distributor. Gak perlu lama menunggu, akhirnya saya dapatkan gitar favorit saya, gress mulus dan dengan harga khusus pula. Dan pilihan saya tidak salah. Saya makin jatuh cinta ketika memainkannya. The sound is so smooth and powerfull tone. Even hanya sanggup beli yang standard punya, tapi rasanya bangga banged loh. **sampai-sampai tidur pun sambil meluk tu gitar 🙂

Well… karena satu dan lain hal, saya berhenti main band, dan sekarang si Tele tergeletak dalam hardcase-nya di kamar saya di Medan. Beberapa teman sudah minta agar si Tele di hand over aja ke mereka, toh saya juga udah pensiun main band.

Tapi rasanya gak tega melepasnya. Biarpun harganya murah (murah jika dibanding dengan keadaan saya yang sekarang udah bekerja dan bisa beli intrumen musik yang lebih bagus dan lebih mahal), tapi saya tetap ingin menyimpannya. Bukan cuma demi kenangan saat ngeband saja, tapi juga demi menjaga kenangan bagaimana kerasnya usaha saya untuk membelinya. J

Bagaimana dengan teman-teman? Ada yang punya pengalaman mirip dengan saya? Punya sesuatu yang enggan dilepas karena melalui perjuangan untuk mendapatkannya?

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

94 thoughts on “Gitar Terindah

  1. deefirlo

    gitaris cewek (apalagi ‘pengguna’ telecaster) saya mengidolakan anda……kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen….*_*

  2. Wah tak nyangka mbak zee jago main gitar, anak band pula. Heheherhe
    Kalo cerita soal gitar, saya janji akan menceritakan pengalaman gitar saya…. Tapi saya tak pernah pingin jadi anak band. So saya hanya gila sama giatar saja. Hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *