Kapur Barus Addicted

Punya kegilaan belanja suatu benda umumnya pernah dialami setiap orang. Ada yang gila belanja baju atau sepatu atau aksesoris, lalu ada juga yang hobi borong mie instant atau borong coklat.

Tapi kalau saya, saya punya kebiasaan gila belanja macam-macam pewangi. Pewangi disini maksudnya bukan parfum ya, tapi yang saya maksud disini adalah pewangi pakaian di lemari, pewangi kamar mandi, pewangi mobil, dan teman-temannya. Setiap belanja bulanan, pewangi ini pewangi itu menjadi item terbesar yang menghabiskan budget belanja.

Sebut saja, untuk mobil, dari dulu saya biasa taruh pewangi sampai empat. Tiga buah pewangi model jepit-gantung saya pasang disetiap lubang ac, kemudian satu pewangi model pot saya taruh di bagasi. Satu lubang AC sengaja saya biarkan kosong, karena khusus untuk mengalirkan udara ke saya. Suami saya sampai bilang, mobil saya kayak mobil homo, yang dimana-mana ada pewangi. Ih padahal gak ada hubungannya kan. Setelah pindah ke Jakarta, karena sering tuker pakai mobil dengan suami, pelan-pelan pewangi mobil saya pun dieliminasi hingga tinggal satu saja. Hiks.

Berikutnya toilet’s perfumme. Kalo ini mah kegilaan saya dan suami. Kami bisa berlama-lama di depan rak kamper untuk memilah-milih kapur barus dan teman-temannya. Mulai dari kapur barus yang model bulat, yang model donat, yang ukuran gede, ukuran kecil, warna putih atau warna-warni, semua dibeli. Belum lagi kalo beda merk, sengaja semua dicoba biar tahu yang mana yang paling tahan lama dan enak baunya (douh emang ada gitu kapur barus baunya enak?). Sampai-sampai pernah waktu saya lagi memeriksa laci tempat penyimpanan alat-alat mandi, saya temukan banyak benda-benda ajaib yang belum terpakai, yang pernah kami beli hanya karena lapar mata.

Selain kapur barus atau kamper, suami saya tuh paling hobi beli pewangi untuk digantung di lubang toilet duduk. Yang wangi inilah, wangi itulah, apalagi kalo modelnya unik. Langsung masuk trolley belanja.

Kalo saya, saya sering sekali beli beberapa jenis pewangi dan pembersih dengan nama yang berbeda, hanya karena penasaran dengan kemasannya, padahal ujung-ujungnya fungsinya sama : untuk membersihkan dan merawat keramik. Ck ck ck.

Dan saking gilanya dengan kapur barus, semua kamar mandi di rumah saya taruh kapur barus, padahal ada dua kamar kosong yang jarang ditempati. Lalu seperti biasa, saya pasti maunya taruh sebanyak-banyaknya kan. Maunya pasang tiga buah di kamar mandi, eh diprotes suami. Dia bilang dua saja udah bikin dia pusing. Soalnya selain kapur barus donat, ada juga kapur barus bulat yang diletakkan di sudut dekat tong sampah dan dekat lubang air. Ya sudah, saya ngalah pasang dua saja.

Nah, suami saya pun tidak mau kalah set. Dia pilih yang lebih canggih. Pewangi otomatis.  Yg bisa disetel beberapa menit sekali menyemprot. Nah si pewangi ini dipasang di atas dinding dekat wastafel, sebagai bentuk penindasan terhadap kapur barus milik saya yang tergantung dibawahnya. Nah, gantian saya yang mengeluh pusing kalo cium bau jeruk dari pewangi otomatis itu.

Tapi biasa dong, gak ada yang mau kalah. Masing-masing tetap bertahan bahwa pewanginyalah yang paling oke. Maka jadilah kamar mandi kami itu baunya campur-campur. Ada bau kapur barus dan juga bau jeruk. Kalo si pewangi otomatis lagi istirahat menyemprot, kapur barus berkuasa. Tapi kalo sudah mulai semprot-semprot, ya gantian kapur barus gak tercium baunya.

Sampai akhirnya beberapa waktu lalu doa saya terkabul. Si pewangi otomatis itu berhenti menyemprot, teman-teman! Bukan cairannya yang habis, tapi memang mesinnya yang mati. Huhuhu….

Saya pun pura-pura mengingatkan suami kalau jagoannya sudah keok, tapi suami saya datar-datar saja. Kayaknya dia gak berminat lagi mengganti. Katanya males, soalnya rusak mulu (sudah dua kali diganti lho karena rusak), rugi-rugiin aja beli mahal-mahal tapi gak tahan lama. Hihihihih…..

Dalam hati saya langsung teriak kesenangan. Akhirnya, akhirnya… akhirnya kapur barus saya juga yang menang..! Yippiieeee..!!

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

51 thoughts on “Kapur Barus Addicted

  1. Wah, Mbak…. Saya terharu banget baca artikel ini. Secara saya juga penggila kapur barus. Aromanya seger, mengusir kecoak pula. Saya juga termasuk yang suka taruh kapur barus di setiap sudut, sampai 2-3 buah. Adik saya suka protes, tapi saya cuek.

    Bahkan di dalam lemari juga, pasti saya kasih 1-2 bongkah yang besar.

    Akirnya, ada yang seide sama saya, Mbak. Hihihi, salam kenal ya kalau begitu ^^

    • Zizy

      Hahahaa….
      Wah ketemu sesama penggila kapur barus. Iya dong, secara baunya seger pula :D…
      Salam kenal ya.. Makasih udah blogwalking 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *