Perempuan itu Boros

Jadi perempuan itu boros sekali ya. Boros biaya, boros tempat. Pernak-perniknya banyak. Ingat cerita outbond saya kemarin? Banyak yang tanya, cuma menginap semalam saja kok musti bawa koper? Saya kurang jelas menuliskan ukuran kopernya barangkali ya. Karena koper merah saya itu sejenis luggage bag, koper ukuran kecil dengan muatan yang juga sedikit. Karena bahannya dari plastik padat yang keras, kelihatannya sih gede padahal sebenarnya muatannya sedikit. Hanya cukup untuk 1-2 hari menginap.

Lalu kenapa bawa koper? Bukan ransel? Satu hal yang saya suka kalau pakai koper adalah : semua barang bisa tersusun rapi pada tempatnya. Setengah bagian untuk pakaian, setengah bagian lagi untuk barang lainnya seperti sepatu kets, perlengkapan mandi, make up case, charger handphone, catokan rambut, dan kotak obat kecil berisi inhaler, obat flu, obat sakit kepala, dan tensoplast. Laci yang ada di lapisan atas tutup kopernya juga bisa diisi dengan barang-barang lainnya, seperti tisu gulung, tisu basah, dan plastik-plastik untuk tempat pakaian kotor. Sisa space sedikit nantinya bisa diisi kalau nanti ada belanja oleh-oleh.

Sementara kalau bawa ransel, berarti harus ada item yang dikurangi, belum lagi beratnya pundak memikul ransel muatan besar. Dan kemarin kan berkemahnya juga bukan di hutan-hutan, jadi masih wajar kok bawa koper tarik. Kalau beneran di hutan, saya pasti bawa ransel besar yang juga bisa digeret :D.

Bukan pakaian yang banyak (karena kalau nginap di hotel saya lebih suka laundry), tapi pernak-perniknya. Saya sih tidak suka merepotkan orang lain jadi lebih baik semua keperluan dibawa sendiri. Teman-teman kemarin ada yang tidak bawa shampoo dan odol, ada juga yang kakinya lecet jadi butuh tensoplast, dana ada juga yang pinjam catokan. Banyak orang yang tidak mau repot tapi berharap pada orang lain.

Itu satu contoh dari boros tempat. Contoh lainnya tuh, lemari pakaian sudah tidak muat menampung baju dan tas. Lemari sepatu juga tidak cukup karena sepatu dan selop terus bertambah. Sekarang saya lagi pesan lemari sepatu khusus dan juga lemari pakaian sembilan pintu, hahahaaa…. eh tapi lemari pakaian sembilan pintu kan dipakai berdua dengan hubby. Cuma porsi terbesar tentu saja untuk saya, karena ada satu pintu khusus untuk menyimpan tas. Lemari lama akan dipindah ke belakang untuk menyimpan barang-barang yang jarang dipakai. Nah, sudah masuk ke bagian boros biaya kan? Actually untuk urusan tas dan sepatu saya tidak termasuk boroslah, masih standard, artinya memang saya beli bukan karena lapar mata tapi memang sesuai kebutuhan. 🙂

Kemarin malam, saat sedang memilih-milih lipstick yang mau dipakai keesokan harinya, saya buka container empat laci yang berisi kosmetik. Pengen ngecek isinya sekaligus mensortir. Ternyata isinya banyak sekali, saya saja sudah tidak ingat kapan belinya. Ada blush on tiga macam warna, dua bedak compact yang tidak terpakai karena salah pilih warna, tiga kotak eyeshadow berwarna warni, enam pot eyeshadow single color (ada pulak eyeshadow  warna bronze glitter, kok bisa ya saya beli warna itu, padahal dipakai juga gak pernah. Kayak penyanyi dangdut aja kan? Hahahaa), lipliner (yang gak kepakek), empat pinsil eyeliner (dua warna coklat, satu hitam, satu putih), dua buah maskara, dan lipstik yang jumlahnya lebih dari sepuluh. Belum termasuk kuas dengan berbagai ukuran, untuk wajah, mata, kelopak mata, dan bibir. Lalu ada kutex yang juga jumlahnya ada enam warna. Eh tapi kalau kutex gpp ding, karena saya suka.
Lalu saya beralih ke meja. Di atas meja rias, ada botol-botol pelembab, body lotion, dan lotion jerawat. Merknya macam-macam, ada Oryflame, L’occitane, Body Shop, The Faceshop, sampai yang mahal Ysl. Beberapa sudah teronggok setahun lebih, karena lagi-lagi hanya saya pakai beberapa kali, karena tidak cocok di wajah. Sekarang saya pakai cream dari dokter muka, jadi pelembab-2 itu tak tersentuh lagi.

Saya memang sedikit boros kalau sudah berurusan dengan kosmetik (well, semua wanita juga begitu kayaknya ya? :D). Sebenarnya saya bukan penggila make up, karena wajah ini tidak tahan dimakeup, langsung berjerawat kalau udah lama ketutup bedak. Makanya saya pakai cream dari dokter kulit, itupun masih jerawatan juga :D.

Cuma saya suka sekali dengan eyeshadow, lipstick, dan juga suka kutex. Makanya sering gak tahan kalau udah jalan-jalan ke mall lalu masuk ke toko yang jual perawatan wajah dan tubuh. Apalagi kalau lagi diskon. Seringkali saya tergoda untuk membeli kosmetik ini itu hanya karena suka dengan bentuk wadah dan warnanya. Padahal belum tentu cocok di wajah. Duh, dompet benar-benar robek.

Tapi sebenarnya belakangan saya mulai kapok juga sih. Saya baru sadar kalau saya terus-terusan membeli eyeshadow dengan warna yang kurang lebih sama : coklat dan bronze! Lipstick juga begitu. Itu-itu melulu warna yang dibeli, hanya beda merk dan beda warna dikittt aja. Belum habis satu sudah beli lagi, begitu terus.

Kemarin malam, saya langsung melakukan pensortiran. Yang sudah tidak pernah dipakai lagi langsung diungsikan. Kalau yang masih layak pakai biasanya saya tawarkan ke bedinde, mau atau tidak.

Lumayan, setelah dilakukan pensortiran, kontainer langsung kosong separuhnya. Gara-gara melihat kantong plastik di tangan — yang berisi kosmetik yang disisihkan — baru deh sadar betapa banyaknya uang yang sudah saya habiskan hanya demi kosmetik, tapi akhirnya malah tak terpakai. Ck c ck. Borosnya…

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

118 thoughts on “Perempuan itu Boros

  1. jd ngelirik ke lemari sendiri yg udah tumpah ruah…wah mungkin udah waktunya sortir2 baju yg enga kepake nih. or time for a new closet? ehehheheh

  2. Ria

    wanita…wanita…
    kalau udah liat diskon pasti deh…

    kalau mbak zeekosmetik kalau aku sepatu…wakakakakaka 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *