Polisi Gopek

Sudah sering berurusan dengan polisi gopek? Atau belum pernah sama sekali? Tahu kan maksud saya? Polisi gopek adalah orang yang berjaga di U Turn atau persimpangan-persimpangan padat, kerjanya membantu mengatur lalu lintas kendaraan yang lewat, dengan harapan mendapat imbalan recehan. Kalau dulu sih, dikenal dengan istilah Pak Ogah, karena bayarannya ya cepek alias 100 perak. Bertahun-tahun kemudian, ketika cepek tidak lagi jadi recehan yang berarti (beli kerupuk saja gak dapat), imbalan pun naik menjadi lima ratus perak, atau gopek. Waktu pertama kali pindah ke Jakarta, saya melihat banyak sekali Polisi Gopek. Jalan besar, jalan sempit, jalan perumahan, pasti ada Polisi Gopek. Kecuali daerah Ring 1 tentu saja.

Dekat rumah saya, ada jalan kecil yang harus saya lalui setiap hari kalau mau ke kantor, itu pagi-pagi sudah ditongkrongi oleh anak-anak muda setempat – sekitar belasan dua puluh tahun gitu. Jalan kecil berbentuk tusuk sate itu sekaligus pula pembatas wilayah antar RT, dengan rumah-rumah sederhana berderet di sebelah kiri, dan di kanannya rumah-rumahnya sudah mulai bagus. Anak-anak muda yang nongkrong di situ kebanyakan anak belakang, begitu warga situ menyebutnya. Area belakang jalan komplek adalah perumahan padat yang dihuni oleh warga asli situ. Umumnya bekerja sebagai sopir, tukang listrik dan bangunan, tukang ojek, atau jualan keliling. Pagi sampai siang, anak-anak muda tadi aplusan dengan adik-adiknya. Ya mungkin siang hari mereka kerja di suatu tempat, lalu anak-anak kecil pun gantian ikut-ikutan coba mengais rejeki jadi Polisi Gopek di jalan kecil itu.

Sayangnya, sepengamatan saya, justru hampir tidak ada orang yang memberi recehan pada mereka – termasuk saya – setiap kali ada kendaraan lewat situ. Kalau saya, alasan utamanya adalah, jalan itu sebenarnya tidak perlu pakai pengatur. Walaupun tahun-tahun lalu kaca sudut di tepi jalannya hilang (sekarang sudah dipasang lagi yang baru – dan semoga tidak hilang lagi), tapi jalan itu hanya ramai pada jam-jam tertentu saja. Dan penghuni komplek sudah hapal setiap tepi jalannya bila harus berpapasan dengan mobil dari depan. Jadi kita sudah bisa atur sendirilah, gak perlu dibantu. Saya rasa penghuni komplek juga beralasan yang sama. Jalan itu akan betul-betul berantakan dan perlu bantuan hanya bila ada ‘orang luar’ masuk ke dalam komplek mencari jalan tikus demi menghindari macet di luar. Kebutaan mereka terhadap jalan tersebut butuh bimbingan, daripada nantinya malah berselilih di tengah jalan.

Ojeker merangkap Polisi Gopek

Nah, keluar dari jalan kecil tadi, ketika mau keluar dari Jalan Abadi dan masuk ke Jalan Kolonel Sugiono, itu adalah persimpangan ramai yang memang butuh bantuan. Ada yang mau menyeberang, ada yang mau muter. Nah Polisi Gopek di sini adalah Ojekers setempat – yang mangkal di dekat pos hansip. Jadi levelnya sudah lebih tinggi dari para abege tadi. Mereka yang beroperasi di jalan besar biasanya lebih pede dalam menyetop kendaraan yang melaju, dengan resiko dapat tertabrak juga tentu saja. Umumnya mereka kerja berpasangan, masing-masing menjaga dari satu sisi. Di simpang ini, kalau jalanan benar-benar ramai dan tidak bisa diterobos sendiri tanpa bantuan Polisi Gopek, jangan sungkan untuk mengulurkan tip gopek pada mereka. Ojekers ini juga beroperasi sepanjang hari, jadi mau pagi mau siang mau sore, pokoknya selama mereka lagi kosong, ya mereka bergantian jadi Polisi Gopek. Walaupun jalanan sepi dan sebenarnya si pengendara mobil juga tidak butuh bantuan, mereka tetap beroperasi, berharap pengendara mobil berbaik hati mau memberi tip.

U Turn akan sepi mendadak kalau Polisi Gopek sudah melihat motor atau mobil polisi dari kejauhan. Lari semua, takut diangkut :D. Di jalan depan itu, kalau sudah jam 7 pagi kadang suka ada polisi yang datang untuk mengatur lalu lintas. Kalau macetnya luar biasa parah (semisal karena banjir), Polisi Gopek akhirnya mau juga bahu membahu dengan polisi lalu lintas tanpa terlalu berharap dikasih gopek sama pengendara.

Yang hampir selalu memberi tip adalah kendaraan-kendaraan besar seperti truk, bus pariwisata (padahal sudah ada keneknya juga) atau mobil box. Beda kalau bus kota model Kopaja atau Metromini, mau ada Polisi  Gopek atau tidak, keneknya tetap turun tangan ikut menyetop kendaraan lain biar mereka bisa lewat. Dan so pasti tidak keluar uanglah. Kalau pengendara motor saya lihat jarang sekali yang memberi tip, lagipula tanpa dibantu polisi gopekpun, motor bisa dengan lincah menyalip-nyalip.

Kalau saya melihatnya dari sisi pengguna jalan, kehadiran Polisi Gopek di tengah jalan sebenarnya membahayakan dirinya dan pengguna jalan. Tidak jarang mereka ini terlalu nekat pasang badan ke tengah jalan sehingga kendaraan yang tidak menduga harus berhenti mendadak. Tempat seperti Klender dan Jl. Kayu Putih, Polisi Gopeknya termasuk rawan tertabrak. Mungkin karena uangnya juga lumayan, jadi sedikit nekat tidak jadi masalah. Belakangan malah kaum perempuan ikut nimbrung ngetem di U Turn. Ibu-ibu, remaja putri, berlomba mengais rejeki jadi Polisi Gopek. Yah, siapa cepat dia dapat, begitu barangkali. Bertahun-tahun tinggal di Jakarta, ternyata semakin banyak pengangguran yang aku lihat.

Mensiasati para Polisi Gopek tidak begitu susah. Kalau kita memang mau ikhlas memberi, kita kasih. Tapi kalau memang sedang tidak ada gopekan di laci koin, no problemo. Cukup angkat saja jempol Anda dan kasih senyum terima kasih pada mereka. Tapi berhati-hati pada Polisi Gopek yang merangkap sebagai pemalak juga wajib ya. U Turn di Cideng Tanah Abang itu Polisi Gopeknya rata-rata pemuda setempat dengan mata orang habis teler. Biasanya mereka pasang tampang galak agar orang takut. Sedikit waspada saja. Seperti kata saya tadi, kalau memang ada gopek ya kasihlah. Kalau tidak ada, kasih jempol saja sudah cukup. 🙂

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

50 thoughts on “Polisi Gopek

  1. dulu namanya polisi-cepek. skrg dah ganti nama jadi polisi gopek yah… beberapa taun lagi ganti nama lagi jadi polisi goceng kali yah (goceng = 5ribu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *