Termos

Gara-gara teman sebelah meja mengucapkan kata “termos” kemarin siang, saya jadi teringat dengan benda satu itu. Termos adalah benda yang — kebanyakan — pasti ada di setiap rumah, karena fungsinya untuk membuat isinya tetap hangat. Umumnya sih termos yang kita kenal adalah termos untuk mengisi air panas, agar sewaktu-waktu butuh air panas, tak perlu repot menjerang air. Tapi termos untuk nasi atau makanan kecil juga ada, fungsinya pun sama, untuk menjaga agar makanan tetap hangat.

Saya termasuk penggemar termos, terutama termos makanan ukuran kecil  yang bisa dipakai untuk membawa makanan Vay. Jadi kalau mau pergi-pergi, bisa diisi sup makaroni kesukaannya, dan ketika mau makan, dibuka dulu sebentar biar menjadi cukup hangat untuk dimakan. Selain beberapa termos makanan, juga sebuah termos air panas warna pink untuknya.

Jadi ingat waktu dulu masih tinggal sama orang tua di Medan, termos air panas kami di rumah cuma satu. Dan rutin diisi ulang minimal 2 kali sehari. Kami memang tidak pakai dispenser, sudah terbiasa dari dulu selalu masak air untuk air minum sehari-hari. Dan memang tak pernah jadi masalah, karena air keran di Medan cukup bagus. Jadi kalau termos sudah mulai rusak, baru deh mami pergi ke pasar beli yang baru.

Saat mulai berkeluarga, barulah saya mulai sedikit modern. Mulai pakai air mineral di dispenser di rumah, jadi tak perlu lagi repot masak air. Dan karena gampang sekali kalau mau air panas tinggal tampung, saya tak pernah lagi menyediakan termos air panas. Paling hanya ada satu saja untuk bedinde di belakang. Cuma ya itu, pakai dispenser ini kalau tidak rajin dibersihkan, malah jadi kotor. Dan kejadianlah beberapa tahun lalu. Air mineralnya kotor sekali. Saya sampai bolak-balik bongkar dispenser dan dibersihkan, tapi tidak membantu. Pengen getok bedinde yang bertugas urus air minum ga mungkin juga kan? Udah gitu kita gak punya termos, kan? Alhasil saat itu juga kami putuskan untuk melengserkan dispenser dari rumah, daripada nanti lalai tidak dibersihkan oleh bedinde. Dan untuk keamanan juga, karena ada anak kecil di rumah, takutnya iseng dimainin ntar bisa kesiram air panas (meskipun sekarang ada yang bisa dikunci ya).

Kami pun ganti, pakai semacam gentong air yang terbuat dari stainless, yang bisa muat 9 liter air. Lalu untuk air panas, kami pakai termos listrik (benar gak itu namanya?). Tinggal dicolokin, dan air dimasak cukup mendidih kemudian stay warmed. Untuk airnya, tetap pakai air mineral galonan. Termos listrik ini benar-benar canggih menurut saya, karena panasnya juga tidak sampai benar-benar mendidih. Tapi ternyata termos panas yang canggih itu tidak cukup tahan banting. Setelah dipakai 2 tahun, dia keok. Entah apa penyebabnya, yang pasti alat itu gak bisa manasin air lagi. Dicarilah gantinya, yang kapasitasnya lebih besar dan dengan merek yang lebih bagus. Yang dibeli hubby canggih punya, karena bisa diset panasnya mau seperti apa. Kalau mostly untuk bikin susu anak, maka ada settinggannya, 70 derajat celcius. Dan kalau untuk teh, sekitar 80 derajat. Saya pilih settingan general saja, 98 derajat.

Cuma lagi-lagi termos listrik itu keok (padahal mereknya lebih bagus dari yang sebelumnya). Keoknya bukan karena mesinnya rusak, tapi karena bagian dalamnya itu mengelupas. Jadi berkerak, dan keluar bersama air panas saat ditampung. Sudah dicoba bersihkan dengan jeruk nipis, tapi keraknya masih saja ada dan terus mengelupas.

Ya sudah. Si termos kami pensiunkan. Tidak dibuang, tapi akan dibetulin dan dibersihkan kerak-keraknya nanti. Dan hubby pun pergi lagi berburu termos air panas. Kali ini hubby bilang gak mau lagi beli yang mereknya kecanggihan, takutnya kita salah kaprah saat membersihkan dan malah rusak. Dan sebagai pengganti, akhirnya dibelilah pemasak air panas kayak yang di restoran-restoran hotel itu. Yang untuk masak kopi atau teh itu. Pemasak air yang ini lebih konvensional, tidak pakai tombol apa-apa untuk setting panas, kecepatan tampung, dll. Cuma ada satu tuas saja di bawah untuk membuka aliran air panas dari termos ke gelas. Lalau mau isi air juga gampang, karena tutupnya bisa dilepas (tidak seperti yang sebelumnya, hanya bisa diangkat tapi tidak bisa dilepas sehingga mau menuang air dari galon agak repot). Kekurangannya tentu saja bukan anti panas. Jadi jangan sampai kita menyentuh badan termos dengan tangan telanjang, karena panasnya bukan main. Pemasak air ala hotel ini juga bisa memanaskan sewaktu-waktu bila dirasa airnya sudah kurang panas.

Pemasak Air Listrik

Tapi sesekali saya juga merindukan masak air di kompor minyak tanah, seperti jaman dulu. Air masak itu beda rasanya dengan air mineral. Rasanya lebih natural menurut saya, perpaduan rasa air dengan sedikit bau asap. 🙂

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

77 thoughts on “Termos

  1. Klo aku malah masi masak air buat bikin teh ato coklat haha ga punya termos dan dispenser nya gak dicolokin kabelny krn ada anak kcl

  2. AtA

    ..
    saya dirumah masih pake termos djadoel Mbak, cuman buat bikin teh aja sih.. jadi gak perlu panas banget.. ^^
    ..
    wew pemasak air-nya keren tuh, pasti mahal tuh.. 🙁
    ..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *