Jang Bicara Takaruan

Saya punya banyak kisah masa kecil yang lucu kalau diingat-ingat. Kisah yang menurut saya lucu salah satunya adalah kisah “Jang Bicara Takaruan” berikut ini.

Keluarga kami di Biak, tinggal di Jl. Yos Sudarso, di deretan rumah-rumah dinas untuk para pns. Nah, selain saya, abang, dan papi mami, juga ada oom dan tante saya yang ikut tinggal di rumah juga. Tante saya ini kakak dari mami, memang diajak mami saya untuk tinggal di rumah kita saja daripada di Merauke sendirian jauh dari saudara. Dan suaminya, namanya Oom Bob, ikut pula bersama kami. Kerjanya ya serabutan, kalau lagi ada proyek ya jadi mandor, kalau tidak ya di rumah saja.

Karena papi mami saya bekerja, maka sehari-hari saya dan abang saya dijaga oleh tante dan oom saya ini. Tante saya urusannya masak memasak dan juga memandikan jikalau kami berdua sedang “kecelakaan” alias kaki luka-luka. Kaki luka ini biasa kami dapatkan kalau habis mandi-mandi di pantai. Entah kena batu karang, atau sampah-sampah berat seperti tong atau drum karatan. Pokoknya selalu luka. Jadi kalau mandi kan harus duduk di kursi agar kaki yang ada luka itu tidak basah, nah biasa mami dan tante bergantian mengurus kami berdua. Eh, tahu gak, dimandikan sih gak masalah buat kami, yang jadi masalah adalah saat luka harus disiram yodium pertama kali oleh mami saya. Wadauuww…! Perih bukan main.

Nah, kalau Oom Bob ya tugasnya mengawasi. Tapi saya suka sebel sama Oom Bob, karena menurut saya suka sok galak. Kalau lagi ada papi saya di rumah, langsung kayak takut gitu, entah sembunyi di kamar atau pergi kemanalah. Tapi coba kalau papi lagi gak ada, dia langsung serasa bos besar. Apalagi waktu papi saya tugas di Wamena, makin macam Bos betulan si Oom Bob itu, suka banget ngelarang ini itu.

Oom Bob orangnya tinggi besar, asli Nusa Laut. Kulitnya hitam pekat, beda dengan kulit saya, mami, dan tante yang coklat tua. Kalau kulit abang saya dulu kecilnya lebih bersih dari saya karena ngikut papi. Tapi sekarang dia jadi lebih gelap dari saya lho, hehe.. mungkin karena stay di Siantar yang udaranya kering itu.

Saking seringnya dilarang-larang, lama-lama saya jengkel juga. Dalam hati menyimpan emosi kenapa sih ini Oom Bob marah-marah sa, bukan sapa-sapa saja mo. Sampai suatu ketika, siang hari, saya dan teman saya sedang bermain di dapur. Katorang lagi main bakar-bakar di kompor. Kalau saya sih rasa aman-aman saja main bakar-bakar, toh kompor minyak tanah.

Tahu-tahu Oom Bob muncul di pintu dapur. Demi melihat kami lagi bakar-bakaran di kompor, dibentaknyalah kami. Saya dan teman saya terkejut. Terutama saya yang langsung marah karena dibentak. Iyo to, soalnya tra terima orang lain marah-marah sa di sa pu rumah. Refleks saya ngedumel dengan kesal : “Dasar itam!” Dan ternyata Oom Bob mendengarnya! Dia terkejut dan menjawab begini : “Ha..? Ko bilang sa itam?”

Saya yang juga terkejut karena tak menyangka dumelan saya kedengaran sama Oom Bob jadi takut. Gak enak hati karena sudah bicara tra sopan deng orang tua. Inilah kalo sudah emosi, jadi bicara takaruan… LOL. Cepat-cepat saya dan teman lari keluar rumah dan main di tempat lain, menenangkan diri. Saya menoleh dan melihat si Oom lagi mematikan kompor.

Sorenya saya mengadu ke mami dan papi. Saya sudah takut juga akan dimarahi karena bicara tidak sopan. Eh, tak disangka, papi dan mami saya malah terpingkal-pingkal mendengar cerita itu, barangkali karena tak menyangka saya akan senyablak itu. Sampai sekarang kalimat “Ha? Ko bilang sa itam?” itu masih jadi lelucon di keluarga kami. Aduh Oom Bob, Oom Bob, entah bagaimana kabarnya sekarang. Waktu kami mau pindah ke Medan, Oom Bob bilang mau tinggal di Biak saja, jadi cuma tante saja yang ikut dengan kita ke Medan.

Berikut ada foto yang saya pinjam dari travel detikcom, soalnya foto-foto lama di Biak ada di Medan.

Pantai Barat Biak (Gbr pinjam dari Travel Detik)

Moral cerita di atas adalah, mulutmu harimaumu. Jadi kalau lagi marah, tenangkan diri dahulu, jangan sampai nanti keluar ucapan-ucapan yang akan disesali kemudian. 😀

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

79 thoughts on “Jang Bicara Takaruan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *