“Jogja, Jogjaa..”

Ada benda kecil merayap perlahan di samping koper. Aktivitas benda itu mengurungkan saya sebentar dari kegiatan mengepak pakaian. Apa itu? Sepertinya sejenis serangga, dan dia berkedip-kedip, nyala-mati-nyala-mati. Aihh! Itu kunang-kunang! Saya berteriak memanggil teman, memberitahukan bahwa ada kunang-kunang nyasar di dalam kamar kami. Entah darimana serangga itu masuk, barangkali saat kami masuk malam hari ke kamar saat pintu terbuka, atau mungkin juga dari jendela di lantai dua. Tak bisa saya sembunyikan rasa takjub itu, karena terakhir kali saya melihat kunang-kunang berseliweran di depan mata adalah saat masih tinggal di Biak, beberapa puluh tahun lalu. Saya pun mencatatnya dalam hati.

……

Minggu lalu saya ke Jogja, teman. Yogyakarta, kota yang terakhir kali saya kunjungi 18 tahun lalu. Kunjungan kali ini bukan dalam rangka liburan sih, tapi workshop tahunan bersama rekan-rekan sekantor. Bisa dibilang ini suatu kebetulan, karena kali ini saya mendapatkan kesempatan yang sama seperti 18 tahun lalu. Ya, untuk kepergian kali ini panitia memilih menggunakan kereta, dan ini adalah kali kedua saya naik kereta. Jadi teringat delapan belas tahun yang lalu, saat baru tamat SMU, saya dan seorang teman berlibur ke rumah teman di Solo, dan kami naik kereta. Saya ingat banget, dulu sampai masuk angin karena tak pakai persiapan saat naik kereta yang AC-nya dingin sekali. Tak bawa jaket, tak bawa kaos kaki. Tiba di Solo malah sakit. Saat itu, habis dari Solo, kami lanjut main ke Jogja via mobil travel. Berdua saja puas-puas liburan di Jogja, sampai kehabisan uang benar-benar. Uang terakhir di kantong tinggal 20 ribu saat naik bus pulang ke Jakarta.

Sayangnya kereta Taksaka yang kami tumpangi ini tidak sedingin kereta yang dulu (ah lupa pula namanya). Kami serombongan berkipas di dalam kereta, sampai yang cowok-cowok buka baju saking panasnya. Namun di balik kekecewaan karena panasnya kereta, saya menikmati saat-saat dimana kereta berhenti di setiap stasiun. Suara-suara pedagang berteriak dari ujung pintu gerbong. “Getuk! Nasi ayam. Telur dadar!” dengan logat Jawa yang kental. Kedengaran merdu di telinga, karena hanya orang Jawa yang bisa melafalkan ‘getuk’ dengan mantap. Kanan kiri hijau semua, sawah, pepohonan. See? I feel like I was in the movie saat melewati setiap stasiun. Teringat pula dengan film-film barat lama, dimana para wanita dengan rok lebar keluar dengan anggun dari dalam kereta. Tapi kalau saya, keluar dengan t-shirt dan jeans, plus koper orange yang berat dan harus ditarik sendiri. Di sinilah saya memulai mencatat apa saja yang saya dapat dari perjalanan ini di dalam hati.

Kami tiba di Stasiun Yogyakarta jam 16.30 setelah menempuh perjalanan selama 8 jam. EO lokal menyambut peserta –yang wajahnya sebagian besar bete karena kecapekan di dalam kereta yang panas – dan kami melanjutkan perjalanan dengan bus. Menuju Kaliurang. Panitia telah memilih Sambi Resort sebagai tempat workshop kami. Resort dengan cottage-cottage bernama buah seperti Matoa, Melon, Mangga. Sebagian besar cottage bertingkat, bisa diisi 4 orang, pilihan yang tepat untuk mereka yang datang rombongan. Tempat ini boleh juga sebenarnya untuk tempat istirahat, karena suasana pedesaan yang sangat kental. Dinding cottage yang dibalut oleh anyaman bambu, tangga kayu di dalam kamar, aliran kali kecil yang mengalir di tengah-tengah resort, dan sawah juga ada di situ. Tempat spanya juga unik, gazebonya berhadapan dengan bebatuan berlumut dengan aliran air yang jatuh ke kali di bawahnya.

Sambi Resort: Kanan atas, tempat refleksi dan spa

Peralatan gamelan di Sambi Resort

Hanya saja untuk menu restorannya masih kurang, tidak sebanding dengan cakepnya resort. Yeah, mungkin resort ini pilihan untuk mereka yang sekalian mau outbound, karena di belakangnya memang ada tempat outbound. Sebenarnya saya jengkel karena kedatangan ke Jogja ini hanya dihabiskan untuk workshop dan outbound saja. Kalau hanya mau outbound, ke Lembang saja toh, lebih lengkap. Masa jauh-jauh ke Jogja hanya dikasih hari terakhir untuk berkeliling kota Jogja, itu pun hanya setengah hari karena sorenya kami harus mengejar pesawat. Yap, untuk pulangnya kami akhirnya memilih naik pesawat karena kalau naik kereta, sampai di Gambir bisa jam 3 pagi.

Despite all, beberapa hal kecil yang saya catat sejak keberangkatan adalah sesuatu yang bagi saya sangat mahal harganya. Sepertinya Sang Pencipta sedang memanjakan saya. Sebelum kunjungan kunang-kunang ke kamar, saat sedang menikmati pijat refleksi di dalam gazebo, saya mendengar suara tokek yang jelas sekali. Eh?! Saya terbangun dan dengan polosnya bertanya ke terapisnya. “Mbak, itu beneran suara tokek?” Dan si mbak membenarkan sambil tersenyum. Suara tokek itu hilang setelah berlagu beberapa saat. Lalu sepuluh menit kemudian berbunyi lagi. Merdu. *Maaf teman, saya memang belum pernah mendengar suara tokek secara langsung :D.

Seekor ular kecil terlihat jatuh dari bebatuan ke kali. Mengagetkan sekaligus bikin deg-degan. Sayang tak sempat saya foto.
…..

Ibu pembatik di dalam Mirota Batik

Ah. Ternyata saya sudah lupa kalau Jogja itu panas sekali. Jumat, hari terakhir, saat rombongan diturunkan di Maliboro, terik matahari menyambut. Rombongan  langsung berpencar mencari oleh-oleh. Saya ngikut teman saja yang sudah sering ke Jogja. Ke Mirota Batik. Namun ramainya minta ampun, sudah seperti pasar. Mau pilih-pilih juga gak tenang. Finally saya hanya beli satu dress batik saja untuk Vay, beberapa selendang, dan sebotol serbuk jahe instan. Eniwei, di depan pintu Mirota kan ada tulisan tuh : “Copet Dilarang Masuk”. Dan tadi saat saya cek-cek hasil jepretan saya di Mirota, ternyata ada satu foto yang rada unik. Seorang petugas keamanan Mirota sedang memegang erat tangan kiri seorang pria berkaos merah dari belakang, mengiringnya jalan ke arah depan. Apakah pria berbaju merah itu termasuk yang dilarang masuk itu? Entahlah. Tapi tak usahlah dipajang fotonya di sini yaa….

Becak dan Delman

Tak banyak memang yang bisa diceritakan dari perjalanan singkat ke Jogja ini. Bisa dikata hanya sempat mengenal kulitnya saja. Yah, begitu turun dari Kaliurang, serasa baru tiba di Jogja, hahah…. dan hanya setengah hari pula! Becak, delman, pedagang, suasana yang tidak berubah sejak terakhir saya ke sini. Sayang tak sempat menikmati naik becak karena panas teriknya benar-benar gak kuat.

Pulang dari Dowa (tempat jualan tas rajut), kami lanjut untuk pijat di Java Garden. Surga dunia banget, tempat dan pijatannya beda dengan pijatan di Jakarta, hehee…..

Tapi meski singkat dan tidak puas, kehangatan Jogja masih terasa di hati. Yeah, Jogja jelas lebih manusiawi dibanding Jakarta yang penat, toh. Dan semakin banyak pula small things yang saya catat di dalam hati.

Sayup-sayup masih terngiang lagu (entah siapa yang nyanyi) yang diputar saat makan malam terakhir kami di Pandan Resto. “Jogja, Jogjaa….”

*updated : sudah dapat judul lagunya, Jogja Istimewa, penyanyinya Ki Jarot. 🙂

Malam ini saya ada di Yogyakarta. Yogyakarta, kota yang terakhir kali saya kunjungi 18 tahun lalu. Bukan dalam rangka liburan tapi saya bersama teman-teman sekantor ke Jogja untuk workshop akhir tahun, meski tak dipungkiri bahwa workshop ini toh bisa disisipi oleh sedikit acara bersenang-senang. 

Kami berangkat naik kereta Taksaka jam 9 pagi dan tiba di Stasiun Yogyakarta pukul 16.30. Dan, ini adalah kedua kalinya saya naik kereta. Pertama kali naik kereta ya 18 tahun lalu, waktu ke Solo, menginap di rumah seorang teman, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan via travel ke Jogja.

Menaiki bus, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kaliurang. Kami menginap di Sambi Resort, resort dengan cottage-cottage bernama buah-buahan. I like this resort actually, for real karena suasananya yang natural, meskipun beberapa suara menganggap tempat ini kurang pantas. Yeah, biasalah, maunya lebih padahal dengan budget yang kami miliki ini cukup OK kok.

Luar biasa pijatan mbak-mbak refleksinya. Bertempat di saung, dgn pemandangan batu-batuan yang ditumbuhi lumut dan air mengalir, menciptakan suasana santai…

Ada benda kecil merayap perlahan di samping koper. Aktivitas benda itu mengurungkan saya sebentar dari kegiatan mengepak pakaian. Apa itu? Sepertinya sejenis serangga, dan dia berkedip-kedip, nyala-mati-nyala-mati. Aihh! Itu kunang-kunang! Saya berteriak memanggil teman, memberitahukan bahwa ada kunang-kunang nyasar di dalam kamar kami. Entah darimana serangga itu masuk, barangkali saat kami masuk malam hari ke kamar saat pintu terbuka, atau mungkin juga dari jendela di lantai dua. Tak bisa saya sembunyikan rasa takjub itu, karena terakhir kali saya melihat kunang-kunang berseliweran di depan mata adalah saat masih tinggal di Biak, beberapa puluh tahun lalu. Saya pun mencatatnya dalam hati.

……

Minggu lalu saya ke Jogja, teman. Yogyakarta, kota yang terakhir kali saya kunjungi 18 tahun lalu. Kunjungan kali ini bukan dalam rangka liburan sih, tapi workshop tahunan bersama rekan-rekan sekantor. Bisa dibilang ini suatu kebetulan, karena kali ini saya mendapatkan kesempatan yang sama seperti 18 tahun lalu. Ya, untuk kepergian kali ini panitia memilih menggunakan kereta, dan ini adalah kali kedua saya naik kereta. Jadi teringat delapan belas tahun yang lalu, saat baru tamat SMU, saya dan seorang teman berlibur ke rumah teman di Solo, dan kami naik kereta. Saya ingat banget, dulu sampai masuk angin karena tak pakai persiapan saat naik kereta yang AC-nya dingin sekali. Saat itu, habis dari Solo, kami lanjut main ke Jogja via mobil travel. Berdua saja puas-puas liburan di Jogja, sampai kehabisan uang benar-benar. Uang terakhir di kantong tinggal 20 ribu saat naik bus pulang ke Jakarta.

Sayangnya kereta Taksaka yang kami tumpangi ini tidak sedingin kereta yang dulu (ah lupa pula namanya). Kami serombongan berkipas di dalam kereta, sampai yang cowok-cowok buka baju saking panasnya. Namun di balik kekecewaan karena panasnya kereta, saya menikmati saat-saat dimana kereta berhenti di setiap stasiun. Suara-suara pedagang berteriak dari ujung pintu gerbong. “Getuk! Nasi ayam. Telur dadar!” dengan logat Jawa yang kental. Kedengaran merdu di telinga, karena hanya orang Jawa yang bisa melafalkan ‘getuk’ dengan mantap. Kanan kiri hijau semua, sawah, pepohonan. See? I feel like I was in the movie saat melewati setiap stasiun. Teringat pula dengan film-film barat lama, dimana para wanita dengan rok lebar keluar dengan anggun dari dalam kereta. Tapi kalau saya, keluar dengan t-shirt dan jeans, plus koper orange yang berat dan harus ditarik sendiri. Di sinilah saya memulai mencatat apa saja yang saya dapat dari perjalanan ini di dalam hati.

Kami tiba di Stasiun Yogyakarta jam 16.30 setelah menempuh perjalanan selama 8 jam. EO lokal menyambut peserta –yang wajahnya sebagian besar bete karena kecapekan di dalam kereta yang panas – dan kami melanjutkan perjalanan dengan bus. Menuju Kaliurang. Panitia telah memilih Sambi Resort sebagai tempat workshop kami. Resort dengan cottage-cottage bernama buah seperti Matoa, Melon, Mangga. Sebagian besar cottage bertingkat, bisa diisi 4 orang, pilihan yang tepat untuk pergi berombongan. Tempat ini boleh juga sebenarnya untuk tempat istirahat, karena suasana pedesaan yang sangat kental. Dinding cottage yang dibalut oleh anyaman bambu, tangga kayu di dalam kamar, aliran kali kecil yang mengalir di tengah-tengah resort, dan sawah juga ada di situ. Tempat spanya juga unik, gazebonya berhadapan dengan bebatuan berlumut dengan aliran air yang jatuh ke kali di bawahnya.

Namun sayangnya untuk makanan masih kurang, tidak sebanding dengan cakepnya resort. Yeah, mungkin resort ini pilihan untuk mereka yang sekalian mau outbound, karena di belakangnya memang ada tempat outbound. Sebenarnya saya jengkel karena kedatangan ke Jogja ini hanya dihabiskan untuk workshop dan outbound saja. Kalau hanya mau outbound, ke Lembang saja toh, lebih lengkap. Masa jauh-jauh ke Jogja hanya dikasih hari terakhir untuk berkeliling kota Jogja, itu pun hanya setengah hari karena sorenya kami harus mengejar pesawat. Yap, untuk pulangnya kami akhirnya memilih naik pesawat karena kalau naik kereta, sampai di Gambir bisa jam 3 pagi.

Despite all, beberapa hal kecil yang saya catat sejak keberangkatan adalah sesuatu yang bagi saya sangat mahal harganya. Sepertinya Sang Pencipta sedang memanjakan saya. Sebelum kunjungan kunang-kunang ke kamar, saat sedang menikmati pijat refleksi di dalam gazebo unik, saya mendengar suara tokek yang jelas sekali. Eh?! Saya terbangun dan dengan polosnya bertanya ke terapisnya. “Mbak, itu beneran suara tokek?” Dan si mbak membenarkan sambil tersenyum. *Maaf teman, saya memang belum pernah mendengar suara tokek secara langsung :D.

Seekor ular kecil terlihat jatuh dari bebatuan ke kali. Mengagetkan sekaligus bikin deg-degan. Sayang tak sempat saya foto.
…..

Ah. Ternyata saya sudah lupa kalau Jogja itu panas sekali. Jumat, hari terakhir, saat rombongan diturunkan di Maliboro, terik matahari menyambut. Rombongan  langsung berpencar mencari oleh-oleh. Saya ngikut teman saja yang sudah sering ke Jogja. Ke Mirota Batik. Namun ramainya minta ampun, sudah seperti pasar. Mau pilih-pilih juga gak tenang. Finally saya hanya beli satu dress batik saja untuk Vay, beberapa selendang, dan sebotol serbuk jahe instan. Eniwei, di depan pintu Mirota kan ada tulisan tuh : “Copet Dilarang Masuk”. Dan tadi saat saya cek-cek hasil jepretan saya di Mirota, ternyata ada satu foto yang rada unik. Seorang petugas keamanan Mirota sedang memegang erat tangan kiri seorang pria berkaos merah dari belakang, mengiringnya jalan ke arah depan. Apakah pria berbaju merah itu termasuk yang dilarang masuk itu? Entahlah. Tapi tak usahlah dipajang fotonya di sini yaa….

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

56 thoughts on ““Jogja, Jogjaa..”

  1. “Jogja, Jogja … emang Istimewa… istimewa negerinya istimewa orangnya…”

    kalo syair lagunya begitu… yang nyanyi Jogja Hiphop Foundation. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *