Kisah si Supir Taxi

Seminggu terakhir ini rasanya saya minum banyak sekali kopi. Seperti sedang butuh banyak kafein untuk membuat tubuh dan pikiran terjaga dan bisa aktif mikir.

Berdasarkan hasil studi, kopi memiliki banyak manfaat untuk wanita. Seperti, minum 2 sampai empat cangkir kopi sehari dapat mencegah depresi. Kemudian minum dua cangkir kopi berkafein sehari dapat meningkatkan memori jangka pendek dan jangka panjang. Minum kopi juga dapat menurunkan resiko terkena diabetes tipe 2, serta menurunkan resiko terkena kanker. Dan banyak lagi manfaat kopi bagi kesehatan berdasarkan hasil studi.

But somehow, urusan minum kopi bagi saya selalu menyenangkan, karena kalau sudah ngopi selalu bisa lebih tenang untuk berpikir dan menemukan banyak inspirasi juga. Jadi ketika pagi ini saya minum kopi, saya memutuskan untuk menulis tentang kejadian kemarin.

Ceritanya, karena seminggu ini saya rutin menggunakan taxi untuk transportasi ke kantor – karena kebetulan mobil sedang di bengkel – saya jadi lebih leluasa bertemu dengan beragam karakter manusia.

Sebut saja driver taxi saya kemarin pagi. Pagi hari kemarin saya sudah kesal karena si taxi burung biru yang saya pesan tidak kunjung tiba, padahal sudah saya order via aplikasi sejak semalam. Ada meeting grup yang harus dikejar, dan traffic Jakarta jelas tidak bisa dikompromikan, that’s why sudah harus berangkat awal. Setelah setengah jam lebih, barulah taxinya datang. Saya naik dan duduk diam selama perjalanan. Seperti biasa. Ditambah juga sudah kurang oke moodnya, makin tak semangat basa-basi dengan driver.

Taxi berjalan pelan. Lalu tak lama, si pak driver bersuara, “Bu, maaf, kalau sekiranya tukar taxi yang kosong, bagaimana Bu? Ini mobilnya nggak enak, takut kenapa-kenapa.” Bersuara pelan, dan sangat sopan.

Saya yang sedang main handphone agak terkejut. Aduh, ini kok masalah lagi? Sudah telat datang, harus ganti armada. “Kenapa Pak, mobilnya?”

“Iya, ini bukan mobil saya sebenarnya. Bukan jadwal saya hari ini, tapi saya masuk, jadi saya pakai mobil orang, Bu. Rasanya gak nyaman saja. Maaf ya, Bu.”

Sepanjang jalan melewati daerah Rawamangun, taxi berjalan pelan mencoba mencari taxi kosong, tapi tidak ada. Akhirnya si driver menekan-nekan tombol di GPS-nya, memanggil operator. Saya mendengarnya berbicara. Dan di sana terdengar suara lelaki, operator yang menjawab standar.

“Ada apa, Pak?”
“Ini Pak, saya kan tadi ambil tamu, tapi terus kok ini mobilnya sepertinya bermasalah, Pak. Minta tolong dikirimkan mobil pengganti, Pak.”
“Bapak ambil tamu lain maksudnya, Pak?” agak galak terdengar.
“Bukan, Pak. Jadi….” pak driver mengulang lagi ceritanya, tetap dengan sopan. ”Ini saya masih sama tamunya, cuma mobilnya seperti mau mogok, takut kenapa-kenapa, begitu Pak.”

Setelah selama ini bergaul dengan banyak orang ‘keras’ di Jakarta ini, menemukan seorang driver dengan suara sangat sopan – sedikit terkesan takut-takut – itu satu hal bagi saya. Setiap hari di jalan selalu ketemu supir mikrolet yang kasar dan ugal-ugalan, kenek metromini yang teriak-teriak, supir bajaj yang belagu, supir taxi yang meski sopan tapi kalau dipepet motor langsung galak, hingga supir kantor yang juga galak-galak di jalan. Pak supir yang satu ini, kelihatan seperti orang yang baru datang dari Jawa ke Jakarta, medok dan halusnya bertutur kata masih sangat kentara.

Kami masih terus jalan hingga di jalan Pemuda, dan operator menghubungi balik, mengatakan ada taxi yang menyusul di belakang. Namun di depan kami juga ada taxi lain yang sedang nongkrong, dan kosong! Pak driver menepi dan cepat keluar, mengetuk jendela taxi di depan dan berbincang. Tak lama dia kembali dan membuka pintu saya, mengatakan kalau taxi burung biru di depan siap mengantar saya ke tujuan. Ongkos yang tertera empat puluh satu ribu, lalu saya serahkan selembar lima puluh ribu padanya, minta kembalian lima ribu saja. Tapi pak driver bilang, “Separoh saja Bu, tidak usah full.” Lalu dia kembalikan ke saya dua puluh ribu sambil mengatakan maaf lagi karena karena tidak mengantar sampai ke tujuan. Saya tidak mau menerima kembalian itu sebenarnya, tapi si driver memaksa, dan saya jadi tidak enak juga menolaknya. Kata pak drivernya, yang penting untuk ganti ongkos argo nyala saja.

Naik ke taxi pengganti, drivernya bapak-bapak yang sudah berumur. Tapi ternyata dia seorang pembalap! Saya tidur dengan sukses di taxi dan tahu-tahu sudah sampai di kantor, tepat waktu sebelum meeting! Syukurlah. Minimal pagi itu, meskipun diawali dengan mood yang kurang baik, saya dapat beberapa pencerahan juga inspirasi.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

18 thoughts on “Kisah si Supir Taxi

  1. Saya langganan burung biru sejak pensiun, pengalaman nya aneh-aneh….

    Kalau pagi memang agak sulit pesan taksi karena jadual penggantian….jadi kalau pesan ya sebelum jam 6 pagi. Atau saya jalan dulu sekaligus olahraga…baru deh ambil taksi di daerah jalan Fatmawati. Persaiangan taksi sekarang lumayan ketat, karena tarif awalnya sama.

  2. aku jg pengguna taxi si burung biru mba…dan sejauh ini puaslah, apalagi, cuma transport ini yg dibayarin kantorku :D.. Walopun ada jg sih supirnya yg nyebelin, tp so far bnyk yg baiknya 🙂

  3. Watak yang lembut seperti sopir taksi tersebut bakal berubah ngga ya seiring berjalannya waktu dia tinggal di Jakarta?

    Salam kenal ya Teh…

  4. Saya pecandu kafein mbak, tapi nggak parah amat sih. sehari itu cuma secangkir kopi aja udah cukup. kalo nggak gitu pikiran nggak bisa fokus, ditambah nguap terus.

    taxi drivernya sopan banget.
    kalo ketemu sama orang gitu sikap kita biasanya jadi mengikuti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *