Bahagia Yang Sederhana

Satu hal yang susah sekali dilakukan di bulan puasa adalah, pulang cepat! Sebenarnya sih kantor punya kebijakan smart time untuk karyawan agar bisa pulang lebih cepat, tapi itu jelas susah kalau buat bagian saya. Itu sebabnya, pilihan berbuka adalah kalau gak buka puasa di kantor, ya buka puasa di jalan.

Tapi hari ini, saya ‘memaksa’ diri untuk harus pulang cepat. Pendingan masih bisa dikerjakan mobile dari rumah. Harus. Sampai ngebut dan tan-tin-tan-tin di jalan karena gak sabar dengan kemacetan ini.

Ini semua tak lain karena saya ingin melihat langsung Vay berbuka puasa full saat maghrib. Sebenarnya dua hari lalu (hari kedua puasa) adalah pertama kalinya Vay puasa penuh. Tadinya saya pikir dia akan tetap setengah hari seperti hari pertama, tapi ketika saya telepon dia jam setengah empat, dia bilang dia masih puasa. Dan sudah terlambat untuk memutuskan segera pulang, karena sudah keburu ada janji menyelesaikan pekerjaan sore itu.

Dan tadi, saya tiba di rumah pas lima menit sebelum maghrib. Lalu ketika adzan maghrib bergema dari masjid, saya duduk di sebelahnya, menatapnya membaca doa berbuka puasa, lalu melihatnya meneguk air putih dulu, baru menyeruput teh manis hangat. Aduh, dia begitu cantik di mata saya. Rasanya bangga sekali melihat betapa anak ini bisa konsisten dengan janjinya sendiri. Bahagiaku cukup dengan melihat senyum di wajahnya.

Jadi, ketika kami sahur hari pertama, dia tanya ke saya apakah dia harus puasa full sampai maghrib. Lalu saya bilang, dicoba saja dulu. Kalau memang dia belum kuat, saya tak mau memaksanya. Lalu di hari pertama, dia telepon saya siang-siang, katanya dia sudah buka, karena perutnya sakit. Ya sudah saya bilang tak apa. Malamnya dia tanya lagi, besok bagaimana. Saya hanya katakan padanya, bahwa puasa sebenarnya tidak akan bikin kita sakit, cuma memang bisa terasa sangat lapar dan haus. Cobalah dulu, sedikit lebih lama dari kemarin. Dan ternyata, dia berhasil. Vay bilang, dia agak susah menahan haus, apalagi di jam-jam kritis di jam tiga sampai jam lima, sebentar-sebentar dia tanya ke mbak di rumah, sudah bisa buka puasa belum. LOL.

Dan kemarin dia puasa setengah hari lagi. Lalu tadi full lagi. Katanya dia ingin coba selang-seling dulu, mengukur batas dirinya.

Satu hal yang mungkin jarang saya lihat karena kesibukan saya bekerja seharian adalah kemandirian Vay. Dia memang bisa sangat manja kalau ada mbaknya, semua maunya dibantu, tapi kalau dia lagi sendiri, ternyata dia sangat mandiri. Dari hari pertama puasa, dia sudah langsung sholat sendiri tanpa disuruh – meskipun dia belum hapal semua bacaan sholat. Yang susah hanya saat bangun sahur saja, pakai acara marah-marah dulu.

Lalu, ketika saya tanya, apakah ada yang dia inginkan dari saya sebagai reward karena sudah puasa full, Vay menggeleng. Katanya dia gak pengen dikasih hadiah. Ditanya mau dibelikan makanan apa, katanya dia sudah cukup berbuka dengan nasi, tempe goreng, ayam goreng, dan sayur pakcoi.

“Kalau begitu, nanti Mami sayang-sayang aja ya adek Mami? Sambil dipangku.” Lalu dia teriak, “Yeayy…!! Okeee..!”

A simple happiness.

Thanks sudah berkunjung ke TehSusu.Com. Subscribe to Get More. Enter your email address:Delivered by FeedBurner

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

17 thoughts on “Bahagia Yang Sederhana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *