Berbagi di Panti Sosial Netra

Berbagi itu indah. Kalau sudah dilakukan baru kita tahu dan kita buktikan betapa nikmatnya kalau kita bisa berbagi.

Hari Minggu kemarin, bersama-sama teman dari Gerakan Berbagi Dblogger, kita mengadakan kegiatan buka puasa bersama dan memberikan donasi di Panti Sosial Bina Netra Cahaya Bathin, Jl. Dewi Sartika No. 200 Cawang, Jakarta Timur.

Yang mencari tempat adalah Kak Ani Berta, ibu yang satu ini memang ringan tangan sekali, mulai dari mencari tempat dan juga menggalang dana donasi. Memang acara ini agak dadakan juga ya, karena Kak Ani baru dapat panti untuk acara ini baru menjelang masuk minggu ketiga Ramadhan.

Alhamdulillah ada teman-teman dekat yang juga berkenan memberikan donasinya untuk acara berbagi kali ini. Terima kasih untuk my best friend Uam, yang sudah mengajak juga beberapa temannya untuk ikut berdonasi juga. Uam juga didaulat Kak Ani mewakili dBlogger memberikan kata sambutan, thanks ya Am… 🙂

Sesuai namanya, tempat ini adalah panti sosial untuk tuna netra. Jadi ada sekitar 70 orang anak asuh binaan panti yang berada di bawah Dinas Sosial Pemprov DKI ini, sebagian besar tinggal di panti. Mereka sekolah, juga diberi pelatihan massage shiatsu untuk bekal agar nanti bisa mencari nafkah sendiri. Di panti ini, lantai dibikin khusus, jadi di tengah-tengah jalan dipasang keramik dengan kontur khusus, kemudian di depan ruangan berpintu, ada keramik dengan kontur lainnya juga, semua ini tentu maksudnya agar para tuna netra bisa berjalan pada sisi yang benar dan memudahkan menemukan ruangan dengan meraba pakai kaki.

Melihat saudara-saudara yang tuna netra ini, jujur saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya dunia yang gelap karena tak bisa melihat apapun. Saat mendengar mereka memainkan musik marawis, tak terasa mata jadi berkaca-kaca. Wulan, seorang tuna netra berumur 25 tahun, membacakan puisi di depan buat kita semua, bagus sekali, dan ternyata dia sudah sering lho menjuarai lomba baca puisi tingkat nasional.

Saya sempat mengobrol lama dengan Wulan. Wulan ini matanya kelihatan normal, jadi awalnya saya mengira dia bisa melihat. Ternyata Wulan ini dulunya penglihatannya normal, tapi di tahun 2006 dia menderita demam tinggi hingga menyebabkan kebutaan. Suaminya pergi meninggalkan dirinya, sementara anaknya dirawat sama mertua. Ayahnya sendiri meninggal tak lama sebelum dia diserang demam tinggi itu, sementara saat ini ibunya berjualan kue untuk menghidupi keluarganya. Semenjak buta, Wulan memang tinggal di panti agar dapat keterampilan. Wulan cerita, dia ingin sekali melanjutkan sekolah, rencananya kepengen masuk STAI jurusan dakwah bulan depan dan sedang mencari bea siswa atau wali untuk membiayai. Saya lihat tekadnya sudah bulat karena kata Wulan dia ingin tinggal di asrama di kampusnya itu karena mobilitas tentu lebih gampang. Namun saat saya tanyakan ke Ibu pengurus panti, si Ibu lebih concern bila Wulan tetap tinggal di panti meskipun nanti dia jadi melanjutkan sekolah. Alasannya agar Wulan terurus dengan baik. Yah, semoga yang terbaik saja ya.

Menjelang buka puasa tiba, datanglah Ramaditya, seorang blogger tuna netra yang namanya sudah cukup terkenal. Meski beberapa waktu lalu pernah tersandung masalah ‘kebohongan publik’, saya lihat dia ini seorang motivator yang bagus. Rama memberikan sharing dan motivasi untuk teman-teman tuna netra lainnya agar selalu semangat berkarya dan tidak boleh pesimis.

Ka atas: Uam mewakili teman2 dBlogger memberikan kata sambutan. Ki-TengahBawah: Ramaditya sharing di depan para tuna netra

Ki: Wulan, tuna netra yang jago berpuisi. Ka: All panitia

 

Setelah berbuka puasa, dilanjutkan dengan sholat maghrib dulu baru makan bersama di tempat, baru kemudian membagikan bingkisan. Ini sebenarnya sudah jadi kebiasaan Gerakan Berbagi agar bingkisan dibagi langsung di tempat, plus makan di tempat juga maunya, agar kebersamaan itu lebih terasa. Di akhir acara, Kak Ani memberikan pisau cukur elektrik, sesuai permintaan rekan-rekan pria tuna netra di panti, untuk keperluan mencukur jenggot. Bu Ema sempat salah ucap, katanya untuk cukur rambut, dan semua tertawa mendengarnya.

Lalu setelah itu kita membagi bingkisan lebaran. Sempat tercekat saya saat membagikan bingkisan dan tanpa sengaja seorang tuna netra menjatuhkan bingkisan karena tak terpegang, langsung merasa bersalah karena tidak hati-hati :(. Setelah itu saya pegang tangan mereka satu-satu untuk pegang bingkisannya.

Mungkin tidak banyak yang bisa diberikan ya, tapi rasanya bahagia dan senang sekali bisa berbagi dengan mereka. Terima kasih untuk teman-teman dBlogger yang sudah menciptakan acara buka puasa yang indah ini. Teriring tentu doa buat kita semua agar rezeki selalu mengalir buat kita agar senantiasa bisa berbagi dengan saudara-saudara yang membutuhkan.

Selamat lebaran, teman! Minal Aidin Walfaidzin. Mohon maaf lahir batin.

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

44 thoughts on “Berbagi di Panti Sosial Netra

  1. oh ya 😀

    Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang menjalankan
    Semoga ibadah yang telah kita jalani selama sebulan penuh mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT
    Dan semoga kita diizinkan oleh Allah untuk bertemu dengan bulan Ramadhan dan memperoleh kemenangan pada tahun depan
    Mohon maaf kalau saya pernah salah meski hanya bertemu di dunia maya 😀

  2. Ah, berbagi itu emang indah.
    Bersyukur masih diberi kelengkapan anggota tubuh.
    Semoga bisa jadi pembelanjaran hidup 🙂
    Selamat menjelang hari raya idul fitri mbak 😀

  3. saya merinding membacanya zy, dikalimat yang saat bingkisan yang harus diterima jatuh, semacam mengingatkan kepada kita bahwa yang melihat saja bisa melakukan kesalahan kecil disaat ingin berbuat baik karena mungkin mata hati kita belum terbuka oleh mereka yang benar-benar membutuhkan. sampai ketikan ini masih merinding *******

    • Zizy

      Yah begitulah. Kita baru bisa menyadari ketika sudah kejadian ya, karena kepekaan tiap orang beda-2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *