Nenek Nyonya

Setiap kali Imlek datang, saya hampir selalu teringat pada nenek cina yang pernah kami miliki. Panggilannya Nenek Nyonya. Keluarga kami mengenalnya pertama kali saat baru pindah ke kota Medan tahun 1987. Papi saya datang ke Medan dengan membawa lis berkunjung ke semua saudara-saudaranya baik yang satu nenek maupun yang sepupuan. Nenek Nyonya ini adalah salah satu nenek dari klan Damanik.

Mungkin perlu saya ceritakan sedikit family tree-nya, sekalian biar sewaktu-waktu nanti saya juga tidak lupa :). Manusia berkembang dan beranak pinak, semakin banyak dan semakin panjang ke bawah, bisa jadi lupa kalau tidak ditulis atau minimal diceritakan.

Berikut adalah informasi yang saya dapat dari Wikipedia, dan juga informasi-informasi tambahan dari papi saya.

Dulu sekali, sebelum Belanda masuk ke Simalungun, Simalungun memiliki 4 kerajaan (Siantar, Panei, Dolok Silau, dan Tanoh Djawa) serta 3 partuanan – yaitu daerah yang  dipimpin oleh mereka yang bergelar Tuan – (Raya, Purba dan Silimakuta). Setelah Belanda masuk, barulah 3 partuanan tadi diresmikan menjadi kerajaan seperti kerajaan-kerajaan yang sudah ada sebelumnya.

Kerajaan Siantar yang dipimpin oleh Tuan Sang Nahualu adalah kerajaan yang anti pada penjajahan Belanda. Belanda yang merasa tidak senang dengan perlawanan sang raja kemudian berhasil menurunkan sang raja dari takhtanya, dan membuang raja dan perdana menteri ke Bengkalis pada 1906. Belanda kemudian membuat Korte Verklaring yang berisi pernyataan takhkuknya Kerajaan Siantar pada Pemerintah Hindia Belanda. Dan di tahun 1907, Belanda membagi Kerajaan Siantar menjadi 37 perbapaan (kerajaan kecil).

OK then. Salah satu raja dari kerajaan kecil itu adalah Ompung buyut kami, Ompung Badjandin Damanik, Toean Van Bandar Poelau a.k.a Raja Bandar Pulo.

Di sinilah klan Damanik kami dimulai. Ompung buyut kami, Raja Bandar Pulo ini semasa hidupnya hanya memiliki dua orang anak saja, keduanya lelaki. Si Abang dilahirkan oleh istri pertama, kemudian si Bungsu lahir dari istri ketiga atau keempat gitulah, maaf untuk informasi jumlah istri ini saya agak-agak lupa. Si Bungsu lahir ketika si Abang sudah punya beberapa anak dari beberapa istrinya, maka jadilah si Bungsu dan keponakan-keponakannya teman sepermainan, karena umurnya sepantaran. Selanjutnya saya akan menyebut si Abang dengan Ompung Abang, dan si Bungsu dengan Ompung Bungsu.

Salah satu anak lelaki Ompung Abang adalah Ompung doli saya (yaitu bapak dari papi saya). Urutan klannya tidak usah diceritakan ya, kan sudah tahu ujungnya ya saya dan abang saya, hehehe….

Lalu dimana Nenek Nyonya nyempil? Ok. Seperti halnya orang dulu – dan anak raja pula – si Bungsu pun punya istri lebih dari satu. Si Ompung ini menikah dua kali. Yang pertama dengan gadis pribumi, dan yang kedua dengan seorang janda tionghoa beranak dua. Istri kedua inilah si Nenek Nyonya. Dari istri pertama, Ompung Bungsu memperoleh beberapa orang anak, dan dari Nenek Nyonya, Ompung Bungsu dapat dua anak lagi, salah satunya adalah anak lelaki yang sebaya dengan papi saya (otomatis saya harus memanggilnya dengan sebutan Ompung).  Anak Nenek Nyonya ini sekarang termasuk salah satu pengusaha sukses di Pontianak. **yoi..  memang darah Tionghoa gak boong ya, ulet gitu loh… Saya masih ingat betapa tebalnya angpau yang dikasih ke saya waktu saya merit, hehehe… dasar madut!

Nenek Nyonya orangnya sederhana saja. Saat sudah memasuki usia senja, dia memilih tinggal dengan anak dari pernikahan pertamanya dibanding kumpul dengan anaknya yang berkecukupan. Entahlah apa alasannya, tentu hanya yang bersangkutan yang tahu.

Di Medan, rumah Nenek Nyonya ada di samping Istana Plaza (salah satu plaza generasi awal di kota Medan). Rumahnya di tepi jalan besar, bentuknya sederhana saja, lebih mirip toko daripada rumah. Kami termasuk sering bertandang ke rumah Nenek Nyonya, baik saat Imlek tiba maupun hari-hari libur biasa. Nenek Nyonya orangnya ramah dan baik, saya bahkan tidak pernah melihatnya ngomel atau merengut.

Pertama kenal saya takjub juga karena keluarga mereka menyambut kami dengan welcome dan dengan rasa kekeluargaan yang hangat. Walaupun baru bertemu, tapi rasanya seperti sudah kenal bertahun-tahun. Tidak ada suasana kaku atau menjaga jarak, biarpun sebenarnya kami tidak bertalian darah secara langsung dengan Nenek Nyonya.

Anaknya Nenek Nyonya – pemilik rumah – namanya Ompung A Teng (ya ya, memang gak mungkinlah orang tionghoa dipanggil Ompung, tapi sudahlah, ybs juga  tidak keberatan :D) sepantaran papi saya, punya anak 1, namanya Henry.

Setiap kali datang ke rumah Nenek Nyonya, pasti deh disuguhi softdrink yang namanya Badak. Baaaa… Medan ini hebat sampeee… dorang pu minuman macam-macam… 😀 Hahahaa…. begitulah kira-kira kekaguman saya waktu itu.

Kalau Ompung A Teng lain lagi. Bila ada tamu, langsung buka bir botolan dan anaknya disuruh pergi beli ayam goreng untuk dicemilin. Lalu sementara para orang tua mengobrol, saya dan abang saya pergi bertiga dengan Henry ke Istana Plaza, main video game atau bom-bom car. Henry, biarpun umurnya lebih muda dan badannya juga lebih kecil dari kami, ternyata PS juga, alias pemuda setempat. Waktu itu ada anak-anak nakal di tempat video game yang langsung merangsek begitu melihat saya dan abang saya, mereka tahu ini ada orang luar datang. Tapi Henry dengan tenang bilang, ini saudaraku, dan monyet-monyet itu pun mundur. Salut ma men..!!

Pertama kali saya kenal kue bulan tentu saja dari Nenek Nyonya. Kalau Imlek tiba, Nenek Nyonya selalu kasih banyak kue bakul untuk buah tangan. Nanti di rumah, kue bakul itu akan kami santap begitu saja atau kami goreng tepung. 🙂

Gong Xi Fat Cai yaaa.....! ^_^

Sesekali Nenek Nyonya juga bertandang ke rumah kami, baik saat lebaran tiba atau kalau pengen main saja. Saat saya mulai masuk SMA, papi saya ditugaskan di Siantar, sehingga kami otomatis tidak bisa sering-sering lagi berkunjung ke rumah Nenek Nyonya.

Tak lama kemudian Nenek Nyonya berpulang. Sebelumnya,  Ompung A Teng – anaknya Nenek Nyonya – sudah duluan berpulang karena sakit yang diderita. Kami pun jadi tak pernah lagi main ke sana karena si nenek sudah tidak ada.

Sedikit cerita sedih mengenai berpulangnya Nenek Nyonya. Saat itu ketika mulai sakit-sakitan, Nenek Nyonya meminta izin pada anak-anak dari pernikahan keduanya, bolehkah dia dikuburkan secara Budha? Katanya, dia merasa lebih nyaman dengan kepercayaannya, karena meskipun sudah masuk Islam saat menikah dengan Ompung Bungsu, tapi karena si Ompung meninggal begitu cepat (ketika anak-anaknya masih kecil) tidak ada yang mengajari dia bagaimana menjalani agama barunya. Dia buta. Dan begitulah, dia sudah ucapkan keinginan terakhirnya. Semua murka. Semua marah.

Singkat cerita – dengan men-skip beberapa kejadian yang sangat-sangat menyedihkan yang terjadi setelah itu – pada akhirnya ketika Nenek Nyonya meninggal, jenazahnya diurus oleh menantu dan anak keduanya dari pernikahan pertama, dan dikebumikan secara Budha.

Tapi kenangan tentang Nenek Nyonya tentu akan selalu tersimpan buat mereka yang mengenalnya. Sekecil apapun itu. Seperti bagaimana saya mengenalnya, meskipun singkat.

Akhir kata, Gong Xi Fa Cai 2011 buat teman-teman yang merayakan, ya!

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

61 thoughts on “Nenek Nyonya

  1. Nice posting, Zee…
    aku punya family (aku memanggilnya Emak/nenek) yg dikucilkan keluarganya karena pindah agama.. dia diancam nanti kalau meninggal nggak akan dilayatin dan nggak akan diurus.. emak keukeuh dgn agama barunya. dia bilang: kalau aku mati, ya memang takdirku mati, bahwa kalian akan menyia-nyiakan jasadku, teserah kalian.. aku memilih mati dengan keyakinan baruku, karena aku nyaman teguh di dalamnya…
    Aku hmpr nangis waktu mendengarnya…

  2. oma

    dulu sempet kepikiran kalo damanik itu marga padang, haha *ketuker sama chaniago*

    hmm, sebenernya msh penasaran, anak-anaknya nenek nyonya itu islam atau beragama lain (budha, kristen)? kalau islam, kenapa nenek nyonya ga ikut belajar agama bareng anaknya ya?

    • Zizy

      Anak2nya Islam Oma, ikut bapaknya. Cuma bapaknya (Ompung Bungsu) itu mati muda, meninggalnya pas anak2 masih kecil, jd kemungkinan besar anak2 belajar agama dari istri tua bapaknya. Nenek nyonya mgkn belajar juga ya, tp entahlah… saya jg gak tahu lengkapnya gimana. Tp waktu tua, dia memang memilih tinggal dengan anaknya yg cina.

  3. Mbak, yang di foto itu Vaya bukan?
    Kenangan itu memang akan selalu kita bawa ya mbak
    apalagi yang begitu berkesan dengan orang2 yg kita sayangi juga

    • Zizy

      Iya itu Vaya, kemarin foto2 di Carefour, eh ditegur satpam katanya ga boleh foto. Kejam bener, padahal cuma mo foto Vaya dengan latar belakang merah. *langsung pengen gebukin satpam*

  4. Zee…
    Saya salut …
    kamu masih bisa mengurut asal muasal clan keluarga mu dengan relatif lengkap …

    setau saya …
    tidak banyak dari kita yang peduli dengan asal usul kita …

    And last but not least
    Semoga keberuntungan dan kebahagiaan
    senantiasa menyertai kita semua

    Salam saya Zee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *