new hair color (by : Lutuye)

Timer di hape menjerit tepat jam 8 pagi. Saya cuma bergeser sedikit. Badan rasanya menolak untuk segera bangkit di hari libur begini. Yeah, sebulan belakangan ini, hari libur adalah hari yang betul-betul saya tunggu, saya nanti-nanti, dan setiap hari Jumat tiba, hati saya seakan membuncah karena teringat besoknya ada libur 2 hari.

Tapi, akhirnya saya pikir sudah cukup waktunya buat saya terlalu manja di Jakarta ini. Penyesuaian dengan gaya hidup Jkt sudah cukup. Istirahat sampai siang bisa ditunda, sebab dengan waktu yang sedikit, saya harus menyelesaikan banyak hal yang saya tunda dengan alasan “duh capek, ah.” “macet, ntar bisa kemalamam sampai rumah” “wah kalo wiken, jam 8 aja gw masih tidur.”. Dan sedikit cerita tentang ini, kamis kemarin, sepulang dari kantor saya memaksakan diri belok ke Tebet untuk cari Kinik Sakti Medika. Berbekal alamat di hape (yang diberikan Nurul), akhirnya sampai juga. Karena supir saya salah ambil jalan, kami sampai di Tebet 1,5 jam kemudian. Ck ck ck.. **sabarr…. sabarr… **

Dan saya datang tepat sekali ketika pendaftaran konsultasi sudah hampir tutup. Di pengumuman tertulis : “Pendaftaran Konsultasi s/d 18.30”. Walah!! Ketika suster menanyakan apakah saya sudah pernah mendaftar sebelumnya, saya jawab belom. Dan ia menoleh ke arah jam. Entah kasihan melihat wajah lelah saya, dia menyodorkan sebuah map pendaftaran untuk saya isi. Syukurlah.. saya sudah stres tadi seandainya disuruh datang besok, sementara datang kesitu saja penuh perjuangan. Dan saudara-saudara, tentu saja saya adalah pasien terakhir, dan saya baru dipanggil masuk ketika bioskop transtv pertama mulai tayang, jam 9 tepat. 2,5 jam menunggu!!
Pengorbanan itu tidak sia-sia. Setelah menggunakan obat yang diberikan dokter, pelan-pelan jerawat-jerawat bodat di dagu saya mulai mengempis. **Like u said am, “turunlah ya harga pasar, kak.” 🙂 Jadi memang perlu perawatan sesegera mungkin**

Dan Sabtu ini, giliran rambut. Rambut yang warnanya sudah campur-campur. Kayak es krim tiga rasa. Paling atas rasa ketan hitam, kemudian rasa coklat, dan terakhir rasa orange. Alias hitam, coklat, dan kuning kemerahan. Belum lagi ujungnya yang kering. Ini juga sudah tertunda sekian minggu, karena ada masalah jerawat yang lebih membuat stres. Lalu alasan lainnya, saya selalu kecele setiap turun dari fly over. Yang mana sih salonnya? Kok gak ada??

Beberapa waktu lalu, ketika saya creambath di sebuah salon di Tebet, hairstylish-nya memberi saran, “Klo mo ngecat, bagusnya di Lutuye ato di Warna, Mbak. Di situ bagus kalo mau ngecat, disini catnya jelek, banyak campurannya. Sayang kan bayar mahal-mahal.”

“Emang disini ngecat berapa Mba?”

“200-an gt.”

“Oh..” Saya kemudian menduga-duga, berarti di dua salon tadi, kemungkinan nya lebih mahal, atau sekitar 500-an.

Nah. Salon Warna itu pas di simpang, jadi begitu turun dari fly over, langsung ketemu. Tapi Lutuye, mana ya?? Akhirnya, tanpa sengaja — ketika sedang mencari Klinik Sakti Medika kamis kemarin itu — saya baru tahu, ternyata letak Lutuye dekat dengan stasiun Tebet, dan itu di sampingnya fly over. Alias jalannya mesti dari Asem Baris. Pantes aja gak pernah kelihatan.

Dan begitulah, setelah memaksakan diri bangun pagi, lalu mandi, pakai obat muka, saya langsung meluncur ke arah Tebet. Seminggu lalu saya sudah telepon, tanya jam berapa buka, dst. Jam sembilan lewat sepuluh menit, saya sudah bergabung dengan bajaj, metromini, motor, taxi, yang merayap pelan di depan stasiun kereta. Ada dua kali kereta api lewat, sehingga semakin padatlah antrian di depan rel.

Nah, itu dia. Lutuye Salon Tebet. Saya menemukan yang saya cari. Baru ada 2 mobil yang parkir di depan salon, ketika saya tiba. Outlook nya bagus, dengan kaca bening yang bersih dengan interior minimalis tapi berkelas. Saya masuk dan mendaftar. Ketika kasir mencarikan hairstylish yang akan menangani saya, saya melihat-lihat sekeliling. Salon Lutuye ini sangat memanjakan customer nya. Setiap pelanggan dimanjakan dengan tv 21inch di meja masing-masing. Jadi sembari rambut kita di-handle, kita bisa nonton dan memilih sendiri acara yang kita suka. Saya kayak anak kecil dapat mainan baru, sibuk pencet-pencet pindah cenel terus. Sampai akhirnya menemukan film Shrek, baru saya berhenti. Hihihi…

image_126a.jpg

Awalnya saya sempat kurang yakin, takut hasilnya jelek dan jeplak, seperti yang pernah saya alami waktu colouring di Jhon’s Cut. Beberapa kali saya kesannya bawel, karena bertanya ini untuk apa, kenapa harus pakai ini, nanti kalo kelamaan belang gak. Sebab saya lihat prosesnya kok beda ya, dengan salon JC di Medan?

Namun, tidak seperti kebanyakan hairstylish yang saya kenal, si Mas ini mau menjawab semuanya dengan sabar dan detil sehingga pengetahuan saya sedikit bertambah tentang colouring. Seperti kenapa pakai 6%, 9%, 12% dst.

Dan semua keraguan itu akhirnya terjawab 2jam kemudian, ketika rambut saya sudah selesai dicuci dan mulai di-blow. Ternyata hasilnya rapi sekali. Gak ada yang namanya jeplak, atau belang. Dan warnanya persis seperti yang saya inginkan. Dali, yang menangani saya, tersenyum senang dan bangga melihat ekspresi puas di wajah saya.

Ongkosnya 240rb. See..? Di JC saya mesti bayar hampir 1/2 juta untuk rambut yang hasilnya jeplak dan kering, sementara di sini saya cukup bayar setengahnya, dengan fasilitas yang cukup memuaskan. 🙂

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

8 thoughts on “new hair color (by : Lutuye)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *