Pasar Malam

Kalau saya tidak salah ingat, pasar malam di pemukiman kami ini munculnya sekitar setahun yang lalu, menjelang libur anak sekolah di tengah tahun. Jadi ada dua kelompok yang berbeda yang bergiliran mangkal di taman depan. Yak, masih ingat dengan postingan lama saya, tentang taman depan rumah yang terbengkalai? Sekarang tamannya sudah makin botak dan tak terawat karena disewakan pada kelompok pasar malam.

Jadi saat libur sekolah tiba, selama sebulan mangkallah di taman itu komidi putar ala kampung dan sebuah permainan lain semacam pesawat alien (piring terbang). Konsep komidi putarnya sama dengan carousel canggih yang ada di mall-mall, tapi ini versi ala kadarnya. Kuda-kudaan, gajah, zebra, hanya berupa lempengan besi saja yang dibentuk dan dicat menyerupai si binatang. Untuk tempat duduknya besi petak dengan pegangan yang sudah karatan. Pengaitnya juga dari besi yang dipasang ke langit-langit komput. Dan komidi putar ini digerakkan pakai tenaga manusia! Jadi kalau anak-anak sudah duduk manis di atas binatang favorit mereka, si mas komput mulai mendorong si komput dengan cara berpegangan pada besi pengait tadi. Menurut saya permainan ini cukup beresiko bagi anak-anak kecil, karena selain tidak ada ikatan pengaman, juga karena si mas tersebut mendorong komput dengan sekencang-kencangnya, agar komput berputar cukup lama. Setelah laju komput berkurang, si mas akan kembali mendorongnya sekencang mungkin.

Saya bergidik setiap kali lihat komput ini berputar kencang. Dan bergidik pula melihat besi karatan itu. Tapi itu kan saya! Anak-anak mana peduli apakah mau naik carousel mewah atau naik komput karatan, yang penting funnya sama! Dan saya tak bisa menyembunyikan kehadiran komput itu dari hadapan Vay karena jelas-jelas dia nongkrongnya di taman depan. Jadi semisal kami keluar dari rumah mau pergi kemana gitu, mata Vay langsung melebar dan jejingkrakan di dalam mobil, minta naik komidi putar. Saya pun mengizinkan, tapi sengaja saya piliih weekend dan pagi hari, karena itu saat yang sepi dimana belum ada anak-anak lain yang cukup besar. Kalau sudah ramai, dan anak-anak cowok pula (rata-rata udah SD), biasanya mereka minta diputar sekencang mungkin. Huih, serem. Jadi begitu yang naik cuma anak-anak kecil, baru si Vay saya izinkan naik, itupun bolak-balik ngingetin si masnya agar dorongnya pelan-pelan saja. Sayang saya tak punya lagi foto waktu Vay lagi naik Komput Kampung ini setahun lalu. Bayaran untuk komput? 500 rupiah saja untuk 10 putaran. Bandingkan dengan tarif carousel, 20.000 rupiah untuk 3 menit saja.

Kalau konsep piring terbang tadipun kurang lebih sama. Tapi yang main remaja-remaja. Setelah semua bagian pinggir piring penuh, si mas akan bergelantungan dan memutar piring terbang. Piring itu pun meliuk-liuk berputar ke atas ke bawah, diiringi jeritan senang para remaja.

Saya belum pernah naik komput ala kampung, karena di Biak dulu tidak ada. Di Medan juga tidak ada karena komplek rumah kami jauh dari pemukiman warga, jadi apa untungnya pasar malam buka di komplek kami. Saya hanya pernah lewat saja, dekat daerah Pinang Baris, suka ada pasar malam di tanah kosong. Lebih lengkap dari yang di taman depan ini, karena juga ada permainan Bianglala. Hiburan rakyat murah meriah begini memang makin banyak sekarang. Biasanya muncul di daerah pinggiran, dan masuk ke komplek pemukiman lama.

Pasar Malam di Taman Flamboyan

Nah, selain kelompok komidi putar, kelompok lain yang bergiliran mangkal di depan adalah para pedagang. Dan sejak awal tahun kemarin, para pedagang pasar malam yang tadinya buka sebulan sekali, sekarang jadi seminggu sekali, setiap Selasa malam. Seperti halnya pasar jualan, macam-macam ada di sini, seperti pakaian, jilbab & selendang, sandal jepit, sepatu, tas, dompet, baju dan mainan anak-anak, cd bajakan, juga jajanan macam ketupat sayur, ice cream gerobak, sosis dan nugget warna-warni (serem lihat warnanya), siomay, sampai jelly drink juga ada. Harga jualan di pasar malam ini tentu saja murah-murah, dengan kualitas yang sebanding dengan harga tentu saja. Pernah saya ‘memaksa’ beli kaos Hello Kitty di sini gara-gara waktu lagi lihat-lihat ke situ, Vay kepengen punya kaos itu. Harganya 7 ribu dan sebenarnya kekecilan (makanya saya bilang ‘terpaksa’, soalnya gak ada lagi yang gedean). Baru dipakai sekali, dan waktu mau bersih-bersih sebelum tidur malam, kaosnya gak bisa dibuka. Ketat dan nyangkut di kepala Vay (padahal tadinya bisa masuk, haha..). Alhasil saya gunting saja bajunya, sambil merepet.

Sebenarnya kehadiran pasar malam ini kadang saya rasa cukup menganggu kalau saya sedang capek berat habis ngantor. Suara musik yang diputar, kencang banget. Lagu ajeb-ajeb pulak. Yakin deh tetangga-tetangga lainnya juga terganggu dengan ributnya suara musik itu, secara rumah dengan taman depan jaraknya hanya 5-6 meter.  Tapi ya sudahlah, syukurnya gak semalam suntuk, hanya sampai jam 9 malam pasar malamnya sudah tutup. Ya, bukanya memang hanya dari jam 5 sore sampai jam 9 saja, dan tidak melulu ramai. Sasaran pasar malam ini adalah warga yang tinggal di gang-gang sebelah dalam, yang jarang pergi jauh-jauh ke mall atau ke kota untuk mencari hiburan. Lalu yang paling ramai apanya? Apalagi kalau bukan permainan anak-anak. Ada kereta-keretaan, kolam pancing plastik, dan mandi bola. Sekali lagi, tentu saja ini permainan ala kadarnya. Permainan mandi bola itu yang jelas-jelas gak rekomen, joroknya minta ampun. Yang lumayan untuk dimainkan adalah kereta-keretaan. Keretanya ini cukup canggih dibanding komput karatan tadi, karena kerta ini pakai aki sendiri, kereta binatangnya juga lebih bagus dan pakai seat belt pula, haha… Bayarnya 2000 rupiah untuk 5 menit. Khusus untuk naik kereta saja Vay saya kasih izin penuh.

Kereta-keretaan di Pasar Malam

Kalau pancing ikan? Ini pun sama joroknya. Entah air dari mana yang diambil, belum lagi kolam plastik dan mainannya itu pasti jarang dicuci, diletak begitu saja pula di atas rumput-rumput, dan ditambah suasana pasarnya pun tak begitu terang, kayaknya kok air dalam kolamnya itu jorok banget ya. Saya pusing deh kalau Vay udah merengek-rengek mau mancing ikan. Ya permainan biasa sih sebenarnya. Anak-anak bebas mancing (menangguk) mainan atau (kalau bisa dapat) ikan yang ada di dalam kolam, lalu dimasukin ke keranjang masing-masing. Satu ikan harganya dua ribu. Tapi joroknya itu bikin geli. Jadi setiap kali Vay merengek mo ke depan, dia saya pakaikan piyama lama, biar kaki dan tangan gak digigit nyamuk. Pulang mancing, dengan bangga dia menenteng ikan lele kecil di dalam plastik, katanya itu ikan hasil pancingannya. Duh nak.. nak… langsung dia saya mandikan lagi pakai detol dan piyama kotor itu direndam semalaman. Untunglah tak sering-sering.

memancing mainan plastik di kolam

Tak mudah memang mengajarkan anak untuk aware kebersihan. Tapi ya pelan-pelan saya selalu mengingatkan pada Vay bahwa saya tak melarangnya bermain, tapi dia harus lihat-lihat tempat dan kondisi. Karena kalau tempatnya jorok, dia bisa dengan mudah terkena penyakit. Vay ingat betul kata-kata saya itu, jadi kalau sudah ke Playground favoritnya di Buaran Plz, dia sudah tahu harus main dimana. Katanya ke nanny-nya (dengan gaya sok dewasa) : “Kita main di bawah saja ya, di atas gak boleh. Kotor, ada yang muntah gak dibersihkan.” Yap! Karena saya lihat sendiri saat ada anak kecil muntah di kolam bola, si mbaknya tidak meminta anak-anak untuk keluar dari situ, tapi dia dengan enteng mengambil kain lap dan karbol lalu melap-lap bagian situ saja. Bisa bayangkan bagaimana kalau ada batita mengambil bola plastik bekas karbol lalu dimasuk-masukkan ke mulutnya? Sejak itu, Vay tak saya izinkan main lagi di playground itu dan dia sudah tahu kenapa.

Eh tapi untuk memastikan apakah anak-anak memang suka gak peduli dengan “kotor” kalau sedang main, saya pernah memastikan ke mami saya bahwa saya waktu kecil mainnya enggaklah kotor-kotor banget. Apa kata mami saya tentang saya waktu kecil? “Wah, dulu itu mami buka mulutnya, ada kerikil-kerikil di dalamnya?” Hah! Jadi saya waktu kecil dulu makan batu??? LOL.

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

57 thoughts on “Pasar Malam

  1. Maklum Bu hiburan semacam itu diperuntukkan bagi warga yang tidak punya akses ke tempat-tempat hiburan yang “berkelas”. Jadi, maklum kalau hanya ala kadarnya saja. Bukankah sejarah kemunculan pasar malam sendiri diprakarsai oleh perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda yang ingin memberi hiburan bagi para buruh di masa libur?

  2. Kalau di tempat saya pasar malemnya di tengah jalan.. bisa dibayangin tuh kalau pulang kantor bawaanya emosi…
    ga bisa lewattt…

  3. Anak-anak memang yang penting “fun” tak peduli harga mahal atau murah. Juga tak peduli faktor keamanannya. Dekat rumah dinasku dulu, juga sering ada komidi putar dadakan…..dan orang-orang sekitar kompleks rame-rame mengajak anaknya..termasuk anakku pengin mencoba.

  4. Hahaha… makan batu enak nggak Mba Zee? Hehehe…
    Pusing emang Mba… kalo anak merengek minta mainan/ makanan yg nggak sehat…

    Hmm… liat kolam pancingan ikan aku jd terinspirasi buat dirumah… hihihi… itu maksudnya ikan beneran yah Mba? 😀

  5. wah ini sama kaya dikampung saya dulu
    kalo udah musimnya saya pasti main ke pasar malem
    tapi tempatnya ga di taman kaya diatas
    melainkan di lapangan sepakbola
    hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *