Story Jadi Anak SMP

Saya mau ikut posting tentang anak SMP. Ingin ikut membersihkan keyword Anak SMP. Ingin ikut meramaikan ajakan Attayaya untuk membersihkan keyword “Anak SMP” yang isinya negatif semua. Mudah-mudahan banyak juga yang mau posting positif tentang “anak SMP“.

Saya bersekolah di SMP Budi Murni 1 Medan. Salah satu sekolah swasta dengan gedung besar bertingkat, lapangan luas untuk berolahraga, laboratorium, dua lapangan basket, serta kantin yang mahal (haha…). Tamat SMP kapan ya *pura-pura lupa*? 19 tahun yang lalu. 🙂

Masa-masa jadi anak SMP adalah masa-masa yang paling berkesan buat saya, dibanding masa jadi anak SMA. Mungkin karena saat itu saya sudah merasa nyaman dengan lingkungan saya, sudah mulai bisa beradaptasi dengan kota Medan, dan mulai mendapat banyak teman yang klop. Maklumlah, waktu itu saya baru setahun jadi penduduk Medan, baru pindah dari Biak. Walaupun sempat masuk SD Persit selama 9 bulan, tapi gak berkesan.

Begitu masuk SMP baru deh ketemu teman-teman yang sama gilanya. Pengalaman saya waktu SMP kocak-kocak deh.

Pengakuan nih. Saya pernah disuruh keluar dari kelas, dua kali. Pertama, kalau gak salah waktu kelas 1. Saat pelajaran Kimia oleh Pak Meha (ini bapak guru yang paling ditakuti karena galaknya minta ampun). Waktu itu saya yang duduk di belakang lagi kirim-kiriman kertas berisi gosip dengan teman saya Jessica yang duduk di bangku depan. Tak dinyana, ternyata Pak Meha memperhatikan. Dan sesaat ketika lemparan saya tiba di meja Jessica, Pak Meha dengan galak langsung membentak Jessica.

“Apa itu?” Lemas langsung lutut ini.

“Gak, pak. Ini tadi, jatuh.”

“Bawa kesini!” Mampus aku, lutut serasa lolos dari kulit. Pak Meha sudah melirik saya dengan kejam. Begitu kertas itu dibacanya, dengan wajah merah menahan marah, dia membentak. “Astrid! Keluar!” Dan saya dengan wajah pias melangkah keluar kelas, tapi sampai di luar saya langsung cepat-cepat lari ke kantin. Hahaha…

Kantin memang jadi tempat favorit setiap siswa. Yang mengelola kantin seorang ibu tionghoa berambut ikal. Dia kalau lihat saya langsung mengacungkan jempolnya. “Lu punya gaya steady sekali ya.” Pujian yang membuat kuping saya naik, hehe… ya namanya juga abege, dipuji sama orang siapa yang gak senang hehehe…

Yang kedua terjadi di kelas dua. Sekali ini saat pelajaran agama. Sekolah kami ini kan sekolah katholik, jadi yang non katholik boleh berada di kelas tapi tidak diwajibkan ikut belajar agama. Nah, waktu itu saya sedang bertengkar dengan seorang teman saya, si Hendri. Nih anak cina gendut banget, bandel pula, dan saya sudah lupa kita bertengkar gara-gara apa. Saking ributnya kita berdua, yang jelas mengganggu proses belajar-mengajar, Pak Gultom jadi marah. “Astrid, Hendri. Keluar kalian!” Yaaah… again….! Sampai di luar kelas kita berdua jadi baikan, malah cekakak cekikik. Sebenarnya kalau diingat-ingat lagi, cuma saya siswi di kelas itu yang pernah disuruh keluar, dan semua itu karena sifat iseng saya yang gak bisa hilang. Saya kalau udah becanda, bisa kelepasan ketawa kuat-kuat, ya guru mana coba yang gak marah? Jadi bukan karena saya tukang melawan atau bodoh atau pemalas, tapi karena sifat usil dan iseng saya yang sering tidak pada tempatnya. Maaf ya pak, bu, bukan maksud hati :D.

Foto bersama teman & guru di SMP Budi Murni 1 Medan

Di SMP kami, penggaris panjang sering patah. Biasanya patah kalau habis dipakai menghajar siswa-siswa yang bandel. Memang sih, guru-guru di sini galak-galak. Guru SMA-nya juga begitu. Pernah suatu waktu, saya dan teman-teman berkumpul sepulang sekolah. Kami ceritanya mau jalan kemana gitu, tapi kami kebablasan nongkrong di depan kelas sore. Kelas sore itu kan kelasnya anak SMA. Saking berisiknya, tertawa-tawa kuat, pak gurunya keluar dan marah besar. Seorang teman saya, Fithrien malah ditampar. Ih kejam. 🙁

Di SMP pula, saya pertama kali terima surat cinta dari kakak kelas. Suit suitt…. Dikasih ke teman saya saat jam istirahat. Saya sudah lupa isi tepatnya apa, tapi tulisan “dari” nya itu yang gak bisa saya lupa. “Dari Kelompok Kacamata Bolong.” Hahaha… saya bacanya berdua teman saya waktu itu. Saya tidak tahu yang mana nih tertuduhnya, karena di kelompok itu kan ada tiga anak SMP, culun-culun, dan dua orang di antaranya pakai kacamata. Ancur ancur…

Pelajaran yang saya kurang suka waktu di SMP adalah pelajaran Sejarah. Soalnya si Pak Guru sering suka keasyikan bercerita panjang lebar, dan kita disuruh mencatat, capeklah mencatat sebanyak itu kan? Memang pak guru ini paling suka suruh muridnya mencatat. Dan, pengakuan lagi nih, pernah suatu ketika saat jam pelajaran sejarah tiba, saya buru-buru keluar, cabut ke kantin. Tapi apa daya, di situlah saya bikin kesalahan. Entah kenapa, bukannya duduk saja di dalam kantin, saya malah berdiri di depan pintu kantin melihat-lihat ke lapangan. Dan ternyata, kebetulan sekali wali kelas kami — Bu Agnes — sedang berdiri di lantai dua, yang notabene pandangannya langsung ke pintu kantin. Beliau berteriak dari atas, memanggil saya, disuruh ke kantor guru. Mampuslah, pikir saya. Sambil berdebar-debar saya naik ke atas menuju kantor guru. Di depan pintu masuk meletakkan buku saya di lantai depan pintu masuk, lalu masuk ke dalam. Pasang muka tak berdosa. Dan ternyata Bu Agnes itu sama sekali tidak menduga kalau sebenarnya saya sedang membolos di jam pelajaran Sejarah, hihihi. Beliau menanyakan hal lain, dan setelah selesai saya pun melenggang pergi. Saat akan keluar dari ruang guru, saya lihat buku sejarah saya yang tadi saya letak di lantai, sekarang ada di atas meja salah satu guru. Weleh? Berarti tadi ada guru yang masuk terus menemukan buku tergeletak di lantai. Celingak-celinguk, sreettt!!! Cepat-cepat saya tarik buku itu (mumpung gurunya gak ada di meja). Aman….

Kalau sudah tiba acara bersih-bersih kelas, saya paling sebel. Malas banget suruh sapu-sapu. Saya pasti langsung melarikan diri — biasanya sama seorang teman — entah kemana kek, pokoknya menghilang. Sampai suatu ketika, saat saya sedang berjalan memutari gedung sekolah untuk kedua kalinya dalam rangka membuang-buang waktu, saya kepentok sama Ibu Situmorang yang lagi mengawasi. Dia geleng-geleng kepala dan bilang, “Astrid, mau jadi bos terus ya?” Wakakaka…. ketangkap basah. Saya cengar-cengir saja lalu masuk kelas deh ikutan bersih-bersih.

Tapi selain cerita-cerita isengnya saya waktu jadi anak SMP, tentu juga banyak cerita bagusnya. Biarpun suka iseng, tapi saya termasuk siswi yang berbakat di bidang olahraga. Seperti basket. Saya dulu pemain inti tim basket lho, biarpun kecil-kecil begini (jelas kecil lebih lincah dari yang badannya besar :p).  Tim SMP kami selalu menang melawan SMP swasta lainnya. Tim lawan cukup dikasih 1 bola saja di menit-menit terakhir. Siswa-siswi SMP kami memang rata-rata jago basket. Selain basket, saya juga menyukai olahraga atletik. Lomba lari 100 meter, pasti saya yang menang. Satu-satunya teman perempuan yang saya ingat tidak bisa saya kalahkan adalah Sherly. Dia ini teman SD saya di SD Negeri 1 Biak. Dia orang Serui, asli larinya kencang bukan main. Artinya, belum ada yang bisa mengalahkan saya lomba lari waktu SMP, juga SMA. 🙂

Saya juga suka menari. Karena SMP kami ini di bawah yayasan, dan swasta, kita banyak jadwal acara ini itu. Saya dan teman-teman selalu sibuk mencari kostum dan merancang koreografi untuk tampil di acara-acara itu. Dance adalah  salah satu hobi yang paling saya cintai, rasanya semua energi negatif langsung hilang kalau sudah menari. 🙂

Pengalaman lain saat jadi anak SMP adalah, ketika saya harus menyetir mobil sendiri ke sekolah karena abang saya sakit. Biasanya sih abang saya yang nyetir (karena dia udah SMA), tapi kali ini — apa boleh buat — saya harus nyetir sendiri ke sekolah. Papi saya mana mau nganter, soalnya sekolahnya kan termasuk dekat, dan kita berdua memang dibiasakan mandiri sejak kecil. Jadilah waktu saya lewat Simpang Bilal, seorang polisi yang sedang mengatur lalu lintas terkejut dan melongo. “Loh.” Tapi dia biarkan saya terus lewat, tidak diberhentikan. Hehee….

Terus terang saya bersyukur sekali bisa sekolah di SMP Budi Murni 1 ini. Semua yang saya butuhkan sebagai seorang remaja, bisa lengkap saya dapatkan di sini. Pendidikan, persahabatan, kegiatan positif, semuanya lengkap. Biarpun gurunya juga galak-galak, tapi saya tetap mencintai mereka sebagai guru saya. Lha biarpun galak, tapi metode mengajarnya enak dan mudah dicerna. Jadi buat saya, SMP saya adalah sekolah terbaik dimana saya pernah jadi siswa di dalamnya.

Dan tahu gak, lagu favorit saya waktu jadi anak SMP itu apa? Yak, lagu Isabella yang dinyanyikan oleh Amy Search. 😀

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

97 thoughts on “Story Jadi Anak SMP

  1. kalo diusir dari kelas, saya sering, mbak 😀

    Bahkan sering dijemur *pengakuan*
    Masa SMP yang paling berkesan, selalu ditolak tiap ngecengin cewek hihihi…

    btw, fotonya awet banget yah. saya tinggal foto ijazah aja 😛

  2. Widi

    Kak Toast!!!!!
    Isabellaaaaaa adalah…..
    hahahhaha… duh aku lagi training but reminiscing lagu itu membuatku kekeh2 hahahahha…..
    Jempol kak!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *