Wiken ke Taman Safari Indonesia

Kemarin saya dan keluarga pergi ke Taman Safari Indonesia. Finally, libur tiga hari ini adalah waktu yang pas untuk refreshing ke sana. Kenapa harus ke Taman Safari? Ya beginilah kalau sudah berkeluarga dan sudah punya anak. Segala hal yang berkaitan dengan pendidikan formal dan informal anak harus benar-benar jadi agenda penting bagi orang tua.

Apalagi untuk seorang anak yang bisa dikatakan jarang bergaul. Selalu di rumah all day, hanya keluar kalau maminya pulang kantor dan dia dibawa jalan-jalan sore — itu juga tidak setiap hari tergantung maminya capek berat or gak — maka kegiatannya bersosialisasi harus bisa dipadatkan sebaik mungkin.Jam setengah delapan pagi kami start jalan dari Tebet, dengan saya, hubby, anak saya, mertua, suster dan driver. Jalan tol masih lancar, tapi begitu keluar tol, mulai tersendat sedikit. Padahal masih jam setengah sembilan, tapi sepertinya semua orang berpikiran sama dengan kami. Rekreasi di hari Sabtu. 😀

Ada kejadian menarik di tengah jalan. Saat kendaraan berjalan tersendat, tiba-tiba ada bunyi sirine bip-bip. Seorang polisi motor gede berjalan bersisian di sebelah kanan kami. Dia mendekati jendela sopir dan berkata sesuatu. Awalnya saya pikir, waduh ini mau ditilang atau kenapa nih? What’s wrong with our car?

Sopir kami membuka kaca dan saya pun mendengar percakapan itu.

“Mau kemana?” Si polisi bertanya dengan suara berwibawa.

“Mau ke atas, Pak.”

“Kemana?” tanya si polisi lagi.

“Mau ke Taman Safari, Pak.”

“Butuh dikawal?”

Sopir menoleh ke belakang, dan hubby yang terbangun langsung menjawab. “Gak usah saja,” dan sopir menyampaikan ke polisi. “Gak usah saja pak, makasih…” Dan si polisi pun berlalu.

Saya baru sekali ini lho tahu kalau ada patwal tak resmi di jalan. Pantas tadi saya lihat ada mobil dikawal dua polisi motor gede melawan arus, saya kira ada pejabat lewat, but seems like itulah model pengawalan tak resmi yang ditawarkan polisi tadi. Hubby bilang, dari tadi dia sudah melihat kalau si polisi sedang memilih incaran. Beberapa kali memang polisi motor gede bolak balik lewat, kelihatannya seperti patroli biasa saja, tapi beberapa kali itu hubby menangkap pandangan mereka ke mobil kami. Ooh, ternyata si polisi lagi pilah pilih mobil yang bisa ditawarkan pengawalan. Tapi jalanan juga tidak terlalu macet kok, macetnya hanya karena ada pasar saja. Saat mengisi bensin, sopir bertanya pada seorang petugas berapa biasanya bayaran untuk pengawalan polisi. Katanya, minimal 300rb. Wah, lumayan juga ya. Padahal tidak sampai 10km lagi kok dari situ.

Tiba di Taman Safari Indonesia (TSI), kami harus membayar Rp.60rb perkepala dan Rp.15rb untuk mobil. Setelah turun sebentar untuk menghirup udara segara setelah dua jam duduk di mobil, sekaligus membersihkan sisa muntah anak di mobil, lalu perjalanan safari binatang pun dimulai. Dan tebak saudara-saudara, sayalah yang lebih norak dari anak saya. Terkagum-kagum melihat binatang-binatang yang menakjubkan itu. Sejujurnya, binatang apapun itu, selalu menakjubkan buat saya. Keragamannya mengingatkan saya bahwa Tuhan memang benar-benar Maha Kuasa.

Ini foto-fotonya :

Mau naik Gajah Tunggang? Bayar Rp.10rb perorang. Gajahnya jinak tentu saja, cuma kelihatannya sudah tua. Kasihan, dari kecil sampai tua kerjanya dinaikin manusia terus.. 😀

Saya tidak sempat ke air terjun dan beberapa arena permainan lainnya, karena anak sudah teler berat. Ngantuk. Tapi sudah cukup puas kok, toh misi utamanya ke TSI ini kan untuk melihat satwanya.

Pengennya sih bisa kesini beberapa bulan sekali. Tapi harus prepare budget benar-benar karena rekreasi ke TSI tidak bisa dibilang murah. Untuk bensin, tiket masuk, makan, tunggang ini tunggang itu. Belum lagi biaya tambahan kalau mau dikawal sama polisi motor gede. 😀

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

69 thoughts on “Wiken ke Taman Safari Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *