Rokok

Kemarin sore, saya janjian ketemu orang di Sarinah. Mau bicara bisnis (halaqhh…. gaya kali bah). Mereka adalah pasangan suami istri, masih muda dan tentunya kreatif. Kita ketemu di Oh La La Cafe di Sky Building seberang Sarinah.

Saat si cowok menyalakan rokoknya, dia permisi dulu pada saya. Bertanya, apakah saya nantinya akan terganggu dengan asap rokok. Saya jawab tidak masalah. Karena saya yang tiba duluan, saya memang sengaja pilih tempat duduk di luar, jadi kalaupun ada yang merokok, asapnya akan jauh-jauh melanglang buana. Itu menguntungkan sekali buat saya, karena sebenarnya saya termasuk orang-orang yang tidak tahan dengan dengan asap rokok.

Sebagian kawan perempuan saya adalah perokok aktif. Dan karena saya selalu jalan mereka, saya pun bisa dibilang seorang perokok tapi pasif. Dulu sekali waktu masih abege, saya pernah juga tertarik untuk ‘belajar’ merokok. Saya sering melihat teman-teman SMA saya merokoknya kencang bener, dan jago-jago pula, ada yang asapnya keluar dari hidung, dari sudut bibir, sampai telan asap juga jago. Heran, asap kok ditelan ya? Emang bisa kenyang kalau nelan asap? Saat itu saya diejek, halah masa gak bisa merokok. Hehehee….  Akhirnya saya mencoba menghisap sebatang rokok, dan teman saya yang jago nelen asap itu yang jadi gurunya. ”Tarik yang dalam.” Dan dengan gaya sok profesional saya mencoba mempraktekkan kata-katanya, dan alhasil saya terbatuk-batuk. Rokok itu langsung saya lempar ke mereka sebagai hadiah. Setelah itu saya tidak pernah memegang rokok.

Kedua kalinya setelah saya dapat teman baru lagi saat sudah kerja. Waktu itu dia bilang ke saya begini, “Kawan-kawan aku juga banyak yang gak merokok, tapi kalau mereka clubbing, mereka pasti merokok. Untuk gaya aja,” maksudnya biar kalau kami berdua pergi clubbing, saya gak cuma cengo aja sambil makan permen karet. “Ya atur ajalah,” kata saya waktu itu. Maka dibelinyalah rokok Caprie yang kecil banged itu. Dia bilang, rokok itu yang paling ringan dan gaya, cocok untuk perempuan. Asapnya juga tidak terlalu banyak, begitu katanya. Lalu kami pun pergi ke tempat clubbing.
smoking-woman

Sampai di dalam, dengan pedenya saya menyalakan rokok Caprie itu. Ingin tahu apa iya rokok yang ini beda. Dan karena memang gak bisa menikmati merokok, rokok kecil itu habis dengan cepat hanya untuk was wus was wus saja. Lagi asyik was wus was wus, teman saya datang dan mengagetkan saya. “Woi… yang betullah merokoknya. Merokok kok kayak gitu, merokok tapi asapnya dikibas-kibas biar menjauh?” Wakakkaaak…. Astaga! Barulah saya sadar bahwa sedari tadi itu saya was wus was wus tapi asapnya saya usir jauh-jauh karena gak tahan dengan asap rokok. Nah, itulah kedua kalinya saya mencoba merokok, tapi tetap tidak bisa.

Kalau teman-teman saya tanya, kenapa saya gak merokok, saya selalu jawab, saya gak suka. Saya tidak bisa menemukan nikmatnya merokok, yang ada malah batuk, mata perih, tangan, rambut dan badan bau rokok. Saya tidak tahan dengan bau asap rokok. Paling tidak tahan. Kalau sudah kena asap rokok, sudut-sudut kening saya langsung ketarik ke atas, pusing.

Saya sama dengan papi saya, kalau mencium sedikit saja bau rokok di mobil, langsung marah besar. Papi saya juga tidak merokok. Biasanya abang saya tuh, udah pinjam mobil orang, eh merokok di dalam. Gak sopan bener. Terpaksa dia harus cuci mobil itu sampai bersih dengan semprotan pewangi biar bau rokok itu hilang, kalau gak mau kena omel seharian.

Syukurlah suami saya bukan perokok. Dia hanya merokok kalau habis makan kambing saja, dan tidak pernah merokok di rumah. Alhasil rumah dan mobil tidak pernah ada bau rokok. Aman. Bersih. 🙂

Tapi saya toleransi kok dengan teman yang merokok. Kadang saya rela saja badan bau rokok kalau habis kongkow. Toh gak sering-sering ini. Syukurlah teman saya juga mengerti kalau saya tidak tahan dengan asap rokok, jadi biasanya dia akan berusaha untuk buang asap rokok jauh ke belakang agar tidak kena saya. Jadi sama-sama ngertilah.

Kadang mikir juga, mungkin kalau saya merokok saya tidak akan terlihat cengo ketika sedang menunggu orang. Tapi saya maunya rokoknya yang sehat, yang gak ada asap. Kalau perlu pakai rasa, entah rasa coklat atau kopi gitu.

Ada gak ya rokok kayak gitu?

———–

gambar diambil disini.

by

About Zizy Damanik | Working Mom | Activities, Travel and Lifestyle | Photography | Coffee |

130 thoughts on “Rokok

  1. HAHAHAH….saya juga perokok aktif mbak…sampai seminggu yang lalu. lagi coba brenti, momennya pas aja, abis sakit, trus masuk bulan ramadhan pula. mudah2an bisa konsisten nih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *